Melihat Kisah Pejuang Wanita Asal Aceh yang Ditakuti Belanda di Film Tjoet Nja' Dhien

Film kolosal Tjoet Nja' Dhien yang dibintangi Christine Hakim dan disutradarai oleh Eros Djarot dapat disaksikan secara online di Mola

Diterbitkan 20 Agustus 2021, 16:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Film kolosal Tjoet Nja' Dhien yang dibintangi Christine Hakim dan disutradarai oleh Eros Djarot dapat disaksikan secara online di Mola. Film yang rilis pertama kali tahun 1988 atau 33 tahun lalu ini sekarang hadir dalam versi yang lebih jernih usai direstorasi di Belanda. 

Visual dan sound film yang lebih baik itu membuat FIlm Tjoet Nja' Dhien menjadi tontonan yang menarik bagi generasi milenial dan Z yang menyukai film sejarah dan kisah-kisah pahlawan nasional. Terlebih lagi, saat ini masih dalam suasana peringatan kemerdekaan Republik Indonesia.

Sinopsis dan Alur Cerita

Film Tjoet Nja' Dhien merupakan film biografi yang menceritakan perjuangan pahlawan nasional wanita asal Aceh, Cut Nyak Dien atau Tjoet Nja' Dhien dalam melawan penjajahan Belanda di masa Perang Aceh.

Tjoet Nja Dhien yang diperankan Christine Hakim merupakan tokoh pejuang kemerdekaan asal Aceh yang terlahir dari keluarga bangsawan religius. Bagi orang-orang terdekatnya, Tjoet Nja Dhien dikenal sebagai sosok perempuan gigih dan vokal menyuarakan perlawanan atas penindasan yang dilakukan Belanda. 

Tjoet Nja' Dhien senantiasa mendukung dan mendampingi sang suami, Teuku Umar sejak perang Aceh pecah. Setelah Teuku Umar tewas dalam sebuah serangan mendadak di Meulaboh, Tjoet Nja' Dhien kemudian mengambil alih peran memimpin pasukan untuk melawan Belanda.

Peperangan berlangsung sengit, berpindah-pindah dari kota ke kampung hingga gerilya di hutan. Meskipun sakit karena rabun mata dan encok, Tjoet Nja Dhien tetap gigih bertempur, tidak pernah lelah untuk memberikan semangat rakyat Aceh agar terus berjuang. Serangan bertubi-tubi Belanda dan pengkhianatan membuat Tjoet Nja’ Dhien terpojok hingga akhirnya ditangkap oleh Belanda.  

Perlawanan rakyat Aceh kala itu menjadi perang terpanjang dalam sejarah penjajahan Belanda. Tidak hanya mengulas strategi yang diambil oleh Tjoet Nja’ Dhien dan dilema-dilema yang dihadapi sebagai pemimpin, tetapi juga menampilkan kekalutan tentara Belanda saat melawan rakyat Aceh.

Perjalanan Perang Aceh Digambarkan dengan Cermat

Setiap perjalanan perang Aceh ditampilkan dengan cermat oleh sang sutradara Eros Djarot. Mulai dari menggambarkan kehidupan rakyat Aceh di masa penjajahan, sehingga harus berpindah-pindah tempat dan menyusuri hutan. Penggambaran lain yang sesuai dengan catat dokumentasi milik Belanda adalah penangkapan Tjoet Nja’ Dhien saat hujan deras.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Dikutip dari Antara, Eros Djarot mengatakan bahwa isu yang ada dalam film masih relevan dengan kondisi saat ini. Sehingga penting bagi anak-anak muda untuk menonton film Tjoet Nja Dhien. "Dengan mengenal sejarah kita sendiri, selain akan membuat tahu siapa kita, generasi milenial dapat menjelaskan kepada dunia, siapa kita sebenarnya," kata Eros. Menurutnya, film kolosal bukan sekedar menjadi sebuah film yang memiliki sejarah panjang, tapi juga mengabarkan kepada penonton masa kini bahwa banyak persoalan khususnya di film ini yang masih sangat terkait dengan persoalan terkini. Berkat kekuatan cerita dan akting pemain, Tjoet Nja' Dhien menjadi salah satu film terbaik dalam sejarah perfilman Indonesia. Bukan saja berhasil meraih delapan piala citra, tetapi juga menjadi film Indonesia pertama yang diputar di Festival Film Cannes pada 1989. Pemeran Film Tjoet Nja' Dhien Film Tjoet Nja’ Dhien menampilkan bintang-bintang film terbaik Indonesia, diantaranya Christine Hakim yang saat itu berusia 28 tahun berperan sebagai Tjoet Nja' Dhien, Slamet Rahardjo sebagai Teuku Umar dan Pietrajaya Burnama sebagai Pang Laot serta  Rudy Wowor sebagai Veltman. Melibatkan banyak pemain pendukung, film Tjoet Nja' Dhien juga menampilkan dialog bahasa daerah Aceh, Indonesia dan juga bahasa Belanda. Pemeran lainnya antaranya Rita Zaharah sebagai Nya' Bantu, Roy Karyadi sebagai Voorneman, Ibrahim Kadir sebagai Penyair, Rosihan Anwar sebagai Habib Meulaboh, Muhamad Amin sebagai Teuku Leubeh, Hendra Yanuarti sebagai Tjoet Gambang, Kamaruzaman sebagai Agam kecil, Huib "John" van den Hoek sebagai Van Heutz, Fritz G. Schadt sebagai Vetter, Herald Meyer sebagai saudagar dan Robert Syarif sebagai Verbrough.

Halaman
Show All
Gilar RamdhaniTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan