Liputan6.com, Jakarta Hari yang melelahkan atau suasana hati yang buruk terkadang membuat seseorang mencari hiburan melalui belanja online. Ketika notifikasi flash sale muncul di layar ponsel, keinginan untuk membeli sesuatu bisa muncul secara spontan tanpa banyak pertimbangan.
Salah satu ciri orang yang suka belanja online saat stres adalah sering membuka aplikasi belanja untuk memperbaiki suasana hati. Aktivitas berbelanja mungkin memberikan rasa senang atau lega sesaat, tetapi perasaan tersebut bisa berganti menjadi penyesalan setelah barang yang dibeli tiba.
Mengenali ciri orang yang suka belanja online saat stres dapat membantu seseorang memahami hubungan antara kondisi emosional dan kebiasaan belanjanya. Hal ini juga didukung oleh tinjauan riset yang dipublikasikan di ScienceDirect. Sejumlah studi korelasional dalam tinjauan tersebut menemukan hubungan signifikan antara tingkat stres yang dirasakan dan keparahan gejala belanja kompulsif.
Advertisement
Pengertian Belanja Online saat Stres atau Retail Therapy
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4932095/original/003130400_1724986408-Ilustrasi_belanja_online__belanja__shopping__refund.jpg)
Kebiasaan berbelanja untuk meredakan stres dikenal dengan istilah populer retail therapy. Istilah ini merujuk pada aktivitas berbelanja yang dilakukan untuk memperbaiki suasana hati atau mengurangi perasaan negatif. Berbelanja dapat memicu perasaan senang dan memberikan sensasi kendali atas kehidupan, meskipun efeknya sering kali hanya sementara.
Psikolog Susan Albers, PsyD, dikutip dari Cleveland Clinic, menjelaskan bahwa berbelanja dapat memberikan manfaat psikologis dan terapeutik jika dilakukan dalam batas yang wajar.
"Riset menunjukkan ada nilai psikologis dan terapeutik yang signifikan dari berbelanja, tentu saja jika dilakukan secukupnya."
Di era digital, praktik retail therapy semakin mudah dilakukan karena berbagai toko dapat diakses melalui ponsel. Hanya dengan beberapa ketukan, seseorang bisa memilih barang, memasukkannya ke keranjang, hingga menyelesaikan pembayaran kapan saja. Kebiasaan belanja yang dipicu suasana hati ini juga dikenal sebagai vibe spending, yakni perilaku berbelanja yang dipengaruhi kondisi emosional. Pola tersebut cukup dekat dengan keseharian pengguna media sosial, termasuk perempuan berusia 20-an hingga 30-an yang kerap terpapar tren belanja dan promosi produk.
Meski demikian, berbelanja untuk memperbaiki suasana hati tidak selalu berdampak buruk. Penelitian dari University of Michigan melalui sejumlah eksperimen menemukan bahwa aktivitas berbelanja dapat membantu memulihkan rasa kendali seseorang terhadap lingkungannya.
Scott Rick, penulis utama penelitian sekaligus pengajar pemasaran di Ross School of Business, dikutip dari Psychology Today, menjelaskan bahwa berbelanja dapat memberikan efek terapeutik dalam kondisi tertentu, terutama ketika seseorang sedang merasa sedih.
"Data kami menunjukkan bahwa berbelanja bisa bersifat terapeutik dalam kondisi tertentu bagi orang yang sedang sedih."
Namun, kebiasaan ini perlu diwaspadai ketika berbelanja mulai menjadi satu-satunya cara untuk menghadapi tekanan emosional. Mengutip Gulf News, retail therapy umumnya merupakan perilaku jangka pendek yang muncul ketika seseorang sedang mengalami masa sulit atau menghadapi perubahan dalam hidup.
Berbeda dari itu, oniomania merupakan istilah untuk perilaku belanja kompulsif yang ditandai dorongan kuat dan sulit dikendalikan untuk terus berbelanja. Kondisi ini berkaitan dengan gangguan kontrol impuls dan dapat menimbulkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kondisi keuangan maupun hubungan sosial.
