Gebrakan Xiaomi EV: Cetak Laba Pertama Rp 2 Triliun di 2025

Divisi mobil listrik Xiaomi resmi cetak keuntungan operasional sebesar 900 juta yuan pada 2025. Simak detail performa Xiaomi SU7 dan YU7.

Diterbitkan 27 Maret 2026, 09:17 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Langkah Xiaomi di industri mobil listrik mulai menunjukkan hasil nyata. Untuk pertama kalinya sejak masuk ke bisnis roda empat bertenaga baterai, divisi kendaraan listrik (EV) perusahaan asal China tersebut berhasil cetak keuntungan pada 2025.

Berdasarkan laporan keuangan terbaru, unit EV dan AI Xiaomi mencatat laba operasional sebesar 900 juta yuan atau sekitar Rp2 triliunan.

Disitat dari ArenaEV, Jumat (27/3/2026), pencapaian ini menjadi tonggak penting, mengingat perusahaan baru memulai penjualan mobil pada 2024, sehingga pertumbuhan ini dinilai cukup impresif dalam waktu singkat.

Pendapatan dari bisnis tersebut juga melonjak signifikan. Sepanjang 2025, Xiaomi membukukan revenue hingga 106,1 miliar yuan atau sekitar Rp230 triliunan, naik 223,8 persen dibanding tahun sebelumnya. Lonjakan ini didorong terutama oleh penjualan kendaraan listrik yang menjadi kontributor utama.

Selain itu, margin kotor dari divisi EV dan AI juga ikut meningkat. Pada 2025, margin tercatat sebesar 24,3 persen, naik 5,8 poin dibandingkan 2024. Kenaikan ini menunjukkan bahwa Xiaomi semakin efisien dalam menghasilkan keuntungan dari setiap kendaraan yang dijual.

Dari sisi penjualan, performa Xiaomi juga tak kalah mencolok. Sepanjang tahun lalu, perusahaan berhasil mengirimkan lebih dari 411 ribu unit mobil listrik ke konsumen, atau melonjak lebih dari 200 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Angka ini menegaskan bahwa permintaan terhadap mobil listrik Xiaomi terus meningkat pesat.

Model Andalan Xiaomi

Model andalan seperti Xiaomi SU7 menjadi tulang punggung penjualan. Selain itu, kehadiran SUV listrik Xiaomi YU7 juga ikut mendongkrak performa, bahkan sempat mencatat angka pengiriman tinggi di penghujung tahun.

Meski sudah mencetak laba, Xiaomi mengakui bahwa margin keuntungan masih tergolong tipis. Namun, dengan usia bisnis yang masih sangat muda di industri otomotif, pencapaian ini dinilai sebagai langkah besar menuju profitabilitas yang lebih stabil di masa depan.