Liputan6.com, Jakarta - Doa Nabi Musa dalam surat Al-Qashash merupakan salah satu munajat paling menyentuh dalam Al-Qur'an. Doa ini diucapkan saat Nabi Musa berada di titik terendah kehidupannya; sendirian di negeri asing, tanpa bekal, kelelahan, dan lapar.
Doa ini menjadi cermin penghambaan seorang nabi kepada Tuhannya. Hingga kini doa ini banyak diamalkan umat Islam untuk memohon rezeki, jodoh, serta kemudahan hidup.
Amriah Nurul Khasanah dalam jurnal Kisah Nabi Musa dalam Surat Al-Qasas (Studi Pemikiran Al-Sawi dalam Hasyiah Al-Sawi 'Ala Tafsir Al-Jalalain) menjelaskan bahwa doa Nabi Musa ini mencerminkan kemuliaan jiwa yang tidak menyebutkan secara spesifik apa yang dibutuhkan, melainkan hanya mengakui kebutuhan kepada Allah. Al-Sawi menafsirkan ayat ini dengan pendekatan analitis yang kaya akan tinjauan bahasa, nahwu, saraf, dan ragam qira'at.
Advertisement
Sayyid Qutb dalam Fi Zhilalil Quran menggambarkan doa ini sebagai rintihan hati yang mengadu kepada penjagaan yang aman dan teduhan yang hakiki. Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar juga menyoroti bagaimana doa ini dikabulkan dengan cara yang tidak terduga.
Merujuk literatur kontemporer dan klasik, berikut ini ulasan mengenai bacaan lengkap doa Nabi Musa dalam surat Al-Qashash, tafsir para ulama, hikmah yang terkandung di dalamnya. Dengan memahami kedalaman makna doa ini, diharapkan umat Islam dapat mengamalkannya dengan penuh kesadaran dan ketawakalan.
Doa Nabi Musa dalam Surat Al-Qashash
Bacaan Surat Al-Qashash ayat 24 Lengkap
Arab: فَسَقٰى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلّٰىٓ اِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ اِنِّيْ لِمَآ اَنْزَلْتَ اِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ ٢٤
Latin: Fa saqā lahumā ṡumma tawallā ilaẓ-ẓilli fa qāla rabbi innī limā anzalta ilayya min khairin faqīr
Artinya: "Maka, dia (Musa) memberi minum (ternak) kedua perempuan itu. Dia kemudian berpindah ke tempat yang teduh, lalu berdoa, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan (rezeki) yang Engkau turunkan kepadaku.'"
Adapun doa inti yang dipanjatkan Nabi Musa adalah:
Arab: رَبِّ اِنِّيْ لِمَآ اَنْزَلْتَ اِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ
Latin: Rabbi innī limā anzalta ilayya min khairin faqīr
Artinya: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan (rezeki) yang Engkau turunkan kepadaku."
Tafsir Al-Qashash ayat 24 (Doa Nabi Musa)
Imam al-Sawi dalam Hasyiyah al-Sawi 'ala Tafsir al-Jalalain menjelaskan bahwa Nabi Musa menolong kedua putri Nabi Syu'aib tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Ia mengangkat batu besar penutup sumur yang biasanya hanya dapat diangkat oleh sepuluh orang, lalu memberi minum ternak kedua perempuan itu. Setelah selesai, ia berlalu dan berteduh di bawah pohon. Dalam kondisi fisik yang sangat lemah karena belum makan berhari-hari, Nabi Musa tidak mengeluh atau meminta pertolongan kepada manusia. Sebaliknya, ia menengadahkan tangan dan berdoa dengan kalimat yang penuh adab.
Al-Sawi juga menyoroti bahwa doa ini mencerminkan kemuliaan jiwa Nabi Musa yang tidak menyebutkan secara spesifik apa yang ia butuhkan. Ia hanya mengakui kebutuhannya secara mutlak kepada Allah. Kalimat "limā anzalta ilayya min khairin faqīr" mengandung pengakuan bahwa manusia, sekuat dan sehebat apa pun, tetap membutuhkan pertolongan Allah.
Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-Azhim menjelaskan bahwa Nabi Musa berjalan meninggalkan Mesir di malam hari menuju Madyan tanpa membawa bekal makanan, kecuali hanya sayuran dan dedaunan pohon. Ia berangkat tanpa alas kaki. Ketika sampai di Madyan, kedua telapak kakinya sudah terluka. Dalam kondisi seperti itu, doa Nabi Musa bukanlah permintaan spesifik, melainkan pengakuan total akan kebutuhan kepada Allah.
Sayyid Qutb dalam Fi Zhilalil Quran menggambarkan momen ini dengan indah: "Ia berlindung ke tempat yang teduh secara material dan fana bagi tubuhnya, untuk kemudian berteduh ke teduhan yang luas tak terhingga. Teduhan Allah Yang Maha Pemberi. Dengan ruh dan hatinya, 'Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku'".
Sayyid Qutb menambahkan bahwa dari redaksi tersebut, kita dapat mendengar rintihan hati Nabi Musa dan pengaduannya kepada penjagaan yang aman, tempat perlindungan yang sebenarnya, dan teduhan yang hakiki.
M. Quraish Shihab dalam buku Doa dalam Al-Qur'an dan Sunnah menjelaskan bahwa doa ini mencerminkan totalitas penghambaan. Nabi Musa AS tidak menyebutkan secara spesifik apa yang ia butuhkan, apakah makanan, pekerjaan, atau pasangan hidup, melainkan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Makna "faqir" dalam doa tersebut bukan sekadar miskin secara materi, tetapi juga menunjukkan kebutuhan total manusia terhadap rahmat Allah SWT.
Hikmah Memahami Doa Nabi Musa dalam Surat Al-Qashash
1. Mengajarkan Keikhlasan dalam Berbuat Baik
Nabi Musa menolong kedua putri Nabi Syu'aib tanpa mengharapkan balasan. Ia tidak menyebutkan jasa atau meminta imbalan. Sikap ini mengajarkan bahwa amal kebaikan sejati adalah yang dilakukan semata-mata karena Allah, bukan karena pamrih atau harapan akan pujian manusia. Dalam Hasyiyah al-Sawi dijelaskan bahwa Nabi Musa bahkan enggan memenuhi undangan Nabi Syu'aib pada awalnya karena ia hanya ingin menghormati undangan tersebut, bukan karena mengharapkan imbalan.
2. Menumbuhkan Sikap Tawakal Setelah Ikhtiar
Nabi Musa terlebih dahulu berusaha menolong kedua perempuan itu dengan mengangkat batu dan memberi minum ternak. Setelah ikhtiar maksimal dilakukan, barulah ia berdoa dan bertawakal. Ayat ini mengajarkan bahwa doa bukanlah pengganti usaha, melainkan pelengkap dari usaha yang telah dilakukan. Sayyid Qutb menegaskan bahwa doa ini diucapkan setelah Nabi Musa menunaikan tugas kemanusiaannya dengan sempurna.
3. Menghidupkan Adab dalam Berdoa
Nabi Musa tidak meminta secara spesifik dalam doanya. Ia hanya mengakui kebutuhannya kepada Allah. Ini mengajarkan bahwa doa yang baik adalah doa yang disertai kerendahan hati dan pengakuan akan kebesaran Allah. Al-Sawi menyoroti bahwa kalimat "limā anzalta ilayya min khairin faqīr" mengandung pengakuan bahwa manusia adalah hamba yang faqir di hadapan Allah. Adab dalam berdoa menjadi cerminan kualitas iman seseorang.
4. Menyadari Bahwa Kebutuhan kepada Allah Bersifat Mutlak
Sekuat dan sehebat apa pun manusia, ia tetap membutuhkan pertolongan Allah. Nabi Musa yang mampu mengangkat batu besar sendirian tetap mengakui bahwa dirinya adalah hamba yang faqir di hadapan Allah. Kesadaran ini menjadi dasar dari sikap rendah hati dan tidak sombong. Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa Nabi Musa sangat membutuhkan kebaikan apa pun yang Allah berikan, seperti makanan, karena ia sudah didera rasa lapar.
