Liputan6.com, Jakarta - Saat sedang duduk menunggu, sebagian orang tanpa sadar menggerakkan kaki berulang kali, mulai dari menggoyangkan lutut, mengetukkan ujung kaki ke lantai, hingga mengayunkan tungkai dengan ritme tertentu. Arti gerakan kaki yang terus bergerak saat seseorang sedang duduk menunggu dapat berkaitan dengan perasaan gelisah, ketidaksabaran, stres, atau kebiasaan tubuh dalam merespons situasi yang mengharuskan seseorang diam untuk sementara waktu.
Gerakan ini sering muncul ketika seseorang menunggu giliran, menghadapi wawancara, mengantre, atau duduk dalam pertemuan yang berlangsung lama. Meski terlihat sederhana, kebiasaan tersebut bisa memiliki beragam pemicu. Ada orang yang melakukannya karena merasa bosan, sementara orang lain menggerakkan kaki untuk meredakan ketegangan atau menyalurkan energi.
Namun, gerakan kaki tidak selalu mencerminkan kondisi emosional maupun kepribadian seseorang. Dalam beberapa kasus, gerakan berulang yang sulit dikendalikan juga dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan tertentu. Karena itu, penting untuk memahami konteks kemunculannya sebelum menarik kesimpulan. Berikut ulasan Liputan6.com, Senin (19/10/2026).
Advertisement
1. Cara Tubuh Melepaskan Rasa Gelisah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4674686/original/014392500_1701764131-pexels-jayson-marquez-4850426.jpg)
Salah satu arti gerakan kaki yang terus bergerak saat seseorang sedang duduk menunggu adalah kemungkinan adanya kegelisahan. Ketika seseorang menghadapi situasi yang membuatnya tidak nyaman, tubuh dapat menunjukkan respons fisik meskipun ia berusaha terlihat tenang.
Misalnya, seseorang yang menunggu hasil wawancara kerja mungkin terus menggoyangkan lutut tanpa menyadarinya. Ia bisa saja tidak menunjukkan ekspresi cemas secara jelas, tetapi gerakan kakinya menjadi salah satu cara tubuh menyalurkan ketegangan yang dirasakan.
Menurut penjelasan Medical News Today dalam artikel 10 Causes of Leg Shaking, stres dan kecemasan dapat memicu gemetar pada tubuh. Ketika seseorang mengalami kecemasan, respons tubuh terhadap tekanan dapat menimbulkan perubahan fisik, termasuk tremor atau gerakan gemetar sementara.
Meski demikian, menggoyangkan kaki tidak otomatis menandakan seseorang sedang mengalami kecemasan. Kebiasaan tersebut perlu dipahami bersama situasi yang dihadapi, perasaan yang dialami, serta pola perilaku orang tersebut.
2. Menunjukkan Ketidaksabaran saat Menunggu
Menggerakkan kaki juga bisa berkaitan dengan ketidaksabaran, terutama ketika seseorang menginginkan sesuatu segera terjadi. Situasi menunggu sering kali membuat orang merasa tidak memiliki kendali atas waktu, terlebih jika tidak ada kepastian mengenai kapan gilirannya tiba.
Dalam kondisi tersebut, gerakan seperti mengetukkan kaki, menggoyangkan lutut, atau berulang kali mengubah posisi duduk dapat muncul bersamaan dengan keinginan agar waktu berjalan lebih cepat.
Times of India dalam artikel Habit of Shaking Legs While Sitting? This Is What It Reveals About You and Your Health menjelaskan bahwa kebiasaan menggoyangkan kaki terkadang dikaitkan dengan ketidaksabaran. Orang yang sangat menginginkan tindakan atau hasil segera dapat menunjukkan gerakan tersebut dalam situasi tertentu.
Namun, gerakan kaki bukan ukuran pasti untuk menilai tingkat kesabaran seseorang. Seseorang mungkin menggerakkan kaki karena sudah terbiasa melakukannya, bukan karena tidak mampu menunggu. Untuk memahami penyebabnya, perhatikan pula responsnya terhadap situasi lain dan jangan hanya mengandalkan satu bentuk bahasa tubuh.
3. Menyalurkan Energi Berlebih
Sebagian orang merasa sulit duduk diam dalam waktu lama. Ketika tubuh tidak banyak bergerak, mereka mungkin menggoyangkan kaki sebagai cara menyalurkan energi yang belum tersalurkan melalui aktivitas lain.
