Sejauh Mana Perkembangan Smart Kitchen Diadopsi di Rumah Indonesia?

Smart kitchen alias dapur pintar berkembang seiring makin banyak perabot yang mengadopsi IoT sebagai salah satu fiturnya.

Diterbitkan 25 Mei 2026, 11:24 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Seiring berkembangnya teknologi, makin banyak perabot rumah tangga yang juga mengadopsi teknologi digital. Istilah smart home, termasuk smart kitchen, pun berkembang dengan pengaplikasian saat ini mencakup hampir semua kategori produk, dari kunci rumah hingga perabot dapur dan ruang cuci.

"Tren teknologi yang saat ini marak dipakai masyarakat di rumah adalah yang terintegrasi dengan smartphone mereka, seperti integrasi door lock, CCTV, lampu, AC, pemanas air, dan juga perabot dapur dan ruang cuci," kata Liem Hansen Salim, Head of Brand Communications MODENA, menanggapi Lifestyle Liputan6.com di Bogor, Jumat, 22 Mei 2026.

Dengan tambahan aplikasi, kerja perabotan rumah bisa dikontrol menggunakan ponsel. Tujuannya adalah untuk memudahkan kehidupan hingga menghemat pengeluaran listrik bulanan. "Mereka bisa on-off dari kejauhan. Jika efektif, pemakaian listriknya akan lebih hemat dan efisien," imbuh Liem.

Lalu, bagaimana dengan area dapur? Menurut Liem, perkembangan smart kitchen di Indonesia masih belum semasif perabotan rumah tangga lainnya. Perabotan dapur berteknologi IoT (internet of things) masih terus dikembangkan agar bisa memanfaatkan interkoneksi smart kitchen dengan ponsel pintar pelanggan.

"Yang terbaru dari kami saat ini adalah seamless kompor gas dengan interkoneksi bluetooth ke kompor hood yang otomatis dapat menyala. Fitur ini akan bisa memudahkan pengguna untuk memasak tanpa perlu khawatir asap dari memasak mengganggu rumah," ia menjelaskan.

Fitur itu juga memungkinkan kecepatan hood bekerja menyesuaikan panas dari kompornya dan dapat diatur manual dengn gerakan tangan, tanpa menyentuh tombol. Kompor hood juga bisa berfungsi seperti air purifier dengan udara yang diserap diolah menjadi lebih bersih ketika dikeluarkan. "Jadinya kulit yang memasak akan tetap glowing," ucapnya.

 

 

 

Plus Minus Perabotan Dapur Ber-IoT

Liem menyatakan bahwa hampir semua tipe rumah bisa menggunakan produk smart kicthen mengingat konsumsi listriknya relatif tidak besar. "Paling besar itu di produk dispensi kami, tapi itu juga bisa diatur lebih hemat. Pelanggan bisa pakai eco-mode," ujarnya.

Menurut Liem, dapur pintar bahkan bisa diwujudkan di rumah tipe 40 ke bawah dengan penyesuaian tertentu. Apalagi generasi sekarang familiar dengan serba digital, kepraktisan dan kemudahan sudah menjadi kebutuhan, bukan lagi pilihan. 

"Produk yang kita buat itu bisa disesuaikan dengan apa yang dibutuhkan. Bisa butuh kompornya, dishwasher, dispenser air, kulkas, dan kebutuhan dapur lainnya," sambung dia.

Di sisi lain, penggunaan kompor IoT juga tidak selalu pakai listrik, tetapi bisa dengan gas. Hanya kompor hood-nya yang menggunakan listrik sepenuhnya dengan penggunaan listrik rumah terkontrol.

"Plusnya (menggunakan perabot dapur pintar) jelas memudahkan pengguna, lebih aman juga. Tapi kurangnya, pengguna harus belajar cara penggunaannya," ucap Liem.

Buka 5 Cabang Baru

Bersamaan dengan itu, Modena membuka lima gerai baru di lima kota/kabupaten. Kelima lokasi tersebut berada di Sawangan, Depok; Bandung, Jawa Barat; Semarang, Jawa Tengah; Malang, Jawa Timur; dan Muara Enim, Sumatera Selatan. Dengan peresmian lima gerai baru, total ada 69 Modena Home Center dibuka di Indonesia.

MODENA Home Center merupakan gerai offline retail yang dirancang untuk menghadirkan pengalaman eksplorasi produk yang lebih interaktif dan nyaman bagi konsumen. Di sini, konsumen dapat melihat langsung berbagai kategori home appliances, memahami fitur dan teknologi produk secara lebih mendalam.

Sawangan, Malang, dan Muara Enim dipilih sebagai lokasi gerai baru karena perkembangan kawasan residensial dan kebutuhan rumah tangga modern seiring berkembangnya aktivitas masyarakat di daerah masing-masing. Sementara itu, Bandung dan Semarang memiliki perkembangan lifestyle urban serta aktivitas bisnis yang mendorong kebutuhan terhadap home appliances serta professional appliances untuk mendukung kebutuhan usaha dan gaya hidup masyarakat perkotaan.

 

Sejalan dengan Tren Pasar

Kehadiran gerai itu menjadi bagian penting dari strategi omnichannel perusahaan di tengah berkembangnya pengalaman belanja digital. Tren ini juga terlihat dalam laporan EY Future Consumer Index yang menunjukkan bahwa 57 persen responden ingin melihat, menyentuh, dan merasakan langsung produk sebelum membeli.

Selain itu, 68 persen responden juga mencari konsultasi atau saran sebelum melakukan pembelian produk bernilai tinggi agar dapat membuat keputusan yang lebih tepat. Laporan yang sama juga menunjukkan 61 persen konsumen tertarik mengunjungi toko fisik untuk mendapatkan promosi yang tidak tersedia secara online.

"MODENA Home Center hadir sebagai bagian dari strategi offline retail kami yang dikombinasikan dengan online retail melalui website dan berbagai platform e-commerce, sehingga konsumen dapat memiliki pengalaman yang lebih lengkap dalam memilih produk," jelas Liem.

 

Â