Siasat Ojol Bertahan dengan 5 Aplikator

Pendapatan yang kian tertekan membuat Radhit (27) harus menjalankan lima aplikasi ojol sekaligus demi mendapatkan orderan dan memenuhi kebutuhan hidup.

Diterbitkan 04 November 2026, 20:01 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Suara notifikasi dari ponsel menjadi bagian dari keseharian Radhit (27). Bukan hanya satu, melainkan dari lima aplikasi ojek online (ojol) yang selalu siaga di ponselnya. Ia harus pandai mengatur semuanya agar peluang mendapatkan pesanan semakin besar.

Bagi Radhit, menjalankan lima aplikasi sekaligus bukan sekadar strategi untuk mendapatkan lebih banyak penumpang atau pesanan makanan. Ada kebutuhan hidup yang harus dipenuhi, sementara pendapatan dari satu aplikasi saja kini dirasanya tak lagi cukup.

Sudah dua tahun terakhir Radhit menjalani profesi sebagai pengemudi ojol. Awalnya, pekerjaan ini hanya menjadi sampingan ketika dirinya masih menunggu kepastian lamaran kerja di bidang content creator dan social media specialist.

Saat itu, ia bekerja sebagai pengemudi ojol di Jakarta sembari menunggu proses seleksi di sebuah perusahaan. Lamaran tersebut akhirnya diterima dan ia sempat bekerja sesuai bidang yang diminatinya.

Namun, perjalanan kariernya tak berjalan mulus. Gaji yang tak kunjung dibayarkan selama dua bulan membuat Radhit mengambil keputusan untuk mengundurkan diri. Sejak itu, ia memilih mengandalkan ojol sebagai pekerjaan utama.

"Oktober tahun kemarin, saya memilih resign karena gaji saya tidak cair selama dua bulan, lalu menjadi driver ojol sepenuhnya," ujar Radhit saat berbincang dengan Liputan6.com, Selasa (3/11/2026).

Sejak saat itu, jalanan menjadi tempatnya mencari nafkah. Namun, ia merasakan pekerjaan sebagai pengemudi ojol semakin berat dibandingkan ketika pertama kali menjalaninya pada 2024.

Menurut Radhit, salah satu persoalannya adalah jumlah pengemudi yang terus bertambah, sementara pesanan yang tersedia semakin terbatas. Kondisi ini membuat persaingan mendapatkan orderan semakin ketat.

"Saat ini, menjadi driver ojol sangat berat untuk dilakukan. Aplikator seperti Shopee, Maxim, Lalamove, dan InDrive selalu membuka peluang driver baru yang mengakibatkan driver semakin banyak, sementara orderan semakin sedikit," tuturnya.

Situasi tersebut membuat Radhit harus memutar otak. Sejak awal 2025, ia mulai menerapkan strategi multi-apping, yakni menggunakan beberapa aplikasi ojol secara bersamaan untuk memperbesar peluang mendapatkan pesanan.

Kini, ada lima aplikasi yang aktif digunakannya, yakni Shopee, Maxim, InDrive, Lalamove, dan ACI, sebuah aplikasi ojol lokal di Jawa Timur.

Penggunaannya disesuaikan dengan lokasi tempat ia bekerja. Saat ini, Radhit berdomisili di Jombang, Jawa Timur. Di wilayah tersebut, Shopee, Maxim, dan ACI menjadi aplikasi yang paling ramai digunakan. Sementara ketika masih di Jakarta, ia mengandalkan aplikasi ojol hijau.

Bagi Radhit, mengandalkan satu aplikator saja sudah semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebab, pendapatan yang diterima bukan sepenuhnya uang bersih yang bisa dibawa pulang.

Ada biaya bensin, paket data, oli, makan, listrik, hingga perawatan kendaraan yang harus disisihkan dari penghasilan harian. Belum lagi kebutuhan rumah tangga bagi pengemudi yang sudah berkeluarga.

