Liputan6.com, Jakarta - Ayat al-Qur'an tentang cara mengingat Allah dan bersyukur penting dipahami umat Islam mengingat keduanya menempati posisi sentral dalam bangunan spiritual Islam dan beririsan. Di antaranya terdapat dalam QS. Al-Baqarah [2]: 152.
"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku."
Ayat ini secara eksplisit menggandengkan perintah zikir dengan perintah syukur, sebuah kombinasi yang oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya' 'Ulum ad-Din dinilai menunjukkan kedudukan yang sangat penting dalam ajaran Islam.
Advertisement
Dimensi syukur dalam Al-Qur'an tidaklah tunggal. A. Malik Madany dalam jurnal Az-Zarqa' menegaskan bahwa syukur disebut beriringan dengan zikir dan ibadah kepada Allah, menjadikannya sebagai fondasi utama kehidupan seorang hamba.
Amelia Dewi dan Munirah dalam penelitiannya yang berjudul Konsep Syukur dalam Al-Qur'an (Studi QS. Ibrahim [14]: 7 dengan Pendekatan Ma'na Cum Maghza), menjelaskan bahwa syukur memiliki beragam makna dan pesan, sehingga memerlukan pendekatan yang mampu menggali makna historis sekaligus signifikansi dinamisnya bagi konteks kekinian.
Pendekatan ma'na cum maghza yang digagas Shahiron Syamsuddin menawarkan kerangka analisis tiga lapis: makna historis (al-ma'na al-tarikhi), signifikansi historis (al-maghza al-tarikhi), dan signifikansi fenomenal dinamis (al-maghza al-fenomenal al-dinamis). Hal ini mencakup perbuatan hati, lisan dan anggota tubuh.
Artikel ini akan mengulas ayat-ayat tentang zikir dan syukur, tafsir ulama klasik dan kontemporer, serta merumuskan pesan dan hikmah yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan modern.
Ayat-Ayat Kunci tentang Zikir dan Syukur
1. QS. Al-Baqarah [2]: 152 — Perintah Zikir dan Syukur
Teks Arab: فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ
Latin: Fadzkurūnī adzkurkum wasykurū lī wa lā takfurūn
Artinya: "Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah [2]: 152)
Tafsir Jalalain menjelaskan bahwa perintah "ingatlah kepada-Ku" berarti mengingat Allah melalui salat, tasbih, dan berbagai bentuk ibadah lainnya, sedangkan janji "Aku ingat pula kepadamu" bermakna Allah akan membalas amal tersebut.
Syekh Nawawi al-Bantani dalam Marah Labid menambahkan bahwa mengingat Allah dapat dilakukan dengan lisan (melafalkan pujian), dengan hati (merenungkan kekuasaan dan kebijaksanaan Allah), dan dengan fisik (menaati perintah-Nya). Tafsir Kemenag menegaskan bahwa balasan zikir adalah Allah akan mengingat hamba-Nya dengan melimpahkan pahala, pertolongan, dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
A. Malik Madany mengutip Imam al-Ghazali yang menegaskan bahwa perintah bersyukur yang digandengkan dengan perintah berzikir menunjukkan kedudukan yang sangat penting. Dalam Ihya' 'Ulum ad-Din, al-Ghazali menguraikan bahwa syukur mencakup ilmu (pengetahuan tentang nikmat), hal (rasa gembira atas pemberian nikmat), dan amal (menggunakan nikmat sesuai tujuan penciptaannya).
2. QS. Ibrahim [14]: 7 — Janji Pertambahan Nikmat bagi yang Bersyukur
Teks Arab: وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Latin: Wa idz ta'adzdzana rabbukum la'in syakartum la'azīdannakum wa la'in kafartum inna 'adzābī lasyadīd
Artinya: "(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.'" (QS. Ibrahim [14]: 7)
Dalam Tafsir Tahlili Kementerian Agama, ayat ini dijelaskan sebagai peringatan Allah kepada hamba-Nya untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah dilimpahkan-Nya. Jika mereka melaksanakannya, maka nikmat itu akan ditambah lagi oleh-Nya.
