Sukses

HEADLINE: Relakan ITB demi Rawat 9 Adik, Ada Harapan untuk Izhak?

Liputan6.com, Jakarta - Kisah hidup Muhammad Izhak menggugah hati banyak orang. Mereka tergerak untuk membantu mantan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) asal Polewali Mandar yang terpaksa putus kuliah demi merawat sembilan adiknya itu.

Mereka bersepuluh adalah yatim piatu. Izhak anak pertama. Ia menjadi orangtua pengganti sekaligus tulang punggung bagi keluarganya. 

Salah satu yang menyatakan bersedia membantu adalah Ketua Ikatan Alumni ITB periode 2007-2011, Hatta Radjasa. Hal ini diungkapkan langsung oleh Izhak saat dihubungi Liputan6.com, Selasa, 19 Desember 2017.

Pemuda 22 tahun itu mengatakan, Hatta telah meneleponnya belum lama ini untuk menawarkan bantuan.

"Kemarin Pak Hatta Radjasa telepon saya tawarkan kuliah kembali di ITB, di jurusan yang sama," kata Izhak.

Tak hanya Hatta, banyak orang lain juga menghubungi Izhak untuk membantu meringankan beban hidup yang tengah dialaminya.

Termasuk, seorang ibu rumah tangga yang ingin memberikan bantuan Rp 500 ribu dan baju anak-anak.

Kisah hidup Izhak, yang rela menukar beasiswa dan statusnya sebagai mahasiswa ITB dengan pulang ke kampung halamannya demi merawat sembilan adiknya, terungkap pertama kali dari seorang temannya yang kebetulan adalah anggota Gerakan Peduli Sosial Polewali Mandar (GPS-PM).

Kelompok yang beranggotakan anak-anak muda tersebut mencari tahu kehidupan Izhak dan kemudian mengunggahnya di media sosial pada 13 Desember 2017. Kisahnya pun langsung viral di media sosial.

Izhak sendiri bisa kuliah di ITB karena mendapat Beasiswa Pendidikan untuk Mahasiswa Miskin (Bidikmisi) pada 2013. Ia mengambil jurusan Teknik Kimia.

Namun Tuhan berkata lain. Setelah kuliah empat semester lamanya, sang ibu, Samiah, jatuh sakit. Ayahnya, Ilyas, pun mulai sakit-sakitan.

Demi merawat orangtua dan adik-adiknya, Izhak pun pulang ke kampung halamannya di Dusun Tojang, Desa Pasiang, Kecamatan Matakali, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Pada 13 Februari 2017, sang ibu meninggal karena menderita penyakit tumor derektum. Menyusul ayahnya yang berpulang pada 22 November 2017 karena penyakit tuberculosis (TBC). Izhak dan sembilan adiknya pun yatim piatu.

"Keputusannya untuk berhenti kuliah diambil sejak ibunya meninggal," jelas salah seorang anggota GPS-PM, April Myathi, kepada Liputan6.com, Jumat, 15 Desember 2017.

Kini sepeninggal orangtuanya, Izhak mengambil alih tanggung jawab. Dua adiknya masih duduk di bangku SMP, tiga orang di bangku SD, satu orang masih TK, dan satu lagi masih berusia 19 bulan. Satu adiknya lagi, Hasnawati (20) tengah kuliah di STAIN Pare-Pare dan satunya lagi, Aslan (18), tidak sekolah sejak tamat SD.

Layaknya seorang ibu, setiap pagi Izhak mempersiapkan kebutuhan seluruh adik-adiknya yang hendak pergi ke sekolah, mulai dari memandikan mereka sampai menyiapkan sarapan.

Untuk menghidupi keluarganya, Izhak membuat gula aren dibantu adik-adiknya. Dia juga mendapat bantuan pemerintah berupa Program Keluarga Harapan (PHK), dan adik-adiknya bisa sekolah dengan bantuan Program Kartu Indonesia Pintar (KIP).