"Sebenarnya untuk saat ini memanglah tidak cukup kalau mengandalkan 100 persen pendapatan dari ojol di satu aplikasi saja. Karena kita belum menyisihkan pendapatan harian untuk keperluan bensin, paket data, oli, makan, listrik, dan beberapa part untuk diservis. Belum lagi jika sudah berkeluarga, harus membagi lagi untuk kebutuhan dapur dan rumah tangga," jelasnya.

Dengan mengaktifkan beberapa aplikasi, Radhit punya kesempatan lebih besar untuk mendapatkan pesanan. Ia juga bisa memilih orderan berdasarkan nilai tarif dan arah perjalanan.

Namun, strategi tersebut bukan berarti penghasilannya otomatis meningkat. Radhit justru menilai persoalan tarif dan potongan yang diterapkan aplikator masih menjadi beban bagi pengemudi.

Ia mencontohkan tarif pesanan di salah satu aplikasi yang digunakannya. Untuk perjalanan sejauh 1-4 kilometer, pengemudi terkadang hanya memperoleh sekitar Rp7.200. Nilai tersebut bahkan bisa lebih rendah ketika pesanan digabungkan atau double order.

"Jarak 1-4 km kita mendapatkan argo Rp7.200. Jika di Jakarta Rp8.000 untuk reguler, dan hub di Rp5.000 sampai Rp6.400. Belum lagi ketika double order. Yang seharusnya Rp7.200 x 2 = Rp14.400, kita cuma dapat di Rp12 ribu sekian," ungkapnya.

Radhit juga menyoroti pilihan layanan pengantaran yang ditawarkan kepada konsumen, mulai dari prioritas, reguler, hingga hemat. Menurut dia, perbedaan harga yang dibayarkan pelanggan belum tentu berbanding lurus dengan pendapatan yang diterima pengemudi.

"Semisal kita sebagai customer akan diberikan tiga pilihan pengantaran, prioritas, reguler dan hemat. Prioritas customer bayar lebih mahal, reguler standar, hemat lebih murah Rp3-4 ribu. Namun, dari pilihan tersebut tidak masuk ke kantong driver, melainkan ke aplikator," ujarnya.

 

Harus Pintar Mengatur Lima Aplikasi

Menjalankan lima aplikasi sekaligus tentu tidak bisa dilakukan sembarangan. Radhit harus pintar mengatur notifikasi agar pesanan yang masuk tidak saling bertabrakan.

Prinsipnya sederhana: ketika satu aplikasi memberikan pesanan, aplikasi lainnya bisa dimatikan sementara. Dengan begitu, ia dapat fokus menyelesaikan satu pekerjaan tanpa terganggu notifikasi dari aplikator lain.

"Cara memainkan beberapa akun sangat mudah, Kak. Jika aplikasi A bunyi dan mendapatkan food, kalau aplikasi lainnya ada yang penumpang, kita bisa matikan aplikasi lainnya. Kita fokus untuk satu aplikasi tersebut. Jika aplikasi B yang bunyi food, kita bisa nyalakan aplikasi A yang sama-sama hanya melayani food dan paket saja," jelas Radhit.

Persoalan muncul ketika dua aplikasi memberikan pesanan dalam waktu hampir bersamaan, tetapi dengan tujuan yang berbeda. Dalam situasi seperti ini, Radhit harus menentukan pesanan mana yang lebih masuk akal untuk diambil.

Jika arah pengantaran tidak sejalan, ia biasanya memilih salah satu dan membatalkan pesanan lainnya. Pertimbangannya bukan hanya jarak, tetapi juga besaran tarif yang diterima.

Misalnya, ada pesanan yang mengarah ke utara sejauh 10 kilometer, sementara aplikasi lain menawarkan perjalanan ke selatan sejauh 5 kilometer. Ia harus menghitung mana yang lebih menguntungkan dan sesuai dengan kondisi perjalanan.

Meski begitu, membatalkan pesanan bukan tanpa risiko. Radhit menyadari pembatalan berulang dapat memengaruhi performa akun pengemudi. Akibatnya, peluang mendapatkan pesanan berikutnya bisa ikut terdampak.

