Liputan6.com, Jakarta Coba buka tab Favorit di akun TikTok kamu sekarang. Kalau isinya sudah ratusan video dan kamu bahkan tidak ingat kapan terakhir menontonnya, kamu tidak sendirian. Ciri orang yang menyimpan ratusan video TikTok yang tak ditonton lagi biasanya terlihat dari tombol simpan yang ditekan secara refleks. Mereka juga selalu merasa video itu akan berguna suatu hari nanti.
Kebiasaan ini sering dianggap remeh karena tidak memakan ruang fisik. Padahal, ciri orang yang menyimpan ratusan video TikTok yang tidak pernah ditonton lagi punya kaitan erat dengan fenomena psikologis bernama digital hoarding.
Dikutip dari UCLA Health, Emanuel Maidenberg, PhD, profesor klinis psikiatri di UCLA, menjelaskan bahwa ketika kebiasaan menyimpan file digital berubah menjadi digital hoarding, perilaku itu bisa berdampak buruk pada hidup seseorang, bahkan memicu stres dan kecemasan berat .
Advertisement
Pengertian Kebiasaan Menimbun Video TikTok atau Digital Hoarding
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4339501/original/026411400_1677492275-olivier-bergeron-5JSZzMilCVo-unsplash.jpg)
Langkah pertama memahami kebiasaan ini adalah mengenal istilah digital hoarding, atau penimbunan digital. Sebagaimana dikutip dari HowStuffWorks, para peneliti Monash University mendefinisikan digital hoarding sebagai
kebiasaan mengumpulkan konten digital lalu gagal membuang atau mengelolanya dengan baik, terlepas dari berguna atau tidaknya, sehingga muncul tumpukan "sampah digital". Dalam praktiknya, video TikTok yang kamu simpan di Favorit lalu tidak pernah dibuka lagi masuk ke dalam pola ini.
Perlu kamu tahu, menyimpan video sesekali itu wajar. Masalahnya muncul kalau koleksi itu terus bertambah tanpa pernah disaring. Fenomena ini juga mulai banyak dibahas di Indonesia. Seorang dosen psikologi menyebut digital hoarding bisa menurunkan produktivitas karena tumpukan data yang berantakan membuat orang menghabiskan banyak waktu hanya untuk mencari file yang dibutuhkan.
Contoh sederhananya, bayangkan kamu menyimpan video resep, tutorial makeup, tips keuangan, dan video lucu dalam satu folder yang sama. Lama-lama koleksi itu berisi ratusan video yang tidak kamu ingat lagi isinya. Saat butuh satu resep tertentu, kamu malah lebih cepat mencarinya ulang lewat kolom pencarian daripada menggulir koleksi sendiri. Di titik inilah fungsi menyimpan sudah hilang, dan yang tersisa cuma tumpukannya.
Video memang termasuk jenis file yang paling sulit dilepas. Merujuk penelitian di jurnal Journal of Obsessive-Compulsive and Related Disorders yang dimuat di PubMed Central, ditemukan keterikatan emosional yang kuat pada jenis kepemilikan digital tertentu, terutama foto dan video. Jadi wajar kalau kamu merasa berat menghapus video TikTok, padahal belum tentu kamu akan menontonnya lagi.
Advertisement
Ciri Orang yang Menyimpan Ratusan Video TikTok yang Tidak Pernah Ditonton Lagi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3460662/original/083743300_1621495769-pexels-cottonbro-5081930.jpg)
Tidak semua orang yang punya banyak video tersimpan otomatis tergolong penimbun digital. Berikut tanda-tanda yang bisa kamu cek pada diri sendiri. Kalau beberapa poin terasa cocok, mungkin sudah waktunya kamu merapikan koleksi.
Sebagaimana disampaikan Emanuel Maidenberg kepada UCLA Health, penimbun digital bisa mengoleksi email, foto, artikel, podcast, atau file apa saja yang mereka kira ingin dibuka lagi nanti. Ia menambahkan, "Orang bisa menimbun apa saja dengan cara itu, dan pada akhirnya, dalam kebanyakan kasus, mereka jarang benar-benar memakainya, mendengarkannya, atau membacanya."
Menyimpan secara refleks. Begitu video terlihat menarik, kamu langsung menekan tombol simpan tanpa berpikir apakah video itu benar-benar kamu butuhkan.
Jarang atau tidak pernah membuka koleksi. Folder Favorit hanya bertambah, tapi hampir tidak pernah kamu tonton ulang.
Merasa cemas saat ingin menghapus. Ada rasa takut kehilangan informasi penting kalau video itu dihapus.
