Liputan6.com, Jakarta Penyebab jemuran apek yang paling utama adalah kelembapan yang tertinggal di serat kain. Kain lembap jadi tempat bakteri dan jamur berkembang biak, lalu menghasilkan bau tidak sedap.
Kelembapan itu bisa berasal dari cucian yang terlambat dijemur, sirkulasi udara yang buruk, atau mesin cuci yang kotor. Jadi, penyebab jemuran apek biasanya merupakan gabungan beberapa kebiasaan kecil yang sering dianggap sepele.
Pakar perawatan rumah juga sepakat bahwa kelembapanlah pemicu utamanya. Kondisi lembap menciptakan lingkungan sempurna bagi bakteri penghasil bau untuk berkembang, sehingga memunculkan bau apek.
Advertisement
1. Kain Masih Lembap karena Cara Menjemur yang Keliru
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373650/original/060519100_1791971065-9.jpg)
Langkah pertama untuk memahami penyebab jemuran apek adalah memperhatikan cara menjemur pakaian. Pakaian yang terasa kering di bagian luar belum tentu benar-benar kering hingga ke bagian dalam, terutama di area kerah, ketiak, saku, dan sambungan jahitan. Kelembapan yang tersembunyi inilah yang sering membuat pakaian berbau apek meskipun sudah diangkat dari tali jemuran.
Di Indonesia, masalah ini semakin terasa saat musim hujan. Udara yang lembap memperlambat penguapan air sehingga pakaian membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar kering. Menurut panduan perawatan laundry dari Laundry with Olivia, jamur dapat tumbuh pada kain lembap dalam waktu 30 hingga 60 menit pada kondisi hangat. Kondisi iklim tropis yang hangat dan lembap dapat mendukung pertumbuhan jamur apabila pakaian tidak dikeringkan dengan baik.
Supaya proses pengeringan lebih maksimal, coba terapkan langkah-langkah berikut.
1. Peras atau Spin Cucian Semaksimal Mungkin
Semakin sedikit air yang tersisa di dalam kain, semakin cepat pakaian mengering. Jika menggunakan mesin cuci, pilih mode spin dengan kecepatan tinggi sesuai jenis bahan pakaian. Jika mencuci secara manual, peras pakaian hingga air tidak lagi menetes tanpa merusak serat kain.
2. Beri Jarak Antarpakaian
Hindari menumpuk atau menggantung pakaian terlalu rapat saat menjemur. Bagian kain yang bersentuhan dengan pakaian lain akan lebih sulit mendapatkan aliran udara sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk kering.
Jika ruang jemuran terbatas, sebaiknya jemur cucian secara bergantian daripada memaksakan semua pakaian dalam satu waktu. Cara ini membantu sirkulasi udara di antara pakaian tetap terjaga dan mengurangi risiko bau apek akibat kelembapan yang terperangkap.
3. Gunakan Hanger
Menggantung pakaian menggunakan hanger membantu kain terbuka dan mengurangi lipatan yang dapat menahan kelembapan. Udara pun lebih mudah mengalir ke seluruh permukaan pakaian sehingga proses pengeringan berlangsung lebih merata.
Metode ini cocok untuk kemeja, blus, dan pakaian berbahan ringan. Selain membantu mempercepat pengeringan, penggunaan hanger juga membuat pakaian lebih rapi dan mengurangi kerutan.
4. Kibaskan Pakaian Sebelum Dijemur
Kibaskan pakaian beberapa kali sebelum menggantungnya untuk membuka lipatan kain yang terbentuk setelah proses pencucian. Permukaan kain yang lebih terbuka membantu udara bersirkulasi dan mengurangi bagian yang saling menempel.
Sejumlah panduan perawatan pakaian juga menyarankan kebiasaan mengibaskan cucian sebelum dikeringkan. Langkah sederhana ini membantu pakaian terbentang lebih merata sehingga air lebih mudah menguap.
