Sumur Ghars, Jejak Rasulullah di Madinah

Rasulullah pernah mengambil air, meminum, dan menggunakan air dari Sumur Ghars dalam kesehariannya.

Diterbitkan 15 Juni 2026, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Madinah - Di sudut Kota Madinah, Arab Saudi yang sarat dengan jejak sejarah Islam, berdiri sebuah sumur tua yang menyimpan cerita tentang kedekatan Rasulullah dengan kehidupan sehari-hari.

Namanya Sumur Ghars. Sebuah mata air sederhana yang selama berabad-abad menjadi pengingat tentang sosok Nabi Muhammad SAW yang menjalani kehidupan dengan penuh kesahajaan.

Bagi sebagian jemaah yang datang ke Madinah, langkah menuju Sumur Ghars bukan sekadar perjalanan menuju sebuah situs bersejarah. Di tempat itu, mereka mencoba menghadirkan kembali bayangan masa lalu, ketika Rasulullah Rasulullah pernah mengambil, meminum, dan menggunakan air dari sumur tersebut dalam keseharian.

Di hadapan sumur yang telah melewati perjalanan zaman itu, para peziarah menemukan ruang untuk merenung. Bukan tentang kemegahan sebuah bangunan, melainkan tentang jejak kecil seorang Nabi yang tetap dikenang umatnya hingga hari ini.

"Rasulullah SAW sangat sering berwudu dan minum dari air Sumur Ghars. Bahkan, beliau memberikan wasiat kepada Ali bin Abi Thalib agar ketika beliau wafat, air dari sumur tersebut digunakan untuk memandikan jasadnya," ujar seorang pembimbing ibadah Ibrohim Fadlannul Haq di Madinah, Jumat 12 Juni 2026.

 

Tidak Termasuk Anjuran Ibadah

Menurut Ibrohim, Sumur Ghars memiliki hubungan yang begitu dekat dengan Rasulullah. Sumur tersebut disebut pertama kali digali oleh Malik bin Nahhat, seorang penduduk Madinah yang merupakan ayah dari sahabat Nabi, Sa’ad bin Khaitsamah.

Kedekatan Rasulullah dengan sumur itu tergambar dalam sebuah riwayat yang menyebut adanya pesan khusus beliau kepada Ali bin Abi Thalib.

"Ya Ali, apabila aku meninggal dunia, maka mandikanlah jasadku dengan air dari sumurku. Sumur apa itu? Yaitu Sumur Ghars," tutur Ibrohim saat mengisahkan kembali pesan Rasulullah tersebut.

Namun, para ulama mengingatkan, Sumur Ghars tidak termasuk tempat yang memiliki anjuran ibadah khusus dalam syariat. Tidak terdapat dalil yang menetapkan keutamaan tertentu bagi orang yang secara khusus berziarah ke lokasi tersebut.

"Tempat-tempat yang memiliki anjuran khusus untuk dikunjungi di Madinah adalah Masjid Nabawi, Masjid Quba, Pemakaman Baqi, serta kawasan para syuhada Uhud," ucap Ibrohim.

 

Ziarah Sejarah

Karena itu, lanjut Ibrohim, kunjungan ke Sumur Ghars lebih tepat dipahami sebagai ziarah sejarah. Para jemaah datang untuk mengenang perjalanan hidup Rasulullah, memahami perjuangan, sekaligus mengambil pelajaran dari kesederhanaan yang menjadi bagian dari dakwah Islam.

"Jemaah datang ke sini sebagai bentuk mengenang sejarah Rasulullah. Ini merupakan ziyaarah taariikhiyyah, yaitu ziarah untuk mengambil pelajaran dari kehidupan beliau," kata dia.

Bagi jemaah yang berdiri di dekat Sumur Ghars, pengalaman itu menghadirkan perasaan yang sulit diterjemahkan. Air yang pernah digunakan Rasulullah menjadi pengingat bahwa kemuliaan tidak selalu hadir dalam sesuatu yang besar. Terkadang, itu tersimpan dalam jejak sederhana yang diwariskan oleh manusia paling mulia.

Sumur itu mungkin hanya berupa lubang mata air yang bertahan melintasi zaman. Namun bagi mereka yang mencintai Rasulullah, setiap tempat yang pernah bersentuhan dengan kehidupan beliau membawa cerita yang lebih dalam dari sekadar sejarah.

Di sanalah perjalanan menuju Sumur Ghars menemukan maknanya. Bukan hanya tentang melihat peninggalan masa lalu, tetapi tentang merawat kerinduan kepada Rasulullah, mengenang keteladanan beliau, dan membawa pulang pesan tentang kesederhanaan yang abadi.