"Tetapi jika kedua aplikasi bentrok atau berbeda tujuan atau tidak searah, biasanya kita lewati atau kita cancel sepihak. Kadang kita juga sortir orderan mana yang argonya bagus, itu yang kita ambil. Risiko cancel sebenarnya berdampak terhadap akun driver. Bisa saja anyep atau seperti dicuekin aplikasi," katanya.

Ia mengakui, terkadang pembatalan menjadi pilihan yang sulit dihindari, meski sadar ada konsekuensi terhadap akun yang digunakan.

"Cancel dapat memengaruhi kinerja akun kita juga sebenarnya, tapi apalah arti daripada tidak mendapatkan orderan sama sekali," ungkapnya.

Ada pula urusan atribut yang harus disiasati. Setiap aplikator memiliki ketentuan tersendiri mengenai jaket atau rompi yang dikenakan pengemudi. Untuk memudahkan pergantian, Radhit membeli jaket dengan dua sisi berbeda.

Satu sisi menggunakan atribut Shopee, sementara sisi lainnya menggunakan atribut Maxim. Dengan begitu, ia tinggal membalik jaket sesuai pesanan yang sedang dikerjakan.

"Saya membeli jaket di online yang memiliki dua sisi. Misal sisi luar Shopee, dalam Maxim. Kita di saat tersebut bisa langsung membalik jaket untuk berhadapan dengan customer," tuturnya.

Untuk aplikasi lain yang mewajibkan penggunaan atribut resmi, ia dan sejumlah rekannya memiliki cara tersendiri. Salah satunya menggunakan rompi bolak-balik agar lebih mudah menyesuaikan atribut ketika menerima pesanan dari aplikasi berbeda.

 

Harus Pintar Mengatur Lima Aplikasi

Menjalankan lima aplikasi sekaligus tentu tidak bisa dilakukan sembarangan. Radhit harus pintar mengatur notifikasi agar pesanan yang masuk tidak saling bertabrakan.

Prinsipnya sederhana: ketika satu aplikasi memberikan pesanan, aplikasi lainnya bisa dimatikan sementara. Dengan begitu, ia dapat fokus menyelesaikan satu pekerjaan tanpa terganggu notifikasi dari aplikator lain.

"Cara memainkan beberapa akun sangat mudah, Kak. Jika aplikasi A bunyi dan mendapatkan food, kalau aplikasi lainnya ada yang penumpang, kita bisa matikan aplikasi lainnya. Kita fokus untuk satu aplikasi tersebut. Jika aplikasi B yang bunyi food, kita bisa nyalakan aplikasi A yang sama-sama hanya melayani food dan paket saja," jelas Radhit.

Persoalan muncul ketika dua aplikasi memberikan pesanan dalam waktu hampir bersamaan, tetapi dengan tujuan yang berbeda. Dalam situasi seperti ini, Radhit harus menentukan pesanan mana yang lebih masuk akal untuk diambil.

Jika arah pengantaran tidak sejalan, ia biasanya memilih salah satu dan membatalkan pesanan lainnya. Pertimbangannya bukan hanya jarak, tetapi juga besaran tarif yang diterima.

Misalnya, ada pesanan yang mengarah ke utara sejauh 10 kilometer, sementara aplikasi lain menawarkan perjalanan ke selatan sejauh 5 kilometer. Ia harus menghitung mana yang lebih menguntungkan dan sesuai dengan kondisi perjalanan.

Meski begitu, membatalkan pesanan bukan tanpa risiko. Radhit menyadari pembatalan berulang dapat memengaruhi performa akun pengemudi. Akibatnya, peluang mendapatkan pesanan berikutnya bisa ikut terdampak.

"Tetapi jika kedua aplikasi bentrok atau berbeda tujuan atau tidak searah, biasanya kita lewati atau kita cancel sepihak. Kadang kita juga sortir orderan mana yang argonya bagus, itu yang kita ambil. Risiko cancel sebenarnya berdampak terhadap akun driver. Bisa saja anyep atau seperti dicuekin aplikasi," katanya.