Sebaliknya, Allah juga mengingatkan kepada mereka yang mengingkari nikmat-Nya bahwa Dia akan menimpakan azab yang sangat pedih. Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini terkait dengan Nabi Musa AS dan kaum Bani Israel, di mana Nabi Musa mengimbau kaumnya agar mensyukuri nikmat Allah sehingga Dia akan menambahkan nikmat-Nya.
Amelia Dewi dan Munirah dalam penelitiannya dengan pendekatan ma'na cum maghza menyimpulkan bahwa pesan utama (maghza al-ayah) ayat ini adalah bahwa bersyukur yang lebih kontekstual memiliki dimensi kemanfaatan dan kemaslahatan sosial yang luas.
Kontekstualisasi syukur membuat seseorang berusaha konsisten dalam mengamalkannya di dunia nyata sekaligus dunia maya, dan disadari bahwa syukur merupakan proses dinamis yang tidak pernah ada ujung usainya (never ending process). Semakin banyak bersyukur, semakin berlipat ganda kebahagiaan yang dirasakan.
3. QS. Ali Imran [3]: 191 — Zikir dalam Setiap Keadaan
Teks Arab: الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ
Latin: Alladzīna yadzkurūnallāha qiyāman wa qu'ūdan wa 'alā junūbihim
Artinya: "(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring." (QS. Ali Imran [3]: 191)
Ayat ini menggambarkan bahwa zikir tidak terbatas pada waktu atau posisi tertentu. Seorang mukmin yang sejati senantiasa mengingat Allah dalam segala keadaan—saat berdiri, duduk, maupun berbaring. Ini menunjukkan bahwa zikir adalah aktivitas yang menyatu dengan seluruh denyut kehidupan, bukan sekadar ritual formal di waktu-waktu tertentu.
4. QS. An-Nahl [16]: 18 — Nikmat Allah yang Tak Terhitung
Teks Arab: وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Latin: Wa in ta'uddū ni'matallāhi lā tuhshūhā, innallāha laghafūrur rahīm
Artinya: "Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nahl [16]: 18)
Ayat ini menegaskan bahwa nikmat Allah kepada manusia begitu melimpah dan tak terbatas, sehingga tidak mungkin bagi manusia untuk menghitungnya satu per satu. Kesadaran akan hal ini seharusnya melahirkan rasa syukur yang mendalam.
Al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulum ad-Din menjelaskan bahwa kebodohan dan kelalaian merupakan penyebab pokok yang menghambat manusia untuk bersyukur—manusia tidak mampu mengenali nikmat karunia Allah, padahal syukur atas nikmat tidak mungkin terwujud kecuali setelah orang mengenali nikmat itu.
5. QS. Saba' [34]: 13 — Sedikitnya Hamba yang Bersyukur
Teks Arab: وَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ
Latin: Wa qalīlum min 'ibādiyasy-syakūr
Artinya: "Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih." (QS. Saba' [34]: 13)
Menurut ar-Ragib al-Isfahani, ayat ini mengandung peringatan bahwa memenuhi secara sempurna kewajiban bersyukur kepada Allah sangatlah sulit. Oleh karenanya, tidak mengherankan bila hanya ada dua hamba Allah yang mendapat pujian lantaran syukur yang telah ditunjukkannya, yakni Nabi Ibrahim AS dan Nabi Nuh AS.
Ini menunjukkan bahwa syukur dalam bentuknya yang sempurna memerlukan pertolongan Allah, sebagaimana diajarkan dalam doa Nabi: "Ya Allah, bantulah kami untuk dapat mengingat-Mu, bersyukur atas nikmat-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu" (Riwayat al-Hakim dari Abu Hurairah).
Pesan Mendalam Ayat Al-Qur'an tentang Cara Mengingat Allah dan Bersyukur
1. Zikir adalah Pondasi, Syukur adalah Buahnya
Ayat Al-Baqarah 152 menempatkan zikir sebagai perintah pertama, diikuti dengan syukur. Ini mengisyaratkan bahwa mengingat Allah adalah pintu masuk menuju kesadaran akan nikmat-nikmat-Nya. Sebagaimana ditegaskan dalam salah satu sumber, "Dzikir adalah puncaknya syukur, oleh karena itulah Allah memerintahkannya secara khusus, kemudian setelah itu Allah memerintahkannya secara umum". Tanpa zikir, seseorang akan lupa kepada Pemberi Nikmat, dan tanpa kesadaran akan Pemberi, syukur menjadi mustahil.
