Banjir Sumatera, DMI Minta Masjid Jadi Tempat Penampungan Pengungsi

Banjir yang melanda beberapa wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mendapat perhatian serius dari Dewan Masjid Indonesia (DMI).

Diterbitkan 27 November 2025, 14:42 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera mendapat perhatian serius dari Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (PP DMI), yang meminta agar masjid difungsikan sementara sebagai tempat penampungan pengungsi.

Adapun, hal ini tertuang dalam Surat Edaran Nomor 227.C/III/SE/PP-DMI/XI/2025, yang dikeluarkan Kamis (27/11/2025). Di mana, surat tersebut langsung ditandatangani oleh Jusuf Kalla dan Rahmat Hidayat.

"Sehubungan dengan bencana banjir yang terjadi di wilayah Aceh Darussalam, Sumatera Utara,dan Sumatera Barat, Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (PP DMI) menyerukan dan menghimbau agar seluruh masjid di daerah bencana tersebut terbuka untuk dijadikan hunian sementara (penampungan) bagi para pengungsi korban banjir dan agar mengupayakan bantuan kemanusiaan menurut kemampuannya," demikian isi surat edaran tersebut.

Jusuf Kalla pun berharap, para pengurus masjid segera bergerak, dan membantu para pengungsi banjir Sumatera.

"Diharapkan dengan seruan resmi ini, masjid-masjid dapat segera bertransformasi menjadi pusat penanganan bencana yang memberikan rasa aman, nyaman, dan bantuan yang dibutuhkan oleh para pengungsi," kata dia dalam keterangannya.

Kemendagri dan BNPB Bangun Posko Nasional di Tapanuli Utara

Dirjen Bina Adwil Kemendagri Safrizal ZA memimpin tim ke lokasi banjir dan longsor di Kota Sibolga, Sumatera Utara pada Rabu (26/11/2025).

Bencana alam banjir bandang dan longsor yang terjadi pada Senin (24/11/2024) telah menyebabkan empat kecamatan terdampak di Kota Sibolga, sedangkan di Tapanuli Tengah terdapat 20 kecamatan yang terdampak bencana.

"Banjir yang disusul longsor ini terjadi di enam titik Lokasi. Pak Mendagri menginstruksikan saya untuk pimpin langsung tim ke Lokasi. Kami telah berkoordinasi dengan Menko PMK dan Kepala BNPB,” kata Safrizal, Jakarta, Kamis (27/11/2025).

Safrizal menuturkan, hujan deras di Kota Sibolga sejak Senin (24/11) hingga Selasa (25/11) memicu serangkaian longsor yang berdampak ribuan warga mengungsi, termasuk kejadian di Aceh.

Disebutkan, berbagai pihak telah melakukan evakuasi hingga Selasa siang. Tim gabungan dari TNI-Polri, BPBD, Satpol PP dan Damkar telah dikerahkan ke lokasi-lokasi terdampak.

“Kita punya Satpol PP dan Damkar yang responsif dalam menangani bencana alam dan penyelamatan evakuasi korban terdampak banjir dan longsor. Sebagai langkah konkret malam ini Kemendagri dan BNPB akan langsung bangun Posko Nasional di Tapanuli Utara sebagai basis penyaluran logistik via udara karena jalur darat terputus total, termasuk membawa bantuan tenda yang sangat dibutuhkan di lapangan", sambung Safrizal.

Arahan Kemendagri

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri melalui Surat Edaran Nomor 300.2.8/9333/SJ tanggal 18 November 2025 tentang Kesiapsiagaan Menghadapi Potensi Bencana Hidrometeorologi, pihaknya telah bergerak cepat mengonsolidasikan unsur BPBD, Satpol PP, dan Damkar di seluruh daerah.

Konsolidasi tersebut dilakukan melalui Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Pemerintah Daerah pada Jumat (21/11) secara virtual dan dihadiri Kepala Pelaksana BPBD, Kepala Satpol PP, serta Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan provinsi dan kabupaten/kota seluruh Indonesia.

Dalam arahan tersebut, Safrizal menegaskan sebagian besar wilayah Indonesia saat ini berada pada tingkat risiko tinggi terhadap bencana hidrometeorologi, terutama banjir dan tanah longsor.

Kondisi cuaca ekstrem, curah hujan yang meningkat, serta tingginya kerentanan wilayah menjadi faktor yang harus diantisipasi dengan langkah kesiapsiagaan yang terukur dan terpadu.

“Pemerintah daerah harus meningkatkan kewaspadaan dan memastikan seluruh unsur di daerah berada dalam kondisi siap. Ini penting agar kita tidak gagap ketika bencana terjadi momentum respon pertama sangat penting,” kata Safrizal.

Sebagai tindak lanjut, Safrizal meminta pemerintah daerah untuk segera melaksanakan Apel Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi di wilayah masing-masing.

Apel tersebut diinstruksikan untuk melibatkan BPBD, Satpol PP, Damkar, unsur TNI/Polri, unsur relawan seperti satlinmas dan redkar, serta para pemangku kepentingan lainnya.

“Daerah perlu memastikan kesiapan personel, peralatan, dan logistik dalam menghadapi bencana. Apel kesiapsiagaan menjadi sarana penting untuk memeriksa dan memastikan seluruh unsur tersebut benar-benar siap, jangan kendor sedikitpun," tutup Safrizal.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6