Dengan demikian, retail therapy sesekali tidak serta-merta menunjukkan kecanduan belanja. Hal yang perlu diperhatikan adalah seberapa sering seseorang melakukannya, apakah mampu mengendalikan keinginan membeli, dan apakah kebiasaan tersebut mulai membawa dampak negatif.
Advertisement
Ciri Orang yang Suka Belanja Online saat Stres
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5322656/original/064757800_1755751550-pexels-cottonbro-5076511.jpg)
Sesekali membeli barang untuk menyenangkan diri sendiri tentu bukan masalah. Namun, kebiasaan tersebut perlu diperhatikan jika mulai menjadi pelarian setiap kali menghadapi tekanan emosional. Ada sejumlah pola yang dapat dikenali agar aktivitas belanja tetap terkendali dan tidak berdampak buruk pada kondisi keuangan maupun keseharian.
Berdasarkan ulasan Barchart, beberapa tanda yang perlu diwaspadai meliputi menghabiskan banyak waktu mencari barang yang sebenarnya tidak mampu dibeli, terus-menerus memikirkan produk incaran, berbelanja secara impulsif sebagai respons terhadap emosi negatif, hingga membeli barang lain di luar kebutuhan saat sedang mencari produk tertentu.
Berikut delapan ciri orang yang suka belanja online saat stres yang perlu diperhatikan.
1. Refleks Membuka Aplikasi Belanja Saat Suasana Hati Memburuk
Salah satu ciri yang mudah dikenali adalah kebiasaan membuka aplikasi belanja setiap kali suasana hati sedang tidak baik. Perasaan bosan, kesepian, frustrasi, atau cemas bisa mendorong seseorang mencari hiburan dengan menjelajahi toko online.
Kebiasaan ini sering dilakukan secara spontan tanpa mempertimbangkan apakah ada barang yang benar-benar dibutuhkan. Pola serupa juga dapat ditemukan pada orang yang hobi checkout tengah malam sebagai cara mengalihkan pikiran setelah menjalani hari yang melelahkan.
2. Merasa Sangat Senang Saat Berhasil Checkout
Perasaan senang yang muncul ketika transaksi berhasil menjadi salah satu hal yang membuat seseorang ingin terus berbelanja. Bahkan, rasa puas tersebut terkadang lebih berkaitan dengan aktivitas membeli daripada manfaat barang yang diperoleh.
Sensasi menyenangkan ini dapat mendorong seseorang mengulangi kebiasaan yang sama setiap kali merasa stres atau membutuhkan hiburan. Akibatnya, aktivitas checkout perlahan menjadi cara untuk memperbaiki suasana hati.
3. Rasa Lega Setelah Belanja Hanya Bertahan Sebentar
Pada awalnya, berbelanja mungkin terasa cukup ampuh untuk mengalihkan pikiran dari masalah. Namun, seiring waktu, perasaan lega tersebut bisa semakin cepat menghilang.
Seseorang yang sebelumnya merasa senang selama berjam-jam setelah membeli sesuatu mungkin mulai kehilangan kepuasan dalam waktu singkat. Perasaan tidak nyaman kemudian muncul kembali, bahkan disertai penyesalan karena telah mengeluarkan uang untuk barang yang tidak terlalu dibutuhkan.
4. Lega Saat Checkout, tetapi Menyesal Ketika Tagihan Datang
Perubahan emosi setelah berbelanja juga perlu diperhatikan. Seseorang mungkin merasa puas ketika menyelesaikan pembayaran, tetapi justru diliputi penyesalan saat melihat tagihan atau mengingat jumlah uang yang sudah dikeluarkan.
Untuk mengenali pola ini, perhatikan apakah keinginan berbelanja selalu muncul ketika sedang kesal dan apakah transaksi memberikan kelegaan sesaat yang kemudian diikuti rasa bersalah.
