Surat Thaha Ayat 114 Lengkap Arti, Tafsir dan Kandungannya

Surat Thaha ayat 114 merupakan salah satu ayat Al-Qur'an yang paling sering dikutip dalam diskursus etika menuntut ilmu dan pedagogi Islam

Diterbitkan 15 September 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Surat Thaha ayat 114 merupakan salah satu ayat Al-Qur'an yang paling sering dikutip dalam diskursus etika menuntut ilmu dan pedagogi Islam. Ayat ini termaktub dalam surah ke-20, surah Makkiyah yang terdiri atas 135 ayat, dan berada pada juz ke-16.

Dalam konteks pendidikan modern, pesan ayat ini menemukan relevansinya yang baru. Era digital telah melahirkan budaya serba cepat yang berisiko menggeser ketekunan, ketelitian, dan kejujuran akademik.

Penelitian Naila Amelina dkk. dalam jurnal An-Nahdlah menunjukkan bahwa nilai-nilai QS. Thaha ayat 114—larangan tergesa-gesa dan doa rabbi zidni 'ilma—sangat kompatibel dengan kebutuhan pendidikan masa kini yang menuntut kedalaman, refleksi, dan kerendahan hati intelektual.

Dalam kitab Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka menafsirkan bahwa ayat ini turun sebagai teguran halus kepada Nabi Muhammad SAW yang begitu bersemangat menghafal wahyu hingga mendahului bacaan Malaikat Jibril.

Posisi ayat ini menjadi penting karena ia menyatukan dua dimensi sekaligus, yaitu spiritual berupa pengakuan atas kedaulatan Allah sebagai sumber kebenaran, dan dimensi pedagogis berupa etika menerima, memproses, dan menyampaikan pengetahuan secara bertahap.

Surat Thaha Ayat 114

Arab: فَتَعٰلَى اللّٰهُ الْمَلِكُ الْحَقُّۚ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْاٰنِ مِنْ قَبْلِ اَنْ يُّقْضٰٓى اِلَيْكَ وَحْيُهٗۖ وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا ١١٤

Latin: Fa ta'ālallāhul-malikul-ḥaqq, wa lā ta'jal bil-qur'āni ming qabli ay yuqḍā ilaika waḥyuhū wa qul rabbi zidnī 'ilmā

Artinya: "Mahatinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya. Janganlah engkau (Nabi Muhammad) tergesa-gesa (membaca) Al-Qur'an sebelum selesai pewahyuannya kepadamu dan katakanlah, 'Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.'"

Asbabun Nuzul Surat Thaha Ayat 114

Asbabun nuzul ayat ini diriwayatkan oleh Imam as-Suddi dan dinukil dalam berbagai kitab tafsir. Ketika Malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu, Nabi Muhammad SAW selalu berusaha keras menghafalkan wahyu tersebut. Upaya ini dilakukan karena beliau khawatir belum hafal wahyu tersebut jika Jibril kelak datang kembali.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa apabila Jibril datang membawa wahyu, Nabi SAW bersusah payah menghafalkannya hingga menyusahkan dirinya sendiri. Beliau takut kalau-kalau Jibril kembali sebelum ia hafal. Maka turunlah ayat ini sebagai teguran agar tidak terburu-buru menghafalnya sebelum wahyu itu selesai diturunkan.

Riwayat lain yang bersumber dari Ibnu Abbas menyatakan bahwa Nabi SAW mengalami kesukaran menggerakkan lidahnya untuk mengikuti Jibril membacakan ayat-ayat yang dibawanya. Oleh karena itu, Allah memberi petunjuk agar beliau tidak tergesa-gesa membacanya sebelum Jibril selesai membacakannya, agar Nabi SAW menghafal dan memahami betul-betul ayat yang diturunkan. Ayat ini turun sebagai bagian dari pendidikan Ilahi kepada Nabi SAW tentang adab menerima pengetahuan: mendengar dengan tenang, menunggu dengan sabar, dan memahami dengan utuh sebelum menyampaikan.

Tafsir Surat Thaha Ayat 114

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa firman Allah fa ta'ālallāhul-malikul-ḥaqq berarti Allah Mahatinggi dan Mahasuci, Dialah Raja yang sebenar-benarnya. Allah itu haq, janji-Nya haq, ancaman-Nya haq, para rasul-Nya haq, surga itu haq, neraka itu haq, dan segala sesuatu yang datang dari-Nya adalah haq. Keadilan-Nya menetapkan bahwa Dia tidak akan menyiksa seseorang sebelum memberikan peringatan dan mengutus para rasul.

Mengenai larangan tergesa-gesa, Ibnu Katsir mengaitkannya dengan Surah Al-Qiyamah ayat 16–19, di mana Allah berfirman: "Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur'an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya." Ibnu Katsir menegaskan bahwa Nabi SAW diperintahkan untuk menyimak dengan tenang; apabila Jibril telah selesai membacakan wahyu, barulah Nabi SAW membacanya.

