Penjualan Motor Melambat, MPMX Malah Catat Kenaikan Laba

PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) mencatatkan pertumbuhan laba bersih konsolidasian sebesar 23 persen secara tahunan

Diterbitkan 30 Oktober 2026, 17:29 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) mencatatkan pertumbuhan laba bersih konsolidasian sebesar 23 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp 539 miliar pada sembilan bulan pertama 2026 (9M26).

Pencapaian tersebut diraih di tengah pendapatan bersih perseroan yang relatif stabil. Disebutkan, MPMX membukukan pendapatan bersih konsolidasian sebesar Rp 11,98 triliun, turun tipis 0,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan laba tersebut didukung oleh perbaikan profitabilitas di sejumlah lini bisnis, terutama distribusi dan ritel sepeda motor serta transportasi.

MPMX juga mencatatkan pertumbuhan laba kotor sebesar 8 persen YoY menjadi Rp 1,095 triliun. Sementara itu, laba usaha meningkat 19 persen YoY menjadi Rp 585 miliar.

Perbaikan kinerja turut terlihat pada sejumlah indikator margin. Margin laba kotor meningkat menjadi 9,1 persen dari sebelumnya 8,5 persen.

Margin laba usaha naik menjadi 4,9 persen dari 4,1 persen, sedangkan margin laba bersih mencapai 4,5 persen dibandingkan 3,7 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Segmen distribusi dan ritel menjadi salah satu penopang kinerja MPMX selama sembilan bulan pertama 2026.

Melalui bisnis distribusi MPMulia, pendapatan penjualan sepeda motor tercatat sebesar Rp9,41 triliun, turun 1 persen YoY. Namun, pendapatan penjualan suku cadang justru tumbuh 7 persen YoY menjadi Rp1,14 triliun.

Sementara itu, bisnis ritel MPMMotor menunjukkan perkembangan positif. Pendapatan penjualan sepeda motor meningkat 8 persen YoY menjadi Rp2,58 triliun. Pendapatan layanan purna jual juga tumbuh 9 persen YoY menjadi Rp79 miliar.

Secara keseluruhan, pendapatan bersih segmen distribusi dan ritel meningkat tipis 0,2 persen YoY menjadi Rp11,31 triliun.

Meski pertumbuhan pendapatan relatif terbatas, laba kotor segmen ini meningkat 9 persen YoY menjadi Rp 987 miliar. Margin laba kotor juga mengalami perbaikan menjadi 8,7 persen dari sebelumnya 8,0 persen.

Di segmen asuransi, MPMInsurance membukukan pendapatan asuransi sebesar Rp 672 miliar, turun 6 persen YoY.

Penurunan tersebut terjadi di tengah pertumbuhan lini asuransi properti sebesar 6 persen YoY menjadi Rp 297 miliar. Sementara itu, pendapatan asuransi kendaraan bermotor turun 6 persen YoY menjadi Rp177 miliar.

Pendapatan dari lini asuransi lainnya juga mengalami penurunan 21 persen YoY menjadi Rp 198 miliar.

Meski demikian, biaya jasa asuransi berhasil ditekan 7 persen YoY menjadi Rp561 miliar. Kondisi tersebut membantu membatasi penurunan hasil jasa asuransi menjadi 3 persen YoY atau sebesar Rp 112 miliar.

Di sisi lain, rasio klaim meningkat menjadi 39,9 persen dari sebelumnya 35,1 persen. Hasil investasi MPMInsurance tercatat sebesar Rp 32 miliar, turun 20 persen YoY akibat lebih rendahnya pendapatan keuangan dan pendapatan lainnya.

Beralih ke bisnis transportasi, MPMRent berhasil meningkatkan profitabilitas meski menghadapi penurunan volume operasional.

Pendapatan bersih MPMRent tercatat sebesar Rp 1,09 triliun, turun 3 persen YoY. Penurunan ini dipengaruhi oleh berkurangnya jumlah armada yang disewakan serta volume penjualan mobil bekas.

Namun, laba kotor justru meningkat 10 persen YoY menjadi Rp 240 miliar. Margin laba kotor juga naik menjadi 22 persen dari sebelumnya 19,4 persen.

Peningkatan tersebut didukung pengelolaan biaya yang lebih efektif serta optimalisasi komposisi bisnis, khususnya pada lini penjualan mobil bekas.

 

Rugi Bisnis Pembiayaan Berhasil Ditekan

Sementara itu, segmen pembiayaan yang dijalankan JACCS MPMFinance Indonesia masih menghadapi tantangan. Pendapatan bersih perusahaan tercatat sebesar Rp 437 miliar, turun 43 persen YoY.

Namun, penerapan strategi bisnis yang lebih selektif dan berhati-hati (prudent) mulai memberikan dampak terhadap kualitas aset dan pengelolaan biaya.

Beban operasional berhasil ditekan 48 persen YoY menjadi Rp 383 miliar. Hasilnya, rugi bersih segmen pembiayaan dapat dikurangi hingga 73 persen.

Jika pada sembilan bulan pertama 2025 JACCS MPMFinance Indonesia membukukan rugi bersih Rp 164 miliar, pada periode yang sama 2026 angkanya menyusut menjadi Rp 45 miliar.

Grup CFO MPMX, Beatrice Kartika, mengatakan bahwa kinerja sembilan bulan pertama 2026 menunjukkan kemampuan perseroan menjaga stabilitas pendapatan sekaligus meningkatkan profitabilitas.

Menurutnya, perbaikan margin pada bisnis distribusi dan ritel serta transportasi, ditambah berkurangnya kerugian pada bisnis pembiayaan, menjadi perkembangan positif bagi kinerja grup.

"Ke depan, kami akan tetap berfokus pada pengelolaan biaya yang disiplin, kualitas aset, dan optimalisasi bauran bisnis untuk menjaga kinerja Perseroan secara berkelanjutan," ujar Beatrice.

Dengan capaian tersebut, MPMX berupaya mempertahankan momentum pertumbuhan profitabilitas melalui efisiensi operasional dan optimalisasi setiap segmen bisnis di tengah dinamika industri otomotif dan pembiayaan.