Jenderal Anti-Dwifungsi ABRI Itu Dimakamkan Sore Ini

Sedianya, jenazah almarhum Letjen Agus Wirahadikusumah akan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta, sekitar pukul 14.30 WIB. Pangkostrad Letjen TNI Ryamizard Ryacudu bertindak sebagai inspektur upacara pemakaman.

Diterbitkan 31 Agustus 2001, 05:08 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Jakarta: Jenderal anti-Dwifungsi ABRI sudah tutup usia. Sedianya, jenazah almarhum Letnan Jenderal TNI Agus Wirahadikusumah akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Kamis (30/8), sekitar pukul 14.30 WIB. Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Letjen TNI Ryamizard Ryacudu akan bertindak sebagai inspektur upacara pemakaman. Sejumlah tokoh tampak hadir di rumah duka di Kompleks Perumahan Perwira Angkatan Darat Bulak Rantai, Jakarta Timur.

Para petinggi TNI yang hadir di antaranya adalah Kepala Staf AD Jenderal TNI Endriartono Sutarto, Wakil KSAD Letjen TNI Kiki Syahnakri, Kepala Staf Teritorial Letjen TNI Agus Widjoyo, dan Pangkostrad Letjen TNI Ryamizard Ryacudu. Selain itu tampak pula paman almarhum, mantan Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah, mantan pebulu tangkis nasional Alan Budikusuma, dan atlet Ricky Subagja.

Almarhum dikenal gemar beribadah. Bahkan, beberapa bulan terakhir sosok yang mengawali karir militer sebagai Komandan Peleton di Brigade Infanteri-2, Komando Daerah Militer VIII Brawijaya, Jawa Timur, ini juga sibuk menulis buku tentang kumpulan salat, Salawat, dan doa. Menurut rencana, buku tadi akan naik cetak pada 15 September mendatang. Menurut putra almarhum, Yunan Mahendra, sebelum meninggal dunia, ada pesan terakhir untuk seluruh anggota keluarga dalam menjalani hidup ini. Mereka diharap mau hidup dalam keseimbangan antara duniawi dan spiritualitas.

Lulusan Akademi Militer Nasional di Magelang Tahun 1973 ini juga dikenal sebagai seorang militer yang amat kritis. Pria kelahiran Bandung, Jawa Barat, 17 Oktober 1951 itu kerap lantang meneriakkan penghapusan konsep Dwifungsi TNI. Tak heran, perselisihan pendapat kerap terjadi dengan rekan sejawat. Termasuk di antaranya, senior Agus di TNI, mantan Panglima TNI Jenderal Purnawirawan TNI Wiranto. Maklum saja, usulan pria kelima dari 12 bersaudara anak R. Maryun Wirahadikusumah tadi terbilang tak lazim: Komando Teritorial dikurangi dengan menghapus Komando Rayon Militer dan Bintara Pembina Desa. Selain itu, almarhum mengingatkan supaya keterlibatan TNI dalam bidang politik hanya sebatas tingkat penentuan kebijakan, di bangku MPR.

Langkah kritis mantan Pangdam Wirabuana VII tersebut tentu ditanggap beragam. Menurut mantan Presiden Abdurrahman Wahid, sosok lulusan Kennedy School of Government, Harvard University, Amerika Serikat 1992 itu amat diperlukan untuk reformasi di tubuh militer Indonesia. Kendati demikian, sebagian kalangan militer menilai bapak berputra dua ini malah merusak sistem yang ada. Akibatnya, pada Oktober 2000, sebanyak 45 pangdam dan Panglima Komando Utama dalam pertemuan komandan satuan di Bandung mendesak pria lulusan pendidikan Airborne, Ranger, Pathfinder, AS 1981 dan Mayor Jenderal Saurip Kadi diajukan ke Dewan Kehormatan Perwira.

Kendati sidang DKP tak pernah terlaksana, sejarah membuktikan bahwa sepak terjang suami Tri Rachmaningsih ini adalah cikal bakal reformasi internal di tubuh TNI. Dia juga sempat membongkar skandal dana Rp 190 miliar di Yayasan Dharma Putra milik Kostrad. Sebagai konsekuensinya, pria berwajah garang ini dicopot dari jabatan sebagai Pangkostrad seiring mutasi tujuh perwira tinggi lain, Juli 2000. Posisi yang ditinggalkan almarhum ditempati Ryamizard Ryacudu. Sedangkan, almarhum menjabat perwira tinggi di Markas Besar TNI.

Sejak saat itu, Agus terlihat lebih banyak berdiam diri. Boleh jadi, kekecewaan yang dipendam bekas Komandan Sekolah Staf Komando Angkatan Darat 1998 itu akhirnya dilampiaskan dengan cara menyusun buku. Bahkan, pria yang cukup aktif di dunia bulu tangkis di Tanah Air itu berniat membuka galeri seni di Jakarta pada Desember mendatang. Dalam setahun terakhir, Ketua Tim Reformasi Internal TNI bersama para koleganya di Pulau Dewata mencari lukisan yang diperlukan buat galeri tadi. Kedekatan almarhum dengan seniman Bali dibina sejak Agus menjabat Danrem Wirasatya 161. Kadang kala, almarhum sendiri yang memburu lukisan hingga ke Ubud, daerah kawasan seni. Di balik tubuh prajurit, jenderal mbalelo berbadan gempal itu adalah pencinta seni.(ORS/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6