Liputan6.com, Jakarta Istilah nomenklatur kerap muncul di pelajaran biologi, kimia, sampai urusan administrasi pemerintahan. Secara ringkas, nomenklatur adalah sistem atau aturan baku untuk memberi nama pada objek studi dalam suatu bidang ilmu.
Konsep ini paling populer lewat penamaan makhluk hidup memakai dua kata berbahasa Latin. Meski begitu, cakupannya sangat luas, mulai dari senyawa kimia hingga penataan nama jabatan.
Inti tujuannya sederhana, yakni menghadirkan bahasa yang seragam agar tidak terjadi salah paham antarilmuwan. Karena itu, memahami nomenklatur adalah langkah awal untuk membaca beragam istilah teknis dengan tepat.
Advertisement
Nomenklatur Adalah Tata Nama: Pengertian dan Asal-Usul Istilah
Secara umum, nomenklatur adalah seperangkat prinsip, prosedur, dan aturan yang berkaitan dengan penamaan suatu objek dalam cabang ilmu tertentu. Aturan ini sering dibakukan lewat kesepakatan internasional agar setiap nama memiliki makna yang sama di mana pun digunakan. Dengan begitu, nomenklatur berbeda tipis dengan klasifikasi, karena ia lebih menekankan pada aspek penamaan, bukan pengelompokan.
Dilansir dari Merriam-Webster, kata nomenklatur berasal dari bahasa Latin nomenclatura yang berarti "pemberian nama pada benda". Kata ini terbentuk dari nomen (nama) dan calare (memanggil atau mengumumkan). Penggunaan kata ini dalam bahasa Inggris tercatat sejak tahun 1610, jauh sebelum sistem penamaan modern dibakukan. Akar kata inilah yang menjelaskan mengapa nomenklatur selalu lekat dengan aktivitas "menyebut" atau "memberi label".
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), nomenklatur diartikan sebagai penamaan yang dipakai dalam bidang atau ilmu tertentu alias tata nama, sekaligus pembentukan tata susunan dan aturan pemberian nama objek studi bagi sebuah cabang ilmu pengetahuan. Definisi ini menegaskan bahwa nomenklatur tidak eksklusif milik biologi. Dalam kajian bahasa, penamaan bahkan dipandang sebagai bagian dari cara manusia menata dan membedakan objek di sekitarnya.
Singkatnya, nomenklatur adalah jembatan komunikasi yang membuat sebuah istilah dapat dipahami lintas negara dan lintas bahasa. Pemahaman ini menjadi dasar sebelum masuk ke topik yang lebih spesifik, misalnya ilmu taksonomi dan klasifikasi makhluk hidup yang menjadi rumah utama penerapannya.
Advertisement
Binomial Nomenklatur dan Sejarah Carolus Linnaeus
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288797/original/010387400_1783333529-pexels-yaroslav-shuraev-8512659.jpg)
Dalam biologi, bentuk nomenklatur yang paling dikenal disebut binomial nomenklatur. Sistem ini memberi setiap spesies sebuah nama yang terdiri dari dua bagian, yaitu nama genus (marga) sebagai kata pertama dan nama spesies (jenis) sebagai kata kedua. Penamaan semacam ini penting untuk menyatukan sistem penamaan lintas ilmu hayati sehingga satu spesies memiliki satu identitas nama yang unik di berbagai bahasa.
Menariknya, ide penamaan dua kata bukan sepenuhnya gagasan Linnaeus. Perintis awal binomial nomenklatur adalah Casper Bauhin, tetapi sistem ini baru dipopulerkan oleh taksonom botani asal Swedia, Carolus Linnaeus, pada tahun 1700-an. Di antara berbagai edisi karyanya, nama ilmiah pada publikasi tahun 1753 untuk tumbuhan (Species Plantarum) dan tahun 1758 untuk hewan (edisi kesepuluh Systema Naturae) dianggap sebagai rujukan yang sah.
Carl Linnaeus dikenal sebagai "bapak taksonomi modern" karena membakukan binomial nomenklatur, yaitu sistem modern untuk menamai organisme. Warisan Linnaeus bagi sains adalah taksonomi, yaitu sistem yang menstandarkan penamaan spesies dan menatanya berdasarkan ciri serta hubungan antarorganisme, dengan cara menggabungkan dua nama Latin persis seperti nama depan dan nama keluarga pada manusia. Berkat sistem ini, komunikasi ilmiah menjadi lebih rapi. Bagi pembaca yang ingin menelusuri penerapannya, tersedia bahasan tentang ciri-ciri makhluk hidup, kekayaan keanekaragaman hayati, sampai ragam jenis-jenis hewan yang seluruhnya bergantung pada tata nama ilmiah.