"Per empat hari dia bisa bikin 20 sampai 30 bungkus gula merah (gula aren), per bungkusnya itu dijual Rp 6 ribu. Ada juga sapi dia rawat peninggalan dari bapaknya," April menambahkan.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

1 dari 4 halaman

Dilema Izhak

Kepada Liputan6.com, Izhak mengaku masih menyimpan harapan untuk kuliah lagi. Apalagi sudah banyak bantuan yang berdatangan.

Ikatan Alumni ITB, kata Izhak, bahkan tak hanya menawarkan untuk kuliah lagi, tapi juga menawarkan tempat tinggal untuk Izhak di Bandung.

"Pokoknya semuanya sudah disiapkan dari kakak-kakak almuni ITB," ungkap Izhak, Selasa, 19 Desember 2017.

Dia juga mengaku telah dihubungi via telepon oleh pihak Fakultas Teknologi Industri ITB dan ditawarkan untuk kuliah kembali di Jurusan Teknik Kimia.

Namun, Izhak mengaku dilema. Dia memikirkan nasib adik-adiknya. Apalagi adik bungsunya, Muhammad Chaerul Akhsan, yang belum genap 2 tahun.

"Semua adik-adik saya, terutama yang paling kecil yang masih 19 bulan, masih sangat membutuhkan saya," ucap alumnus SMAN 3 Polewali ini kepada Liputan6.com.

Adik bungsunya itu masih suka menangis mencari orangtuanya, sehingga harus ditenangkan oleh Izhak dengan memeluk dan menggendongnya.

Meski seorang lelaki, tapi cara Izhak merawat dan mendidik sembilan adiknya membuat GPS-PM kagum.

"Chaerul itu masih usia 1 tahun 7 bulan, tapi dia sudah bisa baca doa sebelum makan," ungkap April.

Untuk adik-adiknya yang lain, Izhak mengaku tenang jika mereka bisa disekolahkan ke pondok pesantren.

"Tapi bagaimana dengan Chaerul, adik saya yang paling bungsu, apakah bisa saya ikutkan ke Bandung?" ujarnya.

 

2 dari 4 halaman

Respons ITB

Soal nasib getir yang dialami Izhak, pihak ITB pun angkat bicara. Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB, Bermawi Priyatna Iskandar, membenarkan Izhak menerima beasiswa Bidikmisi pada 2013.

Izhak tercatat sebagai mahasiswa dengan NIM 13013114 jurusan Teknik Kimia.

"Dia masuk 2013 dengan syarat menyelesaikan Tingkat Persiapan Bersama (TPB) satu tahun. Karena belum lulus TPB, lalu diberikan perpanjangan satu tahun," ujar Bermawi saat ditemui di Gedung CCAR Rektorat ITB, Selasa, 19 Desember 2017.

Pertimbangan ITB memberikan kesempatan pada Izhak pun berlanjut hingga semester lima. Namun di tengah perjalanan menggapai mimpinya menjadi sarjana, Izhak mendapati situasi sulit. Kondisi keluarga membuatnya harus meninggalkan universitas bergengsi itu.

"Izhak mengundurkan diri melalui surat keputusan yang ditandatangani Rektor ITB pada 30 Maret 2016. Tentu didahului dengan surat pernyataan pengunduran diri," jelas Bermawi.

Menurut Bermawi, Izhak merupakan mahasiswa yang baik dan tidak ada masalah secara akademik. Bahkan, berdasarkan nilai TPB, Izhak mampu memenuhi nilai 2.0 atau memenuhi syarat.

Karena memenuhi syarat nilai TPB, Bermawi mengakui Izhak bisa kembali berkuliah di ITB. Hanya saja dia harus mengejar target kelulusan.

Bermawi menjelaskan, setiap mahasiswa dapat maksimum waktu menyelesaikan studi selama 6 tahun. Dengan sudah mengambil masa 2 tahun TPB, masih tersisa 1,5 tahun untuk menyelesaikan seluruh studinya.

Dalam kurun waktu itu, Izhak harus menyelesaikan 108 SKS. Sedangkan waktu yang tersisa 3 semester.

"Kalau memang masih berminat sekolah, pilihannya (masih ada) dengan catatan kehidupan adik-adiknya harus ada solusi. Nanti kita telepon rencana Izhak seperti apa," kata Bermawi.