Kathleen McHugh, psikolog berlisensi, dikutip dari WGEM, menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut dapat menjadi cara seseorang menghadapi tekanan dalam jangka pendek tanpa menyelesaikan masalah yang mendasarinya.
"Ini bisa berubah menjadi cara mengatasi tekanan jangka pendek tanpa menyelesaikan masalah yang mendasarinya."
5. Diam-Diam Menyembunyikan Barang yang Dibeli
Kebiasaan belanja yang sulit dikendalikan terkadang membuat seseorang merasa malu atau tidak nyaman dengan aktivitasnya sendiri. Akibatnya, muncul kecenderungan menyembunyikan transaksi maupun barang yang sudah dibeli dari orang terdekat.
Contohnya, tidak memberi tahu pasangan tentang pembelian baru, menghapus email konfirmasi pesanan, atau membiarkan paket yang datang tidak dibuka karena merasa bersalah. Perilaku ini bisa menjadi tanda bahwa aktivitas belanja mulai menimbulkan tekanan emosional.
6. Membeli Barang yang Sebenarnya Tidak Dibutuhkan
Barang-barang yang jarang digunakan mulai menumpuk di rumah, mulai dari pakaian yang label harganya masih terpasang hingga produk yang akhirnya terlupakan setelah dibeli.
Kondisi ini dapat terjadi karena keputusan membeli lebih banyak dipengaruhi keinginan sesaat daripada kebutuhan. Belanja dilakukan untuk mendapatkan perasaan senang, bukan karena barang tersebut benar-benar diperlukan.
7. Pengeluaran Mulai Melebihi Kemampuan Finansial
Dorongan berbelanja yang sulit dikendalikan dapat membuat seseorang mengabaikan anggaran bulanan. Kemudahan menggunakan kartu kredit maupun layanan paylater juga bisa membuat transaksi terasa lebih ringan, meskipun kewajiban pembayarannya tetap harus dipenuhi.
Jika kebiasaan ini terus berlanjut, pengeluaran dapat menumpuk hingga mengganggu kebutuhan sehari-hari. Utang akibat belanja impulsif menjadi salah satu tanda serius bahwa kebiasaan tersebut mulai berdampak nyata pada kondisi keuangan.
8. Terjebak dalam Lingkaran Stres dan Belanja
Ciri lainnya adalah munculnya pola berulang antara tekanan emosional dan kebiasaan berbelanja. Awalnya, seseorang membeli sesuatu untuk mengurangi stres. Namun, pengeluaran yang tidak terkendali justru memunculkan masalah keuangan baru.
Masalah tersebut kemudian kembali memicu stres dan mendorong keinginan untuk berbelanja sebagai pelarian. Jika terus berulang, seseorang bisa terjebak dalam lingkaran yang semakin sulit dihentikan.
Mengapa Stres Mendorong Orang Belanja Online
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5441953/original/036775200_1765522598-Depositphotos_655422754_L.jpg)
Di balik kebiasaan menekan tombol checkout saat merasa penat, terdapat proses kimia di otak yang turut memengaruhi perilaku belanja. Beth Gabriel, DNP, praktisi perawat kesehatan jiwa, dikutip dari Psych Central, menjelaskan bahwa aktivitas membeli sesuatu dapat memicu pelepasan dopamin di otak.
"Saat seseorang membeli sebuah barang, otak mengenalinya sebagai hadiah dan zat kimia dilepaskan, khususnya dopamin."
Namun, rasa senang yang muncul setelah berbelanja biasanya hanya berlangsung sementara. Ketika efek tersebut mulai menghilang, seseorang bisa kembali menginginkan sensasi menyenangkan yang sama dan terdorong untuk melakukan pembelian berikutnya.