Ia mengakui, terkadang pembatalan menjadi pilihan yang sulit dihindari, meski sadar ada konsekuensi terhadap akun yang digunakan.

"Cancel dapat memengaruhi kinerja akun kita juga sebenarnya, tapi apalah arti daripada tidak mendapatkan orderan sama sekali," ungkapnya.

Ada pula urusan atribut yang harus disiasati. Setiap aplikator memiliki ketentuan tersendiri mengenai jaket atau rompi yang dikenakan pengemudi. Untuk memudahkan pergantian, Radhit membeli jaket dengan dua sisi berbeda.

Satu sisi menggunakan atribut Shopee, sementara sisi lainnya menggunakan atribut Maxim. Dengan begitu, ia tinggal membalik jaket sesuai pesanan yang sedang dikerjakan.

"Saya membeli jaket di online yang memiliki dua sisi. Misal sisi luar Shopee, dalam Maxim. Kita di saat tersebut bisa langsung membalik jaket untuk berhadapan dengan customer," tuturnya.

Untuk aplikasi lain yang mewajibkan penggunaan atribut resmi, ia dan sejumlah rekannya memiliki cara tersendiri. Salah satunya menggunakan rompi bolak-balik agar lebih mudah menyesuaikan atribut ketika menerima pesanan dari aplikasi berbeda.

 

Di Balik Banyaknya Order, Ada Risiko di Jalan

Mengoperasikan lima aplikasi sekaligus memang membuka lebih banyak peluang mendapatkan pesanan. Namun, pekerjaan ini juga menyimpan berbagai risiko yang harus dihadapi setiap hari.

Radhit bercerita, pengemudi ojol bisa menghadapi ancaman akun terkena suspend akibat pembatalan pesanan, pesanan fiktif dengan nilai besar, hingga risiko kecelakaan karena tuntutan menyelesaikan pengantaran tepat waktu.

Belum lagi persoalan teknis yang sering ditemui di lapangan. Saat mengambil pesanan makanan, misalnya, pengemudi terkadang harus menunggu di restoran setidaknya 15 menit atau bahkan lebih.

Masalah lain datang dari aplikasi peta digital. Radhit mengeluhkan petunjuk arah yang terkadang tidak akurat, berpindah lokasi sendiri, atau justru mengarahkan pengemudi ke jalan yang tidak bisa dilalui kendaraan.

Pengeluaran kecil seperti biaya parkir juga menjadi hitungan tersendiri. Semua itu pada akhirnya mengurangi pendapatan yang dibawa pulang, sementara tenaga dan waktu terus terkuras.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Radhit berharap pemerintah dan aplikator lebih memperhatikan kondisi pengemudi di lapangan. Ia meminta agar penerimaan mitra pengemudi baru dievaluasi, terutama di wilayah yang jumlah drivernya sudah terlalu banyak.

Selain itu, ia berharap tarif pengantaran dapat ditinjau kembali agar lebih sepadan dengan biaya operasional dan tenaga yang dikeluarkan.

"Harapan ke depannya, sudahi penerimaan driver baru dan survei lah di jalan. Argo juga saya rasa harus disesuaikan lagi yang lebih manusiawi dan tak banyak peraturan yang membebankan driver. Jadi, wajar bila para driver mengeluh tentang nasibnya saat ini, apalagi yang 100 persen bergantung dari ojol saja," tuturnya.

Bagi Radhit, persoalannya bukan semata-mata soal besarnya pendapatan. Ia ingin keluhan pengemudi juga didengar dan dipertimbangkan oleh aplikator, bukan hanya melihat kepentingan konsumen.

"Poin besarnya, kita sebenarnya cuma ingin argo dan aturan yang layak, keluh kesah kita dapat didengarkan tidak hanya dari sisi customer saja," pungkasnya.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6