7 Kepribadian Berdasarkan Cara Berjalan, Kenali Sifat Orang dari Langkah Kaki dan Postur Tubuh

Cara berjalan bisa memberikan petunjuk tentang kepribadian seseorang. Simak 7 pola gerakan kaki dan tubuh berdasarkan hasil penelitian ilmiah.

Diterbitkan 30 Oktober 2026, 17:30 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Cara seseorang melangkah sering kali memberikan kesan tersendiri bagi orang yang melihatnya. Ada yang berjalan cepat dengan gerakan tubuh leluasa, sementara sebagian lainnya melangkah perlahan dengan posisi tubuh lebih tenang.

Kepribadian berdasarkan cara berjalan menjadi topik menarik dalam psikologi karena gerakan tubuh dapat berkaitan dengan karakter dan kondisi emosional seseorang. Penelitian Yannick Stephan dkk. berjudul Personality and Walking Speed Across Adulthood: Prospective Evidence From Five Samples (2018) menemukan hubungan antara kecepatan berjalan dan sejumlah sifat kepribadian pada lebih dari 15.000 orang dewasa.

Penelitian Abhishesh Homagain dan Kaylena A. Ehgoetz Martens berjudul Emotional States Affect Steady State Walking Performance (2023) juga menunjukkan bahwa suasana hati dapat memengaruhi panjang langkah dan kecepatan berjalan. Berikut kepribadian berdasarkan cara berjalan dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Jumat (30/10/2026).

1. Berjalan Cepat Berkaitan dengan Kepribadian yang Ekstrover

Orang yang berjalan cepat sering memberikan kesan aktif, bersemangat, dan memiliki tujuan yang jelas. Dalam penelitian psikologi, kecepatan berjalan memang ditemukan memiliki hubungan dengan beberapa karakter kepribadian.

Penelitian Stephan, Sutin, Bovier-Lapierre, dan Terracciano (2018) melibatkan lebih dari 15.000 orang dewasa berusia 25 hingga 100 tahun dari lima kelompok penelitian. Hasilnya menunjukkan bahwa orang dengan tingkat ekstroversi, keterbukaan terhadap pengalaman, dan kesadaran diri yang lebih tinggi cenderung memiliki kecepatan berjalan lebih baik.

Kecepatan berjalan juga berkaitan dengan tingkat neurotisisme yang lebih rendah. Meski demikian, seseorang yang berjalan cepat tidak otomatis memiliki kepribadian ekstrover karena kebiasaan, kondisi fisik, dan tujuan perjalanan turut memengaruhi langkah kaki.

2. Berjalan Lambat dengan Langkah Pendek Berkaitan dengan Kondisi Emosional

Orang yang berjalan perlahan dengan langkah pendek terkadang memberikan kesan tenang atau sedang memikirkan sesuatu. Pola tersebut tidak selalu menunjukkan kepribadian tertutup karena kondisi emosional juga dapat memengaruhi gerakan tubuh.

Penelitian Homagain dan Ehgoetz Martens (2023) dalam Emotional States Affect Steady State Walking Performance menguji 36 orang dewasa muda dalam beberapa kondisi emosi. Hasilnya menunjukkan bahwa peserta berjalan lebih lambat dan mengambil langkah lebih pendek ketika berada dalam kondisi sedih.

Perubahan tersebut menunjukkan hubungan antara suasana hati dan pola berjalan. Oleh karena itu, seseorang yang berjalan lambat tidak bisa langsung dianggap pemalu, kurang percaya diri, atau tidak bersemangat karena faktor kelelahan dan kesehatan juga perlu diperhatikan.

3. Gerakan Tubuh yang Lebar Memiliki Kaitan dengan Karakter Pribadi

Cara berjalan tidak hanya terlihat dari kecepatan kaki, tetapi juga gerakan tubuh bagian atas dan bawah. Sebagian orang menggerakkan bahu, pinggul, serta badan secara lebih leluasa ketika melangkah.

Penelitian Liam Satchell dkk. berjudul Evidence of Big Five and Aggressive Personalities in Gait Biomechanics (2017) mengamati pola berjalan 29 peserta menggunakan teknologi perekam gerakan. Hasil penelitian menemukan hubungan antara besarnya gerakan tubuh bagian atas, tubuh bagian bawah, kecepatan berjalan, dan sejumlah sifat kepribadian.

Peneliti juga menemukan bahwa hubungan antara gerakan tubuh dan sifat kepribadian tidak selalu sederhana. Pola tersebut dapat memberikan petunjuk dalam penelitian psikologi, tetapi belum cukup untuk menentukan karakter seseorang hanya melalui pengamatan visual.

4. Gerakan Badan Atas dan Panggul Dapat Berkaitan dengan Agresivitas

Sebagian orang memiliki gerakan badan yang lebih kuat ketika berjalan. Salah satu cirinya adalah rotasi badan bagian atas dan panggul yang terlihat lebih menonjol saat kaki bergantian melangkah.

Dalam penelitian Satchell dkk. (2017), hubungan antara gerakan relatif badan atas dan panggul ditemukan berkaitan dengan kecenderungan agresivitas fisik. Penelitian tersebut menggunakan pengukuran gerak tubuh secara biomekanis, bukan sekadar penilaian berdasarkan penampilan seseorang.

Temuan ini menarik karena agresivitas ternyata dapat memiliki hubungan dengan pola gerakan otomatis. Namun, jumlah peserta penelitian hanya 29 orang sehingga hasilnya tidak dapat dijadikan dasar untuk menyebut seseorang agresif hanya karena cara berjalannya.