Hubungan antara emosi dan kebiasaan berbelanja juga terlihat dalam dunia fashion. Merujuk Fashion Journal, seorang stylist yang telah membantu ribuan orang menemukan gaya personal menjelaskan bahwa berbelanja memang dapat memperbaiki suasana hati. Namun, jika dilakukan secara berlebihan atau tanpa disadari, kebiasaan tersebut berisiko menutupi masalah emosional yang lebih dalam dan justru menambah tekanan yang ingin dihindari.
Hal ini menunjukkan bahwa membeli pakaian atau memilih outfit baru sebaiknya menjadi bagian dari ekspresi diri, bukan satu-satunya cara untuk mengatasi perasaan negatif.
Selain faktor emosional, lingkungan belanja online juga dapat memengaruhi keinginan seseorang untuk terus bertransaksi. Berbagai platform dirancang dengan tampilan produk menarik, banner diskon, dan rekomendasi personal yang dapat mendorong pengguna melakukan pembelian.
Sebuah studi dalam Journal of Behavioral Addictions yang melibatkan perempuan dengan gangguan belanja kompulsif online menemukan bahwa kelompok tersebut menunjukkan respons emosional yang lebih kuat terhadap gambar-gambar terkait aktivitas belanja. Mereka juga memberikan penilaian lebih tinggi terhadap tingkat gairah dan dorongan untuk membeli dibandingkan kelompok kontrol.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa rangsangan visual dalam platform belanja online dapat terasa lebih kuat bagi orang dengan kecenderungan belanja kompulsif. Gambar produk, penawaran diskon, hingga rekomendasi algoritma berpotensi semakin memicu keinginan berbelanja.
Faktor lain yang turut berperan adalah rasa percaya diri dan kebutuhan akan pengakuan sosial. Sebagian orang mungkin merasa lebih menarik atau percaya diri setelah memiliki barang baru, terutama jika produk tersebut sedang populer di media sosial. Perasaan kesepian dan kurangnya waktu untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri juga dapat memengaruhi kebiasaan tersebut.
Karena itu, penting untuk mengenali hal-hal yang memicu keinginan berbelanja. Apakah muncul karena emosi negatif, kesepian, kebutuhan meningkatkan harga diri, atau keinginan mendapatkan pengakuan dari lingkungan sosial? Memahami pemicunya dapat menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan belanja yang lebih sehat dan terkendali.
Advertisement
Bedanya Retail Therapy Sehat dan Kebiasaan yang Perlu Diwaspadai
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5441515/original/012459700_1765510799-Depositphotos_842633972_L.jpg)
Tidak semua aktivitas belanja saat stres selalu berdampak buruk. Kebiasaan ini masih bisa tergolong wajar selama dilakukan dengan kesadaran dan kendali diri, bukan menjadi satu-satunya cara untuk menghadapi tekanan emosional.
Sebagaimana dijelaskan dalam makalah yang dipublikasikan di arXiv, sejumlah penelitian sebelumnya mengaitkan gangguan belanja kompulsif dengan tingkat stres yang lebih tinggi. Di sisi lain, aktivitas berbelanja juga ditemukan dapat membantu seseorang meredakan stres dalam kondisi tertentu.
Lantas, bagaimana membedakan retail therapy yang masih sehat dengan kebiasaan belanja yang mulai sulit dikendalikan? Berikut beberapa tandanya.
1. Dilakukan Sesekali, Bukan Setiap Kali Stres
Retail therapy masih tergolong wajar jika dilakukan sesekali untuk menyenangkan diri sendiri. Artinya, seseorang tidak selalu menjadikan belanja sebagai respons utama setiap kali menghadapi masalah atau menjalani hari yang melelahkan.
2. Tidak Melebihi Kemampuan Finansial
Kebiasaan belanja yang sehat tetap mempertimbangkan kondisi keuangan. Seseorang dapat membeli barang yang diinginkan tanpa harus mengorbankan kebutuhan pokok atau menambah beban utang.
Salah satu cara untuk menjaganya adalah menyisihkan anggaran khusus self reward setiap bulan. Dengan begitu, keinginan memanjakan diri tetap bisa terpenuhi tanpa mengganggu pengeluaran lainnya.
