IHSG Diproyeksi Bergerak 8.133-8.300 di Tengah Gejolak Geopolitik dan Penutupan Selat Hormuz

IHSG diprediksi bergerak di rentang 8.133–8.300 pada Senin (2/3/2026) seiring meningkatnya tensi di Selat Hormuz.

Diterbitkan 02 Maret 2026, 16:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak dalam rentang 8.133 hingga 8.300 di tengah meningkatnya tensi geopolitik akibat penutupan Selat Hormuz. Lonjakan harga minyak dunia dinilai memperkuat sentimen risk-off di pasar keuangan global.

“IHSG hari ini diproyeksikan bergerak dalam rentang 8.133 hingga 8.300 di tengah meningkatnya tensi geopolitik akibat penutupan Selat Hormuz. Pagi ini tekanan risk-off semakin terlihat setelah harga minyak melonjak tajam,” ujar Hendra dalam keterangan resmi, dikutip Senin (2/3/2026).

Hendra menuturkan OIL WTI menguat ke level 69 atau naik sekitar 3,82 persen, sementara OIL Brent naik lebih tinggi ke level 76 atau menguat 4,94 persen. Lonjakan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan, mengingat sekitar 30 persen distribusi minyak global melewati jalur tersebut.

Ketika jalur logistik energi terganggu, pasar langsung melakukan penyesuaian harga terhadap risiko suplai sehingga harga energi naik lebih agresif dibanding aset berisiko lainnya.

 

Eksposur Aset Berisiko

Menurut dia, kondisi tersebut membuat investor global cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk saham di negara emerging market. Aliran dana asing berpotensi keluar dalam jangka pendek dan memberi tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah, terutama jika harga minyak bertahan tinggi dalam beberapa hari ke depan.

“Kondisi ini mendorong pasar global bergerak dalam pola risk-off. Investor mengurangi eksposur pada saham emerging market dan beralih ke aset safe haven seperti emas dan dolar AS. Dampaknya bagi IHSG cukup signifikan, terutama melalui potensi capital outflow jangka pendek serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Jika harga minyak bertahan tinggi dalam beberapa hari ke depan, risiko inflasi impor juga meningkat, khususnya bagi sektor yang sensitif terhadap biaya energi dan transportasi,” jelasnya.

Secara teknikal, level 8.133 dinilai menjadi support krusial. Apabila level tersebut ditembus dengan tekanan jual yang kuat, maka area 8.000 menjadi support psikologis berikutnya. Sementara itu, resistance di 8.300 menjadi batas penting untuk melihat peluang rebound indeks di tengah tekanan global.

 

Sektor Energi Dapat Sentimen Positif

Di tengah pelemahan indeks, sektor energi justru berpotensi menjadi penopang. Kenaikan harga minyak dinilai memberikan sentimen positif bagi emiten hulu migas dan jasa penunjang. Hendra merekomendasikan Medco Energi Internasional (MEDC) buy dengan target 1.900, Energi Mega Persada (ENRG) sebagai trading buy dengan target 1.900, serta Elnusa (ELSA) trading buy dengan target 900. Untuk distribusi energi, AKR Corporindo (AKRA) dipertimbangkan sebagai speculative buy dengan target 1.400.

Ia menilai volatilitas jangka pendek pada IHSG hampir tak terhindarkan jika eskalasi geopolitik berlanjut. Namun, kondisi tersebut juga membuka peluang selektif pada saham berbasis komoditas energi selama harga minyak bertahan dalam tren penguatan, dengan tetap menerapkan disiplin manajemen risiko.

 

  • liputan6
    Saham adalah hak yang dimiliki orang (pemegang saham) terhadap perusahaan berkat penyerahan bagian modal sehingga dianggap berbagai dalam pe
    Saham
  • liputan6
    Analisis komprehensif ini membahas tren pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dampak rebalancing MSCI, rekomendasi saham terkini, pengertian dan komponen IHSG, serta faktor-faktor penggeraknya.
    Ihsg
  • Iran adalah negara di Timur Tengah yang memiliki sumber daya gas terbesar.
    Iran adalah negara di Timur Tengah yang memiliki sumber daya gas terbesar.
    Iran
  • Sektor Saham
  • Geopolitik
  • Selat Hormuz