Selalu beralasan "siapa tahu nanti butuh". Video resep, tutorial, dan tips disimpan untuk masa depan yang tidak pernah tiba.
Koleksi tidak tertata. Semua video bercampur dalam satu tempat sehingga sulit menemukan satu video tertentu.Â
Merasa harus menyimpan. Menyimpan terasa seperti kewajiban, bukan pilihan.
Kewalahan saat melihat jumlah koleksi. Saat melihat ratusan video yang menumpuk, kamu malah merasa stres, bukan senang.
Poin keenam adalah tanda yang paling perlu kamu perhatikan. Maidenberg menjelaskan bahwa dalam digital hoarding, menyimpan file berubah menjadi dorongan yang tidak bisa dikendalikan.
Ia menjelaskan, "Itu berarti mereka sudah kehilangan pilihan, mereka merasa harus menyimpannya. Kalau tidak, mereka bisa merasa tidak nyaman dan, lebih sering daripada tidak, cemas bahwa mereka mungkin butuh informasi itu dan informasinya tidak akan ada."
Penyebab Psikologis Orang Gemar Menimbun Video TikTok
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4794189/original/040479400_1712217008-Ilustrasi_main_HP__tertawa__lucu.jpg)
Setelah tahu cirinya, kamu juga perlu memahami kenapa kebiasaan ini bisa muncul. Penyebabnya jarang cuma satu. Biasanya ada gabungan antara faktor emosi, kebiasaan, dan cara kerja aplikasi.
Mengacu pada tinjauan riset yang diterbitkan Nature lewat jurnal Humanities and Social Sciences Communications, variabel individu dan psikologis seperti usia, jenis kelamin, serta sifat klinis seperti ADHD atau perfeksionisme berinteraksi dengan tuntutan lingkungan . Riset yang sama mencatat FoMO juga sudah diidentifikasi sebagai salah satu prediktor digital hoarding.
Fear of missing out (FOMO). Kamu takut ketinggalan informasi berguna, jadi semua video yang tampak penting langsung disimpan. Kalau belum familier dengan istilahnya, pahami dulu arti FOMO dalam bahasa gaul yang kini sering dikaitkan dengan media sosial.
Keterikatan emosional. Video tertentu terasa punya nilai pribadi, misalnya mengingatkan pada momen atau perasaan tertentu.
Menyimpan terasa sangat mudah. Cukup satu ketukan, tanpa memikirkan ruang penyimpanan atau cara mengaturnya.
Kurang waktu untuk menyortir. Kamu sibuk menonton konten baru, jadi koleksi lama tidak sempat dirapikan.
Perfeksionisme. Ada keinginan mengumpulkan referensi sebanyak mungkin sebelum mulai mencoba sesuatu, misalnya resep atau latihan olahraga.
Kecemasan dan butuh rasa aman. Memiliki banyak informasi memberi rasa tenang sesaat, meski tidak pernah dipakai.
Psikolog Liz Sillence dari Northumbria University menjelaskan bahwa hubungan emosional dengan file digital ini membawa rasa nyaman sekaligus cemas. Sebagaimana diungkapkan Sillence kepada HowStuffWorks, ia mengatakan, "Saya rasa hubungan yang bisa kita miliki dengan 'barang digital' kita bisa jadi rumit."
Advertisement
Empat Tipe Penimbun Digital, Kamu Termasuk yang Mana?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346633/original/066317100_1789187017-jonas-leupe-wK-elt11pF0-unsplash.jpg)
Para peneliti Northumbria University membagi penimbun digital ke dalam empat tipe. Pembagian ini membantu kamu melihat apakah kebiasaan menyimpan video TikTok masih wajar atau sudah perlu ditangani.
Dilansir dari The Conversation, Nick Neave, Direktur Hoarding Research Group di Northumbria University, memaparkan keempat tipe tersebut sebagai berikut.
1. Collector (Kolektor)
Kolektor itu terorganisasi, sistematis, dan memegang kendali atas datanya. Kalau koleksi video kamu sudah dibagi rapi per kategori dan masih sering kamu tonton ulang, kamu mungkin termasuk tipe ini.
2. Accidental Hoarder (Penimbun Tak Sengaja)
Penimbun tak sengaja itu tidak teratur, tidak tahu apa saja yang mereka punya, dan tidak bisa mengendalikannya. Ini tipe yang paling sering ditemui pada pengguna TikTok dengan ratusan video yang tidak pernah ditonton lagi.
3. Hoarder by Instruction (Penimbun karena Tuntutan)
Tipe ini menyimpan data atas nama perusahaannya, bahkan ketika sebagian besar data itu sebenarnya bisa dihapus. Tipe ini lebih sering muncul di dunia kerja daripada di aplikasi hiburan.
