Cahaya di Ujung Negeri: Saat Listrik Hadirkan Harapan Baru bagi Warga Papua dan Sumsel

Program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) dan Listrik Desa (Lisdes) menjadi tulang punggung di balik perubahan di dua ujung negeri ini.

Diterbitkan 21 Oktober 2025, 08:28 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Malam di Kampung Iraiweri, Distrik Anggi, Pegunungan Arfak, Papua Barat, kini tak lagi dibungkus temaram. Dulu, saat matahari tenggelam di balik perbukitan, warga hanya mengandalkan cahaya rembulan dan lampu minyak berasap. Kini, rumah-rumah kayu di lereng itu bersinar lembut, hasil dari aliran air yang diolah menjadi listrik lewat Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Anggi.

“Semua rumah itu harus dapat listrik, supaya anak-anak bisa belajar, mamak-mamak bisa masak dengan lampu,” ujar Elias Inyomusi, salah satu warga Anggi.

Elias masih ingat betul masa gelap dulu. “Kami bikin api, pasang gelegar dari rotan, isi minyak tanah, baru bakar. Itu yang kami pakai belajar,” kenangnya. Kini, anak-anak di Anggi tak lagi belajar di bawah cahaya sumbu minyak, melainkan di bawah lampu pijar yang menyala terang setiap malam.

Listrik, Simbol Perubahan dan Harapan

Bagi warga Anggi, listrik bukan hanya soal penerangan. Ia menjadi simbol perubahan dan kemajuan. “Dengan lampu seperti ini, anak-anak kami bisa belajar, pintar, bersaing dengan distrik lain. Terima kasih, kami tetap NKRI,” kata Piti Inyomusi, matanya berbinar penuh bangga.

Pembangunan PLTMH Anggi menjadi bagian dari program strategis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Proyek ini menjadikan Kabupaten Pegunungan Arfak sebagai satu-satunya wilayah di Indonesia yang seluruh listriknya bersumber dari energi baru terbarukan (EBT), sebuah tonggak penting menuju kemandirian energi hijau di Tanah Papua.

Sementara itu, ratusan kilometer dari Papua Barat, cerita serupa juga menyala di Desa Bandar Jaya, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Di teras rumah papan sederhananya, Ruslam (52) duduk sambil tersenyum lega. Untuk pertama kalinya, rumahnya terang tanpa suara dengung genset.

“Sebelumnya saya pakai genset. Enam jam satu liter bensin, jadi jam sepuluh malam sudah gelap lagi,” katanya.

Dulu, anak-anaknya belajar dengan lampu redup, sementara istrinya terpaksa berhenti menjahit karena bahan bakar habis. Kini, listrik membawa perubahan nyata. “Anak-anak bisa belajar sampai malam, istri bisa menjahit tanpa terburu-buru, saya bisa istirahat dengan tenang,” ucapnya haru.

Momen paling berkesan datang ketika Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyalakan langsung kWh meter di rumah Ruslam. Seketika lampu menyala terang, disambut sorak gembira warga yang memecah keheningan malam. “Bagi kami, ini bukan sekadar penerangan, tapi awal kehidupan baru,” ujar Ruslam penuh rasa syukur.

Menyalakan Keadilan Energi dari Sabang hingga Merauke

Program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) dan Listrik Desa (Lisdes) menjadi tulang punggung di balik perubahan di dua ujung negeri ini. Melalui dua program tersebut, pemerintah berkomitmen mewujudkan keadilan energi: menghadirkan listrik bagi semua warga tanpa terkecuali.

“Program Lisdes ini wujud nyata arahan Presiden Prabowo Subianto agar seluruh desa di Indonesia menikmati listrik paling lambat tahun 2029-2030,” ujar Menteri Bahlil saat kunjungan ke Musi Banyuasin (16/10/2025).

Hingga kini, masih ada sekitar 5.700 desa dan 4.400 dusun di Indonesia yang belum tersentuh listrik. Untuk itu, Program Lisdes 2025 menargetkan 1.285 lokasi baru, dengan pembangunan 4.770 kilometer jaringan tegangan menengah, 3.265 kilometer jaringan tegangan rendah, dan gardu berkapasitas 94.040 kVA.

Bagi desa-desa yang sulit dijangkau jaringan PLN, pemerintah menyiapkan solusi alternatif berupa PLTS komunal dan PLTS individual dengan baterai. Sementara itu, program BPBL menyasar 215.000 rumah tangga miskin di 36 provinsi agar dapat menikmati listrik gratis, lengkap dengan instalasi rumah dan token perdana Rp100.000.

Kini, listrik tak lagi sekadar tanda kemajuan, tetapi menjadi cermin kehadiran negara. Dari gemericik air di Pegunungan Arfak hingga senyum lega Ruslam di Musi Banyuasin, cahaya yang sama menyala di antara mereka: cahaya harapan, cahaya keadilan.

“Masa Indonesia sudah merdeka 80 tahun tapi masih ada desa gelap?” tanya Bahlil lirih kala mengenang masa kecilnya di kampung tanpa listrik. Kini, di bawah terangnya lampu-lampu sederhana yang menerangi rumah-rumah warga, cita-cita itu perlahan menjelma nyata, Indonesia yang benar-benar terang, dari timur hingga barat.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6