Dolar AS Merosot Tajam Efek Keunggulan Demokrat Pemilu Paruh Waktu AS

Dolar AS merosot tajam usai hasil sementara pemilu sela menunjukkan keunggulan Partai Demokrat. Investor beralih ke obligasi dan mata uang utama.

Diterbitkan 04 November 2026, 19:30 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) melemah tajam terhadap sejumlah mata uang utama dunia pada perdagangan Rabu (4/11/2026). Tekanan terhadap greenback dipicu hasil sementara pemilu paruh waktu (midterm election) AS yang menunjukkan keunggulan Partai Demokrat dalam upaya menggeser dominasi Partai Republik pendukung Presiden Donald Trump di Kongres.

Mengutip Yahoo Finance, Rabu (4/11/2026), perkembangan perolehan suara tersebut langsung direspons investor global. Pelaku pasar terlihat melepas saham dan dolar AS, kemudian mengalihkan dana ke instrumen obligasi pemerintah AS atau Treasuries.

Euro menguat 0,5% ke posisi US$ 1,1249. Sementara itu, yen Jepang menguat 0,7% menjadi 157,63 yen per dolar AS.

Poundsterling juga naik 0,4% ke level US$ 1,3460 per poundsterling menjelang pengumuman kebijakan Bank of England (BoE).

Terhadap franc Swiss, dolar AS melemah 0,9% menjadi 0,8133 franc Swiss per dolar AS. Sementara itu, yuan China menguat tipis ke level 6,6782 yuan per dolar AS.

Pergerakan yuan tersebut turut menjadi perhatian pasar setelah People's Bank of China (PBOC) menaikkan rasio cadangan valuta asing bagi lembaga keuangan. Kebijakan itu ditujukan untuk menahan laju penguatan yuan yang dinilai terlalu cepat.

Di sisi lain, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terkoreksi 0,3% ke level 101,4.

 

Sinyal Kemenangan Demokrat

Pergeseran dukungan pemilih terlihat dalam hasil sementara pemilu AS. Sejumlah pemilih yang sebelumnya mendukung Donald Trump dan Partai Republik kini beralih memberikan suara kepada Partai Demokrat.

Di Carolina Selatan, wilayah yang selama ini dikenal sebagai basis kuat Partai Republik, kandidat Demokrat Annie Andrews secara mengejutkan memenangkan kursi Senat dengan mengalahkan petahana dari Partai Republik, Darline Graham. Pada pemilihan presiden dua tahun sebelumnya, Trump menang di wilayah tersebut dengan selisih hampir 18%.

Kandidat Demokrat lainnya, Roy Cooper, juga berhasil memenangkan kursi Senat di North Carolina. Hasil tersebut membuat Partai Demokrat mengamankan dua dari empat kursi penting yang dibutuhkan untuk mengambil alih kendali majelis tersebut.

"Dolar AS bisa terus melemah dari titik ini, karena kemenangan telak Partai Demokrat akan membatasi belanja pemerintah selama sisa masa jabatan Trump," ujar Ahli Strategi Mata Uang di Commonwealth Bank of Australia, Carol Kong.

Carol menambahkan, pasar juga mencermati potensi peningkatan ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah pemilu. Jika konflik meningkat dan mendorong lonjakan harga minyak dunia, dolar AS berpeluang kembali menguat.

Saat ini, harga minyak mentah turun ke level US$ 103,34 per barel.

 

Kekhawatiran Regulasi AI

Selain perkembangan politik, investor juga memperhatikan potensi dampak kemenangan Partai Demokrat terhadap industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

"Pergerakan harga ini sejalan dengan kekhawatiran akan pengawasan yang lebih ketat terhadap AI jika Partai Demokrat menyapu bersih kemenangan. Hal ini tercermin dari kinerja indeks Nasdaq yang tertinggal, serta kekhawatiran mengenai pertumbuhan ekonomi AS seandainya AI menghadapi regulasi yang lebih berat," ujar Ahli Strategi Mata Uang di OCBC, Moh Siong Sim.

Meski demikian, Sim menilai proses pengesahan undang-undang baru di tingkat federal tidak akan berlangsung mudah. Pasalnya, Presiden Donald Trump masih memiliki hak veto terhadap legislasi yang diajukan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6