2. Syukur Mencakup Hati, Lisan, dan Perbuatan
A. Malik Madany menegaskan bahwa syukur dalam pengertiannya yang komprehensif mencakup perbuatan hati, lisan, dan anggota-anggota tubuh yang lain. Sayangnya, banyak orang hanya terpaku pada syukur dengan lisan. Ar-Ragib al-Isfahani dalam Mu'jam Mufradat Alfaz al-Qur'an merumuskan syukur sebagai "tasawwur an-ni'mah wa izharuha" — menggambarkan nikmat dan menampakkannya—yang merupakan lawan dari kufur yang berarti melupakan nikmat dan menutupinya. Syukur dengan hati berupa penggambaran nikmat, syukur dengan lisan berupa pujian kepada Sang Pemberi nikmat, dan syukur dengan anggota tubuh berupa mengimbangi nikmat itu menurut kadar kepantasannya.
3. Janji Pertambahan Nikmat adalah Hukum Kausalitas Ilahiah
QS. Ibrahim [14]: 7 menegaskan hubungan kausal antara syukur dan pertambahan nikmat. Al-Maraghi dalam Tafsir al-Maraghi menganalogikan syukur seperti melatih anggota tubuh: "Bila anggota tubuh dilatih terus menerus untuk bekerja dan berbuat, maka dapat dipastikan akan bertambah kuat dan sehat. Tetapi apabila diberhentikan, maka akan melemahkan ia dan berkuranglah tenaganya". Barangsiapa bersyukur atas nikmat kesehatan, maka Allah akan menambah kesehatannya; barangsiapa bersyukur atas rezeki, maka Allah akan melapangkan rezekinya.
4. Syukur adalah Ibadah Tertinggi yang Bebas Pamrih
A. Malik Madany mengutip perkataan Ali bin Abi Thalib RA tentang tiga golongan orang beribadah: golongan yang beribadah karena mengharap sesuatu (ibadahnya para saudagar), golongan yang beribadah karena takut (ibadahnya para hamba sahaya), dan golongan yang beribadah karena syukur (ibadahnya orang-orang merdeka). Ibadah yang dilandasi syukur dapat terjamin kelestariannya karena bebas dari pamrih—manakala keinginan tercapai atau takut hilang, ibadah golongan pertama dan kedua bisa surut, sedangkan ibadah karena syukur tidak mengenal pasang surut.
5. Kufur Nikmat adalah Kebodohan yang Berujung Azab
Ayat Ibrahim 7 menutup dengan ancaman yang tegas: "Jika kamu mengingkari, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." Al-Qur'an menceritakan azab yang menimpa kaum Saba' di dunia sebagai contoh nyata: mereka diberi dua kebun yang subur, namun mereka berpaling, maka Allah menggantinya dengan kebun yang berbuah pahit. Al-Ghazali dalam Ihya' bahkan mencontohkan orang yang mematahkan ranting pohon secara iseng sebagai bentuk kekufuran terhadap nikmat, karena pohon diciptakan untuk berkembang, bukan untuk dirusak.
Hikmah Memahami Ayat Al-Qur'an tentang Cara Mengingat Allah dan Bersyukur
1. Ketenangan Jiwa dan Kesehatan Mental
Zikir dan syukur memiliki efek langsung terhadap kesehatan psikologis. Penelitian yang dikutip Amelia Dewi dan Munirah menunjukkan bahwa di Indonesia, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, dari 181 orang yang menghadiri Layanan Kesehatan Jiwa Bergerak, sekitar 49% mengalami masalah kesehatan jiwa, dan lebih dari 90% kunjungan pasien ke dokter disebabkan oleh masalah kesehatan yang sebagiannya dipengaruhi oleh stres.
Syukur menunjukkan korelasi positif yang signifikan dengan kualitas hidup; semakin seseorang mampu bersyukur, semakin meningkat kualitas hidupnya. Imam Asy-Syaukānī dalam Tafsir Fatḥ al-Qadīr menjelaskan bahwa ketenangan jiwa dapat diperoleh dengan cara mengingat Allah melalui lisan, seperti membaca Al-Qur'an dan tasbih.
