7 Tips Jadi Perempuan yang Berani Speak Up, Elegan, Tulus dan Tanpa Judge Macam-Macam

Tips jadi perempuan yang berani speak up, menyampaikan pendapat, menjaga batasan, serta menghargai sesama.

Diterbitkan 04 November 2026, 14:34 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perempuan yang speak up biasanya memiliki keberanian lebih saat menyampaikan pendapat dan mengutarakan perasaan serta prinsip ke orang lain. Sikap ini umumnya terlihat di situasi lingkungan kerja, pertemanan, keluarga, hingga hubungan pribadi. Namun, menyampaikan isi pikiran tidak bisa asal, karena rawan memicu konflik.

Dalam psikologi, kemampuan tersebut berkaitan dengan assertiveness atau komunikasi asertif. American Psychological Association (APA) melalui penjelasan tentang Assertiveness, dikatakan bahwa komunikasi asertif merupakan cara menyampaikan perasaan dan kebutuhan secara langsung dengan tetap menghormati orang lain. Artinya, seseorang bisa mempertahankan pendiriannya tanpa mengabaikan hak orang lain.

Perempuan harus mengetahui bagaimana cara berbicara, mendengarkan, dan menyikapi perbedaan tanpa menghakimi orang lain saat mereka speak up. Sebagai gambarannya, berikut Liputan6 hadirkan 7 tips yang bisa diterapkan, Rabu (4/11).

 

 

 

1. Kenali Apa yang Ingin Disampaikan

Terkait hal ini, kiranya perlu dipahami terlebih dahulu tentang hal apa yang ingin disampaikan. Cara ini membantu seseorang menyusun pendapat berdasarkan pengalaman, kebutuhan, atau persoalan yang sedang dihadapi dan tidak berasas emosional semata.

Anda bisa memulai dengan bertanya kepada diri sendiri mengenai alasan ingin menyampaikan sesuatu. Apakah ingin memberikan masukan, menyampaikan keberatan, atau meminta penjelasan?

Dengan memahami tujuan percakapan, pembahasan bisa terjaga agar tidak melebar ke persoalan lain. Perempuan yang berani speak up juga perlu mengetahui kapan harus berbicara dan hal apa yang memang perlu disampaikan.

2. Sampaikan Pendapat Tanpa Merendahkan Orang Lain

Kemudian, menyampaikan pendapat tidak harus dilakukan dengan menyerang pemikiran orang lain. Anda bisa menjelaskan sudut pandang pribadi tanpa menyebut seseorang tidak mampu memahami persoalan.

Gunakan kalimat yang berfokus pada pengalaman sendiri. Misalnya, "Menurut saya, ada cara lain yang bisa kita pertimbangkan" daripada langsung mengatakan bahwa pendapat orang lain keliru.

Cara tersebut membantu percakapan tetap membahas persoalan yang sedang dihadapi. Anda juga memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menjelaskan alasan di balik pendapatnya.

3. Belajar Mengatakan Tidak Tanpa Merasa Bersalah

Mengatakan tidak merupakan bagian dari kemampuan menyampaikan kebutuhan dan batasan diri. Jadi, tidak harus menyetujui semua permintaan hanya karena ingin menjaga hubungan dengan orang lain.

Ketika tidak bisa memenuhi permintaan, sampaikan alasan secara langsung. Misalnya, "Maaf, kali ini saya belum bisa membantu karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan."

Hindari memberikan penjelasan berulang kali untuk membenarkan keputusan sendiri. Selama tidak merugikan orang lain, kamu berhak menentukan pilihan dan menyampaikan batasan dalam hubungan.

4. Dengarkan Orang Lain Sebelum Memberikan Tanggapan

Speak up sendiri identik dengan menyuarakan gagasan. Kemampuan mendengarkan juga menjadi bagian dari komunikasi karena setiap orang memiliki pengalaman dan sudut pandang yang berbeda.

