Liputan6.com, Jakarta - Di tengah ketidakpastian ekonomi global, inflasi yang terus meningkat, serta harga properti yang kian tak terjangkau, banyak individu merasakan kecemasan mendalam tentang masa depan. Kondisi ini sering kali memicu perilaku belanja berlebihan yang dikenal sebagai “doom spending”. Fenomena ini bukan sekadar belanja impulsif biasa, melainkan respons emosional terhadap tekanan dan kekhawatiran yang mengakar.
“Doom spending” didefinisikan sebagai tindakan membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan atau tidak mampu dibeli, sebagai cara untuk mengatasi stres finansial atau kekhawatiran tentang hari esok. Berbeda dengan “retail therapy” yang sesekali memberikan dorongan positif singkat, perilaku ini didorong oleh rasa takut dan dilakukan secara berulang kali untuk mengelola tekanan.
Fenomena ini semakin marak, terutama di kalangan generasi muda seperti Gen Z dan Milenial, yang menghadapi tantangan ekonomi unik di era digital. Upaya regulasi diri secara emosional yang salah arah ini memberikan kelegaan sesaat, namun pada akhirnya justru memperkuat perasaan cemas, rasa bersalah, dan hilangnya kendali.
Advertisement
Akar Psikologis di Balik Dorongan Belanja Berlebihan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5025675/original/057317900_1732696722-fotor-ai-20241127153544.jpg)
Para ahli menyoroti beberapa alasan psikologis yang mendasari perilaku “doom spending”. Salah satunya adalah kecemasan eksistensial dan persepsi kurangnya kontrol. Perasaan tidak berdaya dan ketidakpastian ini diperkuat oleh paparan berita negatif yang tiada henti, memicu pencarian kelegaan melalui perilaku yang merangsang jalur penghargaan otak. Dennis Kaufman, seorang profesor ekonomi di University of Wisconsin-Parkside, menjelaskan bahwa bagian “doom” dari istilah ini mencerminkan ekspektasi masyarakat terhadap perlambatan ekonomi, bahkan resesi.
Selain itu, belanja uang memicu jalur penghargaan yang sama seperti perjudian, menciptakan perilaku yang menyerupai kecanduan dan semakin sulit ditolak seiring waktu. Amanda LaMela dan Dani Saliani dari Phidaly Counseling menambahkan bahwa individu mungkin mencari kenyamanan instan melalui pembelian, meniru perilaku yang terlihat pada kecanduan dan gangguan kompulsif.
Alasan lain adalah ilusi kemakmuran. “Doom spending” memungkinkan seseorang berpura-pura memiliki lebih banyak uang daripada yang sebenarnya, menciptakan fantasi berbahaya di mana saldo rekening bank seolah tidak penting. Ini menciptakan ilusi kekayaan sementara, bahkan saat berutang untuk melakukannya, yang justru membuat seseorang semakin miskin.
Giovanna González, penulis buku Cultura & Cash, mengidentifikasi mentalitas “buat apa menabung?” sebagai pemicu. Menurutnya, “doom spending” adalah respons terhadap pandangan buruk tentang masa depan keuangan atau kondisi bumi, dengan pemikiran, “Apa gunanya menabung untuk masa depan?” Pemikiran ini berlanjut menjadi, “Saya hanya akan menghabiskan uang sekarang dan tidak khawatir tentang tujuan jangka panjang seperti pensiun atau membeli rumah.” Sebuah studi bahkan menunjukkan bahwa 73% anak muda Amerika lebih memilih menikmati uang mereka sekarang daripada menabung untuk nanti.
Pengaruh media sosial juga berperan besar. Courtney Alev, advokat keuangan konsumen di Credit Karma, mengatakan bahwa seperti “doom scrolling”, orang berbelanja tanpa berpikir untuk menenangkan kekhawatiran tentang ekonomi dan urusan luar negeri, yang dapat berdampak buruk pada kesejahteraan finansial mereka. Media sosial sering menampilkan gambaran ideal tentang kemewahan dan kesuksesan, yang dapat memicu keinginan untuk berbelanja.
Advertisement
Generasi Muda dalam Lingkaran "Doom Spending"
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4932095/original/003130400_1724986408-Ilustrasi_belanja_online__belanja__shopping__refund.jpg)
Generasi Z dan Milenial adalah kelompok yang paling banyak terlibat dalam “doom spending”. Laporan dari Intuit Credit Karma menunjukkan bahwa lebih dari seperempat orang Amerika (27%) melakukan “doom spending”. Angka ini melonjak signifikan menjadi 43% untuk Milenial dan 35% untuk Gen Z. Mereka menghadapi tantangan ekonomi unik seperti utang mahasiswa yang melonjak, inflasi tinggi, dan harga perumahan yang tidak terjangkau.
