Sukses

Fintech Berkembang, Begini Prospek Industri Asuransi di Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Prospek industri asuransi di Indonesia dinilai masih cukup solid. Hal itu merujuk pada kondisi Indonesia dengan populasi terbesar keempat di dunia dan ekonomi yang diperkirakan akan tumbuh rata-rata lebih dari 5 persen dalam waktu dekat.

Selain itu, seiring dengan tingkat pendapatan yang meningkat, memungkinkan sektor asuransi menjadi lebih terjangkau. Ditambah ketersediaan saluran distribusi tekfin memungkinkan sektor ini untuk berkembang lebih cepat.

Melansir dari laporan Fitch Solutions, Kamis, (24/6/2021), sektor ini diketahui hanya andil 1,5 persen dari PDB 2020. Tertinggal di antara kawasan ekonomi lain yang memiliki populasi lebih kecil.

Dengan populasi terbesar keempat di dunia dan merupakan negara terbesar di Asia Tenggara, total premi asuransi pada 2020 tercatat senilai USD 16,4 miliar atau sekitar Rp 236,7 triliun (kurs Rp 14.432 per USD), mewakili 1,5 persen dari PDB.

Dibandingkan dengan Jepang, asuransi adalah 7,4 persen dari PDB dan bernilai USD 377 miliar atau sekitar Rp 5.440 triliun. Artinya, pasar asuransi Indonesia memiliki banyak ruang untuk pertumbuhan di masa depan.

"Total premi bruto yang tercatat pada tahun 2020 turun nilainya sebesar 8,2 persen. Tetapi kami memperkirakan rebound yang kuat pada tahun 2021 sebesar 9,8 persen seiring pemulihan ekonomi. Kami memperkirakan pertumbuhan tahunan di kisaran 5,5 persen hingga 6,5 persen antara tahun 2022 dan 2026,” tulis Fitch Solutions dalam laporannya, Kamis (24/6/2021).

Pasar asuransi jiwa di Indonesia cukup ramai dengan 10 perusahaan teratas menyumbang sekitar 75 persen dari total aset dan mengantongi lebih dari dua pertiga dari total premi bruto.

"Pada 2021, kami memperkirakan asuransi jiwa akan menyumbang 72,8 persen dari total premi yang tercatat. Nilai growth premi jiwa mengalami penurunan sebesar 7,2 persen pada 2020 tetapi diperkirakan akan pulih dan membukukan pertumbuhan sebesar 11,0 persen pada tahun ini. 

Sementara, pada 2022 hingga 2026, Fitch Solutions memperkirakan pertumbuhan nilai premi jiwa menjadi rata-rata 6,2 persen per tahun. Merujuk pada perkiraan segmen jiwa (life) akan berkembang lebih cepat daripada non-jiwa, atau 73,5 persen dari total premi tercatat.

2 dari 5 halaman

Daftar Perusahaan Asuransi Jiwa

Dalam catatan Fitch, daftar perusahaan asuransi jiwa papan atas di Indonesia didominasi oleh perusahaan multinasional. Pertama, ada Prudential Life Assurance yang hadir di Indonesia pada 1995 dan membangun posisi pasar yang kuat. Pada 2017, Perusahaan membeli 49 persen kepemilikan di Jiwa Mega Indonesia, anak perusahaan asuransi jiwa dari CT Corp.

Selanjutnya, ada Jiwasraya (Persero), yakni salah satu perusahaan asuransi tertua di Indonesia. Dimulai sebagai cabang dari perusahaan asuransi Belanda yang memberikan layanan kepada pekerja Kereta Api Belanda di Indonesia sejak 1859.

Setelah masa kemerdekaan, pada 1970 perusahaan dinasionalisasi dan sekarang menjadi perusahaan saham gabungan. Masa depan perusahaan tidak pasti saat ini karena kerugian besar yang ditimbulkannya dalam skema tabungan yang curang.

Lalu Indolife Pensiontama yang merupakan bagian dari Salim Group. Memulai bisnisnya pada 1991 dan berfokus pada asuransi dan pensiun.

Ada juga Allianz Life Indonesia, bagian dari Allianz multinasional yang mendirikan kantor perwakilan di Indonesia pada 1989. Pada 1996, barulah perusahaan Indonesia didirikan. Selain asuransi jiwa dan pensiun, perusahaan juga memiliki portofolio asuransi umum yang luas.

Disusul AIA Financial, perusahaan yang berbasis di Hong Kong itu berfokus pada penyediaan layanan di kawasan Asia yang didirikan pada 1919 di Shanghai. Sejak 2013, AIA telah mendistribusikan produknya melalui Citibank.

Sementara, sektor non-jiwa mewakili 28,1 persen dari total sektor asuransi pada 2020, dan akan tumbuh lebih lambat daripada sektor jiwa dalam waktu dekat. Pada 2020, nilai total premi non-jiwa tercatat turun 10,6 persen, sejalan dengan penurunan ekonomi secara keseluruhan.

"Dengan pemulihan ekonomi pada tahun 2021, kami memperkirakan premi non-jiwa meningkat sebesar 6,5 persen, tetapi ini masih akan sedikit di bawah tingkat premi non-jiwa pada 2019,”tulis Fitch.

 

3 dari 5 halaman

Prediksi Pertumbuhan

Dari 2022 hingga 2026, Fitch Solutions memperkirakan pertumbuhan tahunan rata-rata sebesar 6,2 persen, tetapi ini tidak akan memungkinkan penetrasi segmen non-jiwa lebih lanjut dalam ekonomi, karena pada tahun 2026 masih hanya akan menyumbang 0,4 persen dari PDB, sama seperti pada 2020.

Jaminan kendaraan bermotor dan properti adalah dua segmen terbesar dari sektor non-jiwa pada 2020, dan bersama-sama menyumbang 54,2 persen dari premi non-jiwa. 

"Ada 18,3 juta mobil penumpang pada 2020, dan kami berharap jumlah itu akan meningkat menjadi 25,9 juta unit pada 2026. Kami memperkirakan pertumbuhan tahunan rata-rata dalam premi sebesar 4,5 persen hingga tahun 2026, mengikuti pertumbuhan sebesar 6,9 persen pada tahun 2021,” tulis The Fitch.

Sementara pangsa kendaraan bermotor dari sektor non-jiwa akan turun menjadi 26,5 persen pada akhir tahun.Adapun cakupan sektor properti mewakili 26,6 persen dari premi non-jiwa yang tercatat sepanjang 2020.

Premi di segmen ini diperkirakan akan meningkat sebesar 6,9 persen pada 2021, tetapi kemudian akan membuat keuntungan yang lebih kecil dengan rata-rata 3,4 persen per tahun hingga 2026. 

"Mengingat geografi Indonesia, di mana gunung berapi dan gempa bumi yang lazim, serta meningkatnya tingkat pendapatan di negara ini, kami berharap cakupan properti tetap menjadi salah satu segmen terbesar dari perlindungan non-jiwa. Namun, pangsa preminya akan turun menjadi 23,5 persen pada tahun 2026,” tulis Fitch Solutions.

4 dari 5 halaman

Daftar Perusahaan

Banyak perusahaan besar di segmen non-jiwa merupakan perpanjangan tangan dari badan usaha milik negara (BUMN) atau konglomerat domestik lainnya dan memiliki sejarah panjang di negeri ini. Meskipun segmen ini terbuka untuk persaingan asing, perusahaan multinasional terkemuka seperti AIG atau Sompo hanya menempati pangsa pasar yang kecil.

Perusahaan-perusahaan tersebut, antara lain Sinar Mas yang didirikan pada 1938. Perusahaan ini telah menawarkan jasa asuransi sejak tahun 1985.

Kemudian Jasa Indonesia (Persero), perusahaan saham gabungan dan 100 persen milik negara. Perusahaan ini merupakan hasil dari nasionalisasi perusahaan asuransi umum milik Belanda yang didirikan pada 1845. Pada 1972, pemerintah Indonesia menggabungkan PT Asuransi Bendasraya dan PT International Underwriters (UIU) menjadi PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero).

Selanjutnya, Astra Buana yang didirikan pada 1956 sebagai PT Airline Insurance Company, dan berganti nama pada 1990. Ini adalah perusahaan asuransi umum tetapi salah satu produk terbesarnya adalah untuk kendaraan bermotor, ‘Garda Oto’, dilaporkan menjadi tolok ukur di segmen pasar itu.

Tugu Pratama adalah bagian dari perusahaan energi milik negara PT Pertamina (Persero) dan dimulai dengan menawarkan layanan asuransi untuk industri minyak dan gas.

Perseroan mencatatkan 15 persen sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada 2018 dengan kode TUGU. Sejak didirikan pada 1981, perusahaan telah berkembang melampaui industri energi dan memiliki portofolio produk non-jiwa yang luas.

PT Asuransi Central Asia (ACA) adalah perusahaan asuransi umum yang didirikan pada 1956. Pasar utama ACA adalah kendaraan bermotor, rumah dan produk asuransi mikro tetapi juga menawarkan properti, konstruksi, perjalanan dan asuransi kesehatan.

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini