Liputan6.com, Jakarta - Punya teman memang bisa membuat hidup terasa lebih menyenangkan. Ada tempat untuk bercerita, berbagi pengalaman, meminta pendapat, hingga tertawa bersama setelah melewati hari yang melelahkan. Namun, tidak semua hubungan pertemanan selalu memberikan rasa nyaman. Ada kalanya hubungan yang sudah terjalin lama justru membuat seseorang merasa terbebani secara emosional.
Situasinya terkadang tidak langsung disadari. Awalnya mungkin hanya merasa sedikit kecewa karena tidak didengarkan, kesal karena selalu mengalah, atau lelah menghadapi sikap teman yang sulit dipahami. Tapi saat sudah berlangsung berulang kali, hal-hal tersebut bisa membuat seseorang merasa tidak dihargai dan kehilangan ketenangan setiap kali berinteraksi.
Psikolog dan psikoterapis juga menyoroti bahwa hubungan pertemanan yang tidak seimbang, penuh tekanan, serta tidak menghargai batas pribadi dapat berdampak pada kesejahteraan emosional. Karena itu, penting untuk mengenali tanda-tandanya sebelum hubungan tersebut semakin menguras energi.
Advertisement
Lantas apa saja tanda pertemanan sudah tidak sehat dan mulai menguras energi emosional? Melansir dari berbagai sumber, Rabu (4/11/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.
1. Selalu Menjadi Pihak yang Berusaha Mempertahankan Pertemanan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315772/original/036004800_1785894816-2149053025.jpg)
Salah satu tanda pertemanan mulai tidak sehat adalah ketika usaha untuk menjaga hubungan hanya datang dari satu pihak. Kamu selalu menjadi orang yang lebih dulu mengirim pesan, mengajak bertemu, menanyakan kabar, atau mencari cara untuk memperbaiki hubungan setelah terjadi perselisihan.
Sementara itu, temanmu terlihat jarang menunjukkan inisiatif yang sama. Bahkan, ketika kamu berhenti menghubungi lebih dulu, komunikasi seolah ikut berhenti. Lama-kelamaan, kondisi ini bisa menimbulkan perasaan bahwa keberadaanmu tidak terlalu penting baginya.
Psikolog Loren Soeiro, Ph.D., ABPP, dalam tulisannya di Psychology Today menjelaskan bahwa komunikasi yang hanya berjalan satu arah dan usaha yang tidak seimbang dapat menjadi tanda pertemanan yang kurang sehat. Hubungan yang baik semestinya memberikan ruang bagi kedua pihak untuk saling menunjukkan perhatian, meskipun bentuk dan intensitasnya tidak selalu sama.
Perlu diingat, teman yang sedang sibuk atau menghadapi masalah pribadi belum tentu tidak peduli. Namun, jika ketimpangan tersebut terus terjadi tanpa ada usaha untuk memperbaikinya, tidak ada salahnya mengevaluasi kembali hubungan pertemanan tersebut.
Advertisement
2. Teman Hanya Datang ketika Membutuhkan Sesuatu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4679459/original/056128400_1702045087-Ilustrasi_sahabat__teman__tertawa__ngobrol__lucu__main_tebak-tebakan_lucu.jpg)
Pernah merasa selalu dicari ketika teman membutuhkan bantuan, tetapi sulit dihubungi saat kamu sendiri sedang mengalami kesulitan? Kondisi ini bisa menjadi tanda bahwa hubungan pertemanan mulai kehilangan keseimbangannya.
Misalnya, teman sering menghubungimu ketika ingin meminjam uang, meminta bantuan pekerjaan, membutuhkan tempat bercerita, atau ingin mendapatkan dukungan. Namun, ketika kamu membutuhkan hal serupa, responsnya justru terasa dingin atau bahkan tidak ada.
