Bursa Asia Dibuka Menghijau, Wall Street Cetak Rekor Baru

Bursa Asia dibuka menguat mengikuti reli Wall Street setelah AS dan Iran sepakat menghentikan serangan. Dow Jones pun mencetak rekor penutupan tertinggi.

Diterbitkan 30 Juni 2026, 08:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia mayoritas dibuka menguat pada perdagangan Selasa (30/6/2026), mengikuti reli Wall Street yang ditopang meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Sentimen positif tersebut juga mendorong indeks Dow Jones Industrial Average mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang sejarah.

Di awal perdagangan, indeks Nikkei 225 Jepang melonjak lebih dari 1,41%, sedangkan Topix menguat 0,88%. Di Korea Selatan, indeks Kospi naik 1,17%, sementara indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq justru melemah 0,88%. Adapun indeks acuan Australia, S&P/ASX 200, bergerak relatif datar.

Sementara itu, kontrak berjangka (futures) saham AS bergerak cenderung stabil pada Senin malam waktu setempat. Futures Dow Jones turun tipis 43 poin atau kurang dari 0,1%, sedangkan futures S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing terkoreksi kurang dari 0,1%.

Pada perdagangan reguler sebelumnya, Wall Street ditutup menguat. Indeks S&P 500 naik 1,18%, sementara Nasdaq Composite melesat 2,07%.

Di sisi lain, Dow Jones menguat 306,63 poin atau 0,59% dan ditutup di atas level 52.000 untuk pertama kalinya sepanjang sejarah. Penguatan indeks tersebut turut ditopang lonjakan hampir 5% saham Alphabet pada hari pertama perusahaan tersebut diperdagangkan sebagai anggota indeks Dow Jones.

Selain itu, saham perusahaan teknologi pertahanan AeroVironment melonjak sekitar 19% pada perdagangan setelah bursa ditutup. Kenaikan tersebut terjadi setelah perusahaan membukukan laba kuartalan yang melampaui ekspektasi analis.

 

Masih Ada Potensi Menguat

Analis Senior Evercore ISI, Julian Emanuel, menilai sentimen investor saat ini sebenarnya belum sepenuhnya positif. Namun menurutnya, kondisi tersebut justru dapat menjadi peluang menjelang musim laporan keuangan emiten.

"Dari sudut pandang kami, sentimen pasar sebenarnya belum terlalu positif. Namun secara paradoks, kondisi seperti ini justru menjadi fondasi yang baik menjelang musim laporan keuangan perusahaan," kata Julian Emanuel dalam program Power Lunch CNBC.

Ia memperkirakan saham-saham teknologi berkapitalisasi besar masih memiliki ruang untuk kembali menguat.

"Kami melihat penguatan kemungkinan akan semakin meluas saat musim laporan keuangan dimulai, khususnya pada saham-saham teknologi berkapitalisasi besar. Biasanya terjadi perubahan pandangan dan penyesuaian posisi investor, terutama di awal paruh kedua tahun ini. Menurut kami, kelompok Magnificent Seven berada dalam posisi yang sangat menguntungkan karena belakangan ini justru kurang mendapat perhatian pasar," ujarnya.

 

Kesepakatan AS-Iran

Sentimen positif di pasar juga dipicu oleh kesepakatan AS dan Iran pada Minggu untuk menghentikan aksi saling serang serta mengizinkan kapal-kapal dagang kembali melintasi Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi perdagangan minyak dunia.

Seorang pejabat AS sebelumnya mengatakan kedua negara sepakat menghentikan sementara aksi militer sehingga aktivitas pelayaran komersial dapat kembali berlangsung normal.

Selanjutnya, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis pada Selasa pagi waktu setempat. Data tersebut meliputi JOLTS Job Openings periode Mei, Chicago PMI bulan Juni, serta indeks kepercayaan konsumen yang diperkirakan akan memberikan petunjuk mengenai kondisi ekonomi AS dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.