Sukses

Membongkar Jurus Warren Buffett Indonesia Lo Kheng Hong saat Investasi

Liputan6.com, Jakarta - Investor kawakan tanah air, Lo Kheng Hong kembali mengingatkan investor untuk cermat dalam melakukan keputusan investasi. Hal ini merujuk pada prinsipnya, investasi bukanlah spekulasi.

Prinsip tersebut diterapkan Lo Kheng Hong dari strategi investasi Warren Buffett yang menjadi inspirasinya dalam investasi. Lo Kheng mendulang kekayaan dari strategi yang dianutnya itu. Maka tak ayal jika Lo Kheng Hong dijuluki Warren Buffett Indonesia.

Untuk prinsip investasi bukanlah spekulasi, maksudnya, dalam investasi mestinya dilandasi dengan pengetahuan mumpuni mengenai seluk beluk instrumen yang menjadi pilihan investasinya. Sebaliknya, spekulasi secara garis besar dimaknai Lo sebagai ketidaktahuan investor atas apa yang dimilikinya.

"Kalau kita investasi artinya kita tahu apa yang kita miliki. Sedangkan kalau spekulasi artinya kita tidak tahu apa yang kita miliki,” kata Lo Kheng Hong seperti dikutip, Selasa (3/8/2021).

Sebagai gambaran, untuk investasi, investor perlu untuk mengetahui fundamental perusahaan yang diincarnya. Hal ini bisa dilihat dari laporan keuangan perusahaan. Hal ini meliputi pendapatan dan laba perseroan, apakah mencatatkan laba atau malah merugi.

Dari sisi utang dan piutang juga penting untuk diperhatikan, karena akan menyangkut kinerja perusahaan ke depan. Untuk yang satu ini, investor benar-benar harus cermat untuk memindai apakah ada kejanggalan atau tidak dalam laporan keuangan perusahaan.

"Ada perusahaannya yang utangnya nol kasnya ada Rp 2,4 triliun. Ada juga yang aneh, ada perusahaan yang penjualannya cash tapi ada piutang ratusan miliar, siapa yang utang?” Lo Kheng Hong mengumpamakan.

 

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 6 halaman

Ketahui Latar Belakang Manajemen

Selain itu, tak kalah penting mengetahui latar belakang dan kinerja manajemen perusahaan. Hal itu untuk memastikan perusahaan dikelola oleh orang yang tepat, sehingga meminimalisir risiko kerugian pada masa mendatang.

"Jadi kita harus tahu semuanya,” imbuh Lo Kheng Hong.

"Kalau kita beli yang kita tahu, itu kita sedang investasi. Tapi kalau tidak tahu apa yang kita beli, hanya berdasarkan saran dari teman atau dengar tukang pom pom atau influencer, kita tidak tahu apa yang kita beli, kita sedang berspekulasi,” ulang Lo Kheng Hong menegaskan.

"Kedua, serakahlah ketika yang lain takut. Dan takutlah ketika yang lain serakah,” kata Lo Kheng Hong.

Artinya, ketika saham sedang murah maka orang-orang kemungkinan akan menghindari saham tersebut karena dinilai tidak menarik.

Namun, menurut Lo Kheng Hong kondisi ini dapat menjadi kesempatan emas. Dengan catatan perusahaan yang dibidik setidaknya memiliki fundamental yang bagus. Sehingga memiliki potensi pertumbuhan di masa mendatang.

"Ketika semua orang takut, saham itu artinya sedang murah. Kemudian kita simpan, kita tunggu sampai situasi membaik. Orang-orang jadi beli (saat sahamnya bagus), ketika orang beli tentu harga sahamnya jadi mahal dan saat itulah kita jual dan kita jadi orang kaya,” ujar Lo Kheng Hong.

 

3 dari 6 halaman

Rajin Membaca

Strategi selanjutnya, membaca. Sehari-hari, pria kelahiran Jakarta, 20 Februari 1959 ini mengaku gemar membaca surat kabar atau koran untuk mengetahui perkembangan pasar terkini. Tak tanggung-tanggung, ia membaca empat koran sekaligus dalam satu hari.

"Saya pagi-pagi jam 06.00 WIB biasa bangun ambil empat koran di depan rumah. Saat jurnalis cari berita perusahaan publik, saya gak usah cari. Cukup dari empat korna itu yang saya baca” kata dia.

Kandati zaman sudah berkembang, Lo Kheng Hong beranggapan media ini masih cukup efektif untuk mengetahui isu terkini di pasar modal. Terlebih, ini memang sudah menjadi kebiasaannya. Sehingga tidak mudah untuk berubah begitu saja.

“Saya sudah langganan koran selama 30 tahun, masa berhenti? nanggung. Terus aja. Kadang di berita ada yang baik, saya bisa gunting, bisa arsipkan,” ujar Lo Kheng Hong.

Meski demikian, Lo Kheng Hong juga tak melulu membaca koran. Dalam sehari, ia juga menghabiskan waktunya untuk menonton televisi dan mengakses sumber bacaan lain terkait pasar modal. Pada intinya, Lo Kheng Hong menghabiskan kesehariannya untuk memperkaya referensinya terkait investasi.

"Jadi sepanjang hari saya membaca. Membaca adalah jendela dunia,” kata Lo Kheng Hong.

Dalam hematnya, orang yang banyak membaca jadi banyak tahu. Orang yang banyak tahu dia dekat dengan kepintaran. Orang yang dekat dengan kepintaran, dekat dengan kekayaan. “Membaca adalah sumber inspirasi. Ingin sukses jadi investor saham, jadikan membaca sebuah kebiasaan,” ujar dia.

