10 Kebiasaan Orang Tua yang Bisa Bikin Anak Minder dan Kurang Percaya Diri, Sadari & Hindari

Pelajari daftar kebiasaan orang tua yang bisa bikin anak minder dan kurang percaya diri. Temukan tips praktis untuk membangun harga diri anak agar tumbuh lebih

Diterbitkan 19 Agustus 2026, 16:08 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sebagai orang tua, tujuan utama kita adalah membesarkan anak-anak yang percaya diri, bahagia, dan yakin akan kemampuan mereka sendiri. Namun, terkadang niat baik kita justru terbungkus dalam tindakan yang kurang tepat. Tanpa disadari, beberapa perilaku sehari-hari yang kita anggap "normal" atau "demi kebaikan" sebenarnya bisa merusak harga diri anak secara perlahan.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Anak-anak membangun rasa harga diri mereka terutama melalui interaksi dengan orang tuanya. Ketika orang tua terus-menerus mengoreksi, membandingkan, atau mengabaikan perasaan mereka, anak mulai meragukan kemampuan dan nilai diri mereka sendiri. Dampaknya bisa sangat panjang, mulai dari rasa cemas, perfeksionisme yang tidak sehat, hingga rasa tidak aman yang terbawa hingga dewasa.

Dalam artikel ini, kita akan membahas berbagai kebiasaan orang tua yang bisa bikin anak minder dan apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaikinya. Mengenali kebiasaan ini adalah langkah awal yang sangat berharga untuk menciptakan lingkungan yang lebih suportif dan sehat bagi pertumbuhan emosional si kecil. Mari kita simak daftarnya, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Rabu (19/8/2026).

1. Terlalu Sering Mengoreksi Setiap Kesalahan

Sering kali, orang tua memberikan koreksi terus-menerus karena ingin anaknya menjadi lebih baik, seperti saat mengoreksi gambar anak atau cara mereka melakukan tugas rumah tangga. Meskipun niatnya membantu, bagi anak, hal ini justru memberi sinyal bahwa usaha mereka tidak pernah cukup baik di mata orang tua.

Lama-kelamaan, anak akan merasa tidak mampu karena lebih sering mendengar apa yang "salah" daripada apa yang telah mereka lakukan dengan baik. Solusinya, cobalah fokus pada apresiasi terhadap proses dan usaha yang telah mereka lakukan. Alih-alih memberikan kritik yang tidak diminta, tanyakanlah hal seperti, "Apa yang paling kamu sukai dari hasil karyamu ini?" agar anak merasa dihargai.

 

2. Kebiasaan Membandingkan dengan Saudara atau Teman

Membandingkan anak dengan saudara kandung atau teman sebaya, meskipun dilakukan secara halus, adalah salah satu cara tercepat untuk membuat anak merasa inferior. Ketika orang tua berkata, "Mengapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?" anak akan langsung menyimpulkan bahwa dirinya tidak sebaik orang lain.

Setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan yang unik. Orang tua yang bijak akan mengakui kekuatan spesifik pada masing-masing anak. Alih-alih membandingkan, katakanlah, "Ayah/Ibu sangat bangga dengan kreativitasmu," agar anak merasa diapresiasi atas kepribadiannya sendiri tanpa harus merasa harus berkompetisi dengan orang lain.

 

3. Mengabaikan atau Menyepelekan Perasaan Anak

Ketika anak datang dengan masalah, seperti pertengkaran dengan teman, orang tua yang sibuk atau lelah sering merespons dengan, "Jangan khawatir, kamu akan baik-baik saja," lalu meninggalkannya. Bagi anak, tindakan ini terasa seperti pengabaian emosional yang membuat mereka merasa suaranya tidak penting.

Jika dibiarkan, anak akan berhenti berbagi perasaan karena merasa emosinya tidak berharga. Validasi perasaan mereka terlebih dahulu sebelum menawarkan solusi. Ucapkan kalimat sederhana seperti, "Ibu lihat kamu sedang sedih tentang kejadian ini ya," agar anak merasa didengarkan, yang pada akhirnya akan membangun resiliensi emosional mereka.

 

4. Terlalu Mengontrol (Helicopter Parenting)

Menjadi orang tua yang terlalu mengontrol setiap detail kehidupan anak, mulai dari siapa teman mereka hingga apa hobi mereka, dapat mematikan kemandirian anak. Orang tua yang terlalu protektif biasanya didorong oleh kecemasan mereka sendiri, namun dampaknya justru membuat anak merasa tidak mampu menangani tantangan hidup sendiri.

Anak yang tidak dibiarkan membuat keputusan sendiri akan tumbuh dengan rasa percaya diri yang rendah. Cobalah untuk sedikit melepaskan kontrol dan biarkan mereka mengeksplorasi minatnya sendiri. Membiarkan anak mengambil keputusan dan sesekali melakukan kesalahan, adalah cara terbaik bagi mereka untuk belajar dan berkembang menjadi individu yang tangguh.

 

5. Menjadikan Anak sebagai Pilihan Antara Kedua Orang Tua

Terutama dalam keluarga yang mengalami konflik atau perceraian, sering kali orang tua tanpa sadar melibatkan anak dalam masalah dewasa dan meminta mereka memilih pihak. Hal ini sangat tidak adil bagi anak dan dapat menimbulkan beban kecemasan serta rasa bersalah yang tidak perlu bagi mereka.

Keterlibatan dalam konflik orang tua akan membuat anak merasa tidak aman secara emosional. Sangat penting bagi orang tua untuk menjaga konflik pribadi tetap terpisah dari anak. Anak berhak memiliki hubungan yang sehat dengan kedua orang tuanya tanpa harus merasa terbebani oleh ketegangan di antara orang dewasa.

