Liputan6.com, Jakarta - Dalam khazanah Islam, membaca surat Taha ayat 25-28 sebelum memulai aktivitas telah menjadi tradisi yang mengakar di pesantren dan komunitas muslim. Doa ini diyakini mustajab karena merupakan doa seorang nabi dan diabadikan dalam Al-Qur’an.
Diriwayatkan, doa ini merupakan permohonan yang dipanjatkan oleh Nabi Musa AS ketika menghadapi tugas berat menyampaikan risalah kepada Fir'aun.
Dalam jurnal Tradisi Pembacaan Doa Kandungan Surat Taha Ayat 25-28 Sebelum Belajar oleh Fauzi Fathur Rosi dan Adrian Maulana, doa ini diajarkan oleh Allah kepada Nabi Musa untuk memohon kelapangan dada, kemudahan urusan, serta kefasihan berbicara. Doa ini diyakini memiliki kekuatan spiritual untuk menciptakan ketenangan batin dan kesiapan mental dalam menuntut ilmu.
Advertisement
Kajian terhadap praktik pembacaan surat Taha ayat 25-28 ini masuk dalam ranah Living Qur'an, yaitu studi yang menyoroti bagaimana teks suci Al-Qur'an dihidupkan dan diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari komunitas Muslim. Di Ma'had Tahfidh Al-Qur'an Al-Amien Prenduan Sumenep Madura, tradisi ini telah berlangsung lama, bahkan sebelum lembaga pendidikan formal tersebut berdiri.
Para kiai dan ustadz mengajarkan pembacaan doa ini sebagai warisan spiritual yang berharga, diyakini mampu membuka pintu keberkahan dan mempermudah proses penyerapan ilmu bagi para santri.
Doa Nabi Musa ini memiliki posisi istimewa dalam tradisi keilmuan Islam. Kitab-kitab klasik seperti Ta'limul Muta'allim dan Ihya Ulumuddin menekankan pentingnya berdoa sebelum belajar agar ilmu yang diperoleh menjadi berkah dan bermanfaat. Para ulama mengajarkan bahwa ilmu yang bermanfaat bukan hanya yang dipahami secara intelektual, tetapi juga yang membawa kebaikan dalam kehidupan.
Bacaan Lengkap Surat Taha Ayat 25-28
Berikut adalah bacaan lengkap surat Taha ayat 25-28 dalam tulisan Arab, latin, beserta Artinyanya:
قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي ﴿٢٥﴾ وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي ﴿٢٦﴾ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي ﴿٢٧﴾ يَفْقَهُوا قَوْلِي ﴿٢٨
Latin: Qaala, Rabbi isyrah lii shadrii, wa yassir lii amrii, wahlul 'uqdatam mil lisaanii, yafqahuu qaulii
Artinya: "Berkata Musa: 'Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku. Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku. Supaya mereka mengerti perkataanku”.
Doa Nabi Musa
Arab: رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي ﴿٢٥﴾ وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي ﴿٢٦﴾ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي ﴿٢٧﴾ يَفْقَهُوا قَوْلِي ﴿٢٨﴾
Latin: Rabbi isyrah lii shadrii, wa yassir lii amrii, wahlul 'uqdatam mil lisaanii, yafqahuu qaulii
Artinya: "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku."
Doa Nabi Musa AS yang Lengkap
Dalam riwayat yang lebih lengkap, doa Nabi Musa AS ini mencakup beberapa permohonan yang saling berkaitan, sebagaimana tercantum dalam surat Taha ayat 25-35. Berikut adalah doa lengkapnya:
Arab: قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي ﴿٢٥﴾ وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي ﴿٢٦﴾ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي ﴿٢٧﴾ يَفْقَهُوا قَوْلِي ﴿٢٨﴾ وَاجْعَلْ لِي وَزِيرًا مِنْ أَهْلِي ﴿٢٩﴾ هَارُونَ أَخِي ﴿٣٠﴾ اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي ﴿٣١﴾ وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي ﴿٣٢﴾ كَيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيرًا ﴿٣٣﴾ وَنَذْكُرَكَ كَثِيرًا ﴿٣٤﴾ إِنَّكَ كُنْتَ بِنَا بَصِيرًا ﴿٣٥﴾
Artinya: "Berkata Musa: 'Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku. Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku. Supaya mereka mengerti perkataanku. Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku. (yaitu) Harun, saudaraku. Teguhkanlah dengan dia kekuatanku. Dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku. Supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau. Dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami.'"
Kandungan Mendalam Surat Taha Ayat 25-28
Surat Taha ayat 25-28 mengandung makna yang sangat dalam dan mencakup berbagai dimensi spiritual serta psikologis. Berikut adalah penjelasan rinci mengenai kandungan ayat-ayat tersebut:
1. Permohonan Kelapangan Dada (Rabbi Isyrah Lii Shadrii)
Permohonan pertama Nabi Musa adalah kelapangan dada. Dalam perspektif tafsir, syarh al-sadr bukan sekadar lapangnya hati secara fisik, melainkan mencakup kelapangan jiwa, ketenangan batin, dan kemampuan untuk menerima beban tanggung jawab yang berat dengan lapang dada.
Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa permohonan ini menggambarkan kesadaran Nabi Musa akan keterbatasan dirinya dalam mengemban tugas kenabian, sehingga ia memohon kekuatan spiritual dari Allah. Kelapangan dada adalah fondasi utama dalam menghadapi segala tantangan, karena tanpa ketenangan batin, seseorang akan mudah goyah dan kehilangan fokus.
2. Permohonan Kemudahan Urusan (Wa Yassir Lii Amrii)
Permohonan kedua adalah kemudahan dalam segala urusan. Kata yassir berasal dari akar kata yusr yang berarti kemudahan. Nabi Musa menyadari bahwa tugas yang diembannya sangat berat, namun ia yakin bahwa dengan pertolongan Allah, segala kesulitan akan menjadi mudah.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa permohonan ini mencakup kemudahan dalam menyampaikan risalah, menghadapi tantangan, serta mengatasi segala rintangan yang menghadang. Dalam konteks pendidikan, doa ini menjadi sarana untuk memohon kemudahan dalam memahami pelajaran, menyelesaikan tugas, dan menghadapi ujian.
3. Permohonan Kefasihan Berbicara (Wahlul 'Uqdatam Mil Lisaanii)
Permohonan ketiga adalah melepaskan kekakuan dari lidah. Nabi Musa AS dikenal memiliki kekakuan dalam berbicara, sehingga ia memohon kepada Allah agar diberi kemampuan untuk menyampaikan pesan dengan jelas dan fasih.
Ayat ini mengajarkan pentingnya komunikasi yang efektif, terutama dalam menyampaikan kebenaran. Dalam konteks pembelajaran, kemampuan berbicara yang baik sangat diperlukan, baik bagi guru dalam menyampaikan materi maupun bagi siswa dalam mengungkapkan pemahaman mereka.
4. Tujuan Akhir: Pemahaman yang Baik (Yafqahuu Qaulii)
Permohonan terakhir adalah agar orang lain dapat memahami perkataannya. Ini menunjukkan bahwa tujuan dari segala permohonan sebelumnya adalah agar pesan yang disampaikan dapat diterima dan dipahami dengan baik oleh audiens.
Dalam konteks pendidikan, ayat ini mengajarkan bahwa proses belajar-mengajar bukan hanya tentang menyampaikan informasi, tetapi juga memastikan bahwa informasi tersebut benar-benar dipahami oleh peserta didik.
Praktik Harian Doa Surat Taha Ayat 25-28
Doa Nabi Musa ini memiliki aplikasi yang sangat luas dalam kehidupan sehari-hari. Berikut adalah beberapa contoh penerapannya:
1. Sebelum Belajar dan Mengajar
Sebagaimana tradisi di Ma'had Tahfidh Al-Qur'an Al-Amien Prenduan, doa ini dibaca sebelum memulai pelajaran, baik di kelas maupun dalam kegiatan muwajjah (belajar malam). Pembacaan dilakukan secara bersama-sama, dipimpin oleh ustadz atau wali kelas. Para santri merasakan ketenangan dan peningkatan konsentrasi setelah membaca doa ini.
2. Menghadapi Ujian
Doa ini juga diajarkan untuk digunakan ketika menghadapi ujian. Dengan membaca doa ini, seseorang memohon kelapangan dada, kemudahan dalam menjawab soal, dan kemampuan untuk mengungkapkan jawaban dengan baik. Ustadz sering menjelaskan bahwa doa ini dapat diaplikasikan dalam berbagai situasi kehidupan, termasuk menghadapi ujian sekolah atau ujian hidup.
3. Berbicara di Depan Umum
Bagi mereka yang sering tampil di depan publik, doa ini menjadi sarana untuk memohon kefasihan berbicara dan kemampuan menyampaikan gagasan dengan jelas. Permohonan wahlul 'uqdatam mil lisaanii sangat relevan bagi pembicara, guru, dai, atau siapa saja yang perlu berkomunikasi secara efektif.
4. Memohon Ketenangan dan Kejelasan Berpikir
Dalam situasi yang membutuhkan ketenangan dan kejelasan berpikir, doa ini dapat menjadi sarana spiritual untuk menenangkan hati dan pikiran. Banyak santri mengaku lebih fokus dan lebih mudah menyerap pelajaran setelah membaca doa ini.
5. Menghadapi Tantangan Hidup
Setiap orang menghadapi tantangan dalam hidupnya. Doa Nabi Musa ini mengajarkan bahwa segala kesulitan dapat diatasi dengan pertolongan Allah. Dengan membaca doa ini, seseorang memohon kemudahan dalam segala urusan dan kekuatan untuk menghadapi tantangan dengan lapang dada.
Hikmah Surat Taha Ayat 25-28
1. Hikmah Tawakal dan Pengakuan akan Keterbatasan Diri
Doa ini mengajarkan pentingnya tawakal kepada Allah dan mengakui keterbatasan diri. Nabi Musa AS, meskipun seorang nabi, tetap merasa perlu memohon pertolongan Allah. Hal ini mengajarkan bahwa kesuksesan sejati hanya dapat diraih dengan pertolongan Allah, dan manusia harus menyadari kelemahan serta keterbatasannya.