2. Pertambahan Nikmat di Dunia dan Akhirat
Hikmah paling eksplisit dari QS. Ibrahim 7 adalah janji Allah untuk menambah nikmat bagi hamba yang bersyukur. Rasyid Rida dalam Tafsir al-Manar menegaskan bahwa Allah telah menjanjikan kepada orang yang bersyukur atas nikmat-Nya untuk diberi tambahan nikmat, dan penambahan nikmat bagi orang tersebut oleh Allah disebut sebagai syukur. Tambahan nikmat ini tidak terbatas pada akhirat saja—sebagaimana pendapat sebagian mufasir—melainkan berlaku umum, di dunia dan di akhirat.
3. Terbentuknya Kepribadian yang Lebih Baik dan Empatik
Syukur secara sosial dapat dimaknai dengan berbagi, memberi kemudahan, atau pertolongan kepada sesama manusia, sehingga membuat orang yang bersyukur semakin peduli dan peka atas masalah sosial yang ada.
Dalam penelitian ilmiah modern, perilaku syukur terbukti mampu meningkatkan sikap empatik seseorang ketika berinteraksi dengan lingkungan sosial dan berbaur dengan masyarakat secara keseluruhan. Orang yang bersyukur juga lebih mampu menjaga lisan—syukur atas nikmat kedua mata berarti menutupi setiap aib yang kita lihat pada seseorang, dan syukur atas nikmat kedua telinga berarti menutupi setiap aib yang kita dengar.
4. Ibadah yang Lestari dan Berkesinambungan
Hikmah lain dari syukur sebagai motivasi ibadah adalah kelestarian dan kesinambungannya. Berbeda dengan motivasi menginginkan sesuatu atau takut akan sesuatu—yang bisa surut manakala keinginan tercapai atau takut hilang—motivasi syukur memungkinkan pelaku ibadah untuk beribadah secara lestari karena nikmat yang harus disyukuri memang tak pernah habis.
Rasulullah SAW bersabda: "Amal yang paling dicintai Allah ialah amal yang paling ajek berkesinambungan, kendatipun sedikit" (Muttafaq 'alaih dari 'Aisyah). Inilah rahasia mengapa Rasulullah SAW tetap rajin beribadah hingga kakinya bengkak, meskipun telah dijamin pengampunan—beliau menjawab: "Apakah tidak seharusnya saya menjadi hamba yang bersyukur?"
5. Terhindar dari Azab dan Bencana
Hikmah kelima adalah perlindungan dari azab, baik di dunia maupun di akhirat. Al-Qur'an menceritakan bagaimana kaum Saba' yang mengingkari nikmat Allah ditimpa banjir besar dan kebun-kebun mereka diganti dengan tanaman yang berbuah pahit.
Yusuf al-Qaradawi dalam Ri'ayah al-Bi'ah fi Syari'ah al-Islam menyatakan: "Di antara penyebab rusaknya lingkungan hidup atau munculnya kerusakan di darat dan di laut adalah kekufuran terhadap nikmat karunia Allah". Ini menunjukkan bahwa kufur nikmat bukan hanya berdampak spiritual, tetapi juga memiliki konsekuensi ekologis dan sosial yang nyata.
Pertanyaan Seputar Ayat Al Quran
1. Apa saja ayat Al-Qur'an yang memerintahkan untuk mengingat Allah dan bersyukur?
Ayat-ayat utama yang memerintahkan zikir dan syukur antara lain: QS. Al-Baqarah [2]: 152 ("Ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku"), QS. Ibrahim [14]: 7 ("Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu"), QS. Ali Imran [3]: 191 (zikir dalam keadaan berdiri, duduk, atau berbaring), QS. An-Nahl [16]: 18 (nikmat Allah yang tak terhitung), dan QS. Saba' [34]: 13 ("Sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih").
