Gaya Liburan Turis Gen X, Milenial, dan Gen Z Ternyata Berbeda, Data Airbnb Ungkap Tren Menarik

Gaya liburan turis Gen X, Milenial, dan Gen Z ternyata punya perbedaan menarik. Data Airbnb ungkap tren perjalanan, pilihan destinasi, hingga pengalaman yang di

Diterbitkan 04 November 2026, 14:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Cara seseorang menikmati liburan tentu tidak selalu sama. Ada yang lebih suka perjalanan panjang dengan jadwal tertata, ada yang mencari pengalaman lokal dan budaya, ada pula yang justru tertarik mencoba destinasi yang belum banyak dikunjungi wisatawan.

Perbedaan tersebut semakin menarik ketika melihat kebiasaan wisatawan dari tiga kelompok generasi, yaitu Gen X, Milenial, dan Gen Z. Perkembangan teknologi, perubahan gaya hidup, hingga cara menikmati waktu luang ikut memengaruhi bagaimana setiap generasi merencanakan perjalanan.

Sejumlah laporan dan data perjalanan dari Airbnb memperlihatkan perubahan menarik dalam dunia pariwisata. Lantas bagaimana gaya liburan turis Gen x, Milenial dan Gen Z? Melansir dari data Airbnb, Rabu (4/11/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.

1. Gen Z Lebih Tertarik dengan Perjalanan Singkat tetapi Intens

Gen Z dikenal sebagai generasi yang cukup fleksibel dalam mengatur waktu liburan. Mereka tidak selalu menunggu cuti panjang atau musim liburan untuk bepergian. Perjalanan singkat selama 1-2 hari ke luar negeri pun mulai menjadi salah satu pilihan menarik.

Dalam laporan 2026 Travel Predictions, Airbnb mengungkapkan bahwa pencarian perjalanan internasional berdurasi 1-2 hari oleh wisatawan Gen Z meningkat lebih cepat dibandingkan perjalanan yang lebih panjang. Data tersebut didasarkan pada pencarian wisatawan Gen Z asal Amerika Serikat selama periode 2023–2025.

Perjalanan singkat ini biasanya dimanfaatkan untuk menjelajahi kota, menikmati kuliner, mengunjungi tempat bersejarah, hingga merasakan kehidupan malam. Bagi Gen Z, liburan tidak harus berlangsung berminggu-minggu untuk memberikan pengalaman yang berkesan.

2. Milenial Semakin Tertarik dengan Pengalaman Wisata yang Bermakna

Bagi Milenial, liburan tidak hanya berkaitan dengan mengunjungi tempat populer atau mengumpulkan foto perjalanan. Pengalaman mengenal budaya setempat, mencicipi makanan khas, dan berinteraksi dengan masyarakat lokal juga menjadi bagian penting dari perjalanan.

Salah satu gambaran menarik terlihat dalam laporan Airbnb mengenai tren perjalanan ke Korea Selatan. Laporan Korea Calling yang diterbitkan pada April 2026 menunjukkan bahwa budaya populer Korea turut memengaruhi minat wisatawan untuk berkunjung. Sebanyak 80 persen responden Gen Z dan Milenial menyebut budaya Korea sebagai faktor kuat yang memengaruhi ketertarikan mereka.

Selain itu, 91 persen responden menyatakan bahwa pengalaman budaya lokal yang autentik merupakan hal penting ketika berwisata. Temuan ini menunjukkan bahwa perjalanan berbasis budaya memiliki daya tarik besar, khususnya bagi wisatawan generasi muda.

Artinya, perjalanan tidak hanya tentang berpindah dari satu destinasi ke destinasi lain. Wisatawan juga ingin membawa pulang cerita, pengalaman, dan pemahaman baru mengenai tempat yang dikunjungi.

3. Gen X Bisa Lebih Mempertimbangkan Kenyamanan dan Kebutuhan Perjalanan

Berbeda dengan gambaran perjalanan singkat yang banyak dibicarakan dalam tren Gen Z, wisatawan berusia lebih matang dapat memiliki pertimbangan tersendiri ketika merencanakan liburan. Kenyamanan, akses menuju destinasi, fasilitas penginapan, serta kebutuhan orang yang ikut bepergian menjadi bagian dari keputusan.