4. Anxious Hoarder (Penimbun Cemas)
Penimbun cemas punya ikatan emosional yang kuat dengan datanya dan khawatir untuk menghapusnya.
Berdasarkan laporan Big Think tentang studi tahun 2020, para peneliti menulis, "Peserta juga cemas untuk menyimpan informasi yang mungkin menjadi penting di masa depan, sehingga mereka memutuskan rencana terbaik adalah menyimpan semuanya, untuk berjaga-jaga."
Cara Merapikan Koleksi Video TikTok yang Menumpuk
Kabar baiknya, kebiasaan ini bisa diubah pelan-pelan. Kamu tidak perlu menghapus semuanya dalam sehari. Yang penting, mulai bangun kebiasaan menyimpan secara lebih sadar.
Salah satu saran dari para ahli adalah membatasi kapasitas penyimpanan. Sebagaimana dilaporkan Psychologs, kalau kamu cenderung menimbun meme, gambar, video, dan dokumen karena ruang penyimpanan digital tersedia melimpah, kamu bisa mengurangi batas penyimpanan agar hanya data berguna yang tersimpan.
Tanyakan dulu sebelum menyimpan. Biasakan bertanya, "Apakah video ini benar-benar akan aku tonton atau praktikkan dalam seminggu ke depan?"
Buat koleksi berdasarkan kategori. Manfaatkan fitur koleksi di Favorit TikTok untuk memisahkan resep, olahraga, keuangan, dan hiburan.
Sortir sedikit demi sedikit. Luangkan 10 menit seminggu untuk menghapus video yang sudah tidak relevan.
Langsung praktikkan. Kalau menyimpan video resep, coba masak resep itu minggu ini. Kalau tidak sempat, besar kemungkinan video itu memang tidak kamu butuhkan.
Tetapkan batas jumlah koleksi. Misalnya maksimal 50 video per kategori. Kalau mau menambah, hapus satu video lama.
Kenali pemicu emosinya. Kalau kamu merasa cemas setiap kali ingin menghapus, sadari bahwa informasi di TikTok hampir selalu bisa dicari ulang.
Cari bantuan profesional bila perlu. Kalau kebiasaan menimbun mulai mengganggu hidup sehari-hari atau memicu stres berat, konsultasikan dengan psikolog.
Tips singkat: Pakai aturan "satu masuk, satu keluar". Setiap kali menyimpan video baru, hapus satu video lama yang sudah tidak kamu perlukan. Cara ini menjaga koleksi tetap ringkas tanpa terasa berat.
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Video TikTok
Apakah menyimpan banyak video TikTok berarti mengalami gangguan mental?
Belum tentu. Menyimpan video itu hal yang wajar dan dilakukan banyak orang. Kebiasaan ini baru perlu diwaspadai kalau kamu merasa harus menyimpan, cemas saat ingin menghapus, dan kewalahan melihat tumpukan koleksi sendiri.
Kenapa video TikTok yang disimpan jarang ditonton lagi?
Biasanya karena konten baru terus muncul di beranda, sehingga perhatian kamu lebih tertuju ke video baru. Selain itu, koleksi yang tidak tertata membuat video lama sulit ditemukan dan akhirnya terlupakan.
Berapa sering sebaiknya koleksi video TikTok dirapikan?
Tidak ada aturan baku. Namun, menyortir koleksi seminggu sekali selama beberapa menit sudah cukup untuk menjaga folder Favorit tetap rapi dan benar-benar berguna.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382280/original/090010700_1792986930-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-26T105247.852.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344493/original/042033300_1788947267-HOAX__15_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9351957/original/080906700_1789720927-cek_fakta_suahasil.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4160798/original/079359000_1663319947-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374104/original/026130100_1792035685-01M4WRSANP2RKE1PAV3YE1EVM5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5549786/original/022832600_1775630215-simon-maage-tXiMrX3Gc-g-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1295184/original/070904600_1469165488-sabun_cuci_piring_2_copy.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365491/original/061309800_1791180648-oe3Dfs8eZwLlip93ypDT7q5ywuDdof9SQwEopYhw.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378784/original/014261700_1792563052-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372088/original/089719300_1791867656-01M4SRE8MNR51DHFB9EVH29Z58.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381525/original/057212700_1792826356-Gemini_Generated_Image_mwkjgemwkjgemwkj.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5199994/original/039523300_1745659319-Menjemur_di_bawah_sinar_matahari.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374106/original/060415300_1792035687-01M4WRT6JVKP2GS2J6YCHXFT3A.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4483920/original/045245700_1687916240-relaxed-friends-talking-while-sitting-couch_1_.jpg)