5. Pilih Waktu dan Lokasi yang Tepat
Jemur pakaian pada pagi hingga siang hari di tempat yang mendapatkan sinar matahari dan aliran angin. Kombinasi panas dan sirkulasi udara yang baik membantu mempercepat penguapan air dari serat kain.
Hindari menjemur pakaian menjelang malam jika memungkinkan karena kelembapan udara biasanya meningkat ketika suhu turun. Jika pakaian belum kering hingga malam hari, pindahkan ke area dalam ruangan yang memiliki ventilasi baik agar proses pengeringan tetap berlangsung.
6. Balik Bagian Dalam Pakaian
Balik pakaian sehingga bagian dalamnya menghadap ke luar saat dijemur. Cara ini membantu area yang sering menyimpan kelembapan, seperti ketiak, saku, dan bagian dalam kerah, mendapatkan paparan udara yang lebih baik.
Menjemur pakaian dalam posisi terbalik juga dapat membantu mengurangi pemudaran warna pada bagian luar akibat paparan sinar matahari langsung. Namun, pastikan seluruh bagian pakaian tetap mendapatkan sirkulasi udara yang cukup agar kering secara merata.
7. Bantu dengan Kipas Angin atau Dehumidifier
Jika terpaksa menjemur pakaian di dalam ruangan, gunakan kipas angin untuk membantu mengalirkan udara di sekitar jemuran. Pergerakan udara mempercepat penguapan air dari kain sehingga pakaian tidak terlalu lama berada dalam kondisi lembap.
Dehumidifier juga dapat digunakan untuk mengurangi kelembapan udara di ruangan. Pastikan ruangan memiliki ventilasi yang memadai agar udara lembap tidak terus terperangkap dan pakaian dapat mengering dengan lebih optimal.
8. Periksa Bagian Paling Tebal Sebelum Menyimpan
Sebelum melipat dan memasukkan pakaian ke lemari, periksa bagian yang cenderung lebih lama kering, seperti kerah, manset, saku, dan sambungan jahitan. Sentuh bagian tersebut untuk memastikan tidak ada sisa kelembapan yang tertinggal.
Jika kain masih terasa dingin atau sedikit lembap, lanjutkan proses pengeringan. Menyimpan pakaian sebelum benar-benar kering dapat membuat kelembapan terperangkap di dalam lemari dan meningkatkan risiko munculnya bau apek.
Tips Menjemur Pakaian di Kos atau Apartemen Minim Sinar Matahari
Jika tinggal di kos atau apartemen yang minim sinar matahari, jadwalkan kegiatan mencuci pada pagi hari. Dengan begitu, pakaian memiliki waktu lebih panjang untuk mengering sebelum kelembapan udara meningkat pada malam hari.
Manfaatkan hanger, kipas angin, dan ventilasi ruangan untuk membantu mempercepat proses pengeringan. Kamu juga bisa membaca tips lain tentang menjemur baju di segala cuaca agar pakaian tetap segar meskipun hujan turun selama beberapa hari berturut-turut.
Advertisement
2. Cucian Basah Dibiarkan Terlalu Lama Sebelum Dijemur
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3981858/original/012018600_1648798749-annie-spratt-5TfCI4nj6B4-unsplash.jpg)
Banyak orang lupa mengangkat cucian dari mesin cuci karena sibuk, lalu baru menjemurnya beberapa jam kemudian. Kebiasaan ini termasuk salah satu penyebab jemuran apek yang paling sering terjadi. Tabung mesin cuci yang tertutup, gelap, dan lembap menjadi lingkungan yang mendukung pertumbuhan mikroorganisme penyebab bau.
Bau apek bahkan bisa muncul lebih cepat dari yang diperkirakan. Mengutip AOL, ahli kebersihan Phillips menjelaskan bahwa bau tersebut dapat muncul dalam waktu singkat. Cucian yang tertinggal di mesin selama beberapa jam saja berpotensi menimbulkan bau seperti handuk basah.
