Liputan6.com, Jakarta - Curhat alias mencurahkan hati lazim dilakukan tatkala seseorang sedih dan susah. Surat Yusuf ayat 86 mengajarkan bagaimana seorang muslim berkeluh kesah sesuai tuntunan Islam.
Ayat ini merekam momen Nabi Ya'qub AS dalam puncak kesedihannya setelah kehilangan dua putranya, Yusuf dan Benyamin. Namun, Ya’kub tidak tidak mengeluh kepada manusia, melainkan hanya kepada Allah SWT.
Ayat ini menawarkan sebuah kerangka psikologis-spiritual tentang bagaimana seorang mukmin seharusnya mengelola kesedihan yang mendalam. Dalam kajian yang dilakukan Iffaty Zamimah dan Dinda Aulia Putri dari Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta, manajemen emosi sedih Nabi Ya'qub AS dalam QS. Yusuf ayat 86 dianalisis menggunakan pendekatan psikologi.
Advertisement
Hasilnya menunjukkan bahwa Nabi Ya'qub AS melakukan tiga strategi utama: pengalihan (displacement), penyesuaian kognisi (cognitive adjustment), dan coping yang berfokus pada masalah. Ketiga langkah ini merupakan bentuk tertinggi dari kesabaran yang baik (sabrun jamil).
Kesedihan, menurut para ulama tafsir, adalah emosi yang wajar dan manusiawi. Al-Qur'an bahkan mengabadikan kesedihan Nabi Ya'qub AS sebagai bentuk pengakuan bahwa manusia memiliki batas kemampuan jasmani dan psikologis.
Yang dilarang bukanlah perasaan sedih itu sendiri, melainkan ekspresi yang berlebihan hingga melampaui batas, seperti merobek pakaian, memukul-mukul kepala, atau mengucapkan kata-kata yang tidak pantas kepada Allah SWT. Dalam perspektif psikologi modern, kemampuan mengelola emosi sedih berkorelasi kuat dengan kesehatan mental dan fisik
Teks Lengkap Surat Yusuf Ayat 86
Arab: قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Latin: Qāla innamā asykū bat̲sī wa ḥuznī ilallāhi wa a'lamu minallāhi mā lā ta'lamūn
Artinya: "Dia (Ya'qub) menjawab, 'Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.'" (QS. Yusuf [12]: 86)
Tafsir Surat Yusuf Ayat 86
Menurut Imam At-Tabari (w. 310 H/923 M), perkataan Nabi Ya'qub AS pada ayat ini merupakan jawaban atas ucapan anak-anaknya pada ayat sebelumnya yang menyatakan, "Demi Allah, engkau tidak henti-hentinya mengingat Yusuf sehingga engkau (mengidap) penyakit berat atau engkau termasuk orang-orang yang akan binasa" (QS. Yusuf [12]: 85).
Nabi Ya'qub AS menjawab dengan tegas, "Aku bukan mengeluhkan kesusahan dan kesedihanku kepada kalian, akan tetapi aku mengeluhkan itu hanya kepada Allah."
Dalam Tafsir Al-Munir, Wahbah Az-Zuhaili (w. 2015 M) menjelaskan bahwa kesedihan yang mendalam karena datangnya musibah adalah hal yang wajar dan manusiawi. Adapun ekspresi kesedihan yang dilarang adalah ekspresi yang timbul dari kebodohan, seperti menjerit-jerit, memukul-mukul kepala, dan merobek-robek pakaian. Hasan Al-Basri (w. 728 M) juga berkomentar, "Aku tidak melihat Allah menjadikan kesedihan yang dialami Nabi Ya'qub sebagai sebuah aib."
Sayyid Qutb (w. 1966 M) dalam Fi Zilalil Qur'an menafsirkan bahwa perkataan Nabi Ya'qub AS ini merupakan buah keimanan dan makrifah kepada Allah. Orang tua itu menjawab demikian agar anak-anaknya membiarkannya berharap kepada Tuhannya, karena dia tidak pernah mengadu kepada satu makhluk pun. Dia memiliki hubungan dengan Tuhannya yang tidak seperti hubungan mereka dengan-Nya.
Sementara itu, Hamka (w. 1981 M) dalam Tafsir Al-Azhar berpendapat bahwa di sinilah rahasia kesedihan yang mendalam itu. Nabi Ya'qub AS telah diberi tahu dengan ilham atau wahyu oleh Allah bahwa Yusuf masih hidup, tetapi Allah belum memberitahukan di mana Yusuf berada. Kalau sekiranya sudah pasti Yusuf meninggal, tidaklah Nabi Ya'qub AS akan sampai demikian sengsara oleh kehilangan, tidaklah matanya akan sampai memutih.
