Liputan6.com, Jakarta - Surat Al-Ahzab ayat 41-42 secara eksplisit memerintahkan orang-orang beriman untuk senantiasa berzikir dan bertasbih kepada Allah. Ayat ini turun dalam konteks sosial dan politik yang mencekam dalam rangkaian perang Khandaq (Ahzab), namun pesannya tetap relevan sepanjang zaman.
Menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah, ayat ini merupakan perintah kepada orang-orang yang percaya dan yakin akan adanya Allah untuk memperbanyak mengingat-Nya dalam segala keadaan.
Sementara, Wahbah Al-Zuhaili dalam Tafsir Al-Wajiz menegaskan bahwa melalui ayat ini Allah memerintahkan hamba-Nya yang beriman untuk memperbanyak mengingat Allah baik siang maupun malam.
Advertisement
Ayuwan Nandani dalam jurnal Konsep Ihsan dalam Q.S Al-Ahzab Ayat 41-42 menjelaskan bahwa konsepsi ihsan dalam ayat tersebut adalah adanya kontrol diri yang timbul akibat dari kontinuitas dalam menjalin hubungan dengan Tuhan melalui instrumen zikir. Ayat ini bukan sekadar perintah ritual, tetapi jadi fondasi bagi terbentuknya karakter ihsan dalam diri manusia.
Bacaan Lengkap Surat Al-Ahzab Ayat 41-42
Berikut adalah teks lengkap Surat Al-Ahzab ayat 41-42 beserta transliterasi Latin dan terjemahannya:
Ayat 41:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
Latin: Yā ayyuhallażīna āmanużkurullāha żikrang kaṡīrā
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya."
Ayat 42:
وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
Latin: Wa sabbiḥūhu bukratan wa aṣīlā
Artinya: "Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang."
Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 41-42 Menurut Dua Ulama
Quraish Shihab menjelaskan bahwa ayat 41 merupakan perintah kepada orang-orang yang beriman untuk berzikir dengan zikir yang banyak. Zikir tidak hanya terbatas pada lisan, tetapi juga melibatkan hati dan anggota badan. Zikir yang dimaksud adalah zikir yang dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan, sehingga menumbuhkan kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap aktivitas.
Metode tafsir yang digunakan Quraish Shihab adalah metode maudu'i (tematik), dengan menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan zikir dan menyusunnya sesuai dengan masa turunnya, disertai pengetahuan tentang asbab al-nuzul-nya.
Wahbah Az-Zuhaili menafsirkan ayat 41-42 sebagai perintah kepada orang-orang beriman untuk menyebut nama Allah dengan hati dan lisan di setiap waktu dengan sepenuh hati. Beliau menekankan bahwa zikir harus dilakukan dengan kesadaran penuh, bukan sekadar rutinitas tanpa makna.
Adapun tasbih pada waktu pagi dan petang, menurut Az-Zuhaili, mencakup pengagungan dan penyucian Allah dari segala sesuatu yang tidak sesuai dengan keagungan-Nya.
Asbabun Nuzul Surat Al-Ahzab Ayat 41-42
Surat Al-Ahzab secara umum turun pada periode Madinah, setelah Perang Ahzab (Perang Khandaq) yang terjadi pada tahun ke-5 Hijriah. Perang ini merupakan salah satu peristiwa paling kritis dalam sejarah Islam, ketika kota Madinah dikepung oleh pasukan gabungan dari berbagai kabilah Arab dan Yahudi.
Dalam suasana yang penuh tekanan dan ketidakpastian itu, banyak orang munafik yang mulai goyah dan meminta izin untuk meninggalkan medan pertempuran.
Al-Baihaqi meriwayatkan dalam Ad-Dala'il dari Hudzaifah bahwa pada malam Perang Al-Ahzab, situasi sangat mencekam dengan angin kencang dan kegelapan yang pekat. Orang-orang munafik meminta izin kepada Nabi dengan alasan rumah-rumah mereka terbuka, padahal sebenarnya tidak.
Dalam konteks inilah, Allah menurunkan ayat-ayat yang memerintahkan orang-orang beriman untuk memperbanyak zikir dan tasbih. Ayat 41-42 menjadi penguat iman di tengah badai ujian, mengingatkan bahwa kekuatan sejati bukanlah pada jumlah pasukan atau benteng pertahanan, melainkan pada hubungan yang kokoh dengan Allah.