Jika terus berlangsung, kamu mungkin mulai merasa dimanfaatkan. Bukan karena tidak ingin membantu, tetapi karena perhatian dan kepedulian yang diberikan seolah hanya berjalan ketika ada kepentingan tertentu.
Dalam hubungan yang sehat, dukungan sosial tidak harus selalu diberikan dalam jumlah yang sama. Ada masa ketika satu teman membutuhkan lebih banyak bantuan dibandingkan yang lain. Namun, kepedulian tetap perlu terasa dari kedua belah pihak. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal INSAN: Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental Universitas Airlangga juga mengidentifikasi dukungan sosial, komunikasi, keterbukaan, dan empati sebagai aspek pertemanan yang mendukung kesehatan mental anak muda.
3. Perasaan Sering Diremehkan ketika Sedang Bercerita
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3459188/original/022683600_1621386808-cowomen-cKQkMFzXHAI-unsplash_Fotor.jpg)
Teman seharusnya bisa menjadi tempat yang cukup aman untuk berbagi cerita. Namun, jika setiap kali mengungkapkan perasaan justru mendapatkan respons yang meremehkan, hubungan tersebut patut dievaluasi.
Contohnya seperti kamu sedang menceritakan masalah yang cukup berat, tetapi teman malah mengatakan bahwa kamu terlalu sensitif, terlalu banyak mengeluh, atau tidak seharusnya merasa sedih karena persoalannya dianggap sepele. Bahkan, ada pula teman yang menjadikan cerita pribadi sebagai bahan candaan di depan orang lain.
Respons seperti ini bisa membuat seseorang enggan terbuka. Kamu mungkin mulai memilih diam karena takut dianggap berlebihan atau khawatir ceritamu kembali dijadikan bahan lelucon.
Padahal, mendengarkan dan menghargai perasaan merupakan bagian penting dari hubungan yang sehat. National Health Service (NHS) menjelaskan bahwa komunikasi terbuka, sikap saling menghormati, serta kesediaan mendengarkan dapat membantu memperkuat hubungan dan menjaga kesejahteraan mental.
Advertisement
4. Sering Membuat Kamu Merasa Bersalah ketika Menolak Permintaan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4668797/original/035595300_1701318473-Ilustrasi_persahabatan__teman.jpg)
Menolak permintaan teman sebenarnya merupakan hal yang wajar. Setiap orang memiliki kesibukan, kebutuhan, dan batas kemampuan masing-masing. Namun, dalam pertemanan yang tidak sehat, penolakan sederhana terkadang justru dibalas dengan sikap menyalahkan.
Misalnya teman mengatakan kamu sudah berubah, tidak peduli lagi, atau hanya datang ketika membutuhkan sesuatu. Padahal, kamu menolak karena sedang lelah, memiliki pekerjaan lain, atau memang tidak sanggup memenuhi permintaannya.
Jika situasi tersebut terjadi berulang kali, kamu bisa merasa harus selalu mengatakan iya demi menghindari konflik. Akibatnya, kebutuhan pribadi sering dikesampingkan hanya agar teman tidak kecewa.
Psikolog dan peneliti hubungan interpersonal menekankan pentingnya batas pribadi atau personal boundaries. American Psychological Association (APA) melalui pembahasan mengenai batasan yang sehat menjelaskan bahwa kemampuan mengenali keterbatasan dan menyampaikan batas secara jelas merupakan bagian dari upaya menjaga kesejahteraan diri.
Pertemanan yang baik seharusnya memberi ruang bagi seseorang untuk berkata tidak tanpa harus terus-menerus merasa bersalah.
5. Teman Tidak Menghargai Batasan Pribadi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4528763/original/076803300_1691392507-eliott-reyna-jCEpN62oWL4-unsplash.jpg)
Setiap orang memiliki batasan yang berbeda dalam menjalin hubungan. Ada yang nyaman berbagi banyak hal, tetapi ada pula yang membutuhkan privasi dan waktu sendiri. Perbedaan ini seharusnya bisa dihargai tanpa membuat salah satu pihak merasa tertekan.
