Mengapa Ada Orang yang Tidak Bisa Tidur Tanpa Memeluk Guling? Ini Penjelasannya dan Sejarahnya

Mengapa ada orang yang tidak bisa tidur tanpa memeluk guling? Cari tahu alasan kebiasaan ini sulit dilepaskan hingga dewasa.

Diterbitkan 04 November 2026, 10:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sebagian orang merasa tidur mereka terasa kurang lengkap tanpa kehadiran guling yang empuk. Bahkan, ada yang sengaja membawa guling sendiri saat bepergian karena sulit terlelap jika tidak memeluk benda kesayangannya ini. Kebiasaan ini mungkin terlihat sepele, tetapi sebenarnya ada alasan yang menarik di sampingnya.

Tak sedikit orang dewasa yang mempertahankan kebiasaan ini sejak kecil karena sensasi memeluk sesuatu saat beristirahat dapat memberikan kenyamanan tersendiri. Posisi tidur sambil memeluk guling membuat lengan dan kaki memiliki penopang sehingga tubuh terasa lebih rileks.

Lantas, mengapa ada orang yang tidak bisa tidur tanpa memeluk guling? Baca penjelasan lengkapnya dari segi fisik dan psikologis di bawah ini yang telah dihimpun Liputan6.com dari berbagai sumber, Rabu (4/11/2026).

Mengenal Kebiasaan Memeluk Guling

Orang yang memiliki kebiasaan ini membutuhkan benda tertentu, dalam hal ini guling, sebagai bagian dari ritual sebelum tidur. Tanpa guling, mereka merasa kurang rileks, posisi tidur terasa janggal, dan pikiran jadi lebih lama tenang. Sebagian bahkan rela membawa guling sendiri saat traveling atau menginap, karena tahu mereka akan kesulitan tidur kalau tidak ada guling.

Di dalam dunia psikologi, mereka mengenal sesuatu bernama comfort object, atau benda penenang. Benda-benda ini bisa berbentuk apa saja, seperti guling, selimut favorit, ataupun boneka. Konsep ini berakar dari gagasan psikoanalis Donald Winnicott, yang mencetuskan istilah "transitional object" pada 1950-an. Mengutip dari situs Encyclopedia, transitional object adalah benda-benda yang biasanya bertekstur lembut, seperti kain atau bagian dari boneka, yang memiliki nilai khusus bagi bayi.

Para ahli menyebut bahwa memeluk bantal termasuk kebiasaan tidur paling umum di seluruh dunia yang dilakukan orang dari segala usia. Mereka menyukainya karena kenyamanan emosional maupun fisik. Bedanya, masyarakat Indonesia memiliki guling yang memang dirangcang untuk dipeluk, bukan menggunakan bantal biasa. Tidak heran apa bila guling dianggap perlengkapan wajib di hampir setiap kamar di Indonesia.

Alasan Psikologis: Rasa Aman, Hormon Bahagia, dan Kenangan Masa Kecil

Alasan paling kuat di balik kebiasaan ini adalah rasa aman yang dihasilkan. Saat memeluk guling, tubuh mendapat tekanan lembut dan kehangatan yang mirip dengan pelukan sungguhan. Seperti yang dikutip dari Harvard Health Publishing, memeluk seseorang atau sesuatu bisa memicu keluarnya hormon oksitosin, yang dikenal sebagai hormon cinta. Efek ini tetap bisa muncul walaupun yang dipeluk bukan manusia, misalnya guling atau boneka, sehingga perasaan jadi lebih tenang.

Kontak fisik saat tidur mengaktifkan sistem oksitosin tubuh, yang membantu relaksasi dan menurunkan kadar kortisol. Kortisol sendiri adalah hormon stres, sehingga tidak heran jika seseorang merasa lebih cepat rileks setelah memeluk guling. Di tengah tren self-care malam hari yang makin populer, memeluk guling bisa dibilang versi paling sederhana dan paling murah dari ritual menenangkan diri.

Merujuk ulasan YourTango, sebuah studi di PLOS One menyebut bahwa memeluk benda mati seperti bantal di malam hari sering kali meredakan stres karena memunculkan rasa nyaman. Kebiasaan ini meniru sensasi berpelukan dengan orang lain dan memberi ruang aman untuk merasa terhubung . Inilah sebabnya banyak orang yang tinggal sendirian, merantau, atau sedang berjauhan dengan keluarga merasa guling seperti teman yang menemani malam-malam mereka.