2. Bagaimana cara mengingat Allah menurut Al-Qur'an?
Al-Qur'an mengajarkan bahwa mengingat Allah dapat dilakukan melalui tiga dimensi: lisan (melafalkan pujian, tasbih, tahmid, membaca Al-Qur'an), hati (merenungkan kekuasaan dan kebijaksanaan Allah, memperhatikan hikmah ciptaan-Nya), dan fisik (menaati perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta menggunakan nikmat untuk tujuan yang diridai). Zikir tidak terbatas pada waktu dan tempat tertentu—QS. Ali Imran 191 menegaskan bahwa orang beriman mengingat Allah dalam segala keadaan.
3. Apa perbedaan antara syukur dan kufur dalam Al-Qur'an?
Syukur dan kufur merupakan dua kutub yang berlawanan. Ar-Ragib al-Isfahani mendefinisikan syukur sebagai "tasawwur an-ni'mah wa izharuha" (menggambarkan nikmat dan menampakkannya), sedangkan kufur adalah "nis-yan an-ni'mah wa satruha" (melupakan nikmat dan menutupinya). Dalam QS. Ibrahim 7, syukur berbuah pertambahan nikmat, sedangkan kufur berbuah azab yang pedih. Imam al-Ghazali bahkan menganggap orang yang menyia-nyiakan nikmat Allah—meskipun tidak menggunakannya untuk maksiat—telah terjerumus dalam kufur nikmat.
4. Apa hikmah terbesar dari bersyukur kepada Allah?
Hikmah terbesar syukur adalah tercapainya kebahagiaan sejati (authentic happiness) dan kesuksesan hidup. Amelia Dewi dan Munirah menyimpulkan bahwa pemahaman konsep syukur secara lebih praktis dan bermakna memiliki sumbangan yang besar terhadap sukses dan bahagianya seseorang. Syukur merupakan proses dinamis yang tidak pernah ada ujung usainya (never ending process) — semakin banyak bersyukur, semakin berlipat ganda kebahagiaan yang dirasakan. Di samping itu, syukur juga menjamin kelestarian ibadah karena bebas dari pamrih, serta melindungi dari azab di dunia dan akhirat.
5. Bagaimana cara melatih diri untuk selalu bersyukur?
Al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulum ad-Din menawarkan solusi praktis: bagi orang-orang yang tajam mata hatinya, direkomendasikan untuk senantiasa merenungkan berbagai macam nikmat Allah yang bersifat umum. Adapun bagi orang-orang yang hatinya dungu, cara penyadarannya adalah dengan senantiasa memperhatikan keadaan orang yang secara fisik materiil berada di bawahnya, serta mendatangi rumah sakit, kuburan, dan lokasi-lokasi tempat para terpidana menjalani eksekusi. Nabi SAW juga bersabda: "Pandanglah orang yang lebih rendah daripada kamu, dan janganlah kamu memandang kepada orang yang lebih tinggi daripada kamu. Hal itu akan lebih layak untuk membuatmu tidak menyepelekan nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepadamu" (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah).
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9348140/original/088888500_1789384002-SKW_0794.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328649/original/001837900_1787203589-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-20T122532.000.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358245/original/052346800_1790327542-HOAX__24_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5507305/original/081482200_1771489245-7.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358415/original/056465700_1790339608-IMG_2927.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358530/original/092817600_1790359243-WhatsApp_Image_2026-09-25_at_9.24.59_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357654/original/010090000_1790271446-1000443129.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356800/original/077671500_1790221190-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.33.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332646/original/012342700_1787713788-e321c65d-e224-4b30-b5f9-c7dc77968345.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3940632/original/006857000_1645419592-caterpillar_6020b_equipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355283/original/019472000_1790097211-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_00.04.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346285/original/094214300_1789120119-file_0000000047f882308af83e40b22f096a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355613/original/081536200_1790137907-fifa_asean_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331142/original/051833700_1787488902-Zara_menang_di_FFB_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3133009/original/069410900_1589908304-3482876.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358727/original/038444600_1790406860-033A9336.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318070/original/021580700_1786085906-kim_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358840/original/007881200_1790417975-IMG_20260925_143806.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8627020/original/000666700_1782622344-aoun-abbas-97o4XH0htUs-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358837/original/088999800_1790416714-IMG_20260926_053104.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8627023/original/022700000_1782622344-masjid-pogung-dalangan-GGtHPUYx6oI-unsplash.jpg)