Liputan6.com, Jakarta Rumput liar yang tumbuh di sela-sela paving atau retakan jalan sering kali kembali muncul meski sudah dicabuti. Untuk mengatasinya, cara membasmi rumput liar dengan garam kerap dipilih karena bahannya murah, mudah ditemukan, dan praktis digunakan di rumah.
Caranya cukup sederhana, yakni melarutkan garam dapur dalam air, kemudian mengaplikasikannya pada rumput liar. Namun, penggunaannya perlu dibatasi pada area seperti sela paving, jalan berbatu, atau retakan beton agar tidak merusak tanaman lain dan menurunkan kesuburan tanah.
Dikutip dari Lawn Doctor, natrium klorida dalam garam dapat mengganggu keseimbangan air pada tanaman sehingga rumput liar mengalami dehidrasi dan akhirnya mati. Meski demikian, garam yang meresap ke dalam tanah juga dapat menghambat pertumbuhan tanaman lain dalam waktu lama. Karena itu, penting untuk memahami cara penggunaan dan risikonya sebelum mencoba metode ini, berikut ulasan Liputan6.com.
Advertisement
1. Membuat Semprotan Air Garam untuk Rumput Liar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5463971/original/002076300_1767675162-Aplikasi_Herbisida_Kimia_Sebagai_Opsi_Terakhir.jpg)
Semprotan air garam menjadi salah satu metode yang kerap digunakan untuk membasmi rumput liar di sela paving, retakan beton, atau jalan berbatu. Larutan ini lebih mudah diaplikasikan pada daun dibandingkan garam kering. Namun, garam yang terbawa air ke dalam tanah tetap berisiko mengganggu pertumbuhan tanaman lain dan menurunkan kesuburan tanah.
Jane Dobbs, pemimpin tim berkebun di Allan's Gardeners, seperti dikutip dari Ideal Home, menjelaskan bahwa garam yang masuk ke tanah dapat menarik kelembapan dari sel tanaman sehingga menyebabkan dehidrasi dan kematian. Meski demikian, penggunaannya perlu dibatasi pada area yang tidak ditanami karena garam dapat merusak vegetasi di sekitarnya.
Jika ingin mencoba metode ini, perhatikan langkah-langkah berikut agar larutan tidak mengenai tanaman yang ingin dipertahankan.
- Siapkan bahan. Siapkan air dan garam dapur sebagai bahan utama. Salah satu takaran yang kerap digunakan adalah 1 cangkir garam untuk 1 galon air, atau sekitar 240 ml garam untuk 3,8 liter air. Perlu diingat, campuran ini cukup pekat dan tetap berisiko merusak tanah jika digunakan berulang kali.
- Larutkan garam dalam air. Aduk garam hingga larut agar campuran lebih mudah diaplikasikan. Air panas dapat membantu mempercepat pelarutan, tetapi tidak wajib digunakan. Jika memakai air panas, biarkan larutan mendingin sebelum dimasukkan ke botol semprot untuk menghindari risiko luka bakar.
- Hindari penambahan sabun cuci piring. Sabun terkadang ditambahkan untuk membantu larutan menempel pada daun. Namun, bahan pembersih rumah tangga dapat merusak jaringan tanaman dan berpotensi mencemari tanah. Karena itu, sebaiknya gunakan larutan tanpa sabun, terutama jika komposisi dan dampaknya terhadap lingkungan belum diketahui.
- Pilih lokasi yang tepat. Aplikasikan larutan hanya pada rumput liar di sela paving atau retakan beton yang jauh dari tanaman hias, sayuran, dan pohon. Hindari penggunaan di bedeng bunga, halaman berumput, atau area yang akan ditanami kembali karena garam dapat bertahan di tanah dan menghambat pertumbuhan tanaman.
- Aplikasikan saat cuaca cerah. Jika tetap memilih metode ini, gunakan botol semprot untuk mengarahkan larutan secara terbatas ke gulma. Hindari penyemprotan saat berangin atau menjelang hujan agar larutan tidak menyebar ke tanaman lain maupun terbawa aliran air.
- Evaluasi hasil sebelum mengulang aplikasi. Amati kondisi rumput liar dalam beberapa hari. Hindari menyemprot secara rutin tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap tanah. Jika gulma tumbuh kembali, pencabutan hingga ke akar atau penggunaan alat penyiang dapat menjadi pilihan yang lebih aman.