Bermawi berharap ada solusi bagi Izhak dan adik-adiknya, sehingga bisa fokus jika kuliah lagi. "Dengan situasi keluarga yang luar biasa berat, saya sangat mengapresiasi dia bisa lulus tiga mata kuliah," ucap Bermawi.

Dikonfirmasi soal nasib Izhak, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Intan Ahmad mengatakan, Izhak patut dibantu untuk melanjutkan kuliah.

"Patut dibantu kalau memang dia mau kuliah lagi," kata Intan Ahmad saat dihubungi, Selasa (19/12/2017).

Namun, Intan mengingatkan, jika ingin kembali kuliah, Izhak harus full time dan fokus di kuliahnya.

"Ini dilematis, karena saat kuliah dia harus full time," ujarnya.

Intan juga mengatakan, Izhak bisa saja mendapatkan kembali beasiswa. Namun, Kemenristek Dikti harus melihat lebih dulu nilai dan prestasi Izhak, juga alasannya mundur dari ITB.

Namun, Intan Ahmad mengingatkan, Izhak tidak dapat melanjutkan kuliah di ITB lagi, sebab ia telah mengundurkan diri.

"Kan dia sudah mundur dari ITB. Kalau dia mau ya cari sekolah lain," kata Intan Ahmad.

 

3 dari 4 halaman

Sumbangan Rp 70 Juta

Guna membantu Izhak, pengamat pendidikan Darmaningtyas mengatakan, Kemenristek Dikti, Kementerian Sosial, dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus turun tangan.

Ia menjelaskan, Kemenristek dapat menyelamatkan Izhak agar dapat melanjutkan kuliah di ITB. Sedangkan Kemendikbud harus turun tangan untuk membantu kesembilan adik Izhak yang masih duduk di bangku sekolah.

"Kemensos mencarikan santunan untuk adiknya,"" ujar Darmaningtyas, Selasa 19 Desember 2017.

Menurut Darmaningtyas, Izhak harus difasilitasi untuk dapat kembali ke ITB. Sebab, bila ia dapat mendapat gelar sarjana dari ITB, maka itu akan memudahkan jalannya untuk membenahi hidupnya dan keluarganya kelak.

"Kuliah di Sulawesi pilihan terakhir, pilihan pertama ITB, mungkin jangka pendek ia jauh dari adiknya, Tapi dengan menyandang gelar sarjana ITB itu jauh lebih mudah memperbaiki keluarga," kata Darmaningtyas.

Selain itu, Darmaningtyas mengatakan kasus Izhak sebagai pembelajaran bagi pemerintah untuk menggalakkan lagi program Keluarga Berencana (KB).

Hingga saat ini, sejumlah universitas di Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan menyatakan bersedia menampung Izhak. Di antaranya Universitas Al Asyariah Mandar, Universitas Terbuka Majene, Institut Agama Islam DDI Polewali dan Universitas Terbuka Makassar.

"Kalau ditanya dari semua universitas itu, saya lebih besar hati ke Universitas Terbuka Majene karena ada program kuliah jarak jauh," jelas Izhak.

Dengan begitu, kata Izhak, dia tidak perlu berpisah dari kesembilan adiknya.

Kepada Liputan6.com, Izhak juga sudah mendapat bantuan yang telah masuk ke rekening pribadinya, yang dibuatkan oleh GPS-PM.

Hingga Selasa, 19 Desember 2017, jumlah bantuan yang masuk Rp 70 juta. Izhak mengatakan, bantuan itu akan digunakan untuk membiayai adik-adiknya dan untuk membangun rumah.

Pasalnya, rumah kayu yang sudah lapuk yang ditempatinya saat ini, berdiri di tanah keluarga orangtuanya, sementara Izhak ingin membangun rumah di tanah warisan ibunya.

Artikel Selanjutnya
Kampus Kerukunan Institut Hindu Dharma Denpasar
Artikel Selanjutnya
ITB Sediakan 3.950 Kursi di Jalur SNMPTN dan SBMPTN