Aturan dan Cara Penulisan Nomenklatur Binomial yang Benar
Menulis nama ilmiah tidak boleh sembarangan karena tunduk pada kaidah yang ketat. Ada beberapa aturan mendasar yang harus dipatuhi ketika memberi nama sebuah organisme agar nama itu diterima secara universal. Berikut rangkuman kaidah penulisan nomenklatur binomial yang perlu dipahami:
- Terdiri dari dua kata. Kata pertama selalu menunjukkan nama genus dan kata kedua menunjukkan nama spesies.
- Perbedaan huruf kapital. Nama genus diawali huruf kapital, sedangkan nama spesies ditulis dengan huruf kecil seluruhnya.
- Menggunakan bahasa Latin. Nama ilmiah memakai bahasa Latin atau bahasa lain yang dilatinkan agar bersifat netral dan berlaku universal.
- Dicetak miring atau digarisbawahi. Jika diketik, kedua kata dicetak miring (italic); jika ditulis tangan, keduanya digarisbawahi.
- Nama spesies dua kata. Bila nama jenis terdiri dari dua kata, kata tersebut boleh digabung atau diberi tanda hubung, misalnya Hibiscus rosa-sinensis untuk bunga sepatu.
- Nama penemu di belakang. Nama penemu boleh dicantumkan setelah nama spesies, ditulis tegak (tidak miring) dan diawali huruf kapital, contohnya Musa paradisiaca L.
- Bersifat unik. Satu nama ilmiah hanya berlaku untuk satu spesies sehingga tidak boleh ada duplikasi.
- Penyingkatan setelah penyebutan pertama. Setelah ditulis lengkap, nama genus dapat disingkat menjadi huruf pertamanya, seperti E. coli untuk Escherichia coli.
Contoh penerapannya bisa dilihat dari nama ilmiah manusia, yaitu Homo sapiens, atau maple Jepang yang disebut Acer palmatum. Untuk memperkaya pemahaman, simak pula daftar nama Latin tumbuhan di Indonesia, deretan nama Latin makhluk hidup yang unik, serta urutan takson dari kingdom hingga spesies.
Advertisement
Kode Nomenklatur Internasional dan Contoh Nama Ilmiah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288798/original/031220800_1783333529-pexels-rdne-8279821.jpg)
Agar penamaan konsisten, komunitas ilmiah menyusun sejumlah "kitab aturan" yang disebut kode nomenklatur. Nama ilmiah tunduk pada badan internasional, misalnya International Code of Zoological Nomenclature (ICZN) untuk hewan dan International Code of Nomenclature for algae, fungi, and plants (ICNafp) untuk tumbuhan. Secara umum, beberapa kode yang berlaku saat ini adalah:
- ICZN - kode nomenklatur zoologi untuk hewan.
- ICN - kode nomenklatur untuk alga, jamur, dan tumbuhan.
- ICNP - kode nomenklatur untuk prokariota (bakteri dan arkea).
- ICNCP - kode nomenklatur untuk tanaman budidaya.
- ICVCN - kode klasifikasi dan nomenklatur virus.
- ICPN - kode nomenklatur fitososiologis untuk asosiasi tumbuhan.
Dari aturan tersebut lahir contoh nama ilmiah yang lazim dijumpai, antara lain:
- Padi - Oryza sativa
- Jagung - Zea mays
- Pisang - Musa paradisiaca
- Kucing domestik - Felis catus
- Singa - Panthera leo
- Harimau - Panthera tigris
- Bakteri penyebab TBC - Mycobacterium tuberculosis
- Anjing domestik - Canis lupus familiaris
Kendati mapan, sistem ini tetap menghadapi tantangan. Persoalan yang umum muncul adalah sinonim (satu spesies memiliki beberapa nama), penerapan prinsip prioritas yang kadang menggeser nama populer, penemuan spesies samar (cryptic species), serta integrasi data molekuler seperti DNA barcoding yang memicu penataan ulang nama. Perdebatan soal tata cara penamaan pun sempat menghangat di kalangan ilmuwan. Aturan penamaan sebenarnya sudah dikelola secara rinci oleh badan seperti International Commission on Zoological Nomenclature dan hampir diadopsi secara universal selama 125 tahun; ketika sebuah usulan perubahan diajukan, 183 peneliti yang dipimpin Scott Thomson dan Richard Pyle menilainya "cacat dalam hal integritas ilmiah" sekaligus "tidak dapat dijalankan dalam praktik".
Penerapan kode-kode ini terlihat pada penamaan tiap kelompok organisme, mulai dari filum Porifera, hewan lunak seperti Mollusca, sampai kelompok tumbuhan berbiji.