- Lindungi tanaman di sekitarnya. Jika larutan tidak sengaja mengenai tanaman yang ingin dipertahankan, segera bilas bagian tanaman tersebut dengan air bersih. Apabila larutan tumpah ke tanah di sekitar akar, siram area itu secukupnya untuk membantu mengencerkan garam, selama drainase memungkinkan dan air limpasan tidak mencemari area lain.
Perlu diingat, garam bukan herbisida selektif yang hanya membunuh rumput liar. Penggunaannya secara berlebihan dapat meningkatkan kadar garam dalam tanah dan menghambat pertumbuhan tanaman lain. Untuk area yang berdekatan dengan taman atau kebun, pencabutan manual dan penyiangan menggunakan alat lebih disarankan karena tidak meninggalkan residu garam di tanah.
Advertisement
2. Menabur Garam Kasar di Paving, Kerikil, dan Retakan Jalan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3505172/original/060496900_1625742586-pexels-photo-2320244__2_.jpeg)
Rumput liar yang tumbuh di sela paving, hamparan kerikil, atau retakan jalan sering kali sulit dibasmi karena akarnya tersembunyi di celah sempit. Salah satu metode yang kerap digunakan adalah menaburkan garam kasar langsung di sekitar gulma. Namun, cara ini sebaiknya dibatasi pada area keras yang tidak digunakan untuk menanam karena garam dapat terbawa air dan merusak tanah di sekitarnya.
Menurut Bob Vila, garam dapat digunakan untuk mengatasi gulma di area seperti jalan masuk, jalan setapak, teras, dan sela paving. Meski demikian, penggunaan garam dalam konsentrasi tinggi bukan berarti selalu lebih efektif atau aman. Garam yang menumpuk di tanah dapat menghambat pertumbuhan tanaman lain, sehingga penyiangan manual tetap menjadi pilihan yang lebih aman, terutama di dekat taman atau kebun.
Jika rumput liar tumbuh di sela paving rumah, kamu juga bisa menerapkan beberapa metode lain untuk mengatasi rumput liar di sela paving. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan.
- Bersihkan area terlebih dahulu. Potong rumput yang sudah tinggi atau cabut gulma yang mudah dilepaskan. Bersihkan sisa daun dan kotoran agar celah paving terlihat jelas dan akar lebih mudah dijangkau.
- Hindari menaburkan garam secara berlebihan. Garam kasar memang mudah diaplikasikan, tetapi kristalnya dapat larut saat terkena hujan atau air penyiraman. Larutan tersebut kemudian meresap ke tanah di sekitar paving dan berpotensi mengganggu tanaman lain.
- Utamakan penyiangan pada celah sempit. Gunakan pisau penyiang atau alat pencabut gulma untuk mengangkat tanaman hingga ke akar. Cara ini membantu mengurangi kemungkinan gulma tumbuh kembali tanpa meninggalkan residu garam di tanah.
- Gunakan larutan garam dengan sangat terbatas jika diperlukan. Apabila memilih metode ini, arahkan larutan hanya ke gulma pada retakan beton yang jauh dari tanaman dan saluran air. Hindari penggunaan larutan berkonsentrasi tinggi atau menuangkannya dalam jumlah besar karena dapat meningkatkan kadar garam di tanah.
- Pantau pertumbuhan gulma. Periksa area tersebut selama beberapa hari hingga beberapa minggu. Jika tunas baru muncul, periksa apakah masih ada akar yang tertinggal, lalu cabut kembali. Hindari langsung menambahkan garam berulang kali tanpa mengetahui penyebab gulma tumbuh kembali.
Chip Bubl, agen OSU Extension, dalam tanggapannya di Ask Extension menjelaskan bahwa gulma yang tampak mati belum tentu mati hingga ke akar. Sebagian tanaman masih dapat tumbuh kembali dari tunas yang tersisa, termasuk bagian yang berada di bawah permukaan tanah. Karena itu, penanganan hingga ke akar lebih penting daripada sekadar membuat daun gulma mengering.
Untuk mencegah gulma kembali memenuhi sela paving, bersihkan celah secara berkala dan perbaiki bagian yang memiliki ruang cukup besar untuk menjadi tempat tumbuh. Mengisi celah dengan material yang sesuai juga dapat membantu mengurangi ruang bagi biji gulma untuk berkecambah.
3. Mencampur Garam, Cuka, dan Sabun untuk Gulma Membandel
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5177327/original/075346300_1743159784-top-view-eco-cleaning-products-with-baking-soda-brushes_23-2148818430.jpg)
Gulma yang sulit dicabut terkadang membuat orang mencoba berbagai campuran bahan rumahan, termasuk garam, cuka, dan sabun cair. Dalam campuran ini, asam asetat pada cuka dapat merusak jaringan daun, sedangkan garam mengganggu keseimbangan air pada tanaman. Namun, efeknya lebih banyak terlihat pada bagian tanaman yang terkena langsung dan tidak selalu mampu membunuh akar gulma hingga tuntas.
