Sukses

Muarojambi, Candi yang Luasnya 8 Kali Borobudur

Liputan6.com, Jambi - Peringatan hari raya Waisak 2561 di Provinsi Jambi berpusat di sebuah komplek candi Buddha seluas 12 kilometer persegi. Candi yang diberi nama Muarojambi itu disebut yang terluas di Asia Tenggara.

Usai ikut memperingati hari raya Waisak di Candi Muarojambi, Gubernur Jambi, Zumi Zola, mengatakan akan terus memperjuangkan Candi Muarojambi sebagai world heritage (warisan dunia) oleh UNESCO. Tak hanya luasnya yang berukuran delapan kali Borobudur, komplek Candi Muarojambi disebut juga sebagai situs kota kuno di Sumatera.

Menurut Zola, sejak 2009 Pemprov Jambi sudah membentuk tim khusus agar komplek candi yang berlokasi di Kabupaten Muarojambi itu diakui UNESCO. Sayangnya, hingga 2017 ini, upaya tersebut belum membuahkan hasil.

"Ini akan kita upayakan lagi, kita kaji apa-apa yang kurang. Candi Muarojambi amat banyak menyimpan keindahan dan keunikan. Belum lagi adat budaya masyarakat di sekitarnya," ujar Zumi Zola usai memperingati Waisak di Candi Muarojambi, Kamis, 11 Mei 2017.

Untuk menuju komplek Candi Muarojambi hanya dibutuhkan waktu sekitar 30 menit saja dari pusat Kota Jambi. Di tengah perjalanan, pengunjung akan disuguhi eloknya aliran sungai terpanjang di Sumatera, sungai Batanghari. Belum lagi deretan rumah tradisional khas Melayu Jambi hingga rimbunnya pepohonan buah khas Jambi, durian dan duku.

Bila beruntung, saat musim buah tiba, pengunjung bisa menikmati manisnya durian dan duku langsung dari pohonnya. Biasanya musim durian dan duku beriringan waktu antara bulan Desember hingga Maret setiap tahunnya.

2 dari 3 halaman

Warisan Peradaban Dunia

 

Salah seorang budayawan Jambi Junaidi T. Noor mengatakan, Candi Muarojambi adalah sebuah komplek percandian Hindu-Buddha. Tentang sejarah candi ini masih diselimuti perdebatan. Di mana kemungkinan besar Candi Muarojambi merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu.

"Sudah sejak 2009 komplek Candi Muarojambi diajukan ke UNESCO sebagai situs warisan dunia," ujar Junaidi September 2016 lalu.

Dari beberapa catatan sejarah Jambi, Candi Muarojambi diperkirakan berasal dari abad ke-11 Masehi. Komplek percandian ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1824 oleh seorang letnan Inggris bernama S.C. Crooke yang melakukan pemetaan daerah aliran sungai untuk kepentingan militer. Baru pada 1975, pemerintah Indonesia mulai melakukan pemugaran yang serius yang dipimpin R. Soekmono.

Dari catatan itu, pakar epigrafi, Boechari menyimpulkan peninggalan di Candi Muarojambi berkisar dari abad ke-9-12 Masehi. Di situs ini sudah sembilan bangunan telah dipugar, semuanya bercorak Buddhisme. Kesembilan candi tersebut adalah Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua, Gumpung, Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu, dan Candi Astano.

Beberapa arkeolog juga menyimpulkan, komplek Candi Muarojambi dahulu banyak dihuni dan menjadi tempat bertemu berbagai budaya. Ada manik-manik yang berasal dari Persia, China, dan India. Agama Buddha Mahayana Tantrayana diduga menjadi agama mayoritas dengan ditemukannya lempeng-lempeng bertuliskan "wajra" pada beberapa candi yang membentuk mandala.

3 dari 3 halaman

Terancam Rusak

Meski terbilang asri, komplek Candi Muarojambi bukan tanpa ancaman. Aktivitas sejumlah perusahaan tambang yang menggunakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari yang dekat dengan komplek percandian dinilai bisa merusak situs candi.

Direktur Swarnadvipa Institute M. Husnul Abid, yang juga salah satu pemerhati Candi Muarojambi mengatakan, maraknya kegiatan perusahaan tambang itu bisa juga menggagalkan upaya usulan Candi Muarojambi sebagai warisan dunia ke UNESCO.

"Sebab, UNESCO sangat tidak mentolelir aktivitas yang bisa merusak kawasan situs," kata pria yang biasa disapa Abid ini.

Untuk itu, Abid meminta agar pemerintah daerah juga tegas tidak memberikan izin pembukaan aktivitas perusahaan di sekitar komplek Candi Muarojambi.

Sebelum ini, Svarnadvipa Institute bersama sejumlah lembaga lain seperti Dewan Kesenian Jambi (DKJ), Sekolah Alam Muarajambi (Saramuja), Komunitas Seni Inner Jambi, Jambi Corps Grinder, Dwarapalamuja, Jambi Guitar Community dan kelompok masyarakat peduli Candi Muarojambi lainnya, pernah membuat petisi untuk pelestarian situs percandian Muarojambi.