6 Lagu Ramadan Era 1990-an Ini Masih Enak Didengar, Nomor 3 Bikin Merinding dan Nangis

Enam lagu Ramadan atau tembang religi ini dirilis di era 1990-an. Sebelum menutup hari atau jelang sahur coba, deh dengarkan.

Diterbitkan 28 April 2020, 11:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

“Rabbana, tangan kami, hati kami, mulut kami, mata hati kami, luruskanlah. Kukuhkanlah di jalan cahaya,” pinta Chrisye (dan juga kita semua) kepada Maha Pengasih. Pernah kami mendengar karya Taufiik Ismail ini sambil menanti imsak. Tiba-tiba tangan merinding, mata berkaca-kaca...

4. Pagi Ramadan (Rida dan Sita RSD)

Lagu religi tak harus mendayu dan penuh ratapan. “Pagi Ramadan” milik Rida Sita Dewi dibawakan dalam riang lewat pembagian suara yang merefleksikan harmoni. Keriaan dituangkan dalam barisan lirik ciamik, “Syukurku penuh pasrah kupanjatkan. Doa penuh kuhaturkan hanya kepadaMu Tuhan.”

Di bagian akhir lagu karya M. Luqman dan Agus "Snada" ini, kita diajak berdoa, “Ya Ilahi Robbi terimalah amal kami pada bulan suci ini, kukembali fitri.” Ramadan adalah perjalanan kembali ke fitrah. Jika setelah Ramadan kita berkubang lagi di lumpur dosa, maka patut dipertanyakan ngapain aja kita selama puasa.

5. Hanya Tuhan (Anang dan Krisdayanti)

Bisa jadi, album Hanya Tuhan (1996) yang berisi 8 nomor ini diproduksi sebagai ucapan syukur Anang-Krisdayanti atas meledaknya album debut duet mereka. “Hanya Tuhan” dinyanyikan dengan cara unik. Anang Hermansyah mempertahankan karakter rok. KD memilih setia pada cengkok pop manis.

Hasilnya, dua harmoni beda warna yang berjalan seiring. Tembang balada ini mengingatkan kita bahwa manusia sebagai makhluk paling cerdas di muka bumi sangat kecil di hadapan Allah. Videoklip "Hanya Tuhan" salah satu yang terbaik pada tahunnya.

6. Kumohon (Sheila Majid)

Kami ajak Anda menyeberang ke Negeri Jiran. Sheila Majid pada 1999 merilis album sekuler. Ajaibnya, lagu yang dijadikan single perdana justru menceritakan komunikasi intensif antara manusia dan Tuhan berjudul “Kumohon.”

Karya Sheila Majid dan Koki Yee Chedw ini mengandaikan hidup seperti kaca tipis yang kita sangga. “Ada kala kumerasa, hidup ini seperti kaca. Jikalau tidak bersabar hancur berderailah akhirnya,” ucap sang diva. Suaranya yang kalem dan meneduhkan membuat kita tak merasa digurui oleh lagu ini.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Hernowo AnggieTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan