BEI Proses IPO 9 Perusahaan, Mayoritas Sektor Perawatan Kesehatan

BEI mencatat empat perusahaan dengan aset menengah sedang proses menggelar IPO.

Diterbitkan 18 Oktober 2026, 22:31 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyampaikan tujuh perusahaan telah mencatatkan saham di BEI hingga 16 Oktober 2026. Total dana dihimpun dari penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) mencapai Rp 2,16 triliun.

“Hingga saat ini, terdapat sembilan perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” demikian mengutip data BEI, Minggu (18/10/2026).

Adapun berdasarkan klasifikasi aset perusahaan yang saat ini berada dalam pipeline merujuk POJK Nomor 53/POJK.04/2017), antara lain:

-Dua perusahaan aset skala kecil (aset di bawah Rp 50 miliar)

-Empat perusahaan aset skala menengah (aset antara Rp 50 miliar-Rp250 miliar)

-Tiga perusahaan aset skala besar (aset di atas Rp 250 miliar)

Kalau melihat dari rincian sektor antara lain empat perusahaan sektor perawatan kesehatan, dua perusahaan dari sektor energi. Lalu sektor saham lainnya yakni satu perusahaan dari sektor basic materials, keuangan, dan industri.

Selain itu, BEI mencatat telah diterbitkan 145 emisi dari 65 penerbit efek bersifat utang dan sukuk (EBUS). Dana dihimpun mencapai Rp 146,09 triliun.

"Sampai dengan 16 Oktober 2026 terdapat 24 emisi dari 16 penerbit EBUS yang sedang berasa dalam pipeline,” demikian mengutip dari data BEI.

Klasifikasi sektor yang berada dalam pipeline antara lain tiga perusahaan dari sektor basic materials, empat perusahaan dari sektor energi, satu perusahaan dari sektor industri, empat perusahaan dari sektor infrastruktur dan satu perusahaan dari sektor properti dan real estate.

Sedangkan terkait rights issue, BEI mencatat 16 perusahaan telah menerbitkan rights issue senilai Rp 37,35 triliun. Satu perusahaan tercatat masih dalam pipeline rights issue yang berasal dari sektor properti dan real estate.

Kinerja IHSG Pekan Lalu

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok pada 12-16 Oktober 2026. Analis menilai tekanan IHSG sepekan salah satunya dipicu investor yang panik setelah MSCI memulai konsultasi mengenai potensi perubahan status pasar saham Indonesia dari emerging market (EM) menjadi Standalone market.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (17/10/2026), IHSG sepekan anjlok 14,91% sehingga ditutup ke posisi 5.185,10 dari pekan lalu di posisi 6.093,75.

Pada pekan ini, tepatnya Jumat, 16 Oktober 2026, BEI juga menghentikan sementara perdagangan atau trading halt pada pukul 08.58.00 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS), menyusul koreksi IHSG yang mencapai 8%.

Kapitalisasi pasar juga anjlok 14,43% menjadi Rp 9.157 triliun dari Rp 10.701 triliun pada pekan lalu.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, selama sepekan ini, IHSG anjlok 14,91% disertai dengan tekanan jual yang membesar. Pihaknya memperkirakan, tekanan IHSG itu didorong sejumlah faktor. Pertama, menurut Herditya, panic selling investor setelah penyedian indeks global MSCI mengeluarkan proposal perubahan status Indonesia dari emerging market (EM) menjadi Standalone Market atau pasar mandiri. “Hal ini sifatnya konsultasi dengan keputusan final pada Juni 2027 dan dapat dibalkan apabila terdapat perbaikan yang signifikan,” kata Herditya saat dihubungi Liputan6.com.

 

Sentimen IHSG Lainnya

Faktor kedua, rilis consumer price index (CPI) Amerika Serikat di level 3,7% Year on Year (YoY) dan masih jauh dari target the Federal Reserve (the Fed), sehingga diperkirakan the Fed masih akan higher for longer ke depan dengan kenaikan satu kali sebelum akhir 2026.

Di sisi lain, Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat juga naik 1,3% Month on Month. Faktor ketiga, konflik Timur Tengah masih menjadi cermatan pasar, di mana masih terjadi eskalasi antara Houthi dan Arab Saudi.

"Hal tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran pasar akan adanya kenaikan harga minyak mentah dan akan terjadinya inflasi energi secara global,” kata dia.

Volume Transaksi Harian

Selain itu, rata-rata volume transaksi harian juga merosot 5,22% menjadi 44,10 miliar saham dari pekan lalu 46,53 miliar saham. Diikuti rata-rata nilai transaksi harian yang terpangkas 0,07% menjadi Rp 16,21 triliun dari Rp 16,23 triliun pada pekan lalu.

Kemudian rata-rata frekuensi transaksi harian meningkat 2,46% menjadi 1,72 juta kali transaksi dari 1,67 juta kali transaksi pada pekan lalu.

Pada pekan ini, investor asing menjual saham Rp 3,19 triliun. Aksi jual investor asing ini lebih besar dari pekan lalu Rp 2,44 triliun.