5. Meyakini Bahwa Allah Memberi Kebaikan di Waktu yang Tepat
Setelah berdoa, Nabi Musa tidak langsung mendapatkan apa yang ia butuhkan. Namun, Allah kemudian memberinya kebaikan yang jauh lebih besar dari apa yang ia bayangkan: tempat tinggal, makanan, keluarga, dan bahkan tongkat yang kelak menjadi mukjizat. Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa Nabi Musa kemudian diundang, diberi pekerjaan, dan akhirnya dinikahkan dengan salah satu putri Nabi Syu'aib. Hikmah ini mengajarkan bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik pada waktu yang tepat.
Pertanyaan Seputar Doa Nabi Musa
1. Apa doa Nabi Musa di Madyan?
Doa Nabi Musa di Madyan adalah "Rabbi innī limā anzalta ilayya min khairin faqīr", yang artinya: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan (rezeki) yang Engkau turunkan kepadaku" (QS. Al-Qashash: 24).
2. Mengapa Nabi Musa berdoa di tempat yang teduh?
Nabi Musa berdoa di tempat yang teduh karena ia ingin beristirahat setelah menolong kedua putri Nabi Syu'aib. Saat itu ia dalam kondisi sangat lapar dan kelelahan setelah perjalanan panjang dari Mesir ke Madyan.
3. Apa hikmah dari doa Nabi Musa di Madyan?
Hikmahnya antara lain: mengajarkan keikhlasan dalam menolong, menumbuhkan tawakal setelah ikhtiar, menghidupkan adab dalam berdoa, menyadari kebutuhan mutlak kepada Allah, dan meyakini bahwa Allah memberi kebaikan di waktu yang tepat.
4. Apakah doa Nabi Musa bisa diamalkan untuk meminta jodoh?
Ya, sebagian umat Islam mengamalkan doa ini sebagai ikhtiar batin untuk memohon jodoh. Dalam buku Doa dalam Al-Qur'an dan Sunnah karya Quraish Shihab dijelaskan bahwa sebagian ulama menyebut doa Nabi Musa ini sebagai doa memohon jodoh. Namun, para ulama mengingatkan bahwa doa ini pada dasarnya adalah pengakuan akan kebutuhan kepada Allah, bukan sekadar permintaan spesifik.
5. Apa makna kata "faqīr" dalam doa Nabi Musa?
Kata faqīr dalam ayat ini berarti "sangat membutuhkan" atau "faqir" dalam arti membutuhkan pertolongan Allah. Nabi Musa mengakui bahwa dirinya tidak memiliki daya dan kekuatan tanpa pertolongan Allah. Makna "faqir" dalam doa tersebut bukan sekadar miskin secara materi, tetapi juga menunjukkan kebutuhan total manusia terhadap rahmat Allah SWT.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334946/original/033690300_1787906817-cek_fakta_bank_mandiri.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326673/original/065816300_1787032025-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-18T124607.387.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540003/original/047682600_1774673984-Klaim_nasaruddin_facebook.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350433/original/029287200_1789615728-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-17T102714.549.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4919191/original/040795900_1723718109-Ilustrasi_pasrah__berserah__berdoa.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3929526/original/096494900_1644470631-jesse-schoff-Ph2KtIqKs7c-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349154/original/070984700_1789475303-WhatsApp_Image_2026-09-15_at_7.23.17_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5349953/original/059135700_1757945389-Bapenas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346936/original/048560000_1789222746-WhatsApp_Image_2026-09-12_at_19.50.01.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5010796/original/017006400_1731931573-20241117_084948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3518881/original/000279300_1627027346-karbon_un.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346407/original/065215400_1789134579-WhatsApp_Image_2026-09-11_at_8.17.12_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343729/original/089297500_1788876170-ChatGPT_Image_8_Sep_2026__20.55.32.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345099/original/099922200_1789018436-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_8.12.08_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344539/original/028876300_1788949127-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_15.29.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1527841/original/075874300_1488787214-IMG_1488240797111.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343987/original/026376000_1788929980-toraja_2.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350912/original/089935600_1789634549-IMG-20260916-WA0034.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350835/original/047660500_1789632068-pengungkapan_ganja.jpg.2000x1333_q85_crop.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342749/original/081210300_1788799366-1000626696.jpg)