Perlu diperhatikan bahwa campuran tersebut juga memiliki risiko terhadap lingkungan. Garam dapat menumpuk di tanah, sementara cuka dan sabun berpotensi merusak tanaman lain jika terkena percikan atau terbawa aliran air. Karena itu, penggunaannya tidak disarankan di halaman yang ditanami rumput, kebun sayur, atau area yang berdekatan dengan tanaman hias.
Selain itu, jenis garam yang digunakan juga perlu dipahami. David Russell, asisten profesor ilmu tanaman, tanah, dan lingkungan di Alabama Cooperative Extension System, seperti dikutip dari Yahoo Lifestyle, menyatakan bahwa tidak ada dasar ilmiah yang kuat untuk menggunakan garam Epsom sebagai pembasmi gulma.
Sarah Bailey, koordinator UConn Extension Master Gardener Program, seperti dikutip dari Lawn Love, juga menjelaskan bahwa magnesium dalam garam Epsom dapat mengganggu penyerapan fosfor jika jumlahnya berlebihan. Dengan demikian, garam Epsom bukan pengganti yang tepat untuk garam dapur dalam campuran pembasmi gulma.
Jika ingin menangani gulma membandel, pencabutan hingga ke akar atau penggunaan alat penyiang tetap menjadi pilihan yang lebih aman. Apabila mempertimbangkan campuran bahan rumahan, perhatikan hal-hal berikut agar risiko kerusakan tanaman dan tanah dapat diminimalkan.
- Pahami risiko setiap bahan. Garam dapat meningkatkan kadar natrium di tanah, cuka dapat merusak jaringan tanaman yang terkena, sedangkan sabun cuci piring belum tentu aman bagi tanaman dan organisme tanah. Ketiganya tidak otomatis menjadi herbisida yang aman hanya karena mudah ditemukan di rumah.
- Hindari membuat campuran terlalu pekat. Resep yang beredar, termasuk yang dirujuk oleh LawnStarter, sering menggunakan garam, cuka, dan sabun cair dalam satu larutan. Namun, takaran rumahan tersebut tidak menjamin efektivitas terhadap akar maupun keamanan bagi lingkungan. Karena itu, sebaiknya hindari mencampurkan bahan-bahan tersebut tanpa petunjuk penggunaan yang jelas.
- Jangan mencampur bahan langsung di dalam alat semprot tanpa memeriksa kompatibilitasnya. Campuran yang tidak sesuai dapat meninggalkan residu atau menimbulkan masalah saat alat digunakan kembali. Gunakan produk pembasmi gulma yang terdaftar dan ikuti petunjuk label apabila membutuhkan penanganan yang lebih terarah.
- Perhatikan kondisi cuaca. Hindari penyiangan menggunakan larutan saat angin kencang atau ketika hujan diperkirakan turun. Angin dapat membawa percikan ke tanaman lain, sedangkan hujan dapat menyebarkan bahan ke tanah dan saluran air. Cuaca cerah memang dapat membantu daun mengering, tetapi tidak menghilangkan risiko residu garam.
- Periksa hasil sebelum mengambil tindakan lanjutan. Daun yang berubah cokelat atau layu dalam 24–48 jam belum tentu menandakan gulma mati sampai ke akar. Gulma menahun dengan akar kuat dapat tumbuh kembali. Jika tunas baru muncul, cabut tanaman hingga ke akar atau gunakan metode penyiangan yang sesuai daripada terus menambahkan garam.
Intinya, campuran garam, cuka, dan sabun mungkin membuat bagian gulma yang terkena langsung mengering, tetapi efektivitasnya tidak selalu bertahan lama. Untuk area yang berdekatan dengan tanaman lain, penyiangan manual atau penggunaan herbisida yang sesuai dengan petunjuk label lebih disarankan daripada mengandalkan campuran rumahan yang berisiko merusak tanah.
Advertisement
Risiko dan Tips Aman Memakai Garam sebagai Pembasmi Rumput Liar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4777467/original/048777000_1710837960-IMG_1773.jpeg)
Garam dapat merusak rumput liar, tetapi efeknya tidak selektif. Artinya, tanaman yang ingin dipertahankan juga berisiko mengalami kerusakan jika terkena larutan atau garam yang meresap ke tanah. Karena itu, meskipun mudah ditemukan dan relatif murah, garam tidak selalu menjadi pilihan terbaik untuk mengendalikan gulma.
