Liputan6.com, Jakarta - Fenomena downgrade lifestyle atau penurunan gaya hidup semakin ramai diperbincangkan di media sosial, termasuk di kalangan kaum tengah. Di tengah tekanan ekonomi dan biaya hidup yang terus meningkat, sebagian kelas menengah mulai mengurangi pengeluaran, memilih produk yang lebih murah, hingga menunda kebutuhan yang tidak mendesak.
Bagi kaum tengah, perubahan ini bukan sekadar soal berhemat. Mereka mulai mengesampingkan gengsi demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kebiasaan membeli kopi di kafe, misalnya, berganti menjadi kopi saset. Makan di restoran mulai dikurangi, langganan hiburan digital dievaluasi, dan rencana membeli barang baru ditunda.
Pakar Perilaku Konsumen IPB University, Prof. Megawati Simanjuntak, menjelaskan bahwa dalam ilmu keluarga dan konsumen, perilaku tersebut dikenal sebagai strategi koping (coping strategy). Istilah ini merujuk pada cara keluarga menyesuaikan diri agar tetap mampu bertahan menghadapi tekanan ekonomi.
Advertisement
"Dalam kajian ilmu keluarga dan konsumen, ini disebut strategi koping, yaitu cara keluarga menyesuaikan diri agar tetap bertahan. Berhemat dan mengganti produk dengan yang lebih murah merupakan bagian dari upaya tersebut, selain mencari tambahan penghasilan," ujar Megawati.
Downgrade Gaya Hidup: Pilihan atau Keterpaksaan?
Megawati melihat ada dua hal menarik dari fenomena downgrade lifestyle saat ini. Pertama, perilaku tersebut semakin banyak dilakukan kelompok kelas menengah yang selama ini dianggap relatif aman secara ekonomi.
Kedua, perubahan gaya hidup yang dahulu cenderung dilakukan secara pribadi kini justru terbuka dibicarakan di media sosial. "Dulu, mengganti kopi kafe dengan kopi saset mungkin cukup disimpan sendiri. Sekarang, justru diceritakan," katanya.
Namun, Megawati mengingatkan bahwa keputusan menurunkan gaya hidup tidak selalu memiliki alasan yang sama. Ada keluarga yang melakukannya karena ingin mengelola keuangan dengan lebih baik. Ada pula yang terpaksa berhemat karena kondisi keuangannya semakin terbatas.
Pendapatan yang tidak banyak bertambah, harga kebutuhan sehari-hari yang terus naik, serta kewajiban membayar cicilan membuat ruang keuangan rumah tangga semakin sempit.
"Dari luar, penghematannya tampak sama, padahal latarnya bisa berbeda. Jika dilakukan atas kesadaran mengelola keuangan, perilaku ini menjadi positif karena mengurangi tekanan gengsi berbelanja. Namun, jika karena daya tahan keuangan keluarga menipis, kondisi itu menjadi sinyal yang perlu diwaspadai,"Â ujarnya.
Â
Ketika Kaum Tengah Mulai Menahan Belanja
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9386712/original/029280300_1793358223-Prof_Megawati_Simanjuntak__1_.jpg)
Tekanan ekonomi juga diperburuk ketidakpastian dunia kerja. Kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) dan sulitnya mendapatkan pekerjaan membuat sebagian masyarakat memilih menahan pengeluaran untuk menambah cadangan keuangan. Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan ini dapat berdampak pada perekonomian.
Ketika kaum tengah mengurangi belanja, sejumlah sektor seperti restoran, kafe, pusat perbelanjaan, fesyen, pariwisata, hiburan, otomotif, hingga properti berpotensi ikut terdampak. Dampaknya tidak hanya dirasakan perusahaan besar, tetapi juga pelaku usaha kecil dan menengah yang menyerap banyak tenaga kerja.
"Kondisi ini berisiko membentuk lingkaran yang saling memperlemah. Penurunan belanja dapat menekan pendapatan pekerja di sektor terkait. Ketika pendapatan mereka ikut menurun, pengeluaran rumah tangga kembali dikurangi sehingga konsumsi semakin melemah," ujar Megawati.
Meski demikian, fenomena downgrade lifestyle tidak selalu berdampak negatif. Dalam jangka pendek, perubahan pola konsumsi dapat mendorong masyarakat beralih ke produk lokal yang lebih terjangkau. Langkah ini juga berpotensi membantu memperbaiki kondisi tabungan rumah tangga.
Namun, jika berlangsung dalam waktu lama karena keterpaksaan ekonomi, penurunan gaya hidup dapat menjadi persoalan. Pasalnya, konsumsi masyarakat yang terus melemah berpotensi memengaruhi perekonomian nasional.
Megawati menilai bahwa apakah downgrade lifestyle akan menjadi kebiasaan baru bergantung pada kondisi ekonomi yang melatarbelakanginya. Jika tekanan ekonomi hanya bersifat sementara, pola konsumsi masyarakat bisa kembali berubah ketika keadaan membaik.
Sebaliknya, jika pendapatan terus tumbuh lebih lambat dibandingkan biaya hidup, kebiasaan berhemat tersebut bisa bertahan. "Jadi, ini bukan soal kelas menengah tidak mau belanja, tetapi soal kemampuan dan rasa aman. Kalau kita ingin konsumsi mereka pulih, kuncinya ada pada pemulihan daya beli dan kepercayaan terhadap kondisi ke depan, bukan sekadar mengajak mereka belanja lagi," ujarnya.
Oleh sebab itu, Megawati menegaskan bahwa downgrade lifestyle seharusnya tidak sekadar diterima sebagai kenyataan baru. Hal yang lebih penting adalah memastikan perubahan gaya hidup tersebut terjadi karena pilihan sadar, bukan akibat tekanan ekonomi.
"Untuk itu, daya beli dan kesempatan kerja yang baik tetap menjadi kunci,"Â pungkasnya.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4949090/original/063678200_1726832428-Apel1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5558081/original/096705700_1776405688-cek_fakta_-_dana_bantuan_hindu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385829/original/024402600_1793271201-Screenshot_2026-10-29_174018.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5221825/original/025442000_1747374422-VaksinTb1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9386711/original/002173400_1793358222-Prof_Megawati_Simanjuntak.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9383429/original/057129300_1793086178-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_10.25.41.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9383852/original/062982900_1793105548-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_19.51.38.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384189/original/096447600_1793159617-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_22.04.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382245/original/048891000_1792985284-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_10.25.42.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375868/original/081610000_1792238431-Gemini_Generated_Image_hcmx8rhcmx8rhcmx.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380248/original/027265200_1792662564-IMG_6381.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380249/original/018233000_1792662587-IMG_6379.jpg)