Baca juga: Ciri-Ciri Tumbuhan Menurut Klasifikasinya
Nomenklatur di Luar Biologi: Kimia hingga Nomenklatur Jabatan
Meski identik dengan biologi, nomenklatur adalah konsep yang juga dipakai di banyak disiplin lain. Dalam kimia, misalnya, nomenklatur mengatur penamaan senyawa agar setiap zat memiliki nama sistematis yang baku. Asam cuka yang biasa kita kenal, contohnya, memiliki rumus CH3COOH dengan nama IUPAC berupa asam etanoat, sehingga tidak tertukar dengan senyawa lain.
Prinsip yang sama berlaku di bidang anatomi, kedokteran, hingga astronomi, ketika istilah teknis perlu diseragamkan agar mudah dirujuk lintas negara. Di sinilah letak kekuatan tata nama, yaitu menekan potensi kebingungan akibat nama lokal yang berbeda-beda. Nama daerah bisa beragam, tetapi nama baku hanya satu.
Di ranah pemerintahan Indonesia, nomenklatur adalah sebutan ringkas untuk mengidentifikasi sebuah jabatan atau unit organisasi. Sebagaimana disampaikan Kementerian PANRB melalui Peraturan Menteri PANRB Nomor 25 Tahun 2016, penataan nomenklatur jabatan pelaksana bagi Pegawai Negeri Sipil dilakukan untuk menyelaraskan jabatan dengan kualifikasi pendidikan di lingkungan instansi pemerintah. Perubahan nomenklatur juga dapat mengubah tugas pokok dan fungsi sebuah lembaga, seperti saat sebuah badan penelitian dan pengembangan bertransformasi menjadi Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri.
Karena itu, memahami tata nama membantu kita membaca struktur birokrasi, termasuk memahami hierarki jabatan dan dampak perubahan nomenklatur organisasi di instansi pemerintah. Dari sains hingga administrasi, benang merahnya tetap sama, yakni nama yang tertata membuat komunikasi menjadi presisi.
Baca juga: Tujuan Klasifikasi Secara Biologis dan Keanekaragaman Hayati di Indonesia
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Nomenklatur
Apa yang dimaksud dengan nomenklatur?
Nomenklatur adalah sistem atau aturan baku untuk memberi nama pada objek studi dalam suatu bidang ilmu, yang sering dibentuk melalui kesepakatan internasional. Tujuannya adalah menciptakan penamaan seragam agar tidak menimbulkan kebingungan, baik dalam biologi, kimia, maupun penataan jabatan pemerintahan.
Apa contoh binomial nomenklatur?
Contoh binomial nomenklatur adalah Homo sapiens untuk manusia, Felis catus untuk kucing, Oryza sativa untuk padi, dan Panthera leo untuk singa. Kata pertama menunjukkan genus dengan huruf kapital, sedangkan kata kedua menunjukkan spesies dengan huruf kecil, dan keduanya ditulis miring.
Siapa pencetus sistem binomial nomenklatur?
Sistem binomial nomenklatur dipopulerkan oleh Carolus Linnaeus, naturalis asal Swedia, pada abad ke-18 melalui karya-karyanya seperti Species Plantarum dan Systema Naturae. Ia dikenal sebagai bapak taksonomi modern karena membakukan penamaan dua kata yang masih dipakai hingga sekarang.
Pada akhirnya, nomenklatur adalah fondasi penting yang membuat ilmu pengetahuan bisa "berbicara" dalam satu bahasa yang sama. Dengan menguasai pengertian, aturan penulisan, hingga kode internasionalnya, siapa pun dapat memahami nama ilmiah maupun istilah teknis secara lebih percaya diri dan akurat.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7676875/original/060602200_1780471869-Tugas__23_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1791827/original/015659300_1512525714-10321102_10205492268656460_4374129301795033883_o.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5483882/original/074480700_1769405806-SBY_sakit.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8672103/original/092674300_1782711428-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-29T123620.816.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288796/original/089689100_1783333528-pexels-rdne-8279470.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288916/original/039645400_1783343653-AP26187200791478.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5245840/original/052909900_1749414785-cristiano_ronaldo_gol_portugal_spanyol_UNL_090625_ap_matthias_schrader.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288081/original/061472300_1783298244-nor8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9238165/original/069215800_1783129384-mes9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782165/original/058199200_1782878254-carlo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288052/original/043334700_1783289642-000_B9BW8VG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288258/original/062355500_1783308425-eng1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288078/original/014194100_1783298244-nor5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9110984/original/061131000_1783049682-lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288177/original/067177000_1783307508-000_B9C82QK-Inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288136/original/097177200_1783304121-000_B9BW9YM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8359730/original/054220900_1782235074-063_2282965616.jpg)