3. Dilakukan Berdasarkan Keputusan yang Disengaja
Belanja yang terkendali melibatkan pertimbangan sebelum melakukan transaksi. Seseorang mengetahui alasan membeli barang tersebut dan memiliki kesempatan untuk memikirkan apakah produk itu benar-benar diperlukan atau hanya keinginan sesaat.
Sebaliknya, kebiasaan belanja impulsif sering terjadi tanpa perencanaan. Seseorang bisa langsung melakukan checkout hanya karena melihat diskon atau sedang mengalami perubahan suasana hati.
4. Bukan Satu-Satunya Cara untuk Menenangkan Diri
Belanja masih bisa menjadi salah satu cara memperbaiki suasana hati selama seseorang memiliki pilihan lain untuk menghadapi stres. Misalnya, berjalan kaki, menelepon teman, beristirahat, menikmati makanan favorit, atau mandi air hangat.
Memiliki beragam cara untuk mengelola emosi membantu seseorang agar tidak selalu bergantung pada aktivitas belanja ketika menghadapi situasi yang kurang menyenangkan.
5. Tidak Disertai Rasa Bersalah atau Keinginan Menyembunyikan Pembelian
Seseorang yang memiliki kebiasaan belanja terkendali umumnya tidak merasa perlu menyembunyikan barang yang dibeli dari orang terdekat. Aktivitas tersebut juga tidak terus-menerus memicu rasa malu atau penyesalan.
Sebaliknya, jika seseorang mulai menyembunyikan transaksi, berbohong tentang jumlah pengeluaran, atau merasa bersalah berkepanjangan setelah berbelanja, pola tersebut perlu diperhatikan lebih lanjut.
6. Mampu Mengenali Emosi yang Sedang Dirasakan
Belanja tidak selalu bisa meredakan semua jenis emosi negatif. Penelitian dari University of Michigan menunjukkan bahwa aktivitas berbelanja dapat membantu memulihkan rasa kendali dalam kondisi tertentu, tetapi tidak terbukti meredakan semua perasaan, termasuk kemarahan dan rasa bersalah.
Karena itu, penting untuk memahami emosi yang sedang dialami sebelum memutuskan berbelanja. Jika penyebab stres berasal dari konflik, rasa kecewa, atau masalah pribadi, mencari solusi terhadap sumber masalah tersebut jauh lebih penting daripada sekadar mengalihkan perhatian melalui pembelian barang baru.
Fakta Riset: Siapa yang Lebih Rentan Belanja saat Stres?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2380824/original/054521300_1539245531-Screen_Shot_2018-10-11_at_15.09.36.jpg)
Sejumlah penelitian dari berbagai negara memberikan gambaran mengenai kelompok yang lebih rentan mengalami perilaku belanja kompulsif. Mengutip studi yang terindeks di PubMed terhadap populasi umum di Yunani, tingkat stres yang lebih tinggi, jenis kelamin perempuan, usia lebih muda, serta tempat tinggal di luar kota besar ditemukan berkaitan dengan gejala belanja kompulsif yang lebih berat.
Dalam penelitian yang sama, rata-rata usia responden yang menunjukkan gejala belanja kompulsif tinggi adalah 27 tahun. Temuan ini menarik untuk dicermati karena kelompok usia tersebut umumnya sedang berada dalam fase membangun karier, mengembangkan kehidupan pribadi, sekaligus menghadapi berbagai tuntutan sosial.
Penelitian lain yang lebih baru juga menunjukkan bahwa stres bukan satu-satunya faktor yang berkaitan dengan kecenderungan belanja online kompulsif. Dilansir dari jurnal Behavioral Sciences yang terbit pada 2026, kecemasan, depresi, dan stres masing-masing memiliki korelasi positif dengan tingkat kecanduan belanja online.
