Liputan6.com, Jakarta - Memahami arti bahasa tubuh orang yang sering meremas jari saat berbicara bisa membantu kamu membaca emosi lawan bicara. Gerakan kecil ini sering muncul tanpa disadari dan kerap menandakan kondisi batin tertentu yang sedang dirasakan seseorang.
Menurut Joe Navarro di laman Psychology Today, manusia sejak dalam kandungan terbiasa menenangkan diri lewat sentuhan, dan otak memang membutuhkannya. Meremas jari termasuk gerakan menenangkan diri yang muncul saat seseorang sedang cemas atau gugup. Hal ini wajar.
Sementara itu, Bob Whipple dari The Trust Ambassador menyebut kecemasan sebagai makna paling umum dari gerakan meremas tangan. Namun konteks tetap penting, sebab tangan dingin pun bisa membuat orang melakukannya. Karena itu, amati situasinya dengan cermat. Berikut arti bahasa tubuh orang yang sering meremas jari saat berbicara, Liputan6.com, Rabu (21/10/2026).
Advertisement
1. Tanda Gugup atau Cemas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4573729/original/055585400_1694589634-Ilustrasi_cemas__gelisah__resah.jpg)
Ini penjelasan yang paling sering muncul. Bob Whipple menulis bahwa orang yang khawatir biasanya meremas tangannya tanpa menyadarinya. Gerakan ini sering terlihat saat wawancara kerja, presentasi, sidang, atau percakapan yang menyangkut hal sensitif. Whipple juga menyarankan pengamat untuk mencari petunjuk lain sebelum menyimpulkan seseorang benar-benar cemas.
Petunjuk itu bisa berupa gelisah di kursi, tatapan menerawang, alis yang berkerut, atau menggigit bibir. Semakin banyak sinyal yang muncul bersamaan, semakin kuat dugaan bahwa orang tersebut sedang tidak nyaman. Sebaliknya, jika hanya jari yang bergerak sementara gestur lain terlihat santai, tafsirannya perlu lebih hati-hati.
2. Cara Alami Menenangkan Diri (Self-Soothing)
Sentuhan pada diri sendiri berfungsi sebagai penenang bagi otak. Joe Navarro menjelaskan bahwa jari memiliki banyak ujung saraf yang peka, sehingga gesekan antarjari memberi sensasi yang menenangkan dan membantu tubuh kembali stabil.
Perilaku ini sudah kita pelajari sejak bayi, misalnya mengisap jempol atau memeluk selimut kesayangan. Saat dewasa, bentuknya berubah menjadi lebih halus: meremas jari, memilin cincin, mengusap telapak tangan, atau menggenggam ponsel erat-erat. Karena bersifat refleks, orang yang melakukannya sering tidak sadar. Inilah sebabnya gestur ini dianggap lebih jujur dibanding ekspresi wajah yang bisa diatur.
Advertisement
3. Tubuh Sedang dalam Mode Siaga
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4483920/original/045245700_1687916240-relaxed-friends-talking-while-sitting-couch_1_.jpg)
Saat tertekan, tubuh bereaksi seolah menghadapi bahaya. Whipple menyebut tubuh sedang bersiap untuk fight or flight. Detak jantung meningkat, napas memendek, otot menegang, dan energi ekstra menumpuk di tubuh. Pada situasi sosial, energi itu tidak bisa dipakai untuk berlari atau melawan, sehingga disalurkan lewat gerakan kecil seperti meremas jari.
Kondisi ini lazim terjadi ketika seseorang takut dihakimi, takut salah bicara, atau berhadapan dengan figur yang dianggap berwibawa, seperti atasan, dosen penguji, atau calon mertua. Gerakan jari menjadi katup pelepas yang tidak terlalu mencolok.
4. Sekadar Tangan yang Dingin
Tidak semua gerakan punya makna psikologis. Menurut Whipple, gesekan antartangan menghasilkan panas sehingga tangan terasa lebih hangat. Jika ruangan ber-AC terlalu dingin, sedang hujan, atau orang tersebut baru memegang minuman es, meremas jari bisa jadi murni respons fisik.
Karena itu, langkah pertama dalam membaca bahasa tubuh adalah memperhatikan situasi di sekitarnya. Cek suhu ruangan, pakaian yang dikenakan, dan apakah gerakan itu berhenti begitu tangan terasa hangat. Jika berhenti, kemungkinan besar tidak ada hubungannya dengan emosi.
5. Kurang Percaya Diri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349632/original/000693500_1789537881-0e82990c-9572-49b3-8fc1-b9210e44c844.jpg)
Orang yang belum yakin dengan kemampuannya sering menyalurkan keraguan lewat tangan. Gerakannya biasanya makin intens ketika topik terasa menantang, ketika ia merasa kurang menguasai materi, atau ketika berbicara di depan orang yang dianggap lebih ahli.