Mengenai doa rabbi zidnī 'ilmā, Ibnu Katsir mengutip perkataan Sufyan bin Uyainah: "Nabi SAW senantiasa berada dalam keadaan bertambah ilmu hingga Allah mewafatkannya."

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa selain menerima wahyu yang disampaikan oleh Jibril, Nabi SAW juga diperintahkan untuk senantiasa berdoa kepada Allah agar dikaruniai tambahan ilmu. Ilmu tersebut tidak hanya berasal dari wahyu, tetapi juga muncul melalui pengalaman hidup, interaksi sosial, urusan pemerintahan, maupun peperangan. Hamka menekankan bahwa ayat ini mengandung pelajaran tentang kehati-hatian: menjaga ketenangan dan urutan menerima informasi adalah bagian dari adab menuntut ilmu.

Kandungan Surat Thaha Ayat 114

1. Pengakuan atas Kedaulatan Allah sebagai Sumber Kebenaran

Ayat ini dibuka dengan fa ta'ālallāhul-malikul-ḥaqq—"Mahatinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya." Kandungan ini menegaskan bahwa seluruh proses pencarian ilmu harus berpijak pada kesadaran bahwa Allah adalah sumber segala kebenaran. Ibnu Katsir menyatakan bahwa Allah adalah al-ḥaqq dalam segala dimensi: zat-Nya, janji-Nya, ancaman-Nya, para rasul-Nya, dan seluruh ketetapan-Nya. Bagi penuntut ilmu, pengakuan ini melahirkan sikap al-istislām—penerimaan terhadap kebenaran syariat sekaligus menjauhkan diri dari sikap sombong.

2. Larangan Tergesa-gesa dalam Menerima dan Menyampaikan Pengetahuan

Larangan wa lā ta'jal bil-qur'ān merupakan inti etika-epistemik ayat ini. Secara literal, ayat ini melarang Nabi SAW mendahului bacaan Jibril. Secara pedagogis, larangan ini mengandung prinsip bahwa pengetahuan tidak dapat diperoleh secara instan. Al-Qurthubi menegaskan bahwa etika menerima pengetahuan menuntut pendengaran yang tuntas sebelum menyimpulkan atau menyampaikan. Dalam konteks pendidikan, prinsip ini menolak budaya "serba cepat" yang mengabaikan proses berpikir mendalam.

3. Perintah Berdoa untuk Ditambahkan Ilmu (Rabbi Zidnī 'Ilmā)

Bagian terakhir ayat ini adalah perintah kepada Nabi SAW untuk berdoa: wa qul rabbi zidnī 'ilmā. Kata zidnī berasal dari akar kata zāda yang berarti "menambah," sedangkan 'ilma adalah bentuk nakirah yang menunjukkan keluasan dan keterbukaan terhadap segala bentuk ilmu. Al-Khazin dalam Lubāb al-Ta'wīl mencatat bahwa Allah tidak memerintahkan Rasul-Nya untuk meminta tambahan dalam sesuatu pun kecuali dalam hal ilmu. Ibnu Mas'ud ketika membaca ayat ini berdoa: "Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu, iman, dan keyakinan."

4. Keterkaitan antara Etika Menerima dan Etika Menyampaikan

Ayat ini menunjukkan bahwa etika menerima ilmu dan etika menyampaikan ilmu adalah satu kesatuan. Seorang penuntut ilmu tidak boleh menyampaikan apa yang belum dipahaminya secara utuh, dan seorang pendidik tidak boleh menyampaikan materi sebelum ia menguasainya dengan baik. Prinsip ini sejalan dengan kompetensi profesional guru yang menuntut penguasaan materi secara mendalam dan kemampuan membangun struktur pembelajaran yang logis.

5. Kerendahan Hati Intelektual sebagai Fondasi Pembelajaran Sepanjang Hayat

Doa rabbi zidnī 'ilmā mencerminkan kerendahan hati intelektual (intellectual humility). Seorang penuntut ilmu sejati tidak pernah merasa bahwa pengetahuannya sudah final atau cukup. Setiap ilmu baru yang diperoleh justru membuat seseorang semakin menyadari keterbatasannya dan terdorong untuk terus belajar. Prinsip ini menjadi fondasi bagi lifelong learning dalam pendidikan Islam.

ikmah Memahami Surat Thaha Ayat 114

1. Menumbuhkan Kesabaran dalam Proses Belajar

Ayat ini mengajarkan bahwa pemahaman yang mendalam tidak dapat dicapai secara instan. Larangan tergesa-gesa dalam menerima wahyu mengandung pesan universal bahwa pengetahuan menuntut proses bertahap: mendengar, memahami, mengonfirmasi, dan baru kemudian menyimpulkan. Hikmah ini sangat relevan dalam menghadapi budaya belajar serba cepat yang dibentuk oleh teknologi digital, di mana ringkasan dan jawaban siap pakai sering kali menggeser ketekunan dan ketelitian.