Meskipun tidak ada riwayat spesifik yang menyebutkan asbabun nuzul khusus untuk ayat 41-42, para ulama menempatkannya dalam konteks Perang Ahzab sebagai bagian dari rangkaian ayat yang menguatkan iman kaum Muslimin.
Kandungan Surat Al-Ahzab Ayat 41-42
1. Perintah Berzikir dengan Sebanyak-banyaknya
Ayat 41 secara tegas memerintahkan orang-orang beriman untuk berzikir kepada Allah dengan zikir yang banyak (zikran katsīran). Kata katsīran dalam bahasa Arab menunjukkan makna yang sangat banyak, tidak terbatas. Ini berarti zikir tidak boleh dilakukan hanya pada waktu-waktu tertentu saja, melainkan harus menjadi bagian dari seluruh aktivitas kehidupan. Zikir yang dimaksud mencakup zikir dengan hati, lisan, dan perbuatan.
2. Perintah Bertasbih pada Waktu Pagi dan Petang
Ayat 42 memerintahkan untuk bertasbih kepada Allah pada waktu bukratan (pagi) dan ashīlā (petang). Menurut Quraish Shihab, kata bukratan berarti awal siang, sedangkan ashīlā berarti masa sesudah Ashar menjelang Maghrib. Kedua kata ini menggambarkan pangkal dan ujung siang, yang dapat berarti waktu tertentu, dan dapat juga dipahami dengan arti sepanjang hari. Ini menunjukkan bahwa zikir dan tasbih harus menjadi pembuka dan penutup hari, sehingga seluruh aktivitas manusia berada dalam bingkai kesadaran akan Allah.
3. Zikir sebagai Kontrol Diri
Ayuwan Nandani menegaskan bahwa konsep ihsan dalam ayat ini adalah adanya kontrol diri yang timbul akibat dari kontinuitas dalam menjalin hubungan dengan Tuhan melalui instrumen zikir. Ketika manusia selalu mengingat Allah, maka secara otomatis tingkah lakunya akan terjaga dari maksiat dan perbuatan buruk serta selalu terjaga untuk berbuat ihsan (baik).
4. Ihsan sebagai Buah dari Islam dan Iman
Ihsan adalah buah dari Islam dan iman. Ketika manusia telah mampu tunduk kepada Tuhannya (Islam) maka secara otomatis tumbuh keyakinan di dalam dirinya (iman), serta akan menciptakan sikap ihsan dalam setiap tindakannya.
5. Zikir dan Tasbih sebagai Ibadah yang Paling Agung
Zikir merupakan salah satu ibadah yang paling agung, di samping ia merupakan amalan yang paling mudah dan paling menguatkan jiwa serta menyucikan hati. Zikir juga menahan lisan dari dosa dan membantu kepada segala kebaikan.
Hikmah Memahami Surat Al-Ahzab Ayat 41-42
1. Terbentuknya Kontrol Diri yang Kuat
Memahami dan mengamalkan ayat ini secara konsisten akan menumbuhkan kontrol diri yang kuat. Ketika seseorang senantiasa berzikir, ia akan selalu merasa diawasi oleh Allah, sehingga terhindar dari perbuatan tercela. Kesadaran ini menjadi benteng internal yang melindungi dari godaan maksiat.
2. Ketenangan Jiwa dan Kesehatan Mental
Zikir dan tasbih yang dilakukan dengan penuh kesadaran membawa ketenangan jiwa dan kesehatan mental. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah penelitian, ibadah dan doa menyebabkan ketenangan jiwa, kepercayaan diri, dan kesehatan mental, serta melindungi manusia dari kecemasan dan kegelisahan.
3. Peningkatan Kualitas Ibadah
Memahami ayat ini mendorong peningkatan kualitas ibadah, baik yang bersifat mahdhah (ritual) maupun ghairu mahdhah (sosial). Zikir yang terus-menerus akan menghantarkan seseorang pada shalat yang khusyuk dan ibadah-ibadah lainnya yang lebih bermakna.
4. Terwujudnya Akhlak Ihsan dalam Kehidupan Sehari-hari
Zikir yang kontinu akan melahirkan sikap ihsan, yaitu berbuat baik secara aktif dan proaktif tanpa menunggu disuruh. Ihsan ini akan terwujud dalam hubungan dengan orang tua, guru, teman, kerabat, serta makhluk hidup dan alam semesta.
