Rupiah Melemah, Konflik Timur Tengah Tekan Pasar Keuangan

Rupiah melemah ke 18.074 per dolar AS pada Jumat (23/10/2026), di tengah lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan Timur Tengah.

Diterbitkan 23 Oktober 2026, 11:45 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada pembukaan perdagangan Jumat (23/10/2026). Tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi di tengah lonjakan harga minyak dunia yang dipicu meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Rupiah dibuka melemah 14 poin atau 0,08 persen ke level 18.074 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi 18.060 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai kenaikan harga minyak global menjadi salah satu faktor yang menekan rupiah.

“Harga minyak melonjak menyusul pernyataan kelompok Houthi (Ansarullah Yaman) yang mengumumkan rencana untuk menyerang infrastruktur minyak Arab Saudi di Yanbu dan Bandara Dammam,” ucapnya dikutip Antara. 

Harga minyak naik lebih dari 2 persen pada Kamis (22/10/2026) setelah serangan pesawat nirawak atau drone terhadap ladang minyak Shaybah milik Saudi Aramco memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi.

Minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, diperdagangkan pada US$ 111,40 per barel atau naik 2,4 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,22 persen menjadi US$ 99,30 per barel.

Kenaikan harga minyak menjadi perhatian pasar karena dapat meningkatkan biaya energi dan menambah tekanan terhadap perekonomian negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.

Ketegangan Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan Energi

Ketegangan di Timur Tengah kembali menjadi perhatian pelaku pasar setelah serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan minyak global.

Serangan terhadap ladang minyak Shaybah dilaporkan menewaskan dua orang. Insiden tersebut mendorong harga minyak pulih setelah sebelumnya mengalami penurunan. Amerika Serikat juga memerintahkan sebagian personel dan anggota keluarga mereka meninggalkan misi diplomatik AS di Arab Saudi, menambah kekhawatiran mengenai situasi keamanan regional.

Sementara itu, Ansarullah Yaman mengklaim telah melancarkan empat serangan rudal dan drone terhadap sejumlah target di Arab Saudi dalam kurun 48 jam. Target yang disebut mencakup Kementerian Pertahanan Arab Saudi di Riyadh, Bandara Internasional King Fahd di Dammam, fasilitas Aramco di Yanbu, serta Bandara Internasional Abha.

Juru Bicara Militer Ansarullah Yahya Sarea mengklaim seluruh target “terkena secara langsung,” yang menurut laporan tersebut menyebabkan gangguan lalu lintas udara dan kebakaran di fasilitas minyak.

Ketidakpastian pasokan energi dapat mendorong volatilitas harga minyak. Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan beban impor energi dan memengaruhi sentimen terhadap rupiah. Meski demikian, pergerakan nilai tukar juga dipengaruhi faktor lain, termasuk kondisi dolar AS dan arus modal global.

Imbal Hasil Obligasi Bergerak Beragam, Asing Kurangi Kepemilikan

Selain nilai tukar, pasar obligasi pemerintah Indonesia juga menunjukkan pergerakan yang beragam. Josua Pardede melaporkan, pada perdagangan Kamis (22/10/2026), imbal hasil obligasi pemerintah dengan tenor berbeda bergerak naik dan turun.

Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 5 tahun berada di level 7,25 persen, naik 41 basis poin (bps). Sementara itu, imbal hasil tenor 10 tahun turun 1 bps menjadi 7,42 persen.

Untuk tenor 15 tahun, imbal hasil tercatat 7,38 persen atau turun 4 bps. Adapun tenor 20 tahun berada di level 7,41 persen, naik 1 bps.

Dari sisi transaksi, volume perdagangan obligasi pemerintah turun menjadi Rp 18,28 triliun pada Kamis, dibandingkan Rp 24,39 triliun pada sesi sebelumnya.

Kepemilikan investor asing pada obligasi pemerintah Indonesia juga berkurang Rp 3,66 triliun menjadi Rp 914 triliun per Rabu (21/10/2026). Jumlah tersebut setara dengan 13,02 persen dari total obligasi pemerintah yang beredar.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6