Namun, hasil analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa ketika frekuensi belanja tidak diperhitungkan, kecemasan dan depresi tetap menunjukkan hubungan yang signifikan, sedangkan stres tidak. Hal ini mengindikasikan bahwa kecenderungan belanja kompulsif dapat berkaitan dengan kondisi emosional yang lebih kompleks, bukan sekadar kelelahan akibat pekerjaan atau aktivitas sehari-hari.
Meski begitu, hasil penelitian tersebut perlu dipahami secara hati-hati. Peneliti dari studi di Yunani mengingatkan bahwa penelitian mereka menggunakan metode cross-sectional atau pengamatan pada satu periode waktu. Oleh karena itu, penelitian tersebut belum dapat memastikan apakah gejala belanja kompulsif menjadi penyebab atau justru akibat dari kecemasan, stres, maupun gejala depresi.
Dengan demikian, memiliki satu atau dua ciri orang yang suka belanja online saat stres tidak serta-merta berarti seseorang mengalami gangguan belanja kompulsif. Diperlukan pemahaman lebih menyeluruh mengenai pola perilaku, kondisi emosional, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain, perkembangan gaya hidup digital turut memengaruhi cara seseorang memandang aktivitas belanja. Budaya treat yourself, konten haul dari influencer, hingga berbagai kampanye diskon tanggal kembar di marketplace membuat belanja semakin lekat dengan rutinitas sehari-hari dan sering dianggap sebagai bentuk self-care.
Dalam kondisi tersebut, konsep mindful spending menjadi semakin relevan. Gaya hidup ini mengajak seseorang untuk tetap menikmati aktivitas belanja, tetapi lebih sadar terhadap alasan, kebutuhan, dan kemampuan finansial sebelum memutuskan membeli sesuatu. Dengan begitu, belanja tidak lagi sekadar menjadi pelarian dari emosi negatif, melainkan keputusan yang dilakukan secara lebih bijak.
Advertisement
Tips Mengelola Keinginan Belanja Online saat Stres
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3903769/original/022821300_1642153325-pexels-negative-space-34577.jpg)
Mengelola dorongan belanja bukan berarti harus berhenti menikmati barang baru. Hal terpenting adalah belajar mengendalikan keinginan membeli sesuatu agar keputusan belanja tidak selalu dipengaruhi emosi sesaat. Dengan begitu, aktivitas belanja tetap bisa menjadi pengalaman menyenangkan tanpa menimbulkan masalah keuangan maupun tekanan baru.
Scott Rick dari University of Michigan, dikutip dari Michigan Public, menjelaskan bahwa seseorang bahkan bisa mendapatkan kembali rasa kendali melalui aktivitas belanja secara hipotetis tanpa harus benar-benar melakukan pembelian.
"Mungkin membantu untuk berbelanja online... atau bahkan, seperti yang ditunjukkan hasil kami, sekadar berbelanja secara hipotetis, menggunakan pilihan untuk mendapatkan kembali kendali itu."
Ada beberapa cara yang bisa diterapkan untuk mengelola kebiasaan belanja saat stres agar tidak berkembang menjadi perilaku impulsif.
1. Kenali Hal yang Memicu Keinginan Belanja
Langkah pertama adalah memahami situasi atau emosi yang biasanya mendorong keinginan berbelanja. Coba perhatikan kapan dorongan tersebut muncul, misalnya setelah rapat yang melelahkan, saat merasa kesepian, atau ketika terlalu lama menjelajahi media sosial tanpa tujuan.
Mencatat pemicu tersebut dapat membantu mengenali pola belanja sekaligus memahami emosi yang sebenarnya sedang dirasakan.
2. Terapkan Aturan Jeda 24 Jam
Jangan terburu-buru melakukan checkout ketika menemukan barang yang menarik. Coba masukkan produk ke keranjang, lalu tunggu setidaknya 24 jam sebelum memutuskan untuk membelinya.
