Liputan6.com, Jakarta - Surat Maryam ayat 4 secara eksplisit menggambarkan optimisme seorang hamba dalam berdoa kepada Allah SWT. Ayat ini merekam munajat Nabi Zakaria AS yang dengan santun mengadukan kelemahan fisiknya, namun tetap teguh memelihara harapan bahwa doanya tidak akan pernah sia-sia.
Kisah ini teladan umat Islam, bahwa kelemahan fisik dan keterbatasan manusiawi sama sekali tidak menjadi penghalang bagi terkabulnya doa, selama hamba tersebut memelihara keyakinan dan adab yang baik di hadapan Tuhannya. Dalam perspektif kontemporer, ayat ini mengandung pelajaran mendalam tentang adab berdoa.
Muhajirul Fadhli dan Syifa' binti Ahmad Fauzi dalam penelitiannya yang berjudul "Optimisme Nabi Zakaria dan Siti Maryam dalam Menghadapi Ujian menurut Al-Qur'an" menegaskan bahwa sifat optimisme dan tidak berputus asa pada nikmat Allah merupakan ciri-ciri orang yang beriman.
Advertisement
Setiap orang pasti menghadapi fase sulit dalam hidupnya, namun Al-Qur'an dihadirkan sebagai petunjuk untuk menjalani kehidupan dengan sikap optimis. Penelitian ini juga menyoroti bahwa Nabi Zakaria AS berdoa dengan suara yang lembut, mengadu kepada Allah tentang kelemahannya, namun sama sekali tidak merasa kecewa dan terus berdoa dengan penuh harapan.
Silvia Marina dkk dalam jurnal "Dari Mukjizat Maryam hingga Kelahiran Yahya: Tafsir Dzurriyyah Thayyibah dalam Doa Nabi Zakaria AS" mengungkapkan, doa Nabi Zakaria AS tidak hanya dimaknai sebagai permintaan keturunan biologis, melainkan sebagai visi profetik untuk mencetak generasi unggul secara spiritual, moral, dan intelektual.
Bacaan Surat Maryam Ayat 4 Lengkap
Arab: قَالَ رَبِّ اِنِّيْ وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّيْ وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَّلَمْ اَكُنْۢ بِدُعَاۤىِٕكَ رَبِّ شَقِيًّا ٤
Latin: Qāla rabbi innī wahanal-'aẓmu minnī wasyta'alar-ra'su syaibaw wa lam akum bidu'ā'ika rabbi syaqiyyā
Artinya: "Dia (Zakaria) berkata, 'Wahai Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah, kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku.'" (QS. Maryam/19: 4)
Doa Nabi Zakaria dari Ayat Tersebut
Doa yang dipanjatkan Nabi Zakaria AS dalam ayat ini dapat diamalkan sebagai berikut:
رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا
Latin: Rabbi innī wahanal-'aẓmu minnī wasyta'alar-ra'su syaiban wa lam akun bidu'ā'ika rabbi syaqiyyā
Artinya: "Wahai Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah, kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku."
Doa ini dapat dibaca oleh siapa pun yang sedang menghadapi kesulitan, terutama bagi pasangan yang mendambakan keturunan. Nabi Zakaria AS membaca doa ini dalam keadaan usia lanjut dan istrinya mandul, namun beliau tetap optimis bahwa Allah mampu memberikan karunia di luar batas kemampuan manusia.
Tafsir Surat Maryam Ayat 4
Dengan santun dan suara yang lembut, Nabi Zakaria AS berkata, "Ya Tuhanku Yang Maha Pengasih dan Maha Pemelihara, sungguh kini tulang belulangku telah menjadi lemah sehingga aku sering merasa letih, dan rambut kepalaku telah memutih seperti perak karena dipenuhi uban, pertanda bahwa aku telah berusia senja.
Namun, aku tidak pernah putus asa dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku. Engkau adalah Zat yang tidak pernah mengecewakan siapa pun."
Nabi Zakaria AS dalam doanya mengemukakan beberapa sebab yang ia yakini akan membuka rahmat karunia Allah. Pertama, beliau telah mencapai usia yang sangat tua, hampir sembilan puluh tahun, di mana tulang-tulangnya sudah lemah dan kelemahan kerangka badan itu mengakibatkan kelemahan menyeluruh dalam seluruh tubuhnya.