5. Berjalan dengan Tubuh Membungkuk Bisa Mencerminkan Kesedihan

Posisi kepala dan bahu turut memengaruhi kesan seseorang ketika berjalan. Tubuh yang cenderung membungkuk, terutama pada bagian leher dan punggung atas, dapat terlihat berbeda dibandingkan postur yang lebih tegak.

Penelitian M. Melissa Gross, Elizabeth A. Crane, dan Barbara L. Fredrickson berjudul Effort-Shape and Kinematic Assessment of Bodily Expression of Emotion During Gait (2012) mengamati 16 peserta dalam beberapa kondisi emosional. Hasilnya menunjukkan bahwa kondisi sedih berkaitan dengan peningkatan posisi menunduk pada bagian leher dan punggung atas.

Sebaliknya, kondisi gembira ditemukan berkaitan dengan posisi tubuh yang lebih tegak pada bagian badan dan bahu yang lebih turun. Penelitian tersebut membahas ekspresi emosi, bukan kepribadian tetap sehingga postur membungkuk tidak bisa langsung diartikan sebagai sifat pesimistis atau kurang percaya diri.

6. Perubahan Langkah saat Berjalan Sambil Berbicara Berkaitan dengan Karakter

Cara seseorang berjalan juga dapat berubah ketika melakukan aktivitas lain secara bersamaan. Misalnya, berjalan sambil berbicara, menghitung, atau memikirkan sesuatu membutuhkan perhatian yang berbeda dibandingkan berjalan tanpa gangguan.

Penelitian Brittany C. LeMonda, Jeannette R. Mahoney, Joe Verghese, dan Roee Holtzer berjudul The Association between High Neuroticism-Low Extraversion and Dual-Task Performance During Walking While Talking in Non-demented Older Adults (2015) melibatkan 295 orang berusia 65 hingga 95 tahun. Penelitian tersebut menemukan bahwa kelompok dengan neurotisisme tinggi dan ekstroversi rendah mengalami penurunan kecepatan berjalan serta kemampuan kognitif lebih besar ketika mengerjakan dua tugas sekaligus.

Hasil tersebut menunjukkan adanya hubungan antara sifat kepribadian, kemampuan memusatkan perhatian, dan koordinasi gerakan. Namun, penelitian ini dilakukan pada kelompok lanjut usia sehingga hasilnya tidak dapat langsung diterapkan untuk menilai kepribadian semua kelompok umur.

7. Pola Berjalan yang Konsisten Dapat Menjadi Petunjuk Kepribadian

Pola berjalan terdiri atas berbagai gerakan yang saling berkaitan. Kecepatan, panjang langkah, posisi badan, dan pergerakan setiap bagian tubuh dapat memberikan gambaran yang lebih menyeluruh dibandingkan hanya memperhatikan satu gerakan.

Penelitian Yeye Wen, Baobin Li, Deyuan Chen, dan Tingshao Zhu berjudul Reliability and Validity Analysis of Personality Assessment Model Based on Gait Video (2022) melibatkan 152 peserta. Peneliti menggunakan rekaman video berjalan dan kuesioner Big Five untuk mengembangkan model komputer yang dapat menghubungkan pola gerakan dengan sifat kepribadian.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa rekaman gerakan memiliki potensi untuk membantu proses penilaian kepribadian menggunakan teknologi. Meski demikian, metode tersebut memerlukan pengukuran dan pengujian khusus sehingga tidak bisa disamakan dengan menebak karakter seseorang melalui satu kali pengamatan.

Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Menilai Kepribadian dari Cara Berjalan

Cara berjalan memang dapat memberikan petunjuk mengenai karakter dan kondisi emosional seseorang. Namun, hubungan tersebut tidak bersifat mutlak karena gerakan tubuh dipengaruhi berbagai faktor.

Usia, kebugaran, kesehatan, rasa lelah, kondisi jalan, hingga alas kaki dapat mengubah pola langkah seseorang. Suasana hati dan tekanan pikiran juga bisa membuat seseorang berjalan lebih cepat atau lambat dari biasanya.

Penelitian mengenai hubungan kepribadian dan cara berjalan masih terus berkembang. Karena itu, hasil pengamatan sebaiknya digunakan untuk memahami perilaku secara umum, bukan memberikan label atau penilaian terhadap karakter seseorang.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kepribadian Berdasarkan Cara Berjalan

1. Apakah cara berjalan bisa menunjukkan kepribadian seseorang?

Bisa memberikan petunjuk mengenai beberapa kecenderungan kepribadian, tetapi tidak dapat menentukan karakter seseorang secara pasti.

2. Apa arti orang yang berjalan sangat cepat?

Kecepatan berjalan dalam penelitian ditemukan berkaitan dengan ekstroversi, keterbukaan terhadap pengalaman, dan kesadaran diri yang lebih tinggi.

3. Apakah berjalan lambat menandakan seseorang pemalu?

Tidak. Berjalan lambat dapat dipengaruhi suasana hati, kelelahan, usia, kondisi fisik, dan berbagai faktor lainnya.

4. Mengapa orang yang sedang sedih cenderung berjalan lebih lambat?

Penelitian menunjukkan bahwa kesedihan dapat memengaruhi panjang langkah dan kecepatan berjalan sehingga gerakannya menjadi lebih lambat.

5. Apakah kepribadian bisa diketahui melalui gerakan tubuh?

Penelitian menunjukkan adanya hubungan antara gerakan tubuh dan kepribadian. Namun, penilaian yang lebih akurat membutuhkan pengukuran serta metode psikologi yang teruji.