Jeda ini memberikan waktu untuk mempertimbangkan apakah barang tersebut memang dibutuhkan atau hanya menarik karena suasana hati sedang tidak baik. Tidak jarang, keinginan membeli justru berkurang setelah seseorang memiliki waktu untuk berpikir.
3. Coba Window Shopping Tanpa Harus Membayar
Menjelajahi toko online tidak selalu harus berakhir dengan transaksi. Jika ingin menikmati aktivitas belanja, cobalah membuat wishlist atau moodboard outfit dari barang-barang yang disukai.
Cara ini memungkinkan seseorang tetap menikmati kegiatan mencari inspirasi tanpa harus mengeluarkan uang. Namun, pastikan aktivitas tersebut tidak justru meningkatkan dorongan untuk membeli secara impulsif.
4. Kurangi Paparan Pemicu Belanja
Perhatikan akun media sosial yang sering membuat keinginan membeli sesuatu muncul. Jika konten promosi, rekomendasi produk, atau unggahan belanja orang lain memicu perilaku konsumtif, pertimbangkan untuk berhenti mengikuti akun tersebut.
Mengurangi paparan terhadap konten semacam ini dapat membantu seseorang lebih fokus pada kebutuhan sendiri daripada terus membandingkan barang yang dimiliki dengan tren terbaru.
5. Matikan Notifikasi Promo
Notifikasi flash sale, pengingat keranjang, dan penawaran terbatas dapat mendorong seseorang melakukan pembelian secara spontan. Terlebih jika muncul ketika suasana hati sedang buruk atau kondisi tubuh sedang lelah.
Untuk mengurangi godaan tersebut, matikan notifikasi promosi dari aplikasi belanja yang paling sering digunakan. Dengan begitu, keputusan membuka aplikasi dan membeli barang bisa lebih banyak berasal dari kebutuhan sendiri.
6. Ganti Kebiasaan Belanja dengan Aktivitas Lain
Jika keinginan berbelanja sering muncul saat stres atau kesepian, cobalah mencari aktivitas lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan emosional. Misalnya, menelepon teman, berjalan kaki, mendengarkan musik, atau beristirahat sejenak dari ponsel.
Memilih aktivitas yang tepat dapat membantu mengatasi perasaan tidak nyaman tanpa harus terus-menerus mengandalkan transaksi belanja.
7. Pilih Self-Care yang Lebih Ramah di Kantong
Menyenangkan diri sendiri tidak harus selalu dilakukan dengan membeli barang atau mengeluarkan banyak uang. Ada berbagai aktivitas sederhana yang bisa menjadi bentuk self-care, seperti berjalan-jalan di sekitar rumah, bermeditasi, membaca buku, atau berendam air hangat setelah menjalani hari yang melelahkan.
Selain lebih hemat, aktivitas tersebut dapat membantu seseorang memberikan waktu bagi diri sendiri tanpa menambah pengeluaran.
8. Batasi Penggunaan Paylater dan Kartu Kredit
Kemudahan pembayaran nontunai terkadang membuat seseorang kurang menyadari jumlah uang yang sudah dikeluarkan. Apalagi, layanan paylater memungkinkan pembelian dilakukan tanpa harus membayar seluruh nominal secara langsung.
Untuk menghindari pengeluaran berlebihan, tetapkan batas penggunaan kartu kredit dan paylater. Jika sulit mengendalikan transaksi, pertimbangkan untuk mengurangi penggunaan layanan tersebut atau menghapus metode pembayaran yang sering memicu belanja impulsif.
9. Jangan Ragu Mencari Bantuan Profesional
Jika dorongan berbelanja semakin sulit dikendalikan hingga mengganggu kondisi keuangan, pekerjaan, atau hubungan dengan orang terdekat, jangan ragu mencari bantuan profesional.
Psikolog dapat membantu mengenali pola emosional yang mendasari kebiasaan tersebut sekaligus mengembangkan cara yang lebih sehat untuk menghadapi stres. Langkah ini penting terutama jika berbagai upaya mengendalikan belanja secara mandiri belum memberikan hasil.