Ketika seseorang berbicara, berikan kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya. Hindari memotong pembicaraan hanya karena kamu sudah memiliki jawaban atau ingin segera membantah pendapatnya.

Jika ada hal yang belum dipahami, ajukan pertanyaan untuk mendapatkan penjelasan. Dengan begitu, Anda bisa memberikan tanggapan berdasarkan apa yang benar-benar disampaikan, bukan asumsi pribadi.

5. Berani Mengakui Kesalahan dan Menerima Masukan

Menyuarakan pendapat tidak berarti harus mempertahankan semua perkataan. Ada kalanya informasi yang dimiliki belum lengkap atau terdapat kekeliruan dalam memahami persoalan.

Ketika mendapatkan koreksi, dengarkan terlebih dahulu penjelasannya. Jika memang melakukan kesalahan, akui dan sampaikan kesediaan untuk memperbaikinya.

Sikap ini menunjukkan bahwa keberanian berbicara berjalan bersama tanggung jawab. Anda tetap bisa mempertahankan prinsip, tetapi juga bersedia mempelajari hal baru dari pengalaman dan percakapan dengan orang lain.

6. Hindari Menghakimi Pilihan Hidup Orang Lain

Setiap orang memiliki latar belakang, kebutuhan, dan pertimbangan yang berbeda ketika mengambil keputusan. Karena itu, kamu tidak perlu langsung menilai pilihan seseorang berdasarkan pengalaman pribadi.

Jika menemukan sesuatu yang tidak sesuai dengan pandanganmu, cobalah memahami alasan di balik keputusan tersebut. Anda bisa bertanya tanpa menyudutkan atau memaksakan pendapat sendiri.

Menjadi perempuan yang berani speak up juga berarti mampu menyampaikan ketidaksetujuan tanpa menyerang kehidupan pribadi seseorang. Anda juga boleh memiliki prinsip sendiri tanpa harus mengatur pilihan orang lain.

7. Konsisten Berlatih Berbicara dengan Jujur

Kemampuan berbicara perlu dilatih melalui percakapan sehari-hari. Kamu bisa memulainya dengan menyampaikan pendapat ketika berdiskusi, mengajukan pertanyaan saat rapat, atau mengungkapkan kebutuhan kepada keluarga.

Jangan menunggu sampai merasa sepenuhnya siap untuk mulai berbicara. Latih diri menyampaikan satu pendapat dalam situasi yang memungkinkan, kemudian perhatikan cara orang lain merespons.

Seiring waktu, kita bisa mengenali cara berkomunikasi yang sesuai dengan prinsip pribadi. Kejujuran, kesediaan mendengarkan, dan penghormatan terhadap orang lain dapat menjadi pegangan ketika menyampaikan pendapat.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Tips Jadi Perempuan yang Berani Speak Up

1. Apa arti perempuan yang berani speak up?

Perempuan yang berani speak up adalah perempuan yang mampu menyampaikan pendapat, kebutuhan, dan perasaannya tanpa merendahkan atau mengabaikan orang lain.

2. Bagaimana cara berani mengungkapkan pendapat?

Mulailah dengan memahami hal yang ingin disampaikan, menyusun alasan, dan berlatih mengutarakan pendapat dalam percakapan sehari-hari.

3. Bagaimana cara berbicara tanpa menyinggung perasaan orang lain?

Gunakan kalimat yang berfokus pada pendapat dan pengalaman pribadi. Hindari menyalahkan, menyerang, atau memberikan penilaian terhadap karakter seseorang.

4. Apakah mengatakan tidak termasuk sikap asertif?

Ya. Mengatakan tidak ketika tidak bisa memenuhi permintaan merupakan salah satu bentuk komunikasi asertif karena seseorang menyampaikan batasan dan kebutuhannya.

5. Bagaimana cara menjadi perempuan yang tidak mudah menghakimi orang lain?

Biasakan mendengarkan penjelasan sebelum memberikan tanggapan. Pahami bahwa setiap orang memiliki pengalaman dan pertimbangan yang berbeda dalam menjalani kehidupannya.