8 Kebiasaan Saat Presentasi yang Membuat Pembicara Terlihat Kurang Siap

Kenali kebiasaan saat presentasi yang membuat pembicara terlihat kurang siap, mulai dari slide kepenuhan hingga tak latihan, plus tips memperbaikinya.

Diterbitkan 04 November 2026, 11:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ada banyak kebiasaan saat presentasi yang membuat pembicara terlihat kurang siap, padahal materinya sudah matang. Penonton biasanya menilai dari gerak-gerik pertama, bukan cuma isi slide. Yuk, kenali kebiasaan itu agar kamu tampil lebih meyakinkan.

Kita semua pernah di posisi itu: jantung berdebar, telapak tangan dingin, dan pikiran mendadak kosong. Wajar sekali. Tapi grogi yang tidak dikelola bisa terbaca sebagai tanda persiapan seadanya, padahal sebenarnya kamu sudah belajar keras.

Kabar baiknya, semua kebiasaan ini bisa diperbaiki dengan latihan kecil yang konsisten. Menurut laman Entrepreneur, kesalahan presentasi yang umum bisa dikenali dan diperbaiki sebelum hari presentasi tiba. Berikut daftar kebiasaan yang perlu kamu waspadai dan cara memperbaikinya, Rabu (4/11/2026).

1. Tidak Latihan Sama Sekali

"Ah, aku kan sudah hafal topiknya." Kalimat ini terdengar aman, padahal justru jebakan paling umum. Menguasai materi tidak sama dengan menguasai cara menyampaikannya. Tanpa latihan, kamu akan tersandung di transisi antarslide, lupa urutan, atau kehabisan waktu di tengah jalan.

Bernard Marr dalam artikelnya di laman Entrepreneur menyarankan agar kita berlatih lebih banyak dari yang kita kira perlu, karena semakin sering dicoba, presentasi akan berjalan semakin mulus. Coba latihan tiga kali: sekali sendirian, sekali sambil direkam, dan sekali di depan teman.

2. Slide Terlalu Penuh

Pernah melihat slide yang isinya seperti halaman buku teks? Penonton akan sibuk membaca, lalu berhenti mendengarkanmu. Lebih buruk lagi, kamu terkesan tidak tahu mana poin yang paling penting.

Daftar kesalahan dalam artikel Entrepreneur tadi juga memasukkan isi yang terlalu banyak sebagai salah satu yang harus dihindari. Solusinya sederhana: satu slide, satu gagasan. Biarkan slide menjadi pendamping, sementara kamu yang menjadi bintangnya.

3. Mengubah Materi di Menit-Menit Terakhir

Rasanya selalu ingin menambah satu data lagi, atau memindahkan satu poin, sampai tepat sebelum naik panggung. Sayangnya, perubahan mendadak sering membuat slide berantakan dan alur bicaramu goyah.

Marr menyebut bahwa terus mengubah materi hingga detik terakhir membuka peluang kesalahan, sehingga sebaiknya presentasi dikunci satu sampai dua hari sebelumnya. Anggap saja itu "garis finis". Setelah lewat, saatnya fokus berlatih, bukan merevisi.

4. Terlalu Sering Membaca Slide atau Catatan

Sesekali melirik catatan itu manusiawi. Tapi kalau kamu terus menunduk dan membaca kata per kata, penonton akan merasa kamu hanya "membacakan", bukan "menyampaikan". Hasilnya, kamu terlihat tidak benar-benar paham. Cobalah menulis catatan berupa kata kunci saja, bukan kalimat panjang. Dengan begitu, kamu terpaksa berbicara dengan bahasamu sendiri, dan itu terdengar jauh lebih alami.

5. Terlalu Banyak Minta Maaf

"Maaf ya slide-nya kurang rapi," atau "Maaf, aku agak grogi." Niatnya rendah hati, tapi efeknya malah menarik perhatian pada kekuranganmu. Penonton mungkin awalnya tidak sadar, sampai kamu sendiri yang menunjukkannya. Jika ada kesalahan kecil, lanjutkan saja dengan tenang. Percayalah, kebanyakan orang lebih memperhatikan pesanmu ketimbang kekurangan yang kamu kira mencolok.

6. Penuh Kata Pengisi: "Ehm", "Eee", "Jadi Gitu"

Jeda yang diisi "eee" berkali-kali memang bikin gelisah, baik untukmu maupun penonton. Kata pengisi muncul karena otak kita takut hening. Padahal, diam sejenak justru terlihat percaya diri. Latih dirimu untuk menarik napas dan berhenti satu detik sebelum pindah poin.

Merekam suara sendiri saat latihan juga membantu, walau awalnya agak malu mendengarnya. Satu trik lagi: tulis tanda "jeda" di catatanmu, tepat di akhir setiap poin penting. Dengan begitu, kamu punya izin untuk diam tanpa merasa canggung. Penonton pun punya waktu mencerna ucapanmu, sehingga pesanmu terasa lebih berbobot dan kamu terlihat benar-benar menguasai materi.

7. Menghindari Kontak Mata

Menatap lantai, layar, atau tembok di belakang penonton memang terasa lebih aman. Namun penonton akan membacanya sebagai kurang yakin, bahkan kurang siap. Kamu tidak perlu menatap semua orang.

Pilih beberapa wajah ramah di sisi berbeda ruangan, lalu bicaralah kepada mereka secara bergantian. Tatapan dua sampai tiga detik per orang sudah cukup terasa hangat. Cara ini membuat presentasi terasa seperti percakapan, bukan monolog.

8. Tidak Memeriksa Perangkat dan Melebihi Waktu

Proyektor yang tak terhubung, file yang tidak terbuka, atau kabel yang lupa dibawa bisa menghabiskan lima menit pertamamu. Belum lagi kalau akhirnya kamu bicara melewati jatah waktu. Dua hal ini langsung memberi kesan tidak terorganisir. Datanglah lebih awal, tes semua perangkat, dan siapkan cadangan file di flash disk atau email. Lalu, pasang pengatur waktu saat latihan supaya kamu tahu persis berapa lama durasinya.

Pertanyaan Seputar Kebiasaan Presentasi yang Bikin Pembicara Terlihat Kurang Siap

Apa kebiasaan saat presentasi yang paling sering membuat pembicara terlihat kurang siap?

Yang paling umum adalah tidak berlatih, slide terlalu penuh, dan terlalu sering membaca catatan. Ketiganya membuat penyampaian terasa kaku dan menimbulkan kesan materi belum dikuasai.

Berapa kali sebaiknya saya berlatih sebelum presentasi?

Tidak ada angka pasti, tapi usahakan minimal tiga kali: sendiri, direkam, dan di depan satu orang. Semakin penting presentasinya, semakin banyak latihan yang dibutuhkan.

Bagaimana cara mengurangi kata pengisi seperti "ehm" dan "eee"?

Rekam latihanmu untuk menyadari polanya, lalu ganti kata pengisi dengan jeda singkat sambil menarik napas. Awalnya terasa canggung, tapi lama-lama jadi kebiasaan yang membuatmu tampak tenang.

Apakah wajar kalau tetap grogi meski sudah siap?

Sangat wajar. Grogi dialami hampir semua pembicara. Yang terpenting adalah mengelolanya lewat latihan, napas teratur, dan fokus pada pesan, bukan pada rasa takut dinilai.