Salah satu data yang relevan berasal dari laporan Korea Calling Airbnb. Dalam laporan tersebut, responden berusia 45 tahun ke atas menunjukkan perbedaan dengan kelompok Gen Z dan Milenial dalam hal pengaruh budaya populer terhadap minat berkunjung ke Korea Selatan. Sebanyak 64 persen kelompok usia 45 tahun ke atas menyebut budaya Korea sebagai faktor kuat, lebih rendah dibandingkan 80 persen pada kelompok Gen Z dan Milenial.

Temuan ini memberikan gambaran bahwa alasan seseorang memilih destinasi bisa berbeda menurut kelompok usia. Namun, perlu diperhatikan bahwa kategori 45 tahun ke atas bukan kelompok Gen X secara eksklusif. Karena itu, data tersebut lebih tepat digunakan sebagai gambaran wisatawan berusia lebih matang, bukan statistik khusus seluruh turis Gen X.

4. Gen Z Mulai Melirik Destinasi yang Belum Terlalu Populer

Destinasi yang ramai diperbincangkan di media sosial memang menarik perhatian. Namun, sebagian wisatawan Gen Z justru mulai mencari tempat yang belum terlalu dikenal agar mendapatkan pengalaman berbeda.

Laporan Airbnb pada Agustus 2026 memperlihatkan kecenderungan tersebut dalam tren perjalanan musim gugur di Amerika Serikat. Sebanyak 74 persen responden Gen Z menyatakan kemungkinan memilih kota kecil atau destinasi yang kurang dikenal dibandingkan kota besar untuk perjalanan rekreasi dalam 12 bulan berikutnya.

Selain itu, 63 persen wisatawan Gen Z menganggap menjadi salah satu orang pertama dalam lingkaran pertemanan yang mengunjungi suatu tempat sebagai simbol status tersendiri. Lebih dari separuh responden juga menghindari destinasi wisata karena terlalu ramai.

Kecenderungan ini memperlihatkan bahwa sebagian Gen Z tidak selalu ingin mengikuti tujuan wisata yang sedang viral. Mereka juga tertarik menemukan tempat baru, menikmati suasana lokal, dan memperoleh pengalaman yang terasa lebih personal.

5. Wisata Alam dan Destinasi Nonperkotaan Semakin Diminati

Wisata alam menjadi salah satu pilihan yang menarik bagi berbagai kelompok generasi. Pegunungan, desa wisata, kawasan pesisir, hingga tempat menginap di tengah alam menawarkan suasana berbeda dari rutinitas perkotaan.

Dalam laporan Beyond the Beaten Track: Unlocking Tourism Growth Across Asia Pacific yang diterbitkan Airbnb pada Februari 2026, sebanyak 89 persen wisatawan di kawasan Asia Pasifik mengaku telah mengunjungi destinasi nonperkotaan untuk berlibur dalam 12 bulan sebelumnya. Bahkan, 91 persen berencana mengunjungi destinasi serupa pada tahun berikutnya.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa hampir separuh wisatawan yang mengunjungi destinasi nonperkotaan merupakan Gen Z dan Milenial. Angka ini memperlihatkan besarnya kontribusi generasi muda terhadap perkembangan wisata di luar kota besar.

Menariknya, destinasi nonperkotaan tidak selalu berarti tempat terpencil dengan akses sulit. Desa wisata, kawasan pertanian, pantai yang lebih tenang, dan kota kecil dengan budaya khas juga bisa menjadi pilihan perjalanan yang menawarkan pengalaman berbeda.

6. Penginapan Bukan Sekadar Tempat untuk Tidur bagi Gen Z

Bagi sebagian wisatawan, penginapan hanya menjadi tempat untuk beristirahat setelah seharian menjelajahi destinasi. Namun pola tersebut mulai berubah, terutama di kalangan Gen Z yang semakin memperhatikan pengalaman selama berada di tempat menginap.

