YOLO vs Frugal, Dilema Gaya Hidup Anak Muda Jakarta

YOLO vs frugal bukan pilihan yang saling meniadakan, melainkan cara anak muda menyeimbangkan kesenangan masa kini dan persiapan masa depan.

Diterbitkan 17 September 2026, 21:19 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dilema antara You Only Live Once alias YOLO dan frugal living semakin terasa dalam kehidupan anak muda Jakarta. Di tengah keinginan menikmati masa kini, mereka juga dihadapkan pada kebutuhan membangun keamanan finansial untuk masa depan.

Pilihan gaya hidup pun beragam, mulai dari mengalokasikan penghasilan untuk perjalanan, hiburan, fesyen, hingga makan bersama teman, atau menahan pengeluaran demi tabungan dan tujuan jangka panjang.

Bagi penganut YOLO, menikmati hidup menjadi bagian penting dalam menggunakan penghasilan. Pengeluaran untuk konser, liburan, kuliner, atau pengalaman bersama orang terdekat tidak selalu berarti boros selama masih sesuai kemampuan finansial.

Persoalan muncul ketika kesenangan sesaat membuat kebutuhan pokok, cicilan, dana darurat, dan rencana masa depan terabaikan. Sementara itu, frugal living mendorong seseorang lebih selektif dalam membelanjakan uang.

Anggaran disusun berdasarkan prioritas, sedangkan pengeluaran yang tidak mendesak ditekan agar sebagian pendapatan dapat dialihkan untuk tabungan atau kebutuhan jangka panjang. Pilihan tersebut turut dipengaruhi tekanan ekonomi yang dirasakan generasi muda.

Biaya hidup yang meningkat dan ketidakpastian masa depan dapat membuat target finansial terasa semakin sulit dicapai. Dalam kondisi itu, muncul fenomena doom spending, yakni kecenderungan berbelanja sebagai cara meredakan kecemasan atau pesimisme terhadap kondisi ekonomi.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa keputusan finansial anak muda tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membeli, tetapi juga bagaimana mereka merespons ketidakpastian hidup, melansir The Guardian, Kamis (17/9/2026).

Frugal Living Bukan Berarti Menghilangkan Kesenangan

Frugal living sering dipahami sebagai gaya hidup yang mengharuskan seseorang mengurangi hampir seluruh pengeluaran. Seseorang tetap dapat menikmati makanan favorit, bepergian, atau menjalankan hobi selama pengeluaran tersebut telah disesuaikan dengan pendapatan dan kebutuhan lainnya.

Tren loud budgeting yang berkembang di media sosial memperlihatkan perubahan cara generasi muda membicarakan uang. Kebiasaan ini mendorong seseorang untuk terbuka mengenai batas anggaran dan berani menolak ajakan yang tidak sesuai dengan kemampuan finansial.

Pembicaraan tentang uang dapat menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat. Konsep soft savings turut menawarkan pendekatan yang berbeda dengan menempatkan kualitas hidup sebagai bagian dari tujuan menabung.

Uang tidak hanya diarahkan untuk kebutuhan masa depan, tetapi juga dapat digunakan untuk pengalaman atau aktivitas yang memberikan kepuasan personal.

Mengatur Keuangan Tanpa Terjebak Ekstrem

Perbedaan antara gaya hidup YOLO dan frugal living tidak harus berakhir pada pilihan yang sepenuhnya berlawanan. Pengelolaan keuangan dapat dilakukan melalui pendekatan yang lebih fleksibel dengan membagi pendapatan berdasarkan kebutuhan, tujuan masa depan, perlindungan finansial, dan pengeluaran untuk kesenangan.

Langkah awal dapat dimulai dengan menghitung biaya hidup yang benar-benar diperlukan setiap bulan. Kebutuhan tempat tinggal, makanan, transportasi, pendidikan, dan kewajiban pembayaran perlu dipisahkan dari pengeluaran yang sifatnya pilihan.

Menyiapkan dana darurat turut menjadi bagian penting karena dapat membantu menghadapi kondisi ketika pendapatan terhenti atau muncul kebutuhan mendesak. Investasi jangka panjang perlu dipertimbangkan setelah kebutuhan dasar dan cadangan dana mulai diperhatikan.

Generasi Z kini disebut mulai memadukan semangat YOLO dengan investasi rutin, termasuk melalui skema Systematic Investment Plan atau SIP. Strategi tersebut tetap membutuhkan pemahaman mengenai risiko, tujuan investasi, serta kemampuan menanggung kerugian, melansir The Times of India.

Mencari Keseimbangan antara Pengalaman dan Masa Depan

Perbedaan antara gaya hidup YOLO dan frugal living tidak harus dipahami sebagai pilihan yang saling meniadakan. Pengelolaan keuangan dapat mencakup ruang untuk menikmati pengalaman sekaligus menyisihkan dana bagi kebutuhan jangka panjang.

Penyusunan anggaran bulanan dapat menjadi langkah awal untuk menemukan keseimbangan tersebut. Besaran setiap kategori dapat disesuaikan dengan kondisi penghasilan, biaya hidup, dan tujuan personal.

Literasi keuangan dapat membantu Gen Z mengambil keputusan secara lebih terukur. Informasi dari media sosial dapat menjadi pintu masuk untuk mempelajari pengelolaan uang, tetapi setiap saran perlu disesuaikan dengan keadaan individu dan tidak diterima secara mentah.

Strategi investasi, penggunaan kredit, serta keputusan menabung memiliki konsekuensi yang perlu dipahami sebelum diterapkan.