Badan Geologi: Gempa di Perairan Maluku Akibat Aktivitas Zona Subduksi Ganda Punggungan Mayu

Badan Geologi Kementerian ESDM menjelaskan terkait gempa bumi magnitudo M 7,2 pada kedalaman 61 km di Perairan Maluku.

Diterbitkan 04 April 2026, 07:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bandung - Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM) menyebut, gempa bumi magnitudo M 7,2 pada kedalaman 61 km di Perairan Maluku berjarak 127 km sebelah tenggara Bitung, Kamis 2 April 2026, pukul 05.48 WIB, akibat aktivitas zona subduksi ganda Punggungan Mayu.

Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria, Laut Maluku dan sekitarnya dipengaruhi oleh sistem subduksi ganda yang menunjam ke kedua arah yang berlawanan, yaitu ke arah barat ke Kepulauan Sangihe dan ke arah timur ke Kepulauan Halmahera.

"Kondisi ini membuat perairan ini memiliki kondisi geologi yang rumit dan intensitas kegempaan yang sangat tinggi," ujar Lana ditulis Bandung, Sabtu (4/4/2026).

Lana mengatakan, konsekuensi pergerakan lempeng tektonik ke kedua arah tersebut, telah menghasilkan proses pelelehan sebagian lempeng yang menunjam. Sehingga memunculkan rangkaian gunung api di kedua sisi, yaitu di Kepulauan Sangihe dan di Kepulauan Halmahera.

Berdasarkan kondisi geologinya, Lana menjelaskan wilayah terdampak gempa bumi tersusun oleh litologi batuan gunung api berumur Tersier hingga Kuarter, batuan sedimen dan karbonat berumur Tersier hingga Kuarter serta endapan aluvium berumur Holosen.

"Batuan yang telah mengalami pelapukan dan sedimen permukaan berpotensi memperkuat guncangan gempa bumi," kata Lana.

 

Wilayah Terdekat Gempa Bumi

Lana menerangkan, kekerasan batuan permukaan dipengaruhi oleh umur dan jenis batuan. Batuan yang berumur lebih muda atau yang telah mengalami pelapukan mempunyai kekerasan lebih rendah begitu juga sebaliknya

Wilayah terdekat dengan pusat gempa bumi diklasifikasikan ke dalam kelas tanah keras (C), tanah sedang (D), hingga lunak (E). Wilayah terdampak memiliki morfologi bervariasi dari dataran, berombak, bergelombang, perbukitan hingga pegunungan.

"Berdasarkan peta kawasan rawan bencana gempa bumi, wilayah terdampak termasuk ke dalam Kawasan rawan bencana gempa bumi rendah hingga tinggi," ungkap Lana.

Guncangan gempa bumi ini dirasakan di beberapa daerah terdampak, di antaranya Ternate dengan intensitas V-VI Skala MMI, Ibu V Skala MMI, Manado IV – V Skala MMI, dan Gorontalo, Bone, Bolango, Gorontalo Utara III Skala MMI.

"Gempa bumi ini terekam oleh Pos Pengamatan Gunung Api Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di Tangkoko dan Mahawu dengan intensitas IV-V Skala MMI, Karangetang pada III-IV Skala MMI, serta Dukono dan Ambang dengan intensitas III Skala MMI," terang Lana.

Sedangkan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat lokasi pusat gempa bumi terletak pada koordinat 1,27°LU - 126,26° BT, berjarak 127 km sebelah tenggara Bitung, dengan magnitudo M 7,2 pada kedalaman 61 km.

Gempa ini juga terekam oleh The United States of Geological Survey (USGS) Amerika Serikat, melaporkan bahwa pusat gempa bumi berada pada koordinat 1,117°LU - 126,297°BT, magnitudo M 7,4 dengan kedalaman 35 km. Sedangkan Geoforschung Potsdam GFZ Jerman, melaporkan pusat gempa bumi pada koordinat 1,25°LU - 126,29°BT, magnitudo M 7,4 dengan kedalaman 34 km.