BEI Cabut Suspensi Saham NINE Hari Ini 3 Juli 2026

Berikut pergerakan saham PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE) setelah BEI mencabut suspensi efek pada Jumat, (3/7/2026).

Diterbitkan 03 Juli 2026, 11:41 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencabut penghentian sementara (suspensi) perdagangan saham PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE). Dengan keputusan tersebut, saham NINE kembali dapat diperdagangkan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai mulai sesi I perdagangan pada Jumat, 3 Juli 2026.

"Bursa mencabut suspensi efek NINE di Pasar Reguler dan Pasar Tunai terhitung sejak Sesi 1 Perdagangan Efek pada Jumat, 3 Juli 2026," kata Kepala Divisi Pengaturan dan Operasional Perdagangan BEI, Pande Made Kusuma Ari, dikutip dari Keterbukaan Informasi BEI, Jumat (3/7/2026).

Pencabutan suspensi dilakukan setelah perseroan memenuhi seluruh kewajiban yang sebelumnya menjadi dasar penghentian sementara perdagangan saham oleh BEI. Selain itu, bursa juga memastikan tidak terdapat kondisi lain yang mengharuskan saham NINE tetap berada dalam status suspensi.

Dalam pengumuman bursa menyampaikan keputusan tersebut mempertimbangkan beberapa hal. Salah satunya adalah tindak lanjut atas Pengumuman Bursa Nomor Peng-S-00021/BEI.PLP/07-2026 tanggal 1 Juli 2026 mengenai penghentian sementara perdagangan efek atas sanksi penyampaian laporan keuangan tahunan per 31 Desember 2025 bagi perusahaan tercatat di Papan Akselerasi.

Meski perdagangan saham telah kembali dibuka, BEI mengimbau seluruh investor dan pihak yang berkepentingan untuk tetap mencermati setiap keterbukaan informasi yang disampaikan oleh PT Techno9 Indonesia Tbk. "Bursa meminta kepada seluruh pihak yang berkepentingan untuk selalu memperhatikan Keterbukaan Informasi yang disampaikan oleh Perseroan," pungkasnya.

Mengutip data RTI pada Jumat, 3 Juli 2026, saat dipantau pukul 11.29 WIB, harga saham NINE naik 9,72% menjadi Rp 79 per saham. Harga saham NINE dibuka stagnan di Rp 72 per saham. Saham NINE berada di level tertinggi Rp 79 dan terendah Rp 71 per saham. Total frekuensi perdagangan 681 kali dengan volume perdagangan saham 88.326 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 689,9 juta.

NINE Incar Aset Tambang Mongolia, Strategi Baru Perkuat Nilai Saham

Sebelumnya, PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE) menyampaikan langkah strategis perseroan yang memperoleh dukungan penuh dari pemegang saham pengendali, Poh Group yang berbasis di Singapura. Dukungan tersebut akan diwujudkan melalui penggabungan aset pertambangan yang berlokasi di Mongolia ke dalam portofolio NINE lewat skema Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue.

Langkah korporasi ini menjadi tonggak awal perubahan arah bisnis NINE menuju sektor pertambangan, baik di dalam negeri maupun kawasan regional. Ekspansi tersebut sejalan dengan peta jalan strategis Poh Group sebagai pemegang saham mayoritas perusahaan.

Direktur Utama PT Techno9 Indonesia Tbk, Nuzwan Gufron, menyampaikan bahwa rencana opsi pembelian aset tambang Mongolia milik Poh Golden Ger Resources Pte Ltd (PGGR) diyakini dapat memberikan nilai tambah bagi pemegang saham.

“Integrasi aset-aset Mongolia ke dalam Techno9 Indonesia ini berpotensi memiliki dampak positif bagi para pemegang saham NINE, khususnya apabila opsi pembelian aset pertambangan PGGR di Mongolia dilaksanakan. Hal ini membuka jalur yang lebih terstruktur untuk monetisasi aset dan memperkuat keterlibatan Techno9 Indonesia di masa depan dalam proyek-proyek pertambangan,” ungkap Nuzwan Gufron dalam keterangan resmi, Jumat (9/1/2026).

Ia menjelaskan, PGGR telah meneken Framework Agreement kerja sama pertambangan dengan kontraktor Engineering, Procurement and Construction + Finance (EPC+F) berskala besar yang beroperasi di Mongolia.

 

 

Rencana Tambah Investasi

Kontraktor tersebut berencana menanamkan investasi lebih dari USD 100 juta untuk menjalankan kegiatan operasional tambang pada proyek-proyek milik Poh Group maupun NINE dan PGGR, dengan proyeksi kapasitas produksi tahunan melampaui 20 juta ton. Melalui skema kerja sama ini, Poh Group dan NINE tidak akan menanggung belanja modal (capex), baik pada tambang yang dimiliki sendiri maupun dalam skema kerja sama operasi.

“Realisasi rencana investasi ini bergantung pada hasil uji tuntas (due diligence) yang memuaskan serta persetujuan atau pencatatan investasi luar negeri (Overseas Direct Investment/ODI) yang diperlukan dari otoritas Tiongkok. Jumlah investasi aktual akan disesuaikan dengan besaran persetujuan atau pencatatan yang diperoleh,” tambahnya.

Nuzwan menuturkan, calon mitra EPC+F tersebut memiliki rekam jejak panjang dalam eksploitasi tambang serta pengelolaan operasional, termasuk pelaksanaan investigasi khusus atas tambang di Mongolia, Indonesia, dan sejumlah negara lain.

Perusahaan tersebut berdiri sejak 1998 dengan lebih dari 1.000 karyawan dan total aset melebihi USD 500 juta. “EPC+F ini memiliki dasar yang kuat untuk kerja sama pertambangan lintas negara,” ungkapnya.