Berikut langkah praktis agar cucian tidak keburu bau sebelum sempat dijemur.
1. Pasang Pengingat Saat Mesin Cuci Mulai Bekerja
Setel alarm di ponsel sesuai durasi siklus pencucian. Mengacu pada panduan Tom's Guide, penggunaan pengingat membantu kamu mengetahui kapan mesin cuci selesai bekerja sehingga cucian bisa segera diangkat.
2. Jemur Cucian Secepatnya Setelah Siklus Selesai
Usahakan memindahkan cucian ke jemuran maksimal 30 menit setelah mesin cuci berhenti. Semakin lama pakaian berada dalam kondisi lembap, semakin besar peluang mikroorganisme berkembang dan menimbulkan bau tidak sedap.
3. Jangan Menumpuk Cucian Basah di Ember
Cucian yang sudah dicuci dengan tangan juga sebaiknya tidak dibiarkan menumpuk di ember atau keranjang. Tumpukan kain basah dapat menahan panas dan kelembapan sehingga menciptakan kondisi yang mendukung munculnya bau apek.
4. Batasi Waktu Merendam Pakaian
Merendam pakaian selama berjam-jam justru dapat memicu bau tidak sedap. Untuk pakaian yang sangat kotor, rendam selama sekitar 15–30 menit menggunakan air bersih, kemudian lanjutkan dengan proses pencucian.
5. Simpan Baju Kotor di Keranjang Berlubang
Gunakan keranjang berlubang agar udara dapat bersirkulasi di antara pakaian kotor. Sebaliknya, ember tertutup dapat membuat pakaian yang lembap akibat keringat menjadi pengap dan memicu munculnya bau sebelum dicuci.
6. Cuci Ulang Pakaian yang Sudah Terlanjur Bau
Jika cucian terlalu lama tertinggal di mesin dan mulai berbau asam, sebaiknya cuci ulang sebelum menjemurnya. Kamu dapat menggunakan deterjen sesuai petunjuk produk dan, jika diperlukan, menambahkan sedikit cuka putih setelah memastikan bahan pakaian serta panduan mesin cuci aman untuk penggunaannya.
Menjemur pakaian yang sudah berbau tanpa mencucinya kembali belum tentu menghilangkan sumber bau. Karena itu, pastikan pakaian kembali bersih sebelum dikeringkan secara menyeluruh.
Membiarkan cucian lembap terlalu lama juga berpotensi merusak bahan pakaian. Mengutip Tom's Guide, pertumbuhan jamur pada pakaian dapat merusak material dan berpotensi memicu gangguan bagi orang yang memiliki alergi atau masalah pernapasan.
3. Residu Deterjen dan Pelembut yang Berlebihan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342893/original/049175800_1788835974-pexels-rdne-5591578.jpg)
Banyak orang mengira makin banyak deterjen, makin bersih dan wangi hasil cucian. Padahal, takaran berlebih justru bisa menjadi penyebab jemuran apek karena sisa sabun tidak terbilas sempurna dan menempel pada serat kain. Residu deterjen dapat menahan kelembapan sekaligus menjadi sumber makanan bagi bakteri.
Rachel Fraser, Product Specialist di Pillow Talk, sebagaimana dikutip dari Homes and Gardens, menjelaskan bahwa penumpukan deterjen dapat menahan air dan menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan bakteri serta jamur.
Kondisi ini semakin parah ketika pakaian dijemur di dalam ruangan dengan sirkulasi udara yang terbatas.
Agar residu deterjen tidak menumpuk, lakukan langkah-langkah berikut.
- Ikuti takaran pada kemasan. Gunakan deterjen sesuai anjuran produsen. Takaran yang terlalu sedikit juga tidak efektif karena kotoran dan minyak tubuh mungkin tidak terangkat dengan sempurna.