Campbell Vaughn, agen Extension bidang pertanian dan sumber daya alam, seperti dikutip dari UGA Today, menjelaskan bahwa herbisida melewati proses pengujian dan persetujuan yang ketat sebelum dapat digunakan oleh masyarakat. Hal ini menjadi pengingat bahwa bahan rumahan yang mampu merusak tanaman belum tentu aman bagi tanah dan lingkungan.
Sebelum mencoba cara membasmi rumput liar dengan garam, perhatikan beberapa risiko dan tips berikut agar penggunaannya tidak menimbulkan masalah baru.
1. Hindari Penggunaan di Dekat Pohon dan Kebun Sayur
Garam yang cukup pekat untuk merusak gulma juga dapat mengganggu pertumbuhan tanaman budidaya. Natrium dan klorida yang menumpuk di tanah bisa menghambat penyerapan air oleh akar serta menyebabkan ketidakseimbangan unsur hara. Dampaknya tidak hanya dirasakan rumput liar, tetapi juga tanaman hias, sayuran, dan pohon yang tumbuh di sekitarnya.
Garam berkadar tinggi juga dapat mengganggu organisme tanah yang berperan dalam proses penguraian bahan organik. Karena itu, hindari menaburkan garam di bedeng tanaman atau menyemprotkan larutan di dekat akar pohon.
2. Perhatikan Cuaca dan Risiko Aliran Air
Jika menggunakan larutan garam di sela paving atau retakan beton, pilih kondisi cuaca yang tidak berangin dan hindari aplikasi menjelang hujan. Air hujan dapat melarutkan garam dan membawanya ke area yang ditanami atau ke saluran air. Akibatnya, kerusakan bisa meluas melampaui lokasi gulma yang ingin dibasmi.
Cuaca cerah dapat membantu daun mengering, tetapi bukan berarti garam akan tetap berada di titik penyemprotan. Oleh sebab itu, aplikasikan larutan secara terbatas dan hindari penggunaan ketika limpasan air berpotensi mencemari area lain.
3. Ingat bahwa Garam Dapat Bertahan di Tanah
Garam tidak terurai seperti bahan organik. Natrium dan klorida dapat tertinggal di tanah atau berpindah bersama air, bergantung pada kondisi tanah dan drainasenya. Jika digunakan berulang kali, garam dapat terakumulasi dan menghambat pertumbuhan tanaman dalam jangka panjang.
Membilas area dengan air bersih terkadang dapat membantu mengurangi kadar garam di tanah, tetapi efektivitasnya bergantung pada kondisi drainase. Pada tanah liat yang memiliki drainase buruk, proses pencucian garam bisa lebih sulit. Jangan membilas area secara berlebihan jika air limpasan berisiko membawa garam ke taman, kebun, atau saluran air.
4. Kenali Jenis Gulma Sebelum Menentukan Metode
Gulma semusim umumnya lebih mudah dikendalikan dibandingkan gulma menahun yang memiliki akar kuat atau organ penyimpanan di bawah tanah. Garam yang membuat daun mengering belum tentu mematikan seluruh bagian tanaman. Akibatnya, tunas baru masih dapat muncul setelah beberapa waktu.
Untuk gulma dengan akar yang kuat, pencabutan hingga ke akar atau penyiangan secara berkala biasanya lebih tepat. Mengenali jenis gulma juga membantu menentukan metode pengendalian yang sesuai tanpa harus terus menambahkan garam ke tanah.
5. Hindari Teknik Tabur Garam Langsung di Bedeng Tanaman
Beberapa panduan berkebun menyarankan pemotongan gulma, kemudian menaburkan sedikit garam pada bagian yang terpotong. Namun, cara ini tetap berisiko karena garam dapat larut dan masuk ke tanah, terutama setelah hujan atau penyiraman. Penggunaan garam secara langsung di bedeng bunga atau kebun sayur sebaiknya dihindari.
Jika gulma tumbuh di antara tanaman hias, gunakan alat penyiang untuk mencabutnya hingga ke akar. Menutup permukaan tanah dengan mulsa yang sesuai juga dapat membantu menghambat perkecambahan biji gulma tanpa meningkatkan kadar garam di tanah.