Kebiasaan ini bisa muncul ketika seseorang menunggu kendaraan, duduk di ruang tunggu, atau mengikuti kegiatan yang mengharuskannya mempertahankan posisi duduk. Gerakannya terkadang berlangsung secara otomatis tanpa disadari.
Times of India juga menyebutkan bahwa kebiasaan menggoyangkan kaki dapat berkaitan dengan energi yang tinggi atau kecenderungan untuk terus bergerak. Pada sebagian orang, gerakan tersebut menjadi saluran fisik untuk mengekspresikan kegelisahan atau aktivitas tubuh yang terasa berlebih.
Meski demikian, tidak tepat menyimpulkan bahwa setiap orang yang sering menggerakkan kaki memiliki kepribadian aktif atau energi berlebih. Frekuensi gerakan tersebut juga dapat dipengaruhi kebiasaan, kondisi lingkungan, rasa tidak nyaman, dan berbagai faktor lainnya.
Advertisement
4. Mengatasi Kebosanan saat Tidak Ada Aktivitas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344326/original/095300800_1788942799-pexels-tima-miroshnichenko-5711161.jpg)
Menunggu tanpa kegiatan yang menarik dapat membuat seseorang kehilangan fokus. Ketika perhatian tidak lagi tertuju pada sesuatu, tubuh terkadang melakukan gerakan kecil secara berulang, termasuk menggoyangkan kaki.
Contohnya, seseorang yang menunggu jadwal konsultasi tanpa membawa bacaan atau kegiatan lain mungkin mulai mengetukkan kakinya ke lantai. Gerakan tersebut bisa berlangsung tanpa disadari karena pikirannya sedang melayang atau mencari rangsangan lain.
Dalam ulasan Times of India, menggoyangkan kaki juga dikaitkan dengan kebosanan atau kurangnya keterlibatan dalam suatu aktivitas. Ketika pikiran tidak mendapatkan stimulasi yang cukup, gerakan berulang dapat menjadi bentuk aktivitas fisik sederhana.
Meski begitu, kebiasaan ini tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang tidak tertarik pada situasi di sekitarnya. Ia mungkin tetap memperhatikan percakapan atau informasi yang diterimanya sambil menggerakkan kaki. Karena itu, bahasa tubuh sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menilai perhatian seseorang.
5. Menjadi Cara Sederhana untuk Meredakan Stres
Arti gerakan kaki yang terus bergerak saat seseorang sedang duduk menunggu juga dapat berkaitan dengan upaya meredakan tekanan emosional. Gerakan yang berulang terkadang memberikan sensasi ritmis yang terasa menenangkan bagi orang yang melakukannya.
Seseorang yang menghadapi tenggat waktu, menunggu kabar penting, atau berada dalam lingkungan yang membuatnya tegang mungkin merasa lebih nyaman ketika menggerakkan kaki. Ia tidak selalu menyadari bahwa gerakan tersebut muncul bersamaan dengan perasaan tertekan.
Times of India menjelaskan bahwa bagi sebagian orang, menggoyangkan kaki dapat menjadi mekanisme untuk menghadapi stres atau kecemasan. Gerakan tersebut mungkin memberikan pengalihan perhatian sementara ketika seseorang sedang merasa tegang.
Namun, kebiasaan ini tidak menggantikan upaya mengatasi sumber stres. Jika kegelisahan sering muncul, seseorang dapat mencoba latihan pernapasan, beristirahat sejenak, melakukan peregangan ringan, atau mengenali situasi yang memicu tekanan.
Jika stres terus mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah yang lebih tepat daripada hanya berusaha menghentikan gerakan kaki.
6. Menunjukkan Kebutuhan untuk Bergerak atau Sulit Duduk Diam
Pada beberapa orang, gerakan kaki merupakan bagian dari kebiasaan gelisah atau fidgeting, yaitu gerakan kecil berulang yang dilakukan saat duduk, mendengarkan, berpikir, atau menunggu. Bentuknya dapat berupa menggoyangkan lutut, mengetukkan kaki, memainkan jari, maupun mengubah posisi tubuh.
Perilaku tersebut tidak selalu menunjukkan adanya masalah kesehatan. Sebagian orang memang terbiasa melakukan gerakan kecil ketika berkonsentrasi atau menjalani aktivitas yang berlangsung lama.