Lo Kheng Hong menekankan, untuk jadi investor yang sukses tidak perlu memiliki IQ yang tinggi, atau latar belakang tertentu. Menurut dia, menjadi investor sangat sederhana dan mudah. Sebagai gambaran, ia menceritakan ada seorang buruh pabrik yang memiliki investasi hingga Rp 10 miliar.

Jika merujuk perkembangan teknologi saat ini, telah banyak akses untuk mengakomodir kebutuhan investor. Mulai dari informasi seputar perkembangan pasar modal, hingga pembelian saham dapat dilakukan secara daring. Hal ini mestinya menambah kemudahan dalam berinvestasi di pasar modal.

4 dari 6 halaman

Melihat Valuasi

Strategi selanjutnya, yakni pentingnya valuasi. "Kita harus dapatkan perusahaan yang bagus dan murah, bukan mahal dan jelek. Artinya kita beli Mercy harga Avanza,” kata Lo Kheng Hong.

Lo Kheng Hong memang termasuk investor yang berorientasi pada fundamental perusahaan. Karakteristik utama yang ia lirik adalah profitabilitas dari perusahaan. “Pertama, perusahaan cuannya gede,” ujar Lo.

Namun begitu, tak menutup kemungkinan ia juga akan melirik perusahaan yang mencatatkan kerugian. Dengan catatan, berdasarkan laporan keuangan pada tahun-tahun sebelumnya mencatatkan laba yang besar.

Sebagai gambaran, banyak perusahaan yang mencatatkan kerugian atau penurunan laba sepanjang 2020 lantaran ada pandemi covid-19 yang mengganggu kinerja perusahaan. Namun pada tahun-tahun sebelumnya perusahaan mampu mencatatkan laba yang besar. Saham perusahaan yang seperti itu kemungkinan juga akan diminati Lo.

“2020 ada perusahaan yang labanya turun 99 persen. Saya lihat annual report tahun-tahun sebelumnya seperti apa. Ternyata naik. 2020 laba turun karena memang pandemi. Saya beli. Saya harapkan nanti 2022-2023 akan terulang seperti tahun sebelum pandemi,” kata Lo Kheng Hong.

Selanjutnya harga yang murah. Untuk perusahaan dengan kapitalisasi besar, nampaknya tidak masuk dalam kriteria Lo. Karena umumnya perusahaan dengan kapitalisasi besar kisarah harganya juga tinggi. Namun jika ada perusahaan dengan kapitalisasi besar, yang karena suatu sebab dijual dengan harga murah, ini bisa jadi pilihan.

Lo mengaku tak terlalu ambil pusing mengenai kondisi makro dalam menentukan investasinya. Lo lebih memilih fokus pada emiten atau perusahaan, dengan mempertimbangkan fundamental dan harga sahamnya.

“Saya tidak perhatikan makro. Tapi saya perhatikan mikro. Perusahaan itu sendiri yang saya lihat. Kalau saya temukan perusahaan yang bagus dengan harga murah, mercy dijual harga Avanza nggak peduli makronya seperti apa ya beli aja,” ujar Lo Kheng Hong.

 

5 dari 6 halaman

Sabar

Dari semua strategi yang disebutkan sebelumnya, mungkin ini yang menjadi pamungkas. Yaitu sabar. Umumnya, investasi memang merujuk pada simpanan jangka panjang. Sehingga investor tak perlu buru-buru untuk mengutak-atik investasi yang dimilikinya.

"Jangan cepet-cepet jual. Orang yang sabar itu tahu apa yang dia beli. Sedangkan yang tidak sabar tidak tahu apa yang dia beli. Kalau kamu orang yang tidak sabar, hartamu bisa pindah ke orang yang sabar,” tutur Lo Kheng Hong.

Setelah semua strategi dilakukan, maka investor hanya perlu tidur. Alih-alih kerja keras untuk menjadi kaya, uang dalam bentuk investasi itulah yang akan bergerak dan menjadi mesin pencetak uang bagi investor. Namun jangan lupa, pastikan pilihan investasi Anda sudah tepat.

“Masyarakat kita enggak bisa ngorok. Kalau ngorok tambah miskin. Kita harus kerja keras karena nggak punya saham. Nggak punya wonderful company yang bisa jadi mesin pencetak uang buat kita,” kata Lo Kheng Hong.

 

6 dari 6 halaman

Sektor Saham Pilihan

Terakhir, Lo Kheng Hong mengatakan lebih baik membeli saham perusahaan yang bagus di harga wajar. Daripada membeli perusahaan biasa pada harga murah.

Sebagai investor berbasis fundamental, kemungkinan besar hal ini merujuk pada kinerja perusahaan yang masuk dalam ‘wonderful company’ yang dinilai lebih kuat dibandingkan perusahaan biasa.

"Jauh lebih baik beli wonderful company di harga wajar daripada membeli company biasa di harga yang murah,” ujar Lo Kheng Hong.

Adapun sektor yang menjadi pilihan Lo Kheng Hong saat ini, antara lain; perbankan, kelapa sawit, dan batu bara. Sementara untuk sektor yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan, yakni sektor teknologi, Lo Kheng Hong mengaku tidak tertarik. Hal itu kembali lagi pada prinsip Lo Kheng Hong mengenai profitabilitas perusahaan. Sementara perusahaan di sektor teknologi dinilai belum bisa membukukan profitabilitas yang besar.

"Perbankan bagus. Kelapa sawit huga bagus, harga CPO tinggi tapi sahamnya masih murah. Batu bara juga bagus, harga batubara sudah tinggi tapi sahamnya juga masih murah. Itu sangat prospek. (Sementara) perusahaan teknologi untungnya berapa,” kata Lo Kheng Hong.