5. Keseimbangan Hidup Dunia dan Akhirat
Zikir pada pagi dan petang mengajarkan keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Pagi adalah waktu untuk memulai aktivitas duniawi, sedangkan petang adalah waktu untuk merenung dan mendekatkan diri kepada Allah. Dengan demikian, manusia tidak tenggelam dalam urusan duniawi semata, tetapi juga mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.
Pertanyaan Seputar Zikir
1. Apa saja bentuk zikir yang dianjurkan dalam Surat Al-Ahzab ayat 41?
Zikir yang dianjurkan mencakup zikir dengan hati (merenungkan kebesaran Allah), zikir dengan lisan (mengucapkan kalimat thayyibah seperti tasbih, tahmid, tahlil), dan zikir dengan perbuatan (menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya). Zikir tidak terbatas pada waktu atau tempat tertentu, melainkan dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja.
2. Mengapa waktu pagi dan petang dipilih untuk bertasbih?
Waktu pagi (bukratan) dan petang (ashīlā) dipilih karena keduanya merupakan pangkal dan ujung siang. Pagi adalah saat memulai aktivitas, sedangkan petang adalah saat beristirahat setelah seharian beraktivitas. Dengan bertasbih pada kedua waktu ini, seluruh aktivitas manusia dari awal hingga akhir hari berada dalam bingkai kesadaran akan Allah.
3. Apakah zikir harus dilakukan dengan suara keras?
Zikir dapat dilakukan dengan suara keras maupun pelan, yang terpenting adalah dilakukan dengan penuh kesadaran dan kekhusyukan. Yang paling utama adalah zikir yang dilakukan dengan hati yang hadir dan lisan yang basah. Tidak ada ketentuan khusus mengenai keras atau pelannya suara, selama tidak mengganggu orang lain dan tetap menjaga adab.
4. Bagaimana cara menjaga konsistensi zikir di tengah kesibukan?
Konsistensi zikir dapat dijaga dengan menjadikannya sebagai kebiasaan yang terikat pada waktu-waktu tertentu, seperti setelah shalat fardhu, sebelum tidur, dan ketika bangun tidur. Selain itu, memanfaatkan waktu-waktu luang untuk berzikir, seperti saat perjalanan atau menunggu, juga sangat membantu. Yang terpenting adalah niat yang kuat dan kesadaran akan manfaat zikir bagi kehidupan.
5. Apa hubungan antara zikir dan sikap ihsan?
Zikir yang dilakukan secara terus-menerus akan menumbuhkan kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap aktivitas. Kesadaran ini kemudian melahirkan kontrol diri yang kuat, sehingga seseorang terhindar dari perbuatan tercela dan terdorong untuk berbuat baik (ihsan) kepada Allah, sesama manusia, dan alam semesta. Ihsan adalah buah dari zikir yang konsisten.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9348140/original/088888500_1789384002-SKW_0794.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328649/original/001837900_1787203589-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-20T122532.000.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358245/original/052346800_1790327542-HOAX__24_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8627023/original/022700000_1782622344-masjid-pogung-dalangan-GGtHPUYx6oI-unsplash.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358415/original/056465700_1790339608-IMG_2927.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358530/original/092817600_1790359243-WhatsApp_Image_2026-09-25_at_9.24.59_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357654/original/010090000_1790271446-1000443129.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356800/original/077671500_1790221190-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.33.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332646/original/012342700_1787713788-e321c65d-e224-4b30-b5f9-c7dc77968345.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3940632/original/006857000_1645419592-caterpillar_6020b_equipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355283/original/019472000_1790097211-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_00.04.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346285/original/094214300_1789120119-file_0000000047f882308af83e40b22f096a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3133009/original/069410900_1589908304-3482876.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358727/original/038444600_1790406860-033A9336.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318070/original/021580700_1786085906-kim_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358840/original/007881200_1790417975-IMG_20260925_143806.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8627020/original/000666700_1782622344-aoun-abbas-97o4XH0htUs-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358837/original/088999800_1790416714-IMG_20260926_053104.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4681911/original/037246900_1702287622-IMG_20231211_160804.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9330815/original/019650200_1787450612-thai_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3108176/original/099514400_1587459746-close-up-of-text-on-paper-318451__1_.jpg)