- Lakukan pre-treatment untuk noda berat. Untuk pakaian yang sangat kotor, oleskan sedikit deterjen langsung pada bagian yang bernoda, lalu diamkan selama beberapa menit. Cara ini lebih efektif daripada menambah takaran deterjen ke dalam mesin cuci.
- Jangan mengisi mesin cuci terlalu penuh. Tabung yang sesak membuat air dan deterjen sulit menjangkau seluruh bagian kain. Sisakan ruang agar pakaian dapat bergerak bebas selama proses pencucian dan pembilasan.
- Pastikan pembilasan berlangsung sempurna. Jika pakaian masih terasa licin atau berbusa setelah dibilas, tambahkan satu siklus pembilasan. Pakaian yang bersih dari residu deterjen dapat lebih mudah dikeringkan dan tidak mudah berbau apek.
- Kurangi penggunaan pelembut pada handuk dan baju olahraga. Pelembut dapat melapisi serat kain. Jika digunakan berlebihan dan menumpuk, lapisan tersebut berpotensi memerangkap minyak tubuh dan mengganggu daya serap kain. Cuka putih terkadang digunakan sebagai alternatif, tetapi pastikan penggunaannya sesuai petunjuk perawatan pakaian dan mesin cuci.
- Gunakan air hangat jika label pakaian mengizinkan. Air hangat dapat membantu mengangkat minyak tubuh dan kotoran tertentu. Periksa simbol perawatan pada label pakaian sebelum memilih suhu air agar serat kain tidak rusak.
Jika bau apek sudah terlanjur menempel, mencuci ulang dengan cara yang benar biasanya menjadi solusi terbaik. Sokolowski menyarankan penggunaan deterjen sesuai takaran dan air dengan suhu tertinggi yang masih diizinkan oleh label pakaian. Ia juga merekomendasikan produk yang dirancang untuk mengurai kotoran penyebab bau, bukan sekadar menutupinya dengan wewangian sintetis.
Sebagai gambaran, menyemprotkan parfum pada baju yang apek dapat membuat aromanya bercampur dengan bau yang sudah ada sehingga terasa lebih menyengat. Sumber bau perlu dihilangkan terlebih dahulu agar pakaian kembali segar.
Beberapa bahan alami penghilang bau apek pada pakaian, seperti cuka dan baking soda, juga dapat menjadi alternatif. Gunakan dengan hati-hati dan jangan mencampurkan cuka dengan pemutih berbahan klorin karena kombinasi tersebut dapat menghasilkan gas beracun.
Advertisement
4. Mesin Cuci Kotor Menjadi Sumber Bakteri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5209756/original/040158100_1746442187-pexels-rdne-5591640.jpg)
Penyebab jemuran apek ternyata tidak selalu berasal dari cara menjemur. Kadang sumber masalahnya justru ada di mesin cuci itu sendiri. Sisa deterjen, pelembut, serat kain, dan kotoran bisa menumpuk di tabung, karet pintu, laci deterjen, maupun filter, lalu membentuk lapisan yang menyimpan bakteri.
Merujuk ulasan Callahan's Appliance, seiring waktu, deterjen, pelembut pakaian, dan kotoran bisa meninggalkan lapisan yang memerangkap bakteri serta bau. Lapisan ini lalu memindahkan bau ke setiap cucian baru, sehingga pakaian sudah tercemar bahkan sebelum dijemur.
Mesin cuci bukaan depan (front loader) perlu perhatian ekstra. Phillips menyebutkan bahwa mesin jenis ini sangat rentan berjamur karena pintunya menutup sangat rapat, terutama di area karet segel atau gasket.
Supaya mesin cuci tidak jadi sarang bau, ikuti langkah perawatan berikut.
- Biarkan pintu mesin terbuka setelah dipakai: Membuka pintu atau tutup mesin setelah mencuci membantu sisa air di tabung dan karet segel menguap. Cara sederhana ini sangat efektif mencegah tumbuhnya jamur.