Seorang yang sudah tua seperti beliau sangat pantas untuk disayangi dan dikasihani. Kedua, di kepalanya sudah penuh dengan uban, sehingga siapa pun yang memandangnya pasti menaruh belas kasihan dan tergerak hatinya untuk memenuhi permohonannya. Ketiga, beliau selama ini belum pernah dikecewakan dalam berdoa kepada Allah sejak masih muda, apalagi sekarang di mana kelemahannya telah tampak secara keseluruhan.
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Nabi Zakaria AS menyebutkan kelemahan tulang dan uban di kepalanya sebagai bentuk pengaduan kepada Allah tentang keadaannya yang sudah sangat tua.
Beliau juga menyatakan "aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu" yang bermakna bahwa setiap doa yang beliau panjatkan selalu dikabulkan oleh Allah, dan kali ini beliau memohon agar Allah tidak mengecewakannya di masa mendatang.
Ahmad Mustafa Al-Maraghi dalam Tafsir Al-Maraghi menjelaskan bahwa Nabi Zakaria AS memohon terkabulnya doa dengan menyebutkan tiga hal: kelemahan tulang yang mengakibatkan kelemahan menyeluruh, uban yang memenuhi kepala sebagai tanda ketuaan, dan kenyataan bahwa beliau tidak pernah dikecewakan dalam berdoa. Ketiga hal ini menjadi perantara (tawasul) kepada Allah dalam memohon karunia-Nya.
Makna Mendalam dan Kandungan Surat Maryam Ayat 4
1. Pengakuan Kelemahan sebagai Adab Berdoa
Nabi Zakaria AS memulai doanya dengan mengakui kelemahan tulang dan uban di kepalanya. Ini bukanlah keluhan, melainkan bentuk tawasul (perantara) kepada Allah dengan menyebutkan keadaan diri yang penuh keterbatasan. Imam Al-Qurthubi menyebutkan bahwa Nabi Zakaria menyebutkan kelemahan dan kekurangan diri sendiri agar doanya untuk dikaruniai seorang anak laki-laki dapat dikabulkan. Pengakuan ini menunjukkan kerendahan hati seorang hamba di hadapan Tuhannya.
2. Optimisme yang Terpelihara Sepanjang Hidup
Frasa "وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا" (wa lam akum bidu'ā'ika rabbi syaqiyyā) mengandung makna bahwa Nabi Zakaria AS tidak pernah merasa kecewa atau sengsara dalam berdoa kepada Allah. Tafsir Jalalayn menjelaskan bahwa makna frasa ini adalah "aku belum pernah merasa dikecewakan di masa-masa lalu; maka janganlah Engkau kecewakan aku di masa mendatang". Ini menunjukkan konsistensi optimisme Nabi Zakaria AS sepanjang hidupnya.
3. Doa sebagai Ibadah yang Bernilai Tinggi
Ayat ini menegaskan bahwa doa bukan sekadar permintaan, melainkan bentuk ibadah yang penuh adab. Nabi Zakaria AS berdoa dengan suara lembut (nidā'an khafiyyā) sebagaimana disebutkan pada ayat sebelumnya, menunjukkan keikhlasan dan penghambaan yang tulus. Muhajirul Fadhli dan Syifa' binti Ahmad Fauzi menjelaskan bahwa menyembunyikan doa lebih menunjukkan keikhlasan, lebih jauh dari sifat ria, dan lebih dapat menyelamatkan diri dari cercaan orang banyak.
4. Keyakinan pada Kemahakuasaan Allah
Meskipun secara biologis mustahil bagi seseorang yang sudah sangat tua dan memiliki istri mandul untuk mendapatkan keturunan, Nabi Zakaria AS tetap berdoa dengan penuh keyakinan. Hal ini menunjukkan bahwa optimisme dalam Islam tidak didasarkan pada kemampuan manusia, melainkan pada kemahakuasaan Allah yang melampaui hukum sebab-akibat. Silvia Marina dkk menegaskan bahwa doa Nabi Zakaria AS lahir dari kesadaran spiritual bahwa Allah mampu melampaui hukum sebab-akibat.
5. Doa yang Berorientasi pada Masa Depan Umat
Nabi Zakaria AS tidak hanya memohon anak untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk melanjutkan perjuangan dakwah dan mewarisi tugas kenabian. Beliau khawatir terhadap mawali (ahli waris) sepeninggalnya, sebagaimana disebutkan pada ayat berikutnya. Ini menunjukkan bahwa doa yang dipanjatkan dengan visi kebaikan umat memiliki nilai yang lebih tinggi di sisi Allah.