 

6. Gaslighting atau Menyangkal Realitas Anak

Gaslighting dalam pola asuh terjadi ketika orang tua secara konsisten menolak, memutarbalikkan, atau menyangkal pengalaman anak, seperti mengatakan, "Itu tidak terjadi," atau "Kamu terlalu sensitif." Perilaku ini sangat merusak karena mengajarkan anak untuk meragukan persepsi dan perasaan mereka sendiri.

Ini adalah tindakan yang sangat destruktif bagi kesehatan mental anak karena membuat mereka bingung tentang apa yang nyata dan apakah mereka bisa mempercayai diri sendiri. Alih-alih menyangkal, dengarkan perspektif mereka dengan terbuka. Jika terjadi perbedaan pendapat, hargai bagaimana mereka melihat suatu situasi meskipun berbeda dengan pandangan Anda.

 

7. Melibatkan Rasa Bersalah untuk Mengendalikan

Banyak orang tua menggunakan rasa bersalah sebagai alat untuk mengendalikan perilaku anak, seperti, "Kalau kamu tidak melakukan ini, Ibu jadi sedih." Alih-alih mengajarkan nilai-nilai kehidupan, cara ini justru memanipulasi emosi anak agar mereka melakukan apa yang diinginkan orang tua demi menghindari rasa bersalah.

Anak yang sering dimanipulasi dengan rasa bersalah cenderung tidak bisa membuat keputusan untuk diri sendiri saat dewasa, atau mereka akan lebih memilih untuk berbohong. Ajarkan tanggung jawab dan keterampilan hidup yang berharga alih-alih mengandalkan manipulasi emosional. Berikan alasan yang logis mengapa suatu tindakan baik atau buruk, bukan menggunakan perasaan Anda sebagai senjata.

 

8. Kurangnya Batasan yang Jelas

Memiliki batasan yang sehat sangat penting. Orang tua yang terlalu sering curhat tentang masalah pribadi kepada anak yang masih kecil, atau terlalu mencampuri privasi anak, justru bisa membuat anak merasa terbebani. Ini menciptakan ketidakjelasan peran di mana anak merasa harus menjadi "teman" atau "penolong" bagi orang tuanya.

Kurangnya batasan dapat menyebabkan anak merasa kurang nyaman untuk terkoneksi dengan orang tua karena mereka merasa butuh ruang privasi. Orang tua harus bisa membedakan mana masalah yang pantas dibagi dan mana yang harus diselesaikan sendiri sebagai orang dewasa agar anak tidak merasa perlu "menjaga" orang tuanya.

 

9. Memberi Komentar tentang Tubuh atau Pola Makan

Meskipun dianggap sebagai pujian (seperti, "Wah, kamu kurusan, cantik ya!"), memberikan komentar pada bentuk tubuh atau porsi makan anak sangat berisiko. Hal ini mengirimkan pesan bahwa nilai diri anak bergantung pada penampilan fisik mereka, yang dapat memicu masalah citra tubuh hingga gangguan makan.

Fokuslah pada gaya hidup sehat secara holistik, bukan pada angka di timbangan atau bentuk tubuh. Ajarkan anak untuk menghargai tubuh mereka karena apa yang bisa dilakukan tubuh itu, bukan bagaimana tampilannya. Hindari membuat penilaian atas jumlah makanan yang mereka konsumsi agar mereka tidak merasa diawasi dan dihakimi.

 

10. Menilai atau Mempermalukan di Depan Orang Lain

Sering kali orang tua mengomentari perilaku anak di depan orang lain, seperti, "Anak ini memang selalu bikin repot," atau "Dia memang pemalu sekali." Komentar insinuatif semacam ini merendahkan kepribadian anak dan membuat mereka merasa kehadiran mereka adalah beban.

Anak akan menginternalisasi bahwa mereka selalu membawa dampak negatif bagi orang-orang di sekitar mereka. Jika ada perilaku anak yang perlu diperbaiki, bicarakanlah secara empat mata dan pribadi, bukan di depan orang lain. Menjaga harga diri mereka di depan publik adalah kunci untuk membuat anak merasa dihargai dan aman.

 

Pertanyaan Umum Kebiasaan Orang Tua yang Bisa Bikin Anak Minder

Q: Bagaimana jika saya sudah sering melakukan hal di atas tanpa sadar, apakah anak saya akan minder selamanya?

A: Tidak perlu panik. Menyadari perilaku tersebut adalah langkah pertama yang luar biasa. Anak-anak sangat resilien. Anda bisa mulai dengan meminta maaf kepada anak, mengakui kesalahan, dan menjelaskan bahwa Anda sedang belajar untuk menjadi orang tua yang lebih baik.

Q: Bagaimana cara melatih diri agar tidak mudah membandingkan anak?

A: Fokuslah pada keunikan masing-masing anak. Buatlah jurnal apresiasi kecil di mana Anda mencatat satu hal positif yang dilakukan anak setiap hari. Semakin sering Anda mencari kelebihan mereka, semakin kecil keinginan Anda untuk membandingkannya dengan orang lain.

Q: Apakah meminta bantuan profesional perlu jika pola asuh saya terasa sangat sulit diubah?

A: Sangat dianjurkan. Banyak perilaku pola asuh yang toksik berakar dari pengalaman kita sendiri di masa lalu. Berbicara dengan konselor atau terapis dapat membantu Anda memahami pemicu perilaku tersebut dan memberikan alat yang tepat untuk mengubah pola asuh menjadi lebih positif.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6