Meskipun memberikan kelegaan sesaat, “doom spending” memiliki konsekuensi finansial dan emosional yang serius. Pembelian impulsif yang sering dapat dengan cepat menumpuk utang, terutama utang kartu kredit dengan bunga tinggi. Setiap dolar yang dihabiskan untuk barang yang tidak perlu adalah dolar yang tidak dapat tumbuh untuk masa depan melalui investasi. Lebih jauh, perilaku ini menciptakan lingkaran setan di mana stres finansial menyebabkan lebih banyak pengeluaran, yang kemudian memperkuat stres, rasa bersalah, dan rasa malu. Pada akhirnya, hal ini menghambat pembentukan tabungan darurat atau pensiun, memperburuk ketidakamanan finansial.
Mengambil Kembali Kendali: Strategi Mengatasi "Doom Spending"
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2834118/original/037889300_1561102665-jp-valery-1497986-unsplash.jpg)
Menghentikan “doom spending” bukan berarti menyerah pada semua yang disukai, melainkan tentang membuat pilihan yang lebih cerdas dengan uang. Langkah pertama adalah membangun kesadaran finansial dengan membuat anggaran dan memantau pengeluaran. Ramit Sethi menjelaskan, “Banyak orang melakukan doom spending karena mereka tidak pernah menghitung situasi keuangan mereka yang sebenarnya, lebih memilih kenyamanan ketidaktahuan daripada ketidaknyamanan kebenaran.”
Strategi lain termasuk membatasi penggunaan kartu kredit dan pinjaman, serta menetapkan tujuan finansial jangka panjang seperti menabung untuk uang muka rumah atau pensiun. Ramit Sethi menyarankan untuk mengganti “dopamine hit” dari belanja dengan kepuasan melihat investasi tumbuh. Untuk menghindari belanja impulsif, ciptakan hambatan seperti menghapus informasi kartu kredit yang tersimpan di pengecer online, memberikan jeda 24 jam sebelum mengklik “konfirmasi pembelian”, atau menghapus aplikasi belanja dari layar utama ponsel.
Selain itu, ubah kebiasaan media sosial dan online dengan membatasi paparan berita negatif dan melakukan detoks digital secara teratur. Penting juga untuk melakukan perawatan diri finansial, seperti mengotomatiskan tabungan segera setelah gaji masuk, sehingga uang tersebut tidak terasa “tersedia” untuk dibelanjakan. Jika “doom spending” sulit diatasi sendiri, mencari bantuan dari konsultan keuangan atau psikolog dapat menjadi solusi yang tepat.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310112/original/014361000_1785306495-Screenshot_2026-07-29_125347.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5346802/original/063133700_1757650216-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__68_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5362936/original/004760500_1758877364-pendamping_lokal_desa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5555013/original/059216600_1776139675-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-14T102537.741.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5111546/original/094274700_1738052316-1738044387934_apa-itu-impulsif.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5269743/original/092797600_1751358995-Gianni_Infantino.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302387/original/003320700_1784544976-Argentina_s_Nicolas_Otamendi__19__and_Nahuel_Molina__26__scuffle_with_Spain___s_Rodri__16_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294318/original/065079400_1783829517-063_2285706113.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9245742/original/085478200_1783138991-verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299398/original/064759200_1784250864-000_B8VA8NK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300741/original/083077900_1784373810-olmo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289600/original/065309500_1783409865-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301644/original/087929500_1784508450-trump_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260490/original/004683900_1781597232-063_2281735743-Spanyol_vs_Tanjung_Verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257806/original/036653900_1781257253-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312085/original/042581000_1785479477-kelly-sikkema-3-Tc_5LROrM-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310268/original/015420000_1785312268-Ilustrasi_ajarkan_anak_soal_uang-29_Juli_2026a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301854/original/057434800_1784522760-anak_menabung2.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3245214/original/052359600_1600754987-photo-1554768804-50c1e2b50a6e.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298504/original/010617600_1784173835-I0KjEhkqCom3v1XIJX39O6bolnXKI5RMLubRVxI3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5160711/original/023605400_1741838244-Depositphotos_366014722_S.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299003/original/078261000_1784189854-cc5da0ed-57c7-4291-ba2c-2b57cc17815b.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5255628/original/049369500_1750191119-two-women-out-city-going-shopping-spree.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4941812/original/090156600_1726031055-pexels-rdne-6517080.jpg)