Asbabun Nuzul Surat Maryam Ayat 4
Surat Maryam termasuk golongan surat Makkiyah yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad SAW. hijrah ke Madinah. Ayat 4 dari surat ini merupakan bagian dari kisah Nabi Zakaria AS yang diceritakan secara berurutan dalam surat Maryam ayat 1-11, surat Ali Imran ayat 37-41, dan surat Al-Anbiya' ayat 89-90.
Secara spesifik, tidak ditemukan sabab nuzul (sebab turunnya) yang khusus melatari penurunan ayat 4 ini. Namun, konteks penurunannya berkaitan erat dengan kisah Nabi Zakaria AS yang menyaksikan mukjizat Allah pada diri Maryam.
Setiap kali Nabi Zakaria masuk ke mihrab tempat Maryam beribadah, ia mendapati makanan di luar musim. Ketika ditanya, Maryam menjawab, "Itu dari Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan" (QS. Ali Imran/3: 37).
Peristiwa mukjizat Maryam ini menjadi pemantik spiritual bagi Nabi Zakaria AS Ia menyaksikan bukti nyata qudrah Allah yang memberi rezeki tanpa sebab yang lazim, sehingga menumbuhkan keyakinan bahwa memohon anak dalam kondisi biologis yang lemah bukanlah hal mustahil bagi Allah.
Konteks inilah yang melatarbelakangi doa Nabi Zakaria AS dalam ayat 4, di mana beliau memohon keturunan yang baik (dzurriyyah thayyibah) dari sisi Allah.
Hikmah Memahami Surat Maryam Ayat 4
1. Optimisme Tidak Mengenal Usia dan Keadaan
Nabi Zakaria AS berdoa dalam keadaan usia yang sangat lanjut dan istri yang mandul. Namun, beliau tidak menjadikan keadaan tersebut sebagai penghalang untuk berharap kepada Allah. Hikmahnya adalah bahwa optimisme dalam berdoa tidak boleh dibatasi oleh usia, kondisi fisik, atau keadaan sosial. Setiap hamba berhak berharap kepada Allah kapan pun dan dalam keadaan apa pun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan tidak ada yang mustahil bagi-Nya.
2. Adab Berdoa yang Baik Membuka Pintu Ijabah
Nabi Zakaria AS memulai doanya dengan memuji Allah, mengakui kelemahannya, dan menyebutkan nikmat Allah yang telah diberikan sebelumnya. Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa pengakuan kelemahan ini justru menjadi perantara terkabulnya doa. Hikmahnya adalah bahwa adab berdoa yang baik—dimulai dengan pujian, pengakuan dosa dan kelemahan, serta shalawat—merupakan kunci terbukanya pintu ijabah. Doa yang dipanjatkan dengan penuh kerendahan hati lebih mudah dikabulkan oleh Allah.
3. Doa adalah Ibadah, Bukan Sekadar Permintaan
Ayat ini mengajarkan bahwa doa memiliki nilai ibadah yang tinggi di sisi Allah. Nabi Zakaria AS berdoa dengan suara lembut dan penuh kekhusyukan, menunjukkan bahwa doa adalah bentuk penghambaan yang tulus. Hikmahnya adalah bahwa setiap doa yang dipanjatkan dengan ikhlas akan bernilai ibadah, bahkan jika belum dikabulkan sesuai keinginan kita. Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
4. Konsistensi dalam Berdoa adalah Kunci
Nabi Zakaria AS menyatakan bahwa beliau belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa beliau memiliki konsistensi luar biasa dalam berdoa sepanjang hidupnya. Hikmahnya adalah bahwa doa membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Jangan berhenti berdoa hanya karena belum melihat hasilnya. Allah memiliki waktu terbaik untuk mengabulkan setiap doa, dan setiap doa yang dipanjatkan dengan tulus pasti akan didengar.
5. Doa Seorang Hamba Dapat Mengubah Takdir
Kisah Nabi Zakaria AS membuktikan bahwa doa seorang hamba dapat mengubah keadaan yang tampaknya mustahil. Allah mengabulkan doa beliau dengan memberikan seorang anak laki-laki bernama Yahya, meskipun secara biologis hal itu tidak mungkin terjadi. Hikmahnya adalah bahwa doa memiliki kekuatan untuk mengubah takdir, selama dipanjatkan dengan penuh keyakinan dan disertai usaha yang maksimal. Allah adalah Zat yang tidak pernah mengecewakan hamba-Nya yang berdoa dengan tulus.