2. Hikmah Kesiapan Mental dan Spiritual
Pembacaan doa ini membantu membangun kesiapan mental dan spiritual sebelum menghadapi tugas atau aktivitas penting. Ketenangan batin yang diperoleh dari doa ini memungkinkan seseorang untuk lebih fokus dan siap menerima ilmu. Dalam konteks pendidikan, kesiapan mental adalah faktor kunci dalam keberhasilan belajar.
3. Hikmah Komunikasi yang Efektif
Permohonan wahlul 'uqdatam mil lisaanii mengajarkan pentingnya kemampuan berkomunikasi yang baik. Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan menyampaikan gagasan dengan jelas sangat diperlukan, baik dalam konteks formal maupun informal. Doa ini menjadi sarana untuk memohon kefasihan berbicara dan kemampuan menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik.
4. Hikmah Integrasi Nilai Spiritual dan Akademik
Tradisi pembacaan doa ini menunjukkan bahwa nilai spiritual dan akademik dapat berjalan seiring. Ilmu yang diperoleh dengan iringan doa diyakini lebih berkah dan bermanfaat. Hikmah ini mengajarkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang pencapaian intelektual, tetapi juga tentang pembentukan karakter dan spiritualitas.
5. Hikmah Mempererat Hubungan Sosial
Pembacaan doa secara bersama-sama sebelum belajar mempererat hubungan antara ustadz dan santri, serta antar sesama santri. Doa ini menjadi sarana untuk membangun kebersamaan dan solidaritas dalam komunitas pendidikan. Hubungan yang harmonis antara guru dan murid menciptakan suasana belajar yang kondusif dan penuh berkah.
Pertanyaan Seputar Dzikir
1. Apa itu dzikir dan mengapa penting dalam Islam?
Dzikir adalah amalan mengingat Allah dengan menyebut nama-nama-Nya, baik secara lisan maupun dalam hati. Dalam surat Al-Ahzab ayat 41-42, Allah menganjurkan umat Islam untuk senantiasa berdzikir kepada-Nya. Dzikir penting karena dapat menenangkan hati, menjauhkan diri dari setan, dan mendatangkan rahmat Allah.
2. Bagaimana cara bersyukur kepada Allah?
Bersyukur dapat dilakukan dengan tiga cara: bersyukur dengan lisan (mengucapkan alhamdulillah), bersyukur dengan hati (merasakan nikmat Allah), dan bersyukur dengan perbuatan (menggunakan nikmat Allah untuk kebaikan). Contoh konkretnya adalah merawat karunia Tuhan, berbuat baik kepada sesama, dan tidak mengeluh atas apa yang tidak disukai.
3. Apa manfaat mengingat Allah bagi kesehatan mental?
Mengingat Allah dapat menenangkan hati dan pikiran, sebagaimana firman Allah dalam surat Ar-Ra'd ayat 28: "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang." Dzikir juga menjauhkan seseorang dari kecemasan dan stres, serta memberikan ketenangan batin yang mendalam.
4. Ayat Al-Quran mana yang memerintahkan bersyukur?
Salah satu ayat yang paling sering dikutip adalah surat Al-Baqarah ayat 152: "Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku." Selain itu, surat Ibrahim ayat 7 menyatakan: "Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat-Ku kepadamu."
5. Doa apa yang diajarkan Nabi untuk selalu mengingat Allah dan bersyukur?
Nabi Muhammad SAW mengajarkan doa: Allahumma a'inni 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik (Ya Allah, bantulah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu). Doa ini dianjurkan untuk dibaca setiap selesai shalat.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9348140/original/088888500_1789384002-SKW_0794.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328649/original/001837900_1787203589-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-20T122532.000.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358245/original/052346800_1790327542-HOAX__24_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3133009/original/069410900_1589908304-3482876.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358415/original/056465700_1790339608-IMG_2927.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358530/original/092817600_1790359243-WhatsApp_Image_2026-09-25_at_9.24.59_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357654/original/010090000_1790271446-1000443129.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356800/original/077671500_1790221190-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.33.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332646/original/012342700_1787713788-e321c65d-e224-4b30-b5f9-c7dc77968345.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3940632/original/006857000_1645419592-caterpillar_6020b_equipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355283/original/019472000_1790097211-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_00.04.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346285/original/094214300_1789120119-file_0000000047f882308af83e40b22f096a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355613/original/081536200_1790137907-fifa_asean_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331142/original/051833700_1787488902-Zara_menang_di_FFB_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358727/original/038444600_1790406860-033A9336.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318070/original/021580700_1786085906-kim_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358840/original/007881200_1790417975-IMG_20260925_143806.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8627020/original/000666700_1782622344-aoun-abbas-97o4XH0htUs-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358837/original/088999800_1790416714-IMG_20260926_053104.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8627023/original/022700000_1782622344-masjid-pogung-dalangan-GGtHPUYx6oI-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4681911/original/037246900_1702287622-IMG_20231211_160804.jpg)