Times of India menyebutkan bahwa perilaku gelisah, termasuk menggoyangkan kaki, dapat terlihat pada orang dengan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Meski demikian, satu kebiasaan ini tidak cukup untuk menunjukkan bahwa seseorang memiliki ADHD. Penilaian kondisi tersebut memerlukan pemeriksaan menyeluruh oleh tenaga profesional, termasuk pertimbangan terhadap gejala lain dan dampaknya dalam berbagai situasi.
Oleh karena itu, gerakan kaki yang sering muncul sebaiknya dilihat sebagai perilaku yang perlu dipahami konteksnya, bukan sebagai dasar untuk memberikan label kepribadian atau diagnosis kepada seseorang.
7. Berkaitan dengan Restless Legs Syndrome
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344325/original/048531800_1788942798-pexels-d-ng-nhan-324384-3049731.jpg)
Jika gerakan kaki terasa sulit dihentikan, terutama saat tubuh sedang beristirahat, ada kemungkinan kebiasaan tersebut berkaitan dengan restless legs syndrome (RLS) atau sindrom kaki gelisah. Kondisi neurologis ini berbeda dari kebiasaan menggoyangkan kaki yang dilakukan secara spontan.
Menurut National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), RLS ditandai oleh dorongan kuat untuk menggerakkan kaki yang muncul atau memburuk ketika seseorang sedang beristirahat, termasuk saat duduk atau berbaring. Gerakan biasanya memberikan kelegaan sementara, tetapi sensasi tidak nyaman dapat kembali ketika seseorang berhenti bergerak.
Gejalanya dapat berupa sensasi merayap, kesemutan, gatal, rasa seperti tertarik, atau sensasi terbakar pada kaki. Keluhan sering memburuk pada malam hari sehingga dapat mengganggu waktu tidur.
Marca dalam artikel yang diterbitkan pada 20 Agustus 2025 juga menjelaskan bahwa RLS dapat berkaitan dengan cara otak menggunakan dopamin, kadar zat besi yang rendah, faktor keturunan, serta kondisi tertentu seperti gangguan ginjal dan neuropati. Namun, penyebabnya tidak selalu dapat dipastikan pada setiap orang.
Apabila gerakan kaki disertai sensasi tidak nyaman, dorongan kuat untuk terus bergerak, atau gangguan tidur, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga medis. Pemeriksaan diperlukan untuk membedakan kebiasaan biasa dari kondisi yang membutuhkan penanganan.
8. Bisa Berkaitan dengan Tremor atau Kondisi Kesehatan Lain
Tidak semua gerakan kaki berulang merupakan bentuk bahasa tubuh. Pada sebagian orang, gerakan tersebut bisa berupa tremor, yakni kontraksi otot yang tidak disengaja dan menyebabkan bagian tubuh bergetar secara ritmis.
Medical News Today menjelaskan bahwa gemetar pada kaki dapat dipicu berbagai faktor, termasuk stres, kecemasan, kelelahan, konsumsi kafein berlebihan, efek obat-obatan, gangguan tiroid, serta kondisi neurologis tertentu. Beberapa gangguan saraf, seperti penyakit Parkinson atau neuropati, juga dapat berkaitan dengan gerakan yang tidak terkendali.
Meski demikian, penyebab-penyebab tersebut tidak dapat ditentukan hanya dari kebiasaan menggoyangkan kaki ketika duduk menunggu. Gerakan yang tampak serupa bisa memiliki latar belakang berbeda pada setiap orang.
Jika gerakan baru muncul tanpa penyebab yang jelas, semakin sering atau parah, sulit dikendalikan, atau disertai gangguan tidur, nyeri, kelemahan, maupun masalah mobilitas, sebaiknya periksakan diri ke dokter. Jangan langsung menganggapnya sebagai tanda penyakit tertentu, tetapi jangan pula mengabaikan gejala yang mengganggu.
Cara Memahami Gerakan Kaki Tanpa Terburu-buru Menilai
Gerakan kaki ketika duduk menunggu dapat memberikan petunjuk tentang kondisi seseorang pada saat itu, tetapi tidak bisa digunakan untuk membaca pikiran atau memastikan kepribadiannya. Orang yang menggoyangkan kaki mungkin sedang cemas, bosan, tidak sabar, atau sekadar melakukan kebiasaan yang sudah berlangsung lama.
Untuk memahami konteksnya, perhatikan kapan gerakan muncul, apakah orang tersebut menyadarinya, dan apakah gerakannya mereda ketika situasi berubah. Jika sedang berbicara dengan orang lain, lebih baik menanyakan kondisinya secara wajar daripada langsung menyimpulkan bahwa ia sedang gelisah atau tidak sabar.
