Ketum TP PKK Tri Tito Karnavian Ajak Pelajar Cegah Kekerasan saat Kunjungi SMAN 1 Atambua

Tri Tito Karnavian mengajak pelajar SMAN 1 Atambua aktif mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak serta membangun karakter generasi muda yang tangguh.

Diterbitkan 21 April 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • TP PKK ajak pelajar aktif cegah kekerasan terhadap perempuan dan anak.
  • Kasus kekerasan perempuan terus meningkat, mencapai 376.529 pada 2025.
  • Membangun karakter kuat penting agar generasi muda tidak rapuh menghadapi tantangan.

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Tri Tito Karnavian mengajak para pelajar untuk mengambil peran aktif dalam mencegah berbagai bentuk kekerasan, khususnya terhadap perempuan dan anak. Seruan tersebut disampaikannya saat mengunjungi SMA Negeri 1 Atambua di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Kamis (16/4/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Tri menekankan pentingnya kesadaran generasi muda untuk tidak hanya menghindari tindakan kekerasan, tetapi juga berani berperan dalam mencegahnya. Bentuk kekerasan yang dimaksud tidak hanya berupa tindakan fisik, tetapi juga kekerasan verbal yang kerap terjadi di lingkungan sekitar, termasuk di sekolah.

Data Kekerasan terhadap Perempuan Masih Meningkat

Tri mengungkapkan bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan masih menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Berdasarkan data dari Komnas Perempuan, pada 2023 tercatat 289.111 kasus kekerasan terhadap perempuan. Jumlah tersebut meningkat menjadi 330.097 kasus pada 2024, dan kembali naik 14,07 persen pada 2025 menjadi 376.529 kasus.

“Paling tidak kalau bisa meredam satu, mencegah satu kekerasan, satu orang, ada 150 kasus yang bisa kita cegah. Kalau misalnya ini dilaksanakan di seluruh provinsi, kabupaten, yang jumlahnya sekitar 514 [kabupaten/kota]. Bayangin sudah setengah juta kita cegah,” katanya saat melakukan Sosialisasi Perlindungan terhadap Perempuan dan Anak dari Tindak Kekerasan Fisik dan Verbal.

Tri menjelaskan, program PKK yang dijalankan kali ini merupakan upaya membangun karakter, baik pada anak maupun orang tua, melalui edukasi berbagai persoalan yang masih terjadi di tengah masyarakat. Pasalnya, masih terdapat orang tua yang karakternya belum sesuai dengan yang diharapkan sehingga perlu penguatan melalui sosialisasi tersebut.

“Tentunya kita ingin juga tidak terjajah dengan adanya budaya kekerasan, bentuk apa pun. Tidak hanya di rumah, di luar, di sekitar kita, di sekolah, dan lain-lain,” tambahnya.

Menurutnya, karakter yang kuat, tangguh, dan berintegritas tinggi seperti jujur, disiplin, dan bertanggung jawab menjadi bekal penting dalam menghadapi berbagai tantangan. Dengan ilmu, karakter, dan kepercayaan agama yang baik, seseorang akan lebih kuat. Terlebih di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks, yang disebut dengan istilah “generasi stroberi”, yaitu generasi yang dianggap rapuh, sensitif, dan mudah menyerah dalam menghadapi tekanan mental.

“Jangan menjadi generasi stroberi seperti itu, harus menjadi generasi yang kuat. Yang dihempas apa pun, di tengah badai apa pun harus tetap kuat. Nah ini, nanti ajak teman-temannya bisa untuk menjadi generasi yang mampu menghadapi segala tantangan,” tegasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6