2. Membangun Ketelitian dan Kehati-hatian Ilmiah

Larangan tergesa-gesa berimplikasi pada kewajiban memverifikasi sumber, konteks, dan argumentasi sebelum menerima atau menyebarkan suatu klaim pengetahuan. Dalam era banjir informasi dan maraknya hoaks, hikmah ini menjadi sangat penting. Guru dan siswa dituntut memiliki kemampuan literasi kritis serta sikap hati-hati dalam menerima maupun menyebarkan pengetahuan. Ketelitian ilmiah bukan hanya soal metodologi penelitian, tetapi juga soal etika.

3. Menanamkan Kesadaran bahwa Ilmu adalah Amanah

Pengakuan Allah sebagai al-Malik al-Ḥaqq dalam ayat ini mengingatkan bahwa ilmu pada hakikatnya adalah amanah dari Allah, bukan sekadar hasil usaha pribadi. Guru yang menyadari bahwa ilmu adalah amanah akan menjaga integritas dalam menyampaikan materi, terbuka terhadap koreksi, dan tidak menyampaikan hal yang belum dipahami secara mendalam. Siswa yang menyadari hal ini akan belajar dengan penuh tanggung jawab dan kejujuran akademik.

4. Mendorong Pembelajaran Sepanjang Hayat

Doa rabbi zidnī 'ilma adalah deklarasi bahwa proses belajar tidak pernah selesai. Bahkan Nabi Muhammad SAW, yang telah menerima wahyu, tetap diperintahkan untuk memohon tambahan ilmu. Hikmah ini mengajarkan bahwa setiap orang—baik guru maupun siswa—harus senantiasa menyadari keterbatasannya dan terus berupaya mengembangkan diri. Pepatah "tuntutlah ilmu dari sejak buaian hingga ke liang lahat" menemukan fondasinya dalam ayat ini.

5. Membentuk Karakter Guru dan Siswa yang Berintegritas

Ayat ini membawa implikasi langsung terhadap pembentukan karakter dalam proses pendidikan. Guru yang memahami ayat ini akan mengelola ritme belajar dengan sabar, memberi kesempatan pemrosesan kepada siswa, dan menunda penilaian final sampai bukti pemahaman cukup. Siswa yang memahami ayat ini akan membiasakan diri menyusun pemahaman berdasarkan alasan yang cukup, berani mengakui belum tahu, dan tidak malu memperbaiki jawaban. Kombinasi sikap ilmiah ini membangun kompetensi kognitif, afektif, dan moral secara seimbang.

 

Pertanyaan Seputar Surat Thaha

1. Apa arti rabbi zidni ilma dalam surat Thaha ayat 114?

Rabbi zidnī 'ilmā berarti "Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku." Ini adalah doa yang diperintahkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW dan menjadi doa yang dianjurkan bagi setiap penuntut ilmu. Keistimewaan doa ini terletak pada kenyataan bahwa Allah tidak memerintahkan Rasul-Nya untuk meminta tambahan dalam hal harta, kekuasaan, atau umur, melainkan hanya dalam hal ilmu.

2. Mengapa Nabi Muhammad dilarang tergesa-gesa dalam membaca Al-Qur'an?

Nabi SAW dilarang tergesa-gesa karena beliau terlalu bersemangat menghafal wahyu yang disampaikan Jibril, hingga mendahului bacaan Jibril sebelum wahyu selesai diturunkan. Kekhawatiran beliau adalah lupa jika tidak segera diulang. Namun Allah menjamin pemeliharaan Al-Qur'an, sehingga beliau diperintahkan untuk menyimak dengan tenang terlebih dahulu.

3. Apa hubungan surat Thaha ayat 114 dengan etika menuntut ilmu?

Ayat ini mengandung tiga prinsip etika menuntut ilmu: pertama, tidak tergesa-gesa dalam menerima pengetahuan sebelum tuntas; kedua, kehati-hatian dalam memverifikasi sumber dan argumentasi; ketiga, kerendahan hati intelektual yang mendorong pembelajaran sepanjang hayat. Prinsip-prinsip ini menjadi fondasi bagi pembentukan adab ilmiah dalam pendidikan Islam.

4. Apakah surat Thaha ayat 114 hanya berlaku untuk Nabi Muhammad SAW?

Meskipun konteks historisnya khusus mengenai Nabi SAW, para mufasir seperti Muhammad Asad menegaskan bahwa pesan ayat ini berlaku universal bagi setiap pembaca Al-Qur'an. Larangan tergesa-gesa dan perintah menambah ilmu adalah prinsip etika-epistemik yang relevan sepanjang zaman, termasuk dalam konteks pendidikan modern.

5. Bagaimana menerapkan nilai surat Thaha ayat 114 dalam pembelajaran modern?

Penerapannya dapat dilakukan melalui pembelajaran yang bertahap dan verifikatif: memberi jeda berpikir sebelum menjawab, diskusi yang menuntut alasan, latihan memeriksa kembali sumber, serta refleksi di akhir pembelajaran. Guru berperan sebagai pengelola ritme belajar dan teladan integritas keilmuan, sementara siswa dibiasakan untuk tidak menyimpulkan sebelum bukti cukup dan berani mengakui apa yang belum dipahami.