Gyaru Makeup, Riasan Dramatis Jepang sebagai Simbol Pemberontakan Kecantikan

Gyaru makeup, gaya riasan Jepang yang berani, muncul sebagai pemberontakan terhadap standar kecantikan tradisional, menonjolkan mata besar dan kulit tanpa cela

Diterbitkan 03 September 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gyaru makeup merupakan gaya riasan berani dan ekspresif dari Jepang yang sengaja membedakan diri dari standar kecantikan konvensional. Gaya ini adalah bagian tak terpisahkan dari subkultur fesyen Gyaru, yang mulai populer pada tahun 1970-an dan mencapai puncaknya di era 1990-an hingga awal 2000-an. Istilah "Gyaru" sendiri merupakan adaptasi fonetik Jepang dari kata slang Inggris "gal" atau "gals", yang merujuk pada wanita muda yang ceria dan modis.

Kemunculan Gyaru menjadi bentuk penolakan langsung terhadap cita-cita kecantikan tradisional Jepang yang mengagungkan kulit putih pucat, rambut hitam lurus, serta riasan minimalis. Sebaliknya, subkultur ini merangkul kulit kecokelatan, rambut yang diwarnai atau di-bleach, dan kosmetik yang mencolok. Tujuan utama Gyaru makeup adalah menciptakan ilusi mata yang tampak lebih besar dan bulat, menonjolkan fitur wajah yang tegas, serta menghadirkan penampilan yang glamor.

Meskipun tren kecantikan terus berkembang, elemen kunci seperti mata yang besar, bulu mata dramatis, kulit tanpa cela, dan sikap percaya diri yang ceria dari Gyaru terus menginspirasi para penata rias dan pecinta mode di seluruh dunia.

Revolusi Kecantikan Lewat Riasan Mata Dramatis

Pada puncaknya, riasan Gyaru berfungsi sebagai bentuk ekspresi diri yang kuat, di mana kesubtilan jarang menjadi tujuan utama. Para ahli dan pengamat subkultur Gyaru menyoroti bahwa riasan mata adalah elemen terpenting dari tampilan ini. Transformasi visual utama berpusat pada area mata, dengan teknik yang bertujuan membuat mata tampak sebesar dan sebulat mungkin, menyerupai mata boneka.

Untuk mencapai efek pembesaran mata yang dramatis, bulu mata palsu, seringkali berukuran besar dan tebal, diaplikasikan pada garis bulu mata atas dan bawah. Bulu mata atas memberikan volume dan panjang, sementara bulu mata bawah meningkatkan efek mata boneka. Eyeliner hitam atau cokelat tebal digunakan untuk memperpanjang mata, bahkan diaplikasikan pada garis bawah mata untuk menciptakan ekspansi vertikal. Beberapa gaya Gyaru juga menggunakan teknik "puppy liner" atau "tareme" (mata terkulai) dengan menggambar garis eyeliner melengkung ke bawah untuk tampilan mata yang lebih bulat.

Eyeshadow seringkali diaplikasikan dalam gradasi warna, dengan warna terang dan berkilau di sudut dalam mata untuk efek cerah. Eyeliner putih atau nude juga dapat diaplikasikan pada garis air mata untuk mencerahkan mata dan meningkatkan efek pembesaran. Selain itu, lensa kontak berwarna yang secara visual memperbesar iris mata, atau yang dikenal sebagai circle lenses, populer dalam budaya Gyaru untuk menciptakan tampilan seperti boneka.

Membentuk Wajah dengan Kulit Sempurna dan Kontur Tegas

Selain riasan mata, elemen kunci dalam Gyaru makeup berpusat pada penciptaan kulit yang sempurna dan kontur wajah yang tegas. Tampilan ini umumnya menyukai kulit wajah yang tanpa cela dengan coverage medium hingga penuh. Teknik kontur yang kompleks umum digunakan untuk menciptakan struktur wajah tambahan, dengan kontur hidung yang sangat penting untuk menciptakan definisi wajah yang khas, serta kontur di sekitar rahang dan tulang pipi.

Warna kulit kecokelatan atau gelap merupakan elemen kunci di banyak sub-gaya Gyaru, seperti Ganguro, sebagai bentuk penolakan terhadap standar kecantikan tradisional Jepang. Namun, beberapa sub-gaya, seperti Shiro-gyaru, justru menghindari kulit gelap. Untuk alis, cenderung berwarna cokelat muda dan berbentuk lurus. Sementara itu, warna bibir seringkali netral atau merah muda, bahkan ada yang menggunakan concealer ringan di atas bibir. Warna bibir bervariasi dari merah muda mengkilap, putih pucat, hingga merah berani, seringkali diakhiri dengan lip gloss untuk kilau tambahan. Blush diaplikasikan secara liberal, biasanya dalam nuansa merah muda atau peach, untuk memberikan kilau yang sehat dan awet muda.

Evolusi Gaya dan Inspirasi Selebriti

Gyaru makeup bukanlah satu tampilan tunggal, melainkan merupakan keluarga gaya kecantikan yang telah berkembang selama beberapa dekade, beradaptasi dengan bentuk mata, warna kulit, dan preferensi pribadi. Para praktisi Gyaru yang berpengalaman memahami bahwa proporsi lebih penting daripada intensitas. Kesalahan umum pemula adalah menerapkan bulu mata yang terlalu besar atau kontur yang berlebihan, yang dapat mengganggu keseimbangan wajah.

Gaya ini juga lebih tentang sikap dan kepercayaan diri, bukan etnisitas, sehingga orang dari berbagai latar belakang dapat merangkul gaya ini dengan mengadaptasi teknik dan warna sesuai fitur mereka.

Meskipun Gyaru makeup lebih sering terlihat pada model majalah subkultur, beberapa selebriti telah mengadopsi atau terinspirasi oleh gaya ini. Model dan penyiar Han Hye-jin, bersama penyiar Pungja, baru-baru ini bertransformasi dengan gaya "gyaru" yang berani di Jepang. Mereka tampil dengan riasan mata yang tebal dan gaya yang mencolok, menciptakan tampilan yang sangat berbeda dari citra mereka biasanya. Pungja membagikan beberapa foto transformasi mereka pada 19 Juli 2026, yang menunjukkan keduanya berpose di jalanan Tokyo.

Di era 1990-an dan awal 2000-an, ikon pop Jepang seperti Namie Amuro dan Ayumi Hamasaki sangat berpengaruh dalam membentuk tren fesyen dan kecantikan, termasuk elemen-elemen yang menjadi ciri khas Gyaru. Namie Amuro dikaitkan dengan fenomena "Amurer" yang mempopulerkan gaya tertentu. Sementara itu, pada awal 2000-an, banyak orang berusaha tampil seperti Ayumi Hamasaki, dengan rambut pirang, eyeliner hitam tebal dengan sedikit kilau putih di sudut mata bagian dalam, bibir nude, rok pendek, dan kuku berhias.