Cortisol Belly, Benarkah Stres Bisa Bikin Perut Buncit?

Cortisol belly dikaitkan dengan stres berkepanjangan yang dapat memengaruhi penumpukan lemak di area perut.

Diterbitkan 26 September 2026, 21:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Istilah cortisol belly belakangan ramai digunakan untuk menggambarkan penumpukan lemak di area perut yang dikaitkan dengan stres berkepanjangan. Kondisi ini sering dihubungkan dengan hormon kortisol yang berperan penting dalam membantu tubuh menghadapi tekanan.

Cortisol belly bukan istilah medis resmi. Hubungan antara stres, kortisol, dan lemak perut juga tidak sesederhana yang banyak beredar di media sosial.

Kortisol diproduksi oleh kelenjar adrenal yang terletak di atas ginjal. Hormon ini membantu mengatur respons tubuh terhadap stres, metabolisme, kadar gula darah, tekanan darah, serta siklus tidur dan bangun.

Kadarnya secara alami meningkat pada pagi hari untuk membuat tubuh lebih waspada, lalu menurun pada malam hari ketika tubuh bersiap beristirahat. Saat menghadapi tekanan, tubuh melepaskan kortisol sebagai bagian dari mekanisme fight or flight.

Respons tersebut membantu menyediakan energi agar tubuh mampu menghadapi situasi yang dianggap mengancam. Stres yang berlangsung terus-menerus dapat membuat sistem tersebut lebih sering aktif. Kondisi ini dapat berkaitan dengan peningkatan berat badan, termasuk penumpukan lemak di sekitar perut.

Melansir BBC Science Focus, Sabtu, 15 Agustus 2026, lemak yang berada di sekitar organ dalam memiliki konsentrasi reseptor kortisol tertentu yang lebih tinggi dibandingkan jaringan lemak di beberapa bagian tubuh lainnya. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan stres kronis kerap dikaitkan dengan perubahan distribusi lemak tubuh.

Pengaruh Stres Terhadap Lemak Perut

Kortisol yang meningkat akibat stres berkepanjangan dapat memengaruhi cara tubuh menyimpan energi. Jaringan lemak di area perut memiliki reseptor kortisol yang membuatnya lebih responsif terhadap hormon tersebut. Kondisi ini pada situasi tertentu dapat berkaitan dengan penyimpanan lemak di sekitar perut.

Stres juga dapat memengaruhi pola makan. Peningkatan kortisol berpotensi meningkatkan nafsu makan dan membuat seseorang lebih tertarik pada makanan tinggi gula, lemak, atau kalori. Orang yang memiliki respons kortisol lebih tinggi terhadap tekanan pun cenderung lebih sering memilih makanan berlemak saat mengalami stres.

Perubahan kebiasaan sehari-hari turut berperan dalam peningkatan berat badan. Kurang tidur, berkurangnya aktivitas fisik, konsumsi alkohol, serta pola makan yang tidak seimbang dapat muncul bersamaan ketika seseorang mengalami stres. Berbagai faktor tersebut dapat saling berkaitan dan memengaruhi kondisi tubuh secara keseluruhan.

Perut Buncit Tidak Selalu Berarti Cortisol Belly

Penumpukan lemak di area perut tidak selalu berkaitan dengan kadar kortisol. Pola makan, aktivitas fisik, dan berbagai faktor lain turut memengaruhi perubahan berat badan. Hubungan kortisol dan obesitas pun dapat berlangsung dua arah karena jaringan lemak juga berpotensi memengaruhi produksi hormon tersebut.

Kadar kortisol yang sangat tinggi memang dapat muncul pada kondisi medis tertentu, salah satunya Cushing's syndrome. Kondisi ini dapat menyebabkan penumpukan lemak di perut dan biasanya disertai tanda lain, seperti wajah membulat, perubahan suasana hati, serta gangguan toleransi glukosa.

Pemeriksaan kadar kortisol juga tidak perlu dilakukan hanya karena ukuran perut bertambah. Hormon ini mengalami perubahan secara alami sepanjang hari. Kondisi tertentu dapat turut memengaruhi hasil pemeriksaan, termasuk rasa takut atau cemas saat proses pengambilan darah.

Karena itu, penilaian kadar kortisol sebaiknya dilakukan berdasarkan indikasi medis dan tidak hanya berdasarkan perubahan bentuk tubuh.

Mengelola Stres untuk Menjaga Keseimbangan Tubuh

Mengelola stres dapat membantu menjaga keseimbangan tubuh, meski tidak tepat menyebutnya sebagai cara khusus untuk menghilangkan cortisol belly. Aktivitas fisik intensitas sedang, berinteraksi dengan orang lain, bernyanyi, hingga tertawa dapat membantu meredakan respons tubuh terhadap tekanan.

Meditasi, mindfulness, relaksasi, yoga, dan latihan pernapasan juga memiliki bukti yang mendukung manfaatnya dalam membantu mengelola stres dan kortisol. Rutinitas tidur yang teratur tidak kalah penting karena kadar kortisol mengikuti ritme alami tubuh. Hormon ini umumnya lebih tinggi pada pagi hari dan menurun menjelang malam.

Pola makan yang teratur dapat membantu menjaga rutinitas ketika menghadapi tekanan. Pilih makanan bernutrisi dan utamakan kebiasaan yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Pembatasan makanan secara ekstrem justru sulit diterapkan secara konsisten.

Pendekatan yang realistis membantu menjaga kesehatan sekaligus mendukung pengelolaan berat badan secara menyeluruh.