- Lap karet gasket secara rutin: Bersihkan lipatan karet pintu dengan lap atau spons. Kamu bisa memakai campuran baking soda dan cuka putih sebagai pembersih yang ramah lingkungan.
- Bersihkan laci deterjen: Cabut laci deterjen dan pelembut, cuci dengan air hangat, lalu keringkan. Sisa sabun yang menggumpal di sini sering luput dari perhatian.
- Jalankan siklus pembersihan tabung: Jalankan mesin dalam keadaan kosong dengan air panas dan cuka atau pembersih khusus mesin cuci secara berkala. Banyak mesin modern sudah punya mode pembersih tabung.
- Periksa filter dan saluran pembuangan: Filter yang tersumbat kotoran atau serat kain bisa menahan air kotor. Cek dan bersihkan sesuai petunjuk di buku manual mesinmu.
- Rawat mesin pengering jika punya: Kalau kamu memakai dryer, bersihkan saringan serabut setelah setiap pemakaian. Sebagaimana dilaporkan Better Venting, saluran pembuangan dryer yang tersumbat akan memerangkap kelembapan dan mencegahnya keluar, sehingga cucian bisa ikut berbau apek.
Tips singkat: Cara mudah mengecek apakah mesin cucimu bermasalah adalah dengan mencium pakaian sesaat setelah siklus selesai. Kalau baju sudah berbau tidak sedap sebelum dijemur, besar kemungkinan sumber baunya ada di mesin. Kamu juga bisa membaca ulasan lain tentang penyebab jemuran bau apek yang sering terabaikan.
Fakta Ilmiah di Balik Bau Apek pada Jemuran
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3501255/original/073165700_1625469092-pexels-photo-4495705.jpeg)
Bau apek bukan sekadar tanda pakaian "kurang bersih". Para peneliti sudah menemukan bakteri dan senyawa kimia tertentu yang menjadi biang keroknya. Memahami fakta ini akan membantumu memilih cara mencuci dan menjemur yang lebih tepat.
Mengutip publikasi di PubMed Central, bakteri Moraxella osloensis sering terdeteksi pada cucian setelah dicuci dan berpotensi menghasilkan 4-methyl-3-hexenoic acid (4M3H), senyawa bau utama pada cucian yang aromanya mirip kain lap basah yang kotor. Berikut beberapa fakta penting yang perlu kamu ketahui.
- Bakteri Moraxella adalah pelaku utama: Penelitian di jurnal Applied and Environmental Microbiology berjudul Moraxella species are primarily responsible for generating malodor in laundry menunjukkan bahwa spesies ini menjadi penyebab utama bau pada cucian. Bakteri ini sebenarnya hidup di kulit manusia, lalu berpindah ke pakaian.
- Tahan sinar UV dan kekeringan: Inilah alasan bau apek bisa bertahan walaupun pakaian sudah dijemur. Para peneliti mencatat bahwa membasmi bakteri ini sulit karena ketahanannya terhadap sinar UV, kekeringan, bahkan deterjen antimikroba yang mengandung natrium hipoklorit atau garam amonium kuaterner.
- Sumber senyawa bau adalah minyak tubuh: Bakteri tidak menghasilkan bau begitu saja. Peneliti menduga 4M3H berasal dari asam lemak bercabang dalam sebum (minyak kulit) yang menempel pada cucian. Itu sebabnya kaus, seragam, dan pakaian dalam lebih rentan bau.
- Kain bekas pakai lebih rentan: Dalam uji yang dilakukan peneliti, bakteri tersebut hanya menghasilkan 4M3H pada handuk bekas pakai, bukan pada handuk baru. Artinya, sisa kotoran tubuh yang tidak terangkat sempurna menjadi bahan bakar bau.
- Mesin cuci ikut menjadi tempat koloni: Bakteri ini tidak hanya menempel di pakaian. Berdasarkan tinjauan ilmiah di MDPI Microorganisms, dalam studi terbaru di rumah tangga Jerman, M. osloensis ditemukan sebagai penghuni yang melimpah di mesin cuci.