Jika gerakan kaki terjadi sesekali dan tidak mengganggu, kebiasaan tersebut umumnya tidak perlu langsung dikhawatirkan. Namun, bila gerakan terasa tidak tertahankan, disertai sensasi tidak nyaman, mengganggu tidur, atau memengaruhi aktivitas sehari-hari, konsultasi medis dapat membantu menemukan penyebabnya.
Pada akhirnya, memahami arti gerakan kaki yang terus bergerak saat seseorang sedang duduk menunggu memerlukan perhatian terhadap konteks, kebiasaan, dan kondisi kesehatan. Bahasa tubuh dapat menjadi petunjuk awal, tetapi bukan bukti tunggal untuk menilai emosi, karakter, maupun kesehatan seseorang.
Tanya Jawab Seputar Kebiasaan Menggerakkan Kaki
1. Apakah menggoyangkan kaki saat duduk menandakan seseorang sedang gugup?
Tidak selalu. Gerakan tersebut dapat muncul ketika seseorang gugup, stres, bosan, atau tidak sabar. Namun, gerakan kaki juga bisa menjadi kebiasaan yang dilakukan tanpa disadari. Konteks dan kondisi orang tersebut perlu diperhatikan sebelum menarik kesimpulan.
2. Apakah menggoyangkan kaki saat menunggu termasuk kebiasaan yang normal?
Pada banyak orang, gerakan kaki merupakan kebiasaan biasa dan tidak selalu menandakan masalah kesehatan. Jika gerakan tidak menimbulkan rasa tidak nyaman atau mengganggu aktivitas, umumnya tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan.
3. Mengapa kaki terus bergerak meskipun sudah berusaha diam?
Kebiasaan menggoyangkan kaki dapat berlangsung secara otomatis, terutama ketika seseorang sedang gelisah atau terbiasa melakukan gerakan kecil saat duduk. Namun, jika muncul dorongan kuat untuk menggerakkan kaki disertai sensasi tidak nyaman ketika beristirahat, kondisi seperti restless legs syndrome perlu dipertimbangkan melalui pemeriksaan medis.
4. Apakah sering menggoyangkan kaki merupakan tanda ADHD?
Tidak. Menggoyangkan kaki dapat menjadi salah satu bentuk perilaku gelisah yang terlihat pada orang dengan ADHD, tetapi kebiasaan tersebut saja tidak cukup untuk menentukan diagnosis. ADHD perlu dinilai berdasarkan pola gejala yang lebih luas, berlangsung dalam berbagai situasi, dan memengaruhi fungsi sehari-hari.
5. Kapan kebiasaan menggerakkan kaki perlu diperiksakan ke dokter?
Sebaiknya berkonsultasi dengan dokter jika gerakan kaki sulit dikendalikan, semakin sering terjadi, disertai kesemutan atau sensasi tidak nyaman, mengganggu tidur, atau muncul bersama gejala lain seperti kelemahan dan gangguan mobilitas. Pemeriksaan dapat membantu menentukan penyebab dan penanganan yang sesuai.
Â
Â
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256352/original/040260500_1781154176-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-11T120248.984.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375340/original/043230400_1792140162-Screenshot_2026-10-16_151345.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364644/original/080112300_1791013312-IndonesiadangdutAwards2026Attire__ekotjandra_Hijab_stylist__suciaurelias_Makeup__riskymakeup__5_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569782/original/065699500_1777454729-Tugas__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3502291/original/060845100_1625553708-train-station-1868256_640.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3493827/original/042762400_1624690573-photo-1507070491081-c86dc15d6e12.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4210564/original/060662600_1667283991-Healthy_Sleep.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4952835/original/011420500_1727255800-WhatsApp_Image_2024-09-25_at_10.20.23__2_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3459598/original/050056400_1621410018-manki-kim-ZtwwncrD4A0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9376138/original/014597700_1792309367-hl2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9376089/original/002295100_1792303412-8e3c398f-47a4-4543-8482-2670f01ea1cf.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367355/original/085338000_1791344936-Gemini_Generated_Image_kphxrmkphxrmkphx.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5572356/original/046686700_1777795064-medium-shot-mother-girl-playing-game.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364507/original/018767100_1791000218-pexels-silverkblack-36763578.jpg)