Tanda pertemanan mulai tidak sehat bisa terlihat ketika teman terus memaksa mengetahui urusan pribadi, membaca pesan tanpa izin, menyebarkan rahasia, atau menuntut kamu selalu tersedia kapan pun ia membutuhkan.
Ada pula perilaku yang terlihat sederhana, tetapi sebenarnya mengganggu. Misalnya, teman terus menghubungi meskipun kamu sudah mengatakan sedang sibuk, marah ketika kamu menghabiskan waktu bersama orang lain, atau merasa berhak menentukan keputusan pribadi.
NHS Inform menjelaskan bahwa perilaku mengontrol, tidak menghormati batasan, dan mencoba mengatur hubungan seseorang dengan lingkungan sosialnya merupakan beberapa bentuk perilaku yang tidak sehat dalam sebuah hubungan. Prinsip ini juga relevan untuk memahami dinamika pertemanan.
Kamu tetap bisa menyayangi seorang teman tanpa harus membiarkannya melewati batas kenyamanan pribadi.
Advertisement
6. Teman Sering Merasa Tersaingi ketika Kamu Berhasil
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5195248/original/081846600_1745333140-two-women-relaxing-sofa-drinking-beer-while-socializing-home-party_482257-6383.jpg)
Pertemanan yang sehat seharusnya memberikan ruang bagi setiap orang untuk berkembang. Ketika salah satu teman mendapatkan pekerjaan baru, mencapai target, memperoleh kesempatan baik, atau meraih pencapaian tertentu, teman lainnya idealnya bisa ikut memberikan dukungan.
Namun, dalam hubungan yang kurang sehat, kabar baik justru bisa memunculkan komentar yang merendahkan. Misalnya, teman mengatakan keberhasilanmu hanya karena keberuntungan, membandingkan pencapaian kalian, atau mengalihkan pembicaraan agar perhatian kembali tertuju kepadanya.
Kamu mungkin juga mulai merasa tidak bebas membagikan kabar bahagia karena khawatir akan mendapatkan sindiran. Bahkan, tanpa disadari, kamu memilih mengecilkan pencapaian sendiri agar teman tidak merasa tersaingi.
Psikolog Kaytee Gillis, LCSW, dalam pembahasannya di Psychology Today mengenai pertemanan yang tidak sehat menyoroti perilaku merendahkan, komentar menyakitkan, dan tindakan yang mengganggu harga diri sebagai beberapa tanda hubungan yang dapat memberikan dampak buruk secara emosional.
Teman tidak harus selalu memiliki pencapaian yang sama. Justru, hubungan yang baik memungkinkan setiap orang bertumbuh tanpa perlu menjadikan keberhasilan orang lain sebagai ancaman.
7. Sering Merasa Lelah, Cemas, atau Tidak Nyaman setelah Bertemu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361732/original/041660100_1790746080-christopher-lemercier-12yvdCiLaVE-unsplash.jpg)
Tanda terakhir yang patut diperhatikan adalah perubahan perasaan setelah berinteraksi dengan teman. Jika sebelumnya pertemuan terasa menyenangkan, tetapi belakangan kamu justru sering merasa lelah, cemas, atau memikirkan kembali setiap percakapan, ada kemungkinan hubungan tersebut sedang memberikan tekanan emosional.
Misalnya, kamu terus memikirkan apakah perkataanmu akan membuatnya tersinggung, takut mendapatkan komentar negatif, atau merasa harus berhati-hati agar tidak memicu pertengkaran. Bahkan, terkadang muncul rasa lega ketika rencana bertemu dibatalkan.