Pada akhirnya, memahami emosi di balik setiap keputusan checkout merupakan salah satu cara untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan aktivitas belanja. Memanjakan diri tetap boleh dilakukan, tetapi sebaiknya tidak menjadi satu-satunya cara untuk menghadapi masalah. Dengan mengenali pemicu dan menetapkan batasan, belanja bisa kembali menjadi aktivitas yang menyenangkan tanpa meninggalkan beban di kemudian hari.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ciri Orang yang Suka Belanja Online saat Stres dan Cara Mengelolanya
1. Apa perbedaan antara retail therapy yang normal dan kecanduan belanja (oniomania)?
Retail therapy yang normal umumnya bersifat sesekali, terkendali, dan dilakukan dalam batas anggaran khusus self-reward tanpa mengganggu kebutuhan pokok. Manfaatnya bersifat jangka pendek untuk memulihkan rasa kendali saat sedih. Sebaliknya, oniomania adalah gangguan kontrol impuls yang bersifat kronis dan tak terkendali. Pelakunya terus-menerus didorong oleh emosi negatif untuk berbelanja, sering kali menyembunyikan barang yang dibeli, dan tetap nekat bertransaksi hingga memicu masalah finansial yang serius atau utang.
2. Mengapa melihat barang di aplikasi belanja online saja sudah bisa membuat suasana hati memburuk menjadi lebih baik?
Hal ini dipengaruhi oleh proses kimiawi di otak. Saat seseorang menjelajahi toko online atau memasukkan produk ke keranjang, otak mengenalinya sebagai sebuah hadiah potensial dan melepaskan neurotransmiter dopamin (zat kimia penentu rasa senang dan antisipasi). Studi ilmiah bahkan menunjukkan bahwa Anda bisa mendapatkan kembali rasa kendali lingkungan melalui aktivitas belanja hipotetis—seperti sekadar membuat wishlist atau moodboard pakaian—tanpa harus benar-benar mengeluarkan uang.
3. Apa langkah pertama yang paling efektif untuk menghentikan kebiasaan checkout spontan saat stres?
Langkah awal yang paling efektif adalah menerapkan aturan jeda 24 jam dan memutus paparan pemicu digital. Ketika melihat barang menarik saat suasana hati buruk, masukkan barang ke keranjang tetapi tahan diri untuk tidak membayar selama minimal satu hari. Bersamaan dengan itu, matikan notifikasi flash sale dari aplikasi belanja dan hapus metode pembayaran instan (seperti kartu kredit otomatis atau akun paylater). Hambatan transaksi ini memberikan waktu bagi logika Anda untuk berpikir jernih sebelum membeli.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5221825/original/025442000_1747374422-VaksinTb1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385628/original/052784000_1793262302-Screenshot_2026-10-29_145400.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385832/original/052292900_1793271387-Bimas_Hindu_-_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385643/original/061071200_1793262745-cek_fakta_bpjs_kopdes.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3352864/original/097554600_1611030657-photo-1522204523234-8729aa6e3d5f__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385546/original/040326300_1793260020-Elegant_Woman_Profile_with_Hibiscus.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3546287/original/014896100_1629449459-Warren.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5519330/original/072421700_1772546934-IMG-20260303-WA0014_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374096/original/026558200_1792035661-01M4WRTPCJGNS9Q35JZQNWJVBB.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373349/original/011502900_1791963110-01M4TE3YVQXES6HFR4G5BXC737.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339466/original/049922000_1788416724-HL_rumput_liar.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369810/original/021233400_1791537056-QF2P0c04yNAUh0SUP3cG8Bp6orzffZQnsezUicyB.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4937122/original/089053900_1725512784-Ilustrasi_orang_ramah__baik_hati__rendah_hati.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369800/original/005728000_1791537044-K9PgtbMiz9flNbq8zSx1qUJpCmBKiB2VRbDyH4n3.jpg)