Pertanyaan Seputar Surat Maryam
1. Apa makna Surat Maryam ayat 4?
Surat Maryam ayat 4 berisi doa Nabi Zakaria AS yang mengadukan kelemahan fisiknya—tulang yang telah lemah dan kepala yang dipenuhi uban—kepada Allah, namun tetap menyatakan bahwa beliau tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Nya. Maknanya adalah tentang pentingnya optimisme dan adab yang baik dalam berdoa, serta keyakinan bahwa Allah tidak akan mengecewakan hamba-Nya yang berdoa dengan tulus.
2. Siapa Nabi Zakaria dalam Surat Maryam?
Nabi Zakaria AS adalah seorang nabi dari kaum Bani Israil yang menjadi wali dan pengasuh Maryam. Beliau adalah seorang yang saleh dan bertakwa, serta dikenal sebagai tukang kayu. Dalam Surat Maryam, beliau digambarkan sebagai sosok yang berdoa dengan penuh adab dan kerendahan hati, memohon keturunan yang baik dari sisi Allah meskipun usianya sudah sangat lanjut dan istrinya mandul.
3. Mengapa Nabi Zakaria berdoa meminta keturunan?
Nabi Zakaria AS berdoa meminta keturunan karena beliau khawatir terhadap mawali (ahli waris) sepeninggalnya. Beliau ingin memiliki anak yang dapat melanjutkan perjuangan dakwah, mewarisi tugas kenabian, serta memimpin Bani Israil dalam kebaikan. Selain itu, doa beliau juga dilatarbelakangi oleh mukjizat Maryam yang beliau saksikan sendiri, di mana Allah memberikan rezeki kepada Maryam tanpa perhitungan.
4. Apa pelajaran utama dari Surat Maryam ayat 4?
Pelajaran utama dari Surat Maryam ayat 4 adalah bahwa optimisme dalam berdoa tidak boleh dibatasi oleh usia, kondisi fisik, atau keadaan sosial. Nabi Zakaria AS mengajarkan bahwa setiap hamba harus berdoa dengan penuh keyakinan, adab yang baik, dan konsistensi, tanpa pernah merasa kecewa terhadap Allah. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan tidak ada yang mustahil bagi-Nya.
5. Bagaimana cara mengamalkan Surat Maryam ayat 4 dalam kehidupan sehari-hari?
Cara mengamalkan Surat Maryam ayat 4 adalah dengan menjadikan doa sebagai bagian penting dari kehidupan sehari-hari, memanjatkannya dengan penuh adab dan kerendahan hati, serta tidak pernah berputus asa meskipun doa belum dikabulkan. Selain itu, kita juga dapat membaca doa Nabi Zakaria AS ini sebagai amalan untuk memohon keturunan yang saleh, kesembuhan, atau terkabulnya hajat tertentu, dengan keyakinan penuh bahwa Allah akan mengabulkan doa hamba-Nya yang tulus.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292785/original/068110200_1783657736-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-10T112807.834.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343958/original/032352600_1788928394-HOAX__14_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350102/original/012008800_1789559335-Cek_fakta_-_ustaz_Abdul_Somad.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350031/original/038888200_1789552849-cek_fakta_-_Bank_BRI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3108176/original/099514400_1587459746-close-up-of-text-on-paper-318451__1_.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3929526/original/096494900_1644470631-jesse-schoff-Ph2KtIqKs7c-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349154/original/070984700_1789475303-WhatsApp_Image_2026-09-15_at_7.23.17_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5349953/original/059135700_1757945389-Bapenas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346936/original/048560000_1789222746-WhatsApp_Image_2026-09-12_at_19.50.01.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5010796/original/017006400_1731931573-20241117_084948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3518881/original/000279300_1627027346-karbon_un.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346407/original/065215400_1789134579-WhatsApp_Image_2026-09-11_at_8.17.12_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343729/original/089297500_1788876170-ChatGPT_Image_8_Sep_2026__20.55.32.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345099/original/099922200_1789018436-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_8.12.08_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344539/original/028876300_1788949127-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_15.29.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1527841/original/075874300_1488787214-IMG_1488240797111.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343987/original/026376000_1788929980-toraja_2.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350160/original/001698500_1789567400-1001673076.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350141/original/056340600_1789565200-1001673249.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350136/original/069393800_1789564959-IMG-20260916-WA0042.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350123/original/024163700_1789562922-IMG-20260916-WA0044.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350115/original/070173900_1789562098-1001651389.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349923/original/068532600_1789549651-Screenshot_20260916_150217_WhatsApp_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2264288/original/057351500_1530348374-20180630-Abu-Vulkank-Gunung-Agung-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350094/original/030608700_1789558536-1150002.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350099/original/029863100_1789558953-Screenshot_20260916_181349_WhatsApp_2.jpg)