Neuropsikolog Dr. Sanam Hafeez, Psy.D., dalam wawancaranya yang dimuat Parade menjelaskan bahwa perasaan terus-menerus cemas, dimanfaatkan, atau mengalami kebingungan setelah berinteraksi dapat menjadi sinyal bahwa suatu hubungan perlu diperhatikan kembali. Meski demikian, perasaan lelah setelah bertemu teman tidak otomatis berarti hubungan tersebut tidak sehat. Kondisi pribadi, kesibukan, dan kebutuhan untuk beristirahat juga bisa memengaruhi energi sosial seseorang.
Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah perasaan tidak nyaman tersebut muncul berulang kali dan berkaitan dengan pola perilaku tertentu dalam pertemanan.
Advertisement
Pertanyaan & Jawaban Seputar Pertemanan yang Tidak Sehat
1. Apakah pertemanan yang sering bertengkar termasuk tidak sehat?
Tidak selalu. Perbedaan pendapat dan pertengkaran merupakan hal yang bisa terjadi dalam hubungan apa pun. Pertemanan mulai bermasalah ketika konflik terus berulang, tidak pernah diselesaikan dengan baik, atau salah satu pihak selalu dirugikan dan tidak dihargai.
2. Apakah wajar merasa lelah setelah bertemu teman?
Wajar, terutama jika kamu sedang sibuk, kelelahan, atau membutuhkan waktu sendiri. Namun, jika perasaan lelah selalu muncul setelah berinteraksi dengan orang yang sama dan disertai rasa cemas atau tertekan, ada baiknya mengevaluasi dinamika hubungan tersebut.
3. Apakah harus langsung memutus pertemanan yang tidak sehat?
Tidak harus. Jika hubungan masih memungkinkan untuk diperbaiki, kamu bisa mencoba berkomunikasi dan menetapkan batasan terlebih dahulu. Namun, jika perilaku yang menyakitkan terus berulang dan tidak ada perubahan, mengambil jarak bisa menjadi pilihan untuk melindungi kesejahteraan diri.
4. Bagaimana cara menjaga pertemanan agar tetap sehat?
Bangun komunikasi yang terbuka, saling menghargai batasan, memberikan dukungan, dan tidak menjadikan hubungan sebagai ajang persaingan. Pertemanan yang sehat juga memberikan ruang bagi setiap orang untuk memiliki kehidupan dan kebutuhan pribadi.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389848/original/059413000_1793775328-WhatsApp_Image_2026-11-04_at_12.15.43.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5483882/original/074480700_1769405806-SBY_sakit.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389787/original/061479300_1793772850-Screenshot_2026-11-04_131352.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5377022/original/021863400_1760072132-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__88_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9390216/original/073119600_1793787375-Gemini_Generated_Image_8794ni8794ni8794.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355055/original/082772300_1790070742-roman-budnikov-LrmVfNfhFOw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387840/original/049454400_1793576292-S__73179165.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5437037/original/069686000_1765195130-WhatsApp_Image_2025-12-08_at_16.01.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3559193/original/024993600_1630573027-vlcsnap-2021-09-02-11h09m01s068__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382249/original/070234100_1792985471-WhatsApp_Image_2026-10-25_at_09.42.1222.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3147000/original/092604000_1591619569-two-women-in-front-of-dry-erase-board-1181533.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5203274/original/008910500_1745923336-sweet-lovey-asian-couple-husband-wife-with-hot-drink-talk-together-with-happiness-peaceful-home-interior-background_609648-1437.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389846/original/017152600_1793775267-f7c18ba9-12f3-449c-89f4-50759dc22641.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4922112/original/089520900_1724049471-pexels-jeys-tubianosa-1222150-3538028.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5661085/original/044757000_1778302257-108705.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5152100/original/084096600_1741234309-pexels-kindelmedia-8550840.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389750/original/058468800_1793770329-Gemini_Generated_Image_pt1eftpt1eftpt1e.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389699/original/082006500_1793768401-01_headline_feng_shui.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4611236/original/097743500_1697356802-documents-paperwork-business-strategy-concept_1_.jpg)