Laporan Airbnb bertajuk Never the Same: The New Rules of Gen Z Travel yang dirilis pada Juni 2026 mengungkapkan bahwa 82 persen Gen Z di India menganggap akomodasi sangat penting atau amat penting ketika merencanakan perjalanan.

Bahkan, 78 persen responden menghabiskan setidaknya separuh waktu liburan di tempat menginap. Sebanyak 54 persen menyebut tempat menginap benar-benar membentuk keseluruhan pengalaman atau justru menjadi bagian paling berkesan dari perjalanan.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa penginapan dapat menjadi bagian utama dari pengalaman liburan. Desain interior, balkon, ruang berkumpul, hingga suasana lingkungan sekitar bisa menjadi pertimbangan ketika memilih tempat menginap.

7. Perjalanan Bersama Orang Terdekat Tetap Menjadi Bagian Penting

Meskipun memiliki preferensi perjalanan yang berbeda, liburan bersama keluarga, pasangan, atau teman tetap menjadi pengalaman yang dicari banyak orang. Perbedaan generasi tidak selalu membuat seseorang memilih bepergian sendirian.

Dalam laporan perjalanan Gen Z di India, Airbnb menemukan bahwa tiga dari empat responden menganggap orang yang diajak bepergian lebih penting dibandingkan tempat yang dikunjungi. Lebih dari setengah responden juga menyukai pilihan satu rumah bersama dibandingkan kamar hotel terpisah ketika melakukan perjalanan berkelompok.

Hal ini menunjukkan bahwa kebersamaan dapat menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menentukan konsep liburan. Penginapan dengan ruang keluarga luas, area makan bersama, dan fasilitas yang mendukung aktivitas kelompok pun memiliki daya tarik tersendiri.

Bahkan, perjalanan lintas generasi bisa menjadi kesempatan untuk saling mengenal kebiasaan liburan satu sama lain. Orang tua mungkin lebih menikmati suasana santai, sedangkan anggota keluarga yang lebih muda ingin mencoba aktivitas baru. Keduanya tetap bisa mendapatkan pengalaman menyenangkan selama kebutuhan masing-masing diperhatikan.

Pertanyaan & Jawaban Seputar Gaya Liburan Turis Gen X, Milenial, dan Gen Z Ternyata Berbeda

1. Apa perbedaan gaya liburan Gen X, Milenial, dan Gen Z?

Perbedaannya dapat terlihat dari pertimbangan destinasi, aktivitas, durasi perjalanan, hingga pilihan penginapan. Gen Z banyak menunjukkan ketertarikan pada perjalanan fleksibel dan pengalaman baru, sedangkan preferensi Milenial dan Gen X lebih beragam sesuai kebutuhan masing-masing.

2. Mengapa Gen Z menyukai perjalanan singkat?

Perjalanan singkat memungkinkan Gen Z menikmati pengalaman baru tanpa harus menunggu cuti panjang. Perjalanan satu hingga dua hari juga memberikan kesempatan menjelajahi kota dan budaya berbeda.

3. Apakah Gen Z lebih menyukai wisata alam?

Data Airbnb menunjukkan Gen Z memiliki ketertarikan besar terhadap pengalaman alam. Dalam laporan 2026, Gen Z juga menjadi generasi yang paling mungkin mencari pengalaman bertema alam di Airbnb dibandingkan generasi lainnya.

4. Apakah penginapan memengaruhi pengalaman liburan?

Ya. Penginapan dapat memengaruhi kenyamanan, aktivitas, dan suasana selama perjalanan. Bagi sebagian Gen Z, tempat menginap bahkan menjadi salah satu bagian paling berkesan dari liburan.

5. Apa tren wisata yang berkembang di Asia Pasifik menurut Airbnb?

Salah satu tren yang terlihat adalah meningkatnya minat terhadap destinasi nonperkotaan. Sebanyak 89 persen wisatawan Asia Pasifik telah mengunjungi destinasi nonperkotaan dalam 12 bulan sebelumnya, berdasarkan laporan Airbnb Februari 2026.