- Bakteri bisa berpindah antarpakaian: Riset tentang mesin cuci menemukan bahwa bakteri dari berbagai sumber bisa bercampur selama siklus pencucian. Jadi, satu pakaian yang bau bisa membuat pakaian lain dalam satu cucian ikut berbau.
- Bahan sintetis lebih cepat bau: Pakaian olahraga dari polyester, nilon, atau spandeks menahan minyak tubuh dan bakteri lebih kuat dibanding serat alami. Itu sebabnya baju olahraga bisa wangi saat diangkat dari jemuran, tapi langsung bau lagi begitu kamu berkeringat.
- Cuci air dingin tidak selalu cukup: Mencuci dengan air dingin efektif untuk kotoran sehari-hari. Namun, untuk pakaian yang sangat kotor seperti baju olahraga dan handuk, sebagian bakteri bisa bertahan lalu berkembang lagi saat kain lembap.
- Lemari lembap ikut berperan: Pakaian yang sudah kering pun bisa kembali apek jika disimpan di lemari yang pengap atau dekat kamar mandi. Letakkan silica gel, arang, atau kapur barus di sudut lemari, lalu buka pintunya sebentar setiap hari agar udara berganti.
Manfaat utama memahami fakta ini bagi kamu adalah bisa fokus pada sumber masalah, bukan sekadar menutupi bau dengan pewangi. Kombinasi pakaian yang benar-benar kering, takaran deterjen yang pas, cucian yang segera dijemur, dan mesin cuci yang bersih adalah cara paling ampuh agar jemuran selalu segar.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Jemuran Bau Apek
1. Kenapa jemuran bisa bau apek?
Jawab: Karena pakaian basah terlalu lama (kurang panas/angin), memicu pertumbuhan bakteri penyebab bau pada serat kain.
2. Bagaimana cara jemur saat mendung/hujan?
Jawab: Fokus pada sirkulasi udara. Gunakan kipas angin dan beri jarak lebar antar pakaian agar air cepat menguap.
3. Apakah kondisi mesin cuci berpengaruh?
Jawab: Ya. Tabung mesin cuci yang kotor dan lembap adalah sarang jamur yang bisa menempel kembali ke baju bersih.
4. Apa bahan dapur untuk usir bau apek?
Jawab: Tambahkan cuka putih atau soda kue di bilasan terakhir. Ini ampuh membunuh bakteri tanpa meninggalkan bau asam.
5. Apa kesalahan fatal yang sering dilakukan?
Jawab: Menunda menjemur. Segera keluarkan baju dari mesin cuci begitu selesai agar tidak menjadi "inkubator" bakteri.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9376579/original/071076900_1792381433-Cek_Fakta__Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5441352/original/085354000_1765504848-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-12-12T084357.150.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5528523/original/006924900_1773286985-cek_fakta_-_ikan_budidaya_link_pendaftaran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380756/original/071937100_1792737316-Screenshot_2026-10-23_124005.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5199994/original/039523300_1745659319-Menjemur_di_bawah_sinar_matahari.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4483920/original/045245700_1687916240-relaxed-friends-talking-while-sitting-couch_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380940/original/085943100_1792745010-pexels-theo-decker-5955019.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380813/original/030897500_1792739125-15725.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373346/original/018567900_1791963107-01M4TE2X0Q5EEZ6K7VQ6105Y5P.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354854/original/024203700_1790065281-iN4lqCCogxbpTCm4l76aVbrPjXvuLSxtJ7UHqS0A.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375295/original/028166300_1792138140-Gemini_Generated_Image_libaollibaolliba.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380104/original/040587500_1792658077-18788.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3983972/original/010349300_1649048680-rnaol-oKHHspCSWHQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358136/original/004574800_1790324439-01M3B1DN7GHG5PRSQYB0QMJMDH.jpg)