6. Kombinasikan dengan Metode Pengendalian Lain
Garam tidak selalu efektif untuk semua jenis gulma. Mengandalkan satu metode dalam jangka panjang juga dapat membuat pengendalian kurang optimal, terutama jika gulma yang tersisa mampu tumbuh kembali dengan cepat.
Kombinasikan penyiangan manual, pencabutan akar, dan penggunaan mulsa sesuai kondisi lahan. Untuk area keras seperti sela paving, membersihkan gulma secara berkala dan memperbaiki celah yang menjadi tempat tumbuhnya dapat membantu mencegah kemunculan kembali.
7. Pertimbangkan Herbisida untuk Area yang Luas
Jika gulma telah menyebar ke area yang luas, penggunaan herbisida yang sesuai mungkin lebih praktis. Pilih produk yang terdaftar untuk peruntukan tersebut dan ikuti petunjuk pada label, termasuk dosis, alat pelindung diri, serta ketentuan keselamatan bagi manusia, hewan, dan lingkungan.
Penggunaan herbisida tetap perlu dilakukan secara selektif dan terukur. Kamu bisa membaca panduan tentang herbisida secara selektif dan terukur untuk memahami pilihan pengendalian gulma lainnya.
Pada akhirnya, cara membasmi rumput liar dengan garam lebih layak dipertimbangkan secara terbatas di sela paving atau retakan beton yang jauh dari tanaman. Untuk taman, kebun, dan halaman yang masih ingin ditanami, penyiangan manual serta penggunaan mulsa merupakan alternatif yang lebih aman bagi kondisi tanah dalam jangka panjang.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Membasmi Rumput Liar dengan Garam
Garam jenis apa yang paling efektif untuk membasmi rumput liar?
Garam dapur atau garam kasar yang mengandung natrium klorida dapat merusak rumput liar. Mengutip Better Homes and Gardens, natrium klorida merupakan bahan yang dapat mengganggu keseimbangan air pada tanaman. Sementara itu, garam Epsom mengandung magnesium sulfat dan bukan pilihan yang tepat untuk membasmi gulma. Namun, penggunaan garam tetap perlu dibatasi karena dapat merusak tanaman lain dan menurunkan kualitas tanah.
Berapa lama rumput liar mati setelah disemprot air garam?
Daun rumput liar dapat mulai layu atau mengering dalam beberapa hari setelah terkena larutan garam. Namun, waktu yang dibutuhkan hingga tanaman mati bergantung pada jenis gulma, konsentrasi larutan, dan kondisi cuaca. Gulma semusim umumnya lebih mudah dikendalikan, sedangkan gulma menahun yang memiliki akar kuat dapat tumbuh kembali. Karena itu, periksa kondisi gulma secara berkala dan cabut hingga ke akar jika tunas baru muncul.
Apakah tanah bekas disiram garam masih bisa ditanami?
Tanah bekas terkena garam masih mungkin digunakan untuk menanam kembali, tetapi pemulihannya bergantung pada jumlah garam yang tertinggal, jenis tanah, dan kondisi drainase. Penyiraman dengan air bersih dapat membantu melarutkan dan mengalirkan garam keluar dari tanah jika drainasenya memadai. Namun, tanah liat atau tanah dengan drainase buruk cenderung lebih sulit dipulihkan. Sebaiknya hindari penggunaan garam di lahan yang akan ditanami dan periksa kondisi tanah sebelum menanam kembali.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5150531/original/011713400_1741077091-Kuda1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370019/original/097624000_1791544375-asap.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5041778/original/033342300_1733738907-Sampul1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9383535/original/061676900_1793090887-bpjs_kesehatan_bantuan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339466/original/049922000_1788416724-HL_rumput_liar.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4937122/original/089053900_1725512784-Ilustrasi_orang_ramah__baik_hati__rendah_hati.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369800/original/005728000_1791537044-K9PgtbMiz9flNbq8zSx1qUJpCmBKiB2VRbDyH4n3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369826/original/002470500_1791537085-qLbnAFaG90q38unN6ovXxTJbELuBlrLa6AfEYtGC.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374104/original/026130100_1792035685-01M4WRSANP2RKE1PAV3YE1EVM5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369837/original/034252600_1791537095-G548ZyNemj2PX4dz0vuFprDrfuyRLvlr6dcZZm2V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5549786/original/022832600_1775630215-simon-maage-tXiMrX3Gc-g-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1295184/original/070904600_1469165488-sabun_cuci_piring_2_copy.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365491/original/061309800_1791180648-oe3Dfs8eZwLlip93ypDT7q5ywuDdof9SQwEopYhw.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378784/original/014261700_1792563052-1.jpg)