Kandungan Surat Yusuf Ayat 86
1. Larangan Mengeluh kepada Sesama Manusia
Ayat ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak sepantasnya mengadukan kesedihannya kepada manusia. Nabi Ya'qub AS secara eksplisit menyatakan bahwa ia hanya mengadukan kesusahan dan kesedihannya kepada Allah. Ini bukan berarti manusia tidak boleh mencurahkan perasaan kepada orang lain, tetapi orientasi utama pengaduan haruslah kepada Allah SWT.
2. Pengaduan Hanya kepada Allah sebagai Bentuk Tauhid
Kalimat innamā asykū bat̲sī wa ḥuznī ilallāh menegaskan bahwa tempat mengadu yang sejati adalah Allah. Dalam perspektif tauhid, mengadukan masalah kepada Allah adalah bentuk pengakuan atas kelemahan diri dan kekuasaan Allah. Ini merupakan inti dari makrifah kepada-Nya.
3. Allah Mengetahui Apa yang Tidak Diketahui Manusia
Frasa wa a'lamu minallāhi mā lā ta'lamūn menunjukkan bahwa Nabi Ya'qub AS memiliki pengetahuan dari Allah yang tidak dimiliki anak-anaknya. Ini mengajarkan bahwa orang yang dekat dengan Allah akan diberikan pemahaman dan hikmah yang tidak diberikan kepada orang lain.
4. Kesabaran sebagai Prasyarat Pengelolaan Emosi
Nabi Ya'qub AS bersabar dengan sabrun jamil, yaitu kesabaran yang tidak disertai keluhan kepada manusia. Kesabaran ini bukan sekadar menahan diri, melainkan kemampuan mengendalikan perasaan ketika kesedihan menimpa, sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Al-Qurtubi.
5. Kesedihan Tidak Menghalangi Tugas Kenabian
Meskipun dalam keadaan sedih yang mendalam, Nabi Ya'qub AS tetap menjalankan tugasnya sebagai nabi. Ia tidak mengomel, menyesali, menyumpah, atau mengutuk anak-anaknya. Keadilannya tetap, cinta kasih kepada mereka tetap, dan penderitaannya dibenamkan dalam hatinya sendiri.
Asbabun Nuzul Surat Yusuf Ayat 86 Surat Yusuf ayat 86 tidak memiliki asbabun nuzul khusus dalam pengertian peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat. Ayat ini merupakan bagian dari rangkaian kisah Nabi Yusuf AS yang diturunkan secara utuh. Namun, konteks ayat ini dapat dipahami dari rangkaian ayat sebelumnya (80-85) dan sesudahnya (87).
Pada ayat 80-85, dikisahkan bahwa sepuluh saudara Yusuf berputus asa setelah Benyamin ditahan di Mesir. Mereka kembali kepada ayah mereka, Nabi Ya'qub AS, dan melaporkan apa yang terjadi. Nabi Ya'qub AS kemudian berpaling dari mereka seraya berkata, "Alangkah kasihan Yusuf," dan kedua matanya menjadi putih karena sedih. Dia adalah orang yang sungguh-sungguh menahan amarah dan kepedihan.
Mendengar ucapan ayahnya, anak-anaknya berkata, "Demi Allah, engkau tidak henti-hentinya mengingat Yusuf sehingga engkau (mengidap) penyakit berat atau engkau termasuk orang-orang yang akan binasa" (QS. Yusuf [12]: 85). Ucapan inilah yang kemudian dijawab oleh Nabi Ya'qub AS pada ayat 86 dengan menyatakan bahwa ia hanya mengadukan kesusahan dan kesedihannya kepada Allah.
Dengan demikian, asbabun nuzul dalam konteks ini adalah dialog antara Nabi Ya'qub AS dan anak-anaknya, di mana Nabi Ya'qub AS memberikan teladan tentang bagaimana seharusnya seorang mukmin merespons kesedihan yang mendalam.
Hikmah Memahami Surat Yusuf Ayat 86
1. Mengajarkan Manajemen Emosi yang Sehat
Ayat ini memberikan contoh konkret tentang bagaimana mengelola emosi sedih tanpa harus melampiaskannya secara negatif. Nabi Ya'qub AS memilih untuk berpaling (displacement) dari anak-anaknya yang membuatnya sedih, sambil bersabar dengan kesabaran yang baik. Dalam perspektif psikologi, ini adalah bentuk coping yang adaptif.
2. Menegaskan Bahwa Kesedihan adalah Manusiawi
Kesedihan yang dialami Nabi Ya'qub AS menunjukkan bahwa menjadi sedih bukanlah tanda kelemahan iman. Al-Qur'an mengabadikan kesedihan beliau sebagai bentuk pengakuan bahwa manusia memiliki dimensi emosional yang perlu diakui dan dikelola dengan baik.