Gestur ini kerap disertai tanda lain, seperti suara yang pelan, kalimat yang terputus, sering mengecek reaksi lawan bicara, atau terlalu banyak menggunakan kata pengisi seperti “eh” dan “hmm”. Kabar baiknya, rasa percaya diri bisa dilatih lewat persiapan yang matang, latihan berulang, dan pengalaman berbicara yang makin sering.
6. Sedang Berpikir Keras
Ketika otak bekerja ekstra untuk menyusun kata, tangan kadang ikut bergerak. Meremas jari dapat menjadi pengalih sederhana yang membantu seseorang tetap fokus pada isi pembicaraan. Pola ini sering terlihat pada orang yang membahas topik rumit, sedang mencari alasan yang tepat, atau berhati-hati memilih diksi agar tidak menyinggung.
Dalam kasus ini, gerakan biasanya berhenti atau melambat begitu ide sudah ditemukan dan pembicaraan kembali mengalir. Jadi, tidak selalu ada kaitannya dengan rasa takut. Bisa saja orang itu hanya sedang berkonsentrasi.
Advertisement
7. Kebiasaan yang Sudah Menjadi Rutinitas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1688024/original/072072100_1503461637-bryan-apen-318974.jpg)
Pada sebagian orang, gerakan ini hanyalah kebiasaan lama tanpa pemicu emosi tertentu. Mereka melakukannya hampir di setiap situasi, termasuk saat mengobrol santai dengan teman atau menonton televisi. Whipple mengingatkan bahwa menafsirkan satu gestur saja berisiko keliru.
Cara terbaik adalah membandingkannya dengan perilaku dasar (baseline) orang tersebut. Jika ia selalu begitu sejak awal, berarti itu bagian dari kepribadiannya, bukan sinyal kecemasan. Perubahan yang tiba-tiba, misalnya ia mendadak meremas jari saat topik tertentu dibahas, baru layak diperhatikan lebih jauh.
Cara Menyikapinya, Baik sebagai Pengamat maupun Pelaku
Jika kamu melihat lawan bicara meremas jari, Whipple menyarankan mengajukan satu atau dua pertanyaan terbuka agar ia merasa lebih nyaman dan lebih leluasa bercerita. Ciptakan suasana santai, jaga nada suara, dan hindari menekan atau menyorot gerakannya.
Jika kamu sendiri yang melakukannya, mulailah dengan tarik napas dalam sebelum bicara, siapkan materi dengan matang, dan beri tangan aktivitas ringan seperti memegang pulpen atau bertumpu pada meja. Merekam diri saat berlatih juga membantu mengenali kapan kebiasaan ini muncul. Jika sudah sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog.
Pertanyaan Seputar Makna di Balik Kebiasaan Meremas Jari saat Berbicara
Apakah meremas jari saat berbicara selalu berarti gugup?
Tidak selalu. Gerakan ini memang sering terkait kecemasan, tetapi bisa juga karena tangan dingin, kebiasaan lama, atau sedang berpikir keras. Perhatikan konteks dan gestur lain sebelum menyimpulkan.
Apakah orang yang meremas jari sedang berbohong?
Belum tentu. Gestur ini lebih menunjukkan ketidaknyamanan atau ketegangan, bukan kebohongan. Orang jujur pun bisa gugup saat dinilai orang lain. Menafsirkan satu gestur sebagai tanda bohong berisiko keliru.
Bagaimana cara berhenti meremas jari saat presentasi?
Latih presentasi berulang kali, atur napas sebelum mulai, dan pegang benda ringan seperti pulpen atau remote. Merekam diri saat berlatih juga membantu kamu menyadari kapan kebiasaan ini muncul.
Kapan kebiasaan ini perlu diperhatikan lebih serius?
Jika muncul hampir setiap saat disertai cemas berlebihan, sulit tidur, atau mengganggu aktivitas harian, sebaiknya konsultasikan dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378727/original/040838400_1792560617-Cek_Fakta__Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__3_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378600/original/015963400_1792553835-Cek_Fakta__Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353323/original/048061500_1789960533-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-21T101401.683.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4751478/original/019919400_1708694702-Gus_Iqdammmm.ok.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378563/original/080132800_1792551539-62e20520-de70-4b38-8434-a090c9a04b49.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9377450/original/090605200_1792464505-05966b6c-6b17-40f2-b5ff-514c5d386fb5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3502291/original/060845100_1625553708-train-station-1868256_640.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318556/original/044020800_1786103567-17206.webp)