Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan pada perdagangan Senin (26/10/2026). Rupiah pada Senin siang sudah menyentuh level Rp 18.123 per dolar AS. Pengamat memprediksi rupiah bisa tembus Rp 18.200 per dolar AS.
Berdasarkan data Google Finance pada Senin (26/10/2026) pukul 14.28 WIB, rupiah berada di angka Rp 18.123 per dolar AS. Sementara itu, kurs tengah rupiah yang ditampilkan Wise berada di level Rp 18.130 per dolar AS.
Pada pembukaan perdagangan pagi ini, rupiah bergerak melemah 9 poin atau 0,05% menjadi Rp 18.089 per dolar AS.
Advertisement
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut seiring penguatan indeks dolar AS dan kenaikan harga minyak mentah dunia. Ibrahim memperkirakan indeks dolar diproyeksikan bergerak dalam rentang 100,90 hingga 103,10, dengan peluang menguat menuju batas atas rentang tersebut.
Menurutnya, kenaikan indeks dolar dan harga minyak mentah dapat menambah tekanan terhadap mata uang Indonesia.
"Untuk rupiah sendiri kemungkinan besar akan kembali mengalami pelemahan kalau dilihat dari indeks dolar yang menguat, kemudian harga minyak mentah yang menguat, sehingga rupiah melemah kemungkinan hingga menyentuh Rp 18.200," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin (26/10/2026).
Proyeksi tersebut menunjukkan rupiah masih menghadapi tantangan dari faktor eksternal. Selain pergerakan dolar AS, perkembangan harga energi dan ketegangan geopolitik juga menjadi faktor yang perlu dicermati pelaku pasar.
Â
Kenaikan Harga Minyak Ikut Menekan Rupiah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3337093/original/010245400_1609328702-20201230-Rupiah-Ditutup-Menguat-2.jpg)
Ibrahim memperkirakan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) masih berpeluang menguat. Ia memproyeksikan level support WTI berada di US$ 96,90 per barel dan resistance di US$ 108,30 per barel.
Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya impor energi dan menambah tekanan terhadap perekonomian, terutama melalui biaya transportasi dan logistik. Jika berlanjut, tekanan tersebut juga dapat memengaruhi inflasi.
Ibrahim menilai ketegangan geopolitik menjadi salah satu faktor yang mendorong volatilitas pasar. Risiko gangguan pasokan minyak dari sejumlah kawasan dapat memicu kenaikan harga energi, sementara penguatan dolar AS berpotensi menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Kondisi tersebut perlu dicermati karena kenaikan harga energi dapat memengaruhi ekspektasi inflasi dan kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Ibrahim memperkirakan bank sentral AS berpotensi kembali menaikkan suku bunga pada November atau Desember, meskipun keputusan tersebut tetap bergantung pada perkembangan data ekonomi.
Bagi rupiah, kombinasi dolar AS yang menguat dan harga minyak yang tinggi menjadi risiko yang dapat membatasi ruang penguatan dalam waktu dekat.
Advertisement
Pasar Menanti Perkembangan Geopolitik dan Kebijakan AS
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3337097/original/098406000_1609328704-20201230-Rupiah-Ditutup-Menguat-6.jpg)
Â
Selain tekanan dari dolar AS dan minyak mentah, Ibrahim menyoroti perkembangan geopolitik sebagai faktor yang dapat memengaruhi pergerakan mata uang dan komoditas. Ketegangan di Eropa Timur serta Timur Tengah dinilai berpotensi meningkatkan ketidakpastian pasar dan mengganggu pasokan energi.
Di sisi lain, Ibrahim memperkirakan dinamika politik Amerika Serikat menjelang pemilu sela juga akan menjadi perhatian investor. Perkembangan politik dan kebijakan ekonomi AS dapat memengaruhi pergerakan dolar, imbal hasil obligasi, serta aliran modal global.
Meski rupiah berpotensi melemah, Ibrahim menilai pergerakan pasar masih dapat berubah mengikuti perkembangan situasi global. Oleh karena itu, pelaku pasar perlu mencermati pergerakan indeks dolar, harga minyak mentah, dan arah kebijakan bank sentral AS.
Dengan kurs yang berada di kisaran Rp 18.100 per dolar AS berdasarkan data Google Finance dan Wise, proyeksi Ibrahim menuju Rp 18.200 menjadi salah satu skenario yang perlu diperhatikan. Namun, angka tersebut merupakan perkiraan, bukan kepastian nilai tukar akan mencapai level tersebut.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339870/original/093361500_1788432663-WhatsApp_Image_2026-09-03_at_5.47.40_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382447/original/017524100_1792996400-Anies_Cek_Fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5486120/original/097525000_1769575957-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-01-28T114945.709.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382280/original/090010700_1792986930-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-26T105247.852.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4875743/original/064820600_1719401843-20240626-Rupiah_Melemah-ANG_6.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4803210/original/041541900_1713259102-20240416-Pelemahan_Mata_Uang_Rupiah-MER_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3181744/original/039116300_1594892567-20200716-Rupiah-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4875742/original/093303000_1719401842-20240626-Rupiah_Melemah-ANG_5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380633/original/023638000_1792728370-email-attachment_2026_10_23_immanuel-christian_bi-turunkan-gwm-jadi-7-dan-kurangi-srbi-untuk-tambah-likuiditas_AAF85787-3B1B-411D-82C5-E6C4585DC31E.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4282582/original/062080800_1672910733-Imbas_potensi_perlambatan_ekonomi_nilai_rupiah_melemah_terhadap_dollar-ANGGA_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3291090/original/060643400_1604902998-20201109-Donald-Trump-Kalah-Pilpres-AS_-Rupiah-Menguat-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5702050/original/004842100_1778582833-2.jpg)