3. Mendekatkan Diri kepada Allah dalam Kesulitan
Ayat ini mengajarkan bahwa saat menghadapi kesulitan, tempat pertama yang harus dituju adalah Allah. Berdoa dengan penuh kekhusyukan dan penghayatan, sebagaimana dilakukan Nabi Ya'qub AS, sangat mempengaruhi kejiwaan seseorang dan merupakan cara untuk menyesuaikan kognisi (cognitive adjustment).
4. Memberikan Teladan Kesabaran Aktif
Nabi Ya'qub AS tidak hanya pasrah, tetapi juga aktif mencari solusi. Ia memerintahkan anak-anaknya untuk mencari Yusuf dan saudaranya (QS. Yusuf [12]: 87). Ini adalah contoh problem-focused coping, di mana individu berusaha langsung menghadapi sumber masalah dan mencari solusinya.
5. Menumbuhkan Optimisme dan Harapan
Meskipun dalam kesedihan yang mendalam, Nabi Ya'qub AS tetap memiliki harapan bahwa Allah akan mengembalikan anak-anaknya yang hilang. Keyakinan ini merupakan bentuk mempertahankan emosi positif yang, menurut Folkman, memainkan peran adaptif yang kuat saat pikiran didominasi oleh emosi negatif.
Pertanyaan Seputar Surat Yusuf
1. Apa makna "Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku"?
Makna frasa ini adalah bahwa Nabi Ya'qub AS tidak menjadikan manusia sebagai tempat utama untuk mencurahkan keluh kesahnya. Ia mengadukan segala kesusahan dan kesedihannya hanya kepada Allah SWT, karena hanya Allah yang mampu melepaskan dan menolongnya dari kesedihan tersebut.
2. Apakah boleh mengeluh saat sedih dalam Islam?
Islam tidak melarang seseorang untuk merasa sedih. Yang dilarang adalah mengeluh dengan cara yang tidak pantas, seperti menjerit-jerit, memukul-mukul kepala, merobek pakaian, atau berburuk sangka kepada Allah. Mengadukan kesedihan kepada Allah adalah hal yang dianjurkan, sedangkan mengeluh kepada manusia sebaiknya dihindari kecuali dalam konteks mencari bantuan atau nasihat.
3. Apa perbedaan antara huzn dan batstsa dalam Al-Qur'an?
Dalam bahasa Arab, huzn berarti kesedihan yang menyebabkan kekacauan jiwa akibat sesuatu yang menyakitinya. Sedangkan batstsa (بَثّ) berarti kesusahan yang amat besar sampai menggalinya sangat ingin menyebarluaskan atau menghamburkan isi pikirannya karena tidak mampu menanggung beban tersebut sendirian.
4. Siapa Nabi Ya'qub dan mengapa beliau bersedih?
Nabi Ya'qub AS adalah ayah dari Nabi Yusuf AS. Beliau bersedih karena kehilangan dua putranya, Yusuf dan Benyamin. Yusuf hilang saat masih kecil karena dibuang oleh saudara-saudaranya, sementara Benyamin ditahan di Mesir dengan tuduhan pencurian. Kesedihan ini berlangsung bertahun-tahun hingga membuat matanya memutih.
5. Apa pelajaran utama dari Surat Yusuf ayat 86?
Pelajaran utamanya adalah bahwa dalam menghadapi kesedihan, seorang mukmin harus mengadukan segalanya kepada Allah, bersabar dengan kesabaran yang baik, tidak mengucapkan kata-kata tercela, dan tetap berusaha mencari solusi. Ayat ini juga mengajarkan bahwa kesedihan tidak menghalangi seseorang untuk tetap menjalankan kewajibannya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4274994/original/087837900_1672212290-Ma_ruf1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5489908/original/070071700_1769946135-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-01T182051.705.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5260255/original/062425500_1750565237-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__8_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323057/original/029470100_1786598614-cek_fakta_-_jusuf_kalla_pensiunan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5507305/original/081482200_1771489245-7.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5349953/original/059135700_1757945389-Bapenas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346936/original/048560000_1789222746-WhatsApp_Image_2026-09-12_at_19.50.01.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5010796/original/017006400_1731931573-20241117_084948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3518881/original/000279300_1627027346-karbon_un.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346407/original/065215400_1789134579-WhatsApp_Image_2026-09-11_at_8.17.12_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343729/original/089297500_1788876170-ChatGPT_Image_8_Sep_2026__20.55.32.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345099/original/099922200_1789018436-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_8.12.08_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344539/original/028876300_1788949127-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_15.29.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1527841/original/075874300_1488787214-IMG_1488240797111.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343987/original/026376000_1788929980-toraja_2.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343928/original/029365100_1788925942-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_09.14.10.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340277/original/096438600_1788499326-ChatGPT_Image_4_Sep_2026__12.19.35.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9348428/original/014889800_1789443190-1001668530.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9348443/original/091455900_1789443536-IMG_3348.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9348410/original/066520300_1789442108-Screenshot_2026-09-15-10-12-03-169_com.instagram.android-edit.jpg)