Menilik Proses Perawatan Kurma Ajwa, Buah Favorit Nabi Muhammad

Perpaduan cita rasa manis yang lembut, sejarah panjang, serta nilai spiritual yang melekat membuat buah ini terus dicari jemaah haji dari seluruh dunia.

Diterbitkan 15 Juni 2026, 19:32 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di antara hamparan kebun kurma yang tumbuh subur di tanah suci Madinah, ada satu jenis kurma yang selalu memiliki tempat istimewa di hati umat Islam, yaitu kurma ajwa.

Buah berwarna gelap dengan cita rasa manis lembut ini tidak hanya masyhur karena kelezatannya, melainkan juga karena kisah sejarah panjang yang melekat erat dengan kehidupan Nabi Muhammad SAW.

Bagi jemaah haji maupun umrah yang menginjakkan kaki di Madinah, membawa pulang kurma ajwa kini sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari perjalanan spiritual mereka. Buah manis tersebut seolah membawa secuil cerita tentang kota tempat Rasulullah menghabiskan bagian penting dari kehidupan, perjuangan, serta dakwahnya.

"Kurma ajwa merupakan kesukaan Nabi. Kurma ini mudah dikenali dengan warna yang hitam, rasa manis, dan lembut,” kata Dr Abdulmoizz Shakeel, selaku Strategic Director of Castle Farm Dates, saat menerima kunjungan tim Media Center Haji (MCH) di salah satu perkebunan kurma di Madinah, Jumat (12/6/2026).

Di balik buahnya yang tampak sederhana, terdapat proses agrikultur yang panjang untuk bisa menghasilkan kurma ajwa dengan kualitas terbaik. Castle Farm Dates sendiri saat ini mengelola lahan seluas sekitar 60 hektare di Madinah, dengan mayoritas tanaman berupa kurma ajwa. Perawatan khusus wajib dilakukan secara konsisten agar buah yang dihasilkan memiliki ukuran serta kualitas yang optimal.

Abdulmoizz, yang merupakan pengelola perkebunan generasi ketiga, menjelaskan bahwa pohon kurma ajwa memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan jenis kurma lainnya. Pohon ini sebenarnya sudah mampu menghasilkan buah meski kondisi tumbuh fisiknya belum terlalu tinggi. Namun, untuk mendapatkan buah dengan klasifikasi premium, para petani harus memberikan perhatian ekstra sejak masa pertumbuhan awal hingga masa panen tiba.

“Perawatannya harus ekstra untuk menghasilkan buah terbaik. Jika ingin buahnya besar, harus sering dipetik. Kalau didiamkan saja sejak berbuah, buahnya akan kecil,” jelas Abdulmoizz membagikan rahasia budidayanya.

Bagi masyarakat Madinah, kurma ajwa jelas bukan sekadar komoditas hasil pertanian biasa. Buah ini menempati posisi khusus dalam tradisi luhur umat Islam karena disebut secara eksplisit dalam sejumlah riwayat sahih yang berkaitan langsung dengan aktivitas keseharian Rasulullah.

 

Buah Asli Madinah

Pembimbing Ibadah Daerah Kerja (Daker) Madinah, Lilik Musfiroh, mengonfirmasi keistimewaan tersebut yang membuat banyak umat Islam dunia menjadikannya sebagai bagian dari kebiasaan konsumsi harian.

Nilai luhur inilah yang kemudian melambungkan nama ajwa di pasar global.

“Rasul meriwayatkan barang siapa memakan tujuh buah kurma Ajwa di pagi hari, maka ia akan terhindar dari sihir maupun racun pada hari itu,” ujar Lilik menjelaskan khasiat spiritualnya.

Riwayat kuat tersebut membuat ajwa semakin mengakar sebagai kurma yang memiliki nilai sakral bagi umat Muslim. Namun di luar makna keagamaannya, buah ini merupakan bagian dari kekayaan pangan asli Madinah yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Setiap tandan kurma ajwa membawa gambaran tentang kehidupan masyarakat lokal yang sejak dahulu bergantung pada keberkahan tanah Madinah.

Maka tidak mengherankan jika ajwa kerap mendapatkan julukan sebagai “Raja Kurma.” Perpaduan sempurna antara rasa yang khas, nilai sejarah, serta khasiat spiritual membuat buah ini terus diburu jemaah penjuru dunia sebagai kenangan berharga sekaligus pengingat akan keberkahan tanah tempat buah itu tumbuh.