Di samping itu, ada juga faktor kenangan masa kecil yang tidak kalah penting. Kenyamanan yang didapat saat tidur sambil memeluk bantal atau guling biasanya berasal dari pengalaman masa kanak-kanak. Terakhir, ada juga sisi kepribadian yang sering dikaitkan dengan kebiasaan ini. Orang yang terbiasa memeluk guling saat tidur sering kali sangat menghargai hubungannya dengan orang-orang penting di hidupnya, baik teman maupun keluarga.

Alasan Fisik: Posisi Tidur Menyamping Jadi Lebih Nyaman

Selain urusan perasaan, kebiasaan memeluk guling juga memiliki alasan fisik di belakangnya. Sebagian orang merasa lebih nyaman tidur menyamping, akan tetapi posisi ini sering terasa kurang stabil jika tidak ada penopang. Saat tidur menyamping, lengan bagian atas sering kali tidak menemukan posisi yang nyaman, sementara kaki bagian atas mudah bergeser ke depan sehingga punggung ikut tertarik dan terasa kurang nyaman.. Guling hadir sebagai solusi praktis yang mengisi ruang kosong tersebut, mebuat posisi ini terasa lebih enak untuk tubuh.

Mengutip dari situs Sleep Foundation, tidur dengan body pillow dapat membantu mencegah bahu atas merosot, memisahkan kedua lutut untuk mengurangi tekanan, dan menjaga panggul tetap sejajar dengan tulang belakang. Kebalikannya, tanpa guling, sebagian orang terus berganti posisi karena tidak kunjung menemukan sudut yang pas.

Di samping itu, ada manfaat lain yang juga jarang disadari oleh banyak orang, yaitu soal suhu tubuh. Sebagaimana dikutip dari Puffy, tidur sambil memeluk bantal atau guling di antara lengan dan kaki membantu menjaga suhu tubuh tetap optimal sepanjang malam, mencegah kepanasan, dan mendukung tidur yang lebih baik.

Guling, Teman Tidur yang Punya Sejarah Panjang di Indonesia

Tidur sambil memeluk guling bisa disebut sebagai kebiasaan "khas orang Indonesia". Di banyak negara lain, kasur umumnya hanya diisi bantal kepala, sementara di sini guling hampir selalu hadir berdampingan dengan bantal. Fenomena ini membuat banyak wisatawan lokal kebingungan saat menginap di hotel luar negeri yang tidak menyediakan guling.

Kebiasaan ini ternyata punya akar sejarah yang panjang. Pada masa penjajahan, banyak orang Belanda yang datang dan bertugas di Nusantara tanpa membawa istri ataupun pasangan mereka. Merekapun kemudian menggunakan guling sebagai "gantinya". Bahkan, guling saat itu dijuluki Dutch wife atau istri Belanda.

Selain alasan sejarah, faktor iklim juga berperan besar dalam membentuk kebiasaan ini. Kehadiran guling membuat tidur semakin lebih nyaman di udara tropis yang panas. Dari sisi fungsi, guling disebut membantu kenyamanan tidur, sirkulasi udara, menyerap keringat, dan mencegah kontak tubuh berlebih dengan kasur. Tak heran kalau benda ini bertahan dari generasi ke generasi dan tetap jadi favorit hingga sekarang.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Memeluk Guling

Apakah tidak bisa tidur tanpa guling termasuk gangguan tidur?

Umumnya tidak. Kebiasaan ini termasuk hal yang wajar karena guling memberi rasa aman dan membantu tubuh menemukan posisi nyaman. Kebiasaan ini baru perlu diperhatikan jika rasa cemas tanpa guling sangat mengganggu tidur atau aktivitas sehari-hari.

Apa manfaat memeluk guling bagi tubuh?

Memeluk guling dapat membantu menjaga tulang belakang tetap sejajar saat tidur menyamping, mengurangi tekanan di lutut dan pinggul, serta membuat suhu tubuh lebih nyaman. Secara emosional, memeluk guling juga membantu tubuh lebih rileks sebelum terlelap.

Bagaimana cara tidur nyenyak saat tidak ada guling?

Coba gulung selimut atau gunakan bantal tambahan sebagai pengganti untuk dipeluk. Tetap jalankan rutinitas sebelum tidur seperti biasa, misalnya membatasi penggunaan ponsel dan menjaga kamar tetap sejuk, agar